AYWMEN Bab 12 : Tugas Sains

Lusa…

“ Pagi,” sapa Bu Merri dengan ceria. “ Pagi, Bu…” kata sekelas bersamaan. “ Hari ini, saya punya tugas untuk kalian.” Sekelas menjadi tegang.“ Berhubung kita sudah menyelesaikan Bab 2 soal Makhluk Hidup, saya memutuskan untuk meniadakan ulangan,” “ YEEEEEE!!!!!” teriak sekelas. Bu Merri tersenyum singkat. “ Tapi saya ganti jadi tugas.” “AWWWWW…” kata sekelas lagi. “ Kalian akan berkelompok lagi. Masih ingat kelompok kalian dari kelas Fisika?” WHAT?! “ Saya minta kalian duduk berkelompok dengan kelompok kalian dari kelas Fisika. Aku melirik Hugo dengan pandangan syok. “ Jangan lihat aku…” bisik Hugo. Kita melihat para cewek itu. Mereka mengangkat tangan mereka dan menyuruh kita ke situ. Tidakkah mereka mengerti Ladies First? Dalam kasus ini, mereka seharusnya yang datang ke kita pertama dulu kan?    Kita bereempat, para cowok berumur 12 tahun yang sedang bete, berjalan menyeret kaki kita ke tempat duduk cewek – cewek edan yang menunggu dengan muka kesal. “ Ayo, waktu kita cuma 1 jam pelajaran… ya, nah. Tugas kali ini adalah kalian harus menjaga sebuah telur. Kalian harus bisa mengidentifikasi telur itu. Masing – masing telur akan menetas 1 minggu lagi. Tulis laporan yang dibuat oleh satu kelompok tentang apa telur itu dan bagaimana kalian mengurusnya. Mengerti?” “ Yaaa.” “ Masing – masing kelompok mengambil telur mereka dari saya.” Aku mendongak melihat ke arah para cewek. Mereka balas menatap kita. “ Well, siapa yang ngambil?” “ Cowok lah.” “ Gila apa? Nggak. Cewek yang harus ngambil.” “ Heh, jangan suruh – suruh, ya.”
“ Oho, terus tadi kamu ngapain hah? Kalau bukan nyuruh kita datang ala panggil pelayan dari restoran?”
“ Kita kan cewek?”
“ Apa hubungannya?”
Aku menghela napas panjang dan berkata, “ Aku yang ngambil.” Tapi Alice berkata hal yang sama pada saat yang bersamaan. Aku menatap ke arahnya. “ Nggak usah tiru – tiru.” Ujarku kasar. “ Siapa yang tiru – tiru? Dasar geer..”
“ Aih… dasar cewek satu ini…”
“ Apa maksudmu hah?! Udah, kamu harus bertanggung – jawab, ambil sana!”
“ Perasaan tadi kamu ya juga ngomong mau ngambil. Ayo kalau gitu, ambil!”
“ Ya sudah aku yang ambil.”
“ Enak aja, aku!”
“ Dasar edan! Kamu atau aku?”
“ AKU!” teriak kita bersamaan.
“ JANGAN TIRU – TIRU!”
“ SIAPA YANG TIRU – TIRU?!”
“ BERHENTI NGOMONG BERSAMAAN DENGANKU!”
“ MAKSUDKU KAMU! ADUUUUH!!”
“Er…” bisik Daisy. “ Stop, ini hiburan yang menyenangkan.” Potong Aaron sembari nyengir.
“ GUNTING BATU KERTAS AJA LAH!” Teriak Alice.
“ Dasar kayak anak TK aja!” kataku kesal.
“ Sudahlah!”  “ Ya udah! Gunting… batu… kertas!”
Jreeeng! Sama – sama batu! Aku bisa bunuh diri soal ini.
“ Kepala batu..” bisik Heather , disusul tawa tertahan Ethan.

“ KELOMPOK 3!! AYO!” Aku berdiri dari tempat dudukku, tapi Alice juga. Aku melototinya. Akhirnya aku mendesah dan mengalah. “ Perang lumayan.” Ujar Hugo sambil menepuk pundakku. Alice kembali membawa container kecil berisi pasir dan telur kecil. “ Kira – kira ini telur apa?” Tanya Ethan.“ Kura – kura?” Jawab Cynthia setengah bertanya.“ Wow, akan susah menetaskannya kalau gitu.” Balas Hugo.“ Yeah, suhu berapa derajat celcius?” Tanya Aaron. “ Lupa aku.” Jawab Ethan.

“ Well, siapa yang akan membawanya pulang? Kita tidak diperbolehkan meninggalkannya sendiri, kan?” Tanya Alice. “ Aku bisa menjaganya, tapi untuk hari ini saja.” Ethan mengangkat tangan. “ Kalau begitu buat gantian aja yang jaga.” “Ok.” “ Jadi… Rabu ini, Ethan. Kamis? OK… Hugo. Jumat? Cynthia. Sabtu, Heather. Minggu, Aaron. Senin, aku. Selasa, Ryker, Rabu…sudah kembali lagi. Setuju?” Kita semua mengangguk. “ OK! Nah, seharusnya ini kura – kura. Pastikan udara yang hangat selalu menyelimutinya dan jangan pernah kau sentuh telur itu.” Hugo menarik kembali tangannya. Ia berniat menyentuh tadinya. “ Aku pernah membaca laporan hasil eksperimen yang sama dari alumni SMP kelas satu di perpus! Mereka menggambar sebuah muka yang tersenyum di telurnya sebagai jimat keberuntungan agar telur tersebut menetas. Telur tersebut menetaskan ayam yang sangat sehat dan cerewet.” Ujar Cynthia si penjaga perpus sambil senyum. “ Awwwwww….” Balas ketiga cewek lainnya.

“ Ok…. Well, kurasa kita bisa nekat sedikit dan menyentuhnya dengan sangat hati – hati untuk menggambar…” Alice tersenyum. Hugo bersemangat kembali. “ Bolehkah aku??” Tanya Hugo bersemangat. Melihat Hugo seperti itu, Alice tampak berniat berkata tidak. Tapi entah bagaimana, Hugo selalu bisa kelihatan seperti anjing bersemangat yang setia pada majikannya. Alice tampak terpengarah, shock dan kaget pada saat yang bersamaan, mukanya memerah. “ Ya, kurasa… boleh…” katanya agak tidak jelas. Aku melirik Hugo. SALUT! “ Kamu bisa membuat muka itu lagi? Kita bisa menang telak perang itu kalau kamu bisa.” Bisikku pelan. Hugo mengacungkan 2 jempol sambil nyengir. Kemudian ia menggambil spidolnya dan dengan sangat hati – hati menggambar. Aku begitu bosan mendengarkan celotehan tentang mengurus telur ini, diam – diam aku membahas manga terbaru dengan Aaron di sebelahku yang kebanyakkan tidak ngerti ( ia lebih senang main game online daripada membaca manga ). “ Ryker?” “ Tiga ratus dua puluh tiga chapter!” teriakku otomatis. Aku sedang menjawab berapa banyak chapter manga yang aku baca. Alice kelihatan marah banget. “ Dasar… DENGERIN! Ini penting!” bentak Alice. “ Sori…” ujarku tidak semangat dan berhenti membicarakan manga tersebut. “ Kembali ke topik, demi keamanan dan karena kita disuruh, kita terpaksa membawa telur itu kemana – mana. OK??” Aku mengerang. Hal terakhir yang aku ingin sekarang adalah terpaksa membawa sebuah telur kecil kemana – mana pada hari selasa. “ OK? Sah.” Kata Alice. “ Sah.” “ Sah.” “ Sah.” “ Sah.” “ Sah…” “ Sah…” “ Sah…” “ SELESAI!!!!” teriak Hugo. Kita semua memandangi telur yang sudah selesai digambar smiley face-nya. Hasilnya bagus. Biasa. Karena smiley harus biasa,  jadi itu bagus. Mengerti? Nggak? Aku duduk bersandar. Aku bosan sekarang.

***

Sekitar 1 minggu kemudian, lebih tepatnya 6 hari kemudian, yaitu selasa atau hari yang lebih dikenal dengan hari aku ‘baby-sit’ telur itu, aku semakin bosan. Kemarin saat menerimanya dari Alice, ia tampak sakit hati lepas dari ‘ baby egg’-nya. Dasar cewek gila. Aku memegangnya penuh hati – hati saat masuk ke kelas Theater. Pada saat aku ke toilet (ya, aku perlu melakukan bisnis juga tahu.), ke pelajaran, cafeteria, hingga kembali pulang. Telur itu tetap diam, bergeming begitu saja. Dengan kesal, aku membuka pintu kamarku, melempar tasku ke kursi dan menaruh container kecil itu di dekat jam wekerku. Telur sialan, kenapa kok dia nggak menetas sekarang juga? Aku melompat ke tempat tidurku setelah melepas baju dan sepatuku, dan well… aku tidak perlu menceritakan hal – hal pribadiku, yang penting, aku ganti baju dengan alasan higienis. Kemudian aku kembali memandangnya dengan BT. Dalam diam, aku menajamkan telingaku. Mom sedang menonton TV serial favoritnya. Dad sedang di kamar, rasanya, mengerjakan pekerjaannya sebagai arsitek. Ashley tidak di rumah. Ia sedang bermain di rumah tetangga kita, dengan anak yang seumurannya bernama Chloe atau apa.. Suara angin di luar jendela kamarku membuat daun – daun di pohon di depan jalan bergemerisik. Aku sudah mengatakan ke Mom kalau aku tidak mau makan malam karena sudah makan di rumahnya Ethan barusan. ( dan btw.. makanannya ENAK BANGET…), tapi aku bisa mendengar Dad keluar dari kamarnya dan berkata, ” Nggak makan?”. Lalu kembali ke suara angin dan daun, dan lagu TV serial itu. Sambil mendengarkan suara – suara kecil seperti ini, lama – lama aku merasa mengantuk dan tertidur.


Kraak!
Aku tersentak bangun. Suaranya pelan tapi terdengar asli bukan seperti di mimpi, suara seperti benda yang jatuh, atau robek. Kraak! Aku mencoba untuk tidur lagi. Siapa tahu itu cuma barang jatuh di lantai bawah atau apa. Kraak! Tunggu dulu… apakah itu memang suara barang jatuh? Aku menoleh dengan kecepatan cahaya. Dan benar saja, telur kura – kura itu terbuka sedikit. Aku begitu shock aku terdiam dan cuma memandang telur itu menjatuhkan satu per satu pecahan cangkangnya. Kraak! Kraak! Kraak! Sunyi. Aku langsung melompat bangun dan berlari menarik HP-ku. Mencari telpon orang…. Aku menelpon orang pertama yang ada di group contact sekolahku. “Cepat… cepat….” Aku berbisik tegang sambil mengawasi telur itu yang sekarang duduk bergeming. “ Halo?” terdengar suara Alice. Alice! tentu saja! A adalah huruf pertama. “ Alice-san! Isogu watashinoie ni kite! Tamago ga fuka shi!!” teriakku. Alice berkata lagi, “Halo???” aku menepuk dahiku, dasar orgil! Dari tadi aku ngomong pakai bahasa Jepang. “ Alice! Ini Ryker! Cepat kesini! Telurnya menetas!” teriakku, kali ini dengan bahasa yang benar. “ APA?!” jeritnya. “ AKU TAHU!!!” teriakku balik. “ Suruh telur itu berhenti!!” teriak Alice. Terdengar suara kaki berlari, mungkin ia sedang ke sini cepat – cepat.“ BAGAIMANA BISA AKU MELAKUKAN HAL YANG MENENTANG ALAM ITU?!” teriakku. “ KALAU BEGITU CARI KAMERA ATAU APA! KAMU HARUS MEMFOTONYA!” “ OK!” “ TELPON COWOK – COWOK YANG LAIN, AKU AKAN TELPON YANG CEWEK!” “ OK! CEPAT!” “ YA! Tut – tut – tut…” suara telpon dimatikan langsung terdengar, aku menelpon cowok pertama di grup ‘Nerd Club’. “Ryker.. ini jam setengah 9 dan…” suara Aaron terdengar, “ AARON! KE RUMAHKU ASAP! TELURNYA MENETAS!” teriakku. “ APA?! AKU KE SANA!” teriaknya balik. “ TELPON HUGO! AKU TELPON ETHAN!” teriaknya sekali lagi sebelum ia membanting telponnya hingga mati. Aku berlari keluar kamarku sambil membawa telur dan kontainer itu dengan sangat hati – hati, dan langsung ke daerah TV, sambil menunggu Hugo mengangkat telpon, tanganku mengobrak – abrik isi lemari itu, KETEMU! Kamera digital X 30! ( the new classic in digital camera, JREEENG!!) Aku menariknya keluar dan mulai menjepret foto telur itu dengan cangkangnya di atas meja pendek di depan TV itu. “Ryker, ini sudah malam dan aku…” “HUGO! KE RUMAHKU! SEKARANG! TELUR! MENETAS!” teriakku sambil menjepret foto telur itu sekali lagi. Ting – tong…. Bel terdengar. Jam segini? Pada saat krisis begini? Pasti salah satu anggota grup biologi-ku, atau orang gila. Aku berlari ke ruang tamu dan membuka pintu itu. Alice tampak di depanku. Napasnya terengah – engah dan rambutnya acak – acakan. “ Mana?” tanyanya. “Ruang TV.” Jawabku sambil memberinya kamera, ia langsung berlari menuju daerah itu. Ethan dan Aaron tampak berlari ke arah rumahku. Tapi… gerbangnya masih dikunci, bagaimana Alice bisa masuk melewati pagar dan muncul di depan pintu rumahku? Apakah ia… ia memanjat?! “ RYKER!” teriak Ethan sambil melambaikan tangan. Aku menarik kunci dari gantungan kunci di ruang tamu dan berlari ke arah mereka. Dengan kecepatan kilat aku membuka pagar rumahku.

“ Bro!” teriak Hugo yang muncul bersamaan dengan 3 cewek lainnya. “ Ruang TV!” teriakku dan kita semua berlari. Melewati ruang tamu, mengerem,dan berbelok ke ruang TV. Hugo terlambat mengerem dan terjatuh dengan muka mencium lantai ruang tamu, aku mengangkatnya dan menyeretnya ke ruang TV. Alice sedang di depan telur itu, dengan mata yang sangat besar. Kita semua mengelilingi telur itu, persis seperti tissue yang berkumpul bersama. Saat ( secara tiba – tiba) ada sebuah tangan kecil muncul, kita semua terkesiap.

Setelah menunggu dengan sangat lama dan dalam diam, seluruh badan kura – kura kecil itu muncul. Dan kita semua tersenyum. “ Lucu banget.” kata Heather “ Dengan lendir itu juga?” tanya Aaron. “ Well…. Lumayan..” Alice tersenyum kemudian berkata, “Aku akan membuktikan kita ada di sini waktu kejadian ini berlangsung dengan mengambil foto kita semua dan telur itu.” “ Kau serius?” Tanya Cynthia panik. “Kenapa?” Tanya Alice. “ Lihatlah diri kita sendiri.” Aku memandang ke arah bajuku. T-shirt rumah bertulisan “I’m the.. KING OF GAMES!” yang norak dengan celana pendek warna hijau yang agak luntur hingga berwarna kekuningan. Ethan memakai baju piama warna biru dengan gambar piyo – piyo ( dasar maniak kuning). Hugo memakai kaus oblong dengan celana selutut . Aaron memakai celana boxer dan baju bergambar pirates. Yang cewek – cewek tidak lebih parah. Heather memakai baju baby doll, atau semacam itu dengan gambar hati. Cynthia memakai kacamata frame super tebal dengan gaun tidur. Daisy malah memakai baju t-shirt yang ada gambar bunga – bunga super besar yang norak dengan celana ‘hot pants’ lagi! Alice… well, ia tidak kalah parah, tapi mungkin tidak separah itu.. rambutnya dijepit asal pakai jepit besar dan hasilnya, kebanyakkan dari rambutnya acak – acakan, dan memakai baju bergambar hello kitty.

Akhirnya kita semua saling pandang dan tidak tahan lagi, kita tertawa terbahak – bahak sampai terguling – guling. Mau apa lagi? Situasi kayak begini konyol banget. Akhirnya kita tidak memedulikan apa yang kita pakai dan dengan timer, kita memfoto semua anggota grup biologi-fisika no.3. di belakang kura – kura kita. Kurasa, bagaimanapun juga, kita tetap anak kelas 7 yang sedang cari sensasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s