AYWMEN Bab 1 : Moving Day

Ini bukan cerita keren tentang anak yang mendapat A+ terus untuk semua mata pelajaran. Ini bukan pula cerita konyol tentang Barbie atau binatang berbicara. Tidak, ini cerita berlogika. Cerita masuk akal. Cerita… yang dimulai waktu aku masih di luar kota. Seharusnya aku tahu akan terjadi sesuatu yang besar ketika Mom dan Dad memandangku dengan senyuman lebar. Waktu itu masih Summer Break. Aku sedang menikmati hariku… bermain game di sofa selama berjam – jam..merasa kayak orang kecanduan game… ketika Mom dan Dad muncul. Tersenyum.

“ Ryker,” kata Dad. “ Ya?” kataku waktu itu, masih sibuk berusaha membunuh troll besar di depan layar TV itu.  “ Kita punya berita menyenangkan!” Kata Mom dengan nada gembira. “ Apa?” kataku memencet tombol x di joystick PSku dengan frustasi. “ Kita akan pindah rumah!!” kata Mom dan Dad bersamaan.
“ GAME OVER” kata suara TV ketika aku menjatuhkan joystick itu. Aku tidak berteriak
“ APA?!” seperti di film – film. Aku juga tidak pingsan. Tanganku hanya kram, sehingga joystick itu kujatuhkan. Pindah rumah bukanlah hal yang besar bagiku; aku tidak pernah memiliki teman baik dimanapun, dan Mom dan Dad sering pindah rumah, “ Agar bisa merasakan suasana dimanapun!” kata mereka.

Tapi kali ini beda. Mereka ingin tinggal di sana selamanya dan selamanya, dan… well, selamanya. Jadi aku harus menemukan teman disana. Sekitar 3 minggu kemudian Mom, Dad, Ashley ( adikku yang berusia 5 tahun dan merasa kalau THE MAGICAL BARBIE WORLD itu benar – benar ada…) dan aku duduk di mobil kita yang penuh dengan barang – barang berangkat ke tempat tinggal kita yang baru. Setelah berpuluh – puluh tahun di jalan, kita akhirnya sampai di kota kecil. “ Ingat Ryker? Kamu dulu tinggal disini dengan Gran,kan?” kata Dad. “Iya,aku ingat sekarang.” Kataku dengan nada datar. Duluuuuu sekali aku pernah tinggal disini dengan Gran karena Mom dan Dad , well… ceritanya panjang. Intinya…mereka baikkan dan aku pindah dengan mereka lagi. Kota ini sangat kecil, populasi orang = tidak sampai 1 juta.

Kota ini bahkan masuk dalam 10 kota terkecil dan memiliki populasi tersedikit di dunia! (Kata majalah di pesawat sih.) Seharian penuh kita bereempatmenghabiskan waktu membereskan barang – barang pindahan. Setelah kira – kira semuanya sudah ada di tempatnya, aku memutuskan untuk tidur. Saat pertama kali aku masuk ke kamar baruku, aku ingat 2 hal. Pertama aku terpaksa main PS di ruang keluarga lagi. Kedua : Aku tidak perlu sekamar dengan Ashley ( HALELUYA!!).Kamarku tergolong kecil. Barang – barangku yang masih sama dari tahun ke tahun cuma barang – barang di lemari sebelah lemari bajuku. Barang – barang itu ‘scrapbook 3d’ ( menurut istilah Mom). Segala hal yang bisa membuatku ingat tentang sesuatu aku pasang di lemari itu.Aku masih bisa ingat aku pergi ke pantai waktu umur 8 karena menyimpan gigiku yang lepas waktu berenang di sana. Jadi hal – hal kecil seperti itulah yang memenuhi lemariku. ( gigi lepas, robekan kertas, foto, dll.) satu – satunya hal yang membuatku akan tetap bangga pada diriku sendiri dengan lemari itu adalah 1 hal : sertifikat juara 1 Lomba Game Se-Hawaii. Tapi aku sedang tidak tertarik pada sertifikat itu, aku membuka jendela kamarku dan melihat kebawah. Kamarku di lantai 2. Tidak mungkin aku dapat melompat ke bawah, kecuali kalau aku sudah bosan hidup… Sambil menutup jendela itu aku melihat tasbackpack yang dibelikan Mom. Tas itu terisi dengan segala jenis buku yang besok aku akan pelajari.  Sekolah. Bayangku. Aku bergidik. Sekolah. Sekolah, sekolah, sekolah! Agak kesal sih harus sekolah. Buat apa? Toh masa depanku sudah suram. ( Cita – cita = pemain game professional tanpa bayaran) Aku menjatuhkan diri ke tempat tidurku. Bayangan sekolahku besok : seperti biasa , hanya ada kecanggungan hebat yang terjadi. Ditambah dengan fakta bahwa aku masuk SMP, berarti pelajaran lebih susah. Aku meloncat ke tempat tidur. Mendesah dengan agak dramatis dan emo pada saat yang bersamaan.

 * * *

                               KRIIIIIIIING!!!!!! Aku terjatuh dari tempat tidur. “ OUCH!” responsku. Aku menarik jam wekerku dan melihat jam berapa ini. 6 pagi. Aku mengeluh.Kenapa wekerku selalu menyala tiap kali aku sedang ingin tidur? Kumatikan weker itu dengan satu tangan dan berdiri. Sambil meregangkan badan dan menguap lebar, aku turun ke lantai 1. Dad rupanya sudah bangun dari tadi karena sedang meminum kopi sambil membaca koran. “ Morning, Dad.” Sapaku seperti biasa.

“ Hmmmm.” Jawabnya seperti biasa juga sambil tetap membaca. Aku meneliti seisi ruangan. Berbeda dengan di Hawaii, disini lebih simpel, dan mataharinya tidak sekuat di sana. Ruangannya lebih besar. Bahkan,  atmosfernya memberikan nuansa agak malas. Sweeeet! MALAS! “ Mana Mom?” tanyaku. “Gosip dengan tetangga.” Jawab Dad singkat sambil menyeruput kopinya. “ Tetangga? Memangnya kita punya tetangga?” tanyaku heran. Dad mengangkat bahu. Aku mendorong mangkok kosong cerealku. Teori yang aku tahu tentang sekolah baru ( dan jujur, aku tahu beberapa teori…) : Jangan pernah terlambat di hari pertama. Kau tidak tahu peraturan apa saja yang berlaku di sekolah baru itu. Dan juga karena aku mungkin tersesat ( satu hal lagi yang aku tahu: jangan minta diantar orang – tua. Kau bisa diejek habis – habisan dan ortumu juga akan merasa terhina. Bisa terjadi hal – hal yang TIDAK diinginkan) Aku membuka pintu dan melihat Mom sedang berdiri di pagar teman berbicara dengan 2 ibu – ibu yang berbicara dengan muka serius.

“ RYKER!!!” teriak Mom. SIAL! Pikirku. Aku tahu apa yang akan terjadi sebentar lagi.. cubitan di pipi, rambut diacak – acak  yang membuat rambutku yang kayak landak ini semakin acak – acakkan, dan omongan panjang lebar tentang hal – hal yang tidak penting. Aku menarik napas panjang kemudian berjalan ke tempat Mom nongkrong. “ Ya?” tanyaku Pasrah, Ryker… PASRAH!  Batinku. “ Ini anakku yang tertua, oya, Ryke! Kata Maurene kamu harus lewat jalan Oak street, kemudian belok kanan ke Franklin avenue, dan kemudian jalan lurus sampai ketemu sekolah BirchFir. Kamu akan menemui banyak anak yang jalan ke sana juga kok.” Kata Mom setengah ke teman – teman barunya dan ke aku. “ Hmmm…” Kataku. Kadang kalau aku berkata ‘hmm’seperti itu, aku mirip sekali dengan Dad… ( semoga Mom tidak menyinggung soal itu..) “ Oh! Inikah si Ryker itu? Wah sudah besar ya??” tanya si ibu berdaster coklat sambil mencubit pipiku.

Susu kacang kedele, ibu ini ikut karate apa?! Keras banget cubitannya! Aku memaksakan senyuman. Yang ibu satunya mengacak – acak rambutku. Aku menelan ludah, “ Eh, Mom? Rasanya aku akan pergi dulu… takut terlambat, tahu kan? Hari pertama.. anak baru.. first impression…” kataku sambil pelan – pelan mundur ke pagar. “ Oh, OK.  Yakin tidak perlu ditemani?” tanya Mom dengan khawatir.
“ Nggak! Um…nanti kutanyakan ke orang kalau tersesat… OK, bye.” Kataku sambil membuka gerendel pagar dan berjalan cepat ke ujung jalan.

Whew, aman. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Oak street? Yang mana lagi itu… mataku melihat papan jalan dan papan itu menunjuk ke 2 arah. Yang ke kiri menuju Peanut Block dan yang  ke kanan menuju Oak Street. Bayanganku pertama kali waktu membaca palang itu adalah : Peanut block? Blok berisi kacang?? Dan muncul pula gambaran jalanan berisi segala jenis kacang : kacang tanah, kacang pedas, selai kacang, kacang kriuk, kacang… Tapitidak ada satu kacang pun di jalan itu, dan ( sesuai instruksi) aku belok ke kanan. Dengan pelan aku melihat ke sekelilingku. Matahari sudah bersinar terang sekarang. Di trotoar yang terkena bayangan pohon – pohon rindang ini kudengar burung mulai berkicau. Rumah – rumah di sebelah kiriku tampak tenang seakan – akan masih tidur. Aku tersenyum kecil

Tidak ada orang yang melihat, tidak ada orang yang bisa diajak bicara.. hanya suatu keheningan yang enak dinikmati… tapi waktu aku berbelok ke kanan menjuju Franklin avenue, ketenangan itu lenyap ditelan angin. Mom salah. Bukan ‘jalan terus sampai ke ujung jalan yang ada sekolah’, sekolah itu satu – satunya gedung di jalan ini. Aku berjalan pelan. Ada beberapa anak  dengantas ransel di pundak berjalan. Aku bahkan mendengar apa yang dibicarakan beberapa dari mereka yang berjalan bersama. “ Itu anak baru ya?” “ Ya rasanya… tumben banget anak baru!” “ Hei, tuh anak baru!”  “ Wah,mukanya lumayan…” setiap kali aku berjalan dan mendengar apa yang mereka katakan,leherku semakin merah dan aku mempercepat langkahku. Waktu memasuki gerbang sekolah, aku langsung SYOK….

                   LOKER!!!! YEEES!!! LOKER! AKHIRNYA ADA SATU SEKOLAH YANG PUNYA LOKER!  Jeritku di hati. Aku tersenyum lebar. Tapi senyumanku hilang waktu melihat keadaan. Rupanya semua murid di sini terbagi menjadi banyak grup. Terlihat dari baju, gaya, tas, terutama karena mereka bisa berdiriberkelompok begitu.. mungkin mereka bisa request tempat loker mereka? Semoga saja… aku mencari ruangan School Coordinator atau apalah itu. Aku menemukannya di ujung lorong. Aku mendatangi tempat itu… “ Permisi…” kataku dengan nada wet expired (‘basah – basi)’. Seorang cewek dengan anting panjang dan rambut hitam panjang yang sedang mencatat di suatu buku menengadahkan kepala. “ Oh. Ryker Fredickson ya?” tanyanya dengan gaya sekretaris professional. Aku mengangguk. Bagaimana ia tahu? Memangnya murid pindahan jarang banget disini? Cewek itu menyingkirkan bukunya kemudian memakai kacamata dan mengambil suatu kertas dan kunci. “ Ini kunci lokermu yang ada di sebelah kanan lorong , sebelah kelas Biologi dilantai 2. Itu salah satu dari 2 loker yang ada.. tapi tentunya kamu lebih memilih itu daripada loker dekat lantai 3?”aku mengangguk. Semakin dekat letak lokerku dengan suatu kelas itu merupakan hal yang baik.. “Tentunya kamu tahu kalau sekolah kita sistim kerjanya moving class kan? Nah, ini jadwal kelasmu , 7F dan juga formulir ekstrakulikuler yang mungkin kamu ingin ikut?” aku mengangguk lagi.

“Thanks.” Kataku singkat. Sambil mengambil semua kertas dan kunci loker (kupegang erat – erat.. KUNCI LOKERKU YANG PERTAMA!!!) tapi kemudian aku berpikir lagi… kalau begitu loker – loker ini ditentukan oleh pihak sekolah.. jadi sekolah sengaja membuat anak – anak menjadi kelompok- kelompok? Hmmm… menarik… aku naik ke lantai 2 dan merasa bahagia sekali ( LEBIH BANYAK LOKER!) Aku tersenyum lebar sambil mencari nomor lokerku. Sesampainya di sana aku menarik napas dalam. Detak jantungku terdengar oleh telingaku. Tunggu.. pasti ada yang salah, oh ternyata itu bukan detak jantungku tapi background effect. Dari mana pula suara itu? Ruang recording??Aku mengambi kunci itu dan membuka loker itu dengan tangan gemetaran. Tiba – tiba,

JEBRUAK!! Aku terjatuh, kena banyak sekali buku berat berjudul DICTIONARY, KAMUS, dan banyak lainnya yang menunjukkan kalau loker itu penuh berisi kamus. Semua mata di lorong tertuju padaku. Aku sendiri binggung, bukannya lokerku tidak berisi? Lagipula kan semua buku sudah dikirim ke aku dari minggu lalu dan sekarang sedang duduk manis di tas ranselku?? Dan apa maksudnya dari semua kamus ini?! Tidakkah mereka tahu aku alergi dengan hal – hal seperti ini?? Mataku sudah pusing membaca judulnya saja… Aku berdiri dengan susah payah ( kamus – kamus ini beratnya seribu ton) kemudian melihat ke arah lokerku dengan penuh tanda tanya .

Seorang anak memakai baju T-shirt biru dengan jeans datang bersama 2 anak lainnya. Mereka semua cowok. “ S-sori! Kamu salah loker, kamu malah membuka lokerku…” katanya sambil mengambil satu per satu kamus itu. Aku bisa melihat ia memakai kawat gigi waktu ia ngomong.“ Eh? Tapi kuncinya kok bisa-”, aku bahkan belum selesai bertanya tapi dipotong oleh salah satu cowok lainnya yang memakai kacamata kuning, “ Yah, kesalahan fatal yang dibuat sekolah. Mereka hanya melabeli kuncinya dengan nomor tapi membuat semua kuncinya sama. Kau bisa membuka loker siapa saja dengan kuncimu itu. Efektif waktu saat razia sih.” Katanya sambil  menekan kacamatanya lebih dekat ke mata. Aku melongo. APA?! RAZIA?! KUNCI SAMA?! BUKANKAH ITU ARTINYA AKU TIDAK BISA MENARUH SEGALA MACAM BARANG DI LOKERKU?! CHEAT CODE?! Game PS?! Hal – hal indah dan surgawi yang pasti kena razia itu TIDAK dapat kutaruh di lokerku. Rasanya serasa dihantam di perut saja… aku merasa lemas seketika. Dengan senyuman paksa aku berkata,  “ Sori aku tidak melihat nomor lokerku. Aku janji tidak akan terulang lagi.” Anak laki itu membawa semua kamus itu ke lokernya dan berkata, “ Ng- nggak apa – apa. Yah, eh… aku pergi dulu… eh…” dengan tergagap – gagap ia mundur kemudian berjalan pergi dengan 2 anak laki yang tadi jalan dengannya. Appan anak itu?

                      Tiba – tiba.. aku sadar. Apakah aku bersifat terlalu sok ramah? Jujur baru kali ini aku berbicara selama ini dengan anak baru. Eh salah, akunya sih yang anak baru, anak itu rasanya anak dari SD sini juga. Aku mulai merasa bersalah. Mungkin anak itu agak kuper atau apa sehingga jadi grogi denganku? Tapi aku juga kuper! Jadi… ah! Bodoh amat, cek loker barumu aja!  Kata batinku, tapi aku tetap merasa bersalah. Dengan pelan aku mengecek lokerku ( kali ini kucek 4 KALI aku tidak mau tertiban kamus, atau buku lainnya…) untungnya aku benar. Lokerku bersih,sih sih! Aku melihat ke arah jadwal pelajaran hari ini. Kukeluarkan buku – buku untuk pelajaran akhir dan besok kemudian melihat jadwal pelajaran untuk menentukan masuk kelas mana.

Jadwal Pelajaran Kelas 7F

Senin Selasa Rabu Kamis Jumat
Matematika Theater Fisika IPS Pkn
Matematika Theater Matematika Fisika Pkn
Sejarah Komputer Sains Olah Raga Istirahat
B.Inggris Komputer Sains Olah Raga Ekstrakulikuler
Istirahat Istirahat Istirahat Istirahat
B.Inggris IPS Sejarah Kesenian

Aku menatap nanar ke arah hari Rabu. Seluruh mata pelajaran hari itu membutuhkan teknik ‘ peras otak sampai tinggal seonggok benda tak berarti’. Aku mengeluh pelan ketika melihat pelajaran pertama hari ini.Matematika. URGH. Benci banget sama satu kata itu, nyaris sama besar dengan kata sekolah. Aku menyimpan kunci lokerku di tasku, dan mencari ruangan itu sampai titik darah penghabisan. Aku berhenti di depan ruang berlabel : Matematika Kelas 7

Aku menarik napas panjang. Menatap langsung ke pintu kelas itu ( hanya ada satu jendela buram yang makin tidak memperlihatkanku apa yang di dalamnya karena terhalang oleh secarik kertas dengan nama – nama orang yang remedi Matematika. Mungkin sebentar lagi namaku akan masuk ke dalamnya…) kemudian berkata ke diriku sendiri dalam benakku : “OK, Ryker Fredickson, jangan panik, ingat : Kamu murid baru, beri first impression yang baik, senyum, jangan overacting, lebih tepatnya jangan lakukan apa – apa. Pilih tempat duduk di tengah dan dekat jendela. Pura – pura perhatikan apa yang dikatakan guru itu, dan JANGAN PERNAH BERBICARA DENGAN ANAK SEBELAHMU. Kamu akan disangka cerewet. Nah, SERBU!”

                     Dengan mantap, aku membuka pintu kelas itu. Seluruh kepala menoleh ke aku. OK, mungkin aku membuka pintu terlalu keras… aku memandang ke isi ruangan dengan ragu – ragu dan malu. Tapi tatapanku kembali ke seorang cewek berambut coklat panjang. Mukanya cantik dan matanya berwarna hijau, memakai seragam mirp anak Amerika, seperti di gossip girl atau semacamnya. Ada dua alasan kenapa aku memandang ke arahnya. Satu : ada sesuatu darinya yang membuatku hampir mengenalinya. Meskipun setelah itu perasaan itu menghilang. Dan kedua, ia juga memandang ke arahku. Dengan tatapan mata besar, mulut menganga, dan berteriak keras : “ KAMU!”. Aku menutup pintu dengan pelan, agak sungkan malahan. Kulupakan cewek itu, dia mungkin tidak pernah lihat murid baru. Mungkin? Aku merasakan sesuatu secara tiba – tiba. Oh, itu otakku :  OK, 1)first impression? Tidak mungkin. Aku membuka pintu terlalu keras, dan cewek itu dari tadi memandangiku dengan mata benci… kenapa lagi tuh?? Anyway, 2) Aku gagal senyum. 3) duduk di dekat jendela, daerah tengah. Dengan antusias, aku melihat ke arah daerah tengah kelas. Tapi semuanya sudah penuh diisi oleh anak – anak. Hanya ada satu tempat yang belum diisi , di kursi dekat papan tulis. OUCH, sesuai dengan yang aku tahu tentang sekolah baru ,

                   Kursi paling depan + kamu anak baru + kamu bodoh  = KESALAHAN TERBESAR SEUMUR HIDUP.

Aku bergidik. 4) Jangan over dan jangan bicara. Nah, itu belum terlambat bagiku untuk kulakukan.. sip! Ayo duduk. Aku duduk di kursi depan papan tulis itu. Sebelahku masih kosong. Aku menarik napas lega. Yah, setidaknya itu memastikan aku tidak mungkin berbicara kepada sebelahku… karena memang tidak ada. Tiba – tiba cewek yang tadi meneriaki aku itu, berdiri dari tempat duduknya dan duduk di sebelahku, “ Sedang apa kau disini?!” desisnya tajam. Aku binggung. Mungkinkah aku salah kelas? “ Ini kelas 7F kan?” tanyaku gugup. “ Well, iya sih… tapi, bukan itu maksudku! MAKSUDKU adalah mengapa kamu berada di sini?!” desisnya, menekankan suaranya pada bagian ‘ maksudku’. Aku berkedip kemudian berkata ragu – ragu, “ Memangnya tempat duduk ini reserved? Kalau iya aku pindah, dan…”

“ ARGH! DASAR OTAK KACANG!” teriak cewek itu penuh frustasi. Aku melihat dari sudut mataku, beberapa anak sedang menonton kita. “ Lha terus maksudmu apa?” tanyaku heran. Apaan sih cewek ini? “ Ryker, masa sih kamu seblo’on itu?!” tanyanya dingin. “ Apa maksudmu dengan.. tunggu, bagaimana kamu tahu namaku?” tanyaku balik, benar – benar heran total bagaimana dia tahu namaku. Gantian dia yang binggung. “ Heh? Maksudmu apa aku tahu… tunggu sebentar, jadi kamu lupa total?!” tanyanya dengan mata agak panik. “ Erhm… memangnya aku harus ingat?” tanyaku balik. Aku mencoba cari di benakku wajah cewek ini. Mungkin dia dulu satu sekolah sama aku ( meskipun hanya 1% kemungkinannya). Nope, nggak ada. “ Kamu salah orang.” Kataku kalem.

Kadang hal – hal seperti ini terjadi, dia akan meminta maaf karena salah orang, kembali ke tempat duduknya , kemudian semuanya akan kembali NORMAL. Tapi ternyata, keadaan sedang buruk. “ AKU TIDAK MUNGKIN SALAH ORANG, DASAR DODOL!!!! Mana mungkin aku melupakan wajah yang aku benci sedunia ini?! Lagipula, hanya kamu yang punya rambut kayak landak itu, pikir dong Ryker, PIKIR!!” teriaknya keras. Semua mata di kelas menuju ke aku. Sekilas aku melihat 3 anak yang tadi bertemu denganku, yang anak berkamus banyak, dan 2 temannya. Demi susu coklat rasa vanilla, eh aku salah… JADI MEREKA SEKELAS DENGANKU?! Kira – kira apa nih pikiran mereka sekarang?? Pelan – pelan aku berkata, “ Hei, bisakah kamu kecilkan suaramu sedikit? Lagipula , aku minta maaf tapi kamu salah orang, OK? Terserah kamu mau bicara apa, tapi aku akan tetap berkata kamu salah orang.” Cewek itu tampak marah banget mendengar alasanku itu, tapi belum sempat ia meneriakkan kepadaku ( entah apa yang ada di benaknya pada saat itu) , guru matematika masuk. Cewek itu berjalan cepat ke tempat duduknya yang semula , meninggalkan aku sendiri dengan kebinggungan yang dashyat. Tapi 35 menit kemudian, guru itu sudah memperkenalkan dirinya sendiri dan mengajarkan kita soal matematika yang susah banget, aku sudah tidak peduli lagi dengan masalah cewek itu.

Agak lama kemudian, aku melirik cewek itu dari tempat dudukku. Ia sedang memandangi aku dengan mata penuh benci itu. Aku bergidik. Tiba – tiba , guru Matematika kita ( namanya Mr.Nathan, boleh dipanggil Mr.Nath) bertanya kepada cewek itu, “ Alice, berapakah jawaban dari soal ini?” Alice? Itukah namanya? Aku melihat ke arah soal itu. WOW, susah banget!! Aku melirik cewek itu lagi, ia memandangi soal itu selama kira – kira 5 detik kemudian berkata mantap “ 5a kuadrat.” “ Betul, nah bla – bla – bla – bla….” ujar Mr.Nath lagi. Aku melongo, MAKHLUK APA CEWEK INI?! Dia bisa menjawab pertanyaan yang membuatku mual dalam waktu 5 detik dan dia BENAR! Jujur , aku shock. Cewek, yang kemungkinan besar namanya Alice, itu jenius banget! Atau, akunya yang bodoh… atau mungkin dua – dua? Sepanjang hari itu, aku memerhatikan anak yang bernama Alice itu. Ia menyelesaikan tugas matematika selama 5 menit, dan benar semua. Waktu sejarah, ia menjawab semua pertanyaan yang ditanyakan guru dalam waktu 20 detik. ( aku memakai jam tangan) dan saat istirahat, aku didampratnya lagi.

“ Jadi RYKER,” katanya , menekankan suaranya saat mengatakan namaku. “, Kamu sedang apa di sini??” aku bengong. “ Kan aku sudah bilang?? Aku murid pindahan, dan kamu mendapat orang yang salah, OK?? Jangan tanya aku ‘ kenapa kau disini’ lagi. Itu urusanku. Sori jika aku terkesan kasar, tapi bisakah kau meninggalkanku sendiri? Aku benar – benar terganggu dengan sifat terlalu ingin tahumu itu, ALICE.” Kataku menekankan namanya meskipun aku agak tidak yakin itu namanya. Ia mendengus kemudian berjalan pergi. Aku memandangnya pergi kemudian mencari kantin. Saat aku sampai di sana, aku bersyukur banget, INI CAFETERIA!!!! Aku bisa mengambil makanan apa yang aku mau, dan tidak perlu membayarnya , HALELUYA, sekali lagi!! Aku mengambil nampanku kemudian mencari makanan yang ada. Sayur, sayur, buah, nasi, roti, yes, HAMBURGER!!! Aku menarik burger yang paling besar dari tempatnya dan menaruhnya di nampanku. Aku memilih jus apel untuk minumannya. Waktu aku membalikkan badan aku shock. Seperti pada saat aku masuk sekolah, semuanya pada sendiri – sendiri. Ada sekolompok anak yang berdandan seperti punk yang berada di pojok kantin. Sekelompok anak cewek dengan pakaian serba pink dan make up ( urgh, gossip girl, cewek – cewek yang paling aku benci karena bisanya nggosipin orang. Memangnya ngga ada kerjaan lain ya??) yang berada di paling tengah. Lebih tepatnya, semua anak yang kelihatan terkenal dan memiliki fans berada di tengah seakan – akan berkata, “ KITA BERADA DI CENTER STAGE, HORMATILAH KITA DODOL!” aku sama sekali tidak tertarik untuk duduk di sebelah mereka. Dan aku juga tidak tertarik untuk duduk di antara punk – punk itu ataupun di sebelah anak – anak yang sedang membawa buku pelajaran dan membacanya… ah tapi apa itu???

Aku melihat anak yang lokernya kubuka itu dengan 2 temannya , bukankah mereka sekelas denganku??? Mereka duduk di kursi paling jauh, terkesan jelas kalau mereka agak menutup diri, dan juga terlupakan. Mereka tidak membawa buku pelajaran ( YES, BUKAN MANIAK PELAJAR!!!) mereka tidak memakai baju yang over atau tatoo ( YES, BUKAN PUNK!!!) dan yang paling penting, aku merasa berhutang permintaan maaf ke anak ber t-shirt biru itu. Jadi dengan langkah yang canggung, aku mendekati meja mereka. Tampaknya mereka sedang membicarakan sesuatu , tapi berhenti saat melihatku berjalan ke sana. Aku berdiri di ujung meja mereka. Mereka semua melihati aku dengan pandangan heran. “ Tempat duduk ini sudah ada orangnya belum?” tanyaku berusaha terdengar biasa. Tidak ada tanggapan. “ Kamu ingin duduk sama kita?” tanya anak yang dari tadi tidak aku dengar suaranya. Saat kulirik makanannya, ia hanya makan sayuran. Matanya tampak heran dan berbinar – binar. “ Eh… iya?? Kalau ada orangnya sih aku pindah tempat aja, nggak apa – apa…” kataku agak salah tingkah. “ Bukan begitu!! Cuma , SERIUS?! Kamu MAU duduk sama kita??? Sama kita yang dicap aneh dan 10.000% nerd ini?!”pekik anak yang tadi kubuka lokernya. Aku melongo. 2 anak lainnya langsung berkata, “ Aaron!” bersamaan dengan nada mengomel. Aku melihati mereka satu per satu. Lalu aku memutuskan untuk berkata, “ Iya. Terus kenapa?” kemudian tanpa menunggu lagi, aku duduk di satu – satunya kursi yang ada di meja dengan 4 kursi itu. Membuat mereka melongo besar, tapi kemudian mereka semua memakan makanan mereka dengan diam , kadang membuat beberapa percakapan kecil. Tapi hasilnya? Aku bahkan tidak tahu nama mereka. ( Argh… sial benar…!!!)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s