AYWMEN Bab 13 : Valentine Sial

Well, setelah tugas sains kita sudah selesai, kita kembali mengalami perang bersama grup Alice. selama ini, apa yang pernah kita lakukan hanyalah sedikit :

1.)   Menyelundupkan cicak ke masing – masing loker mereka,

2.)   Mengganti bel sekolah dengan lagu Rock n roll heavy metal

3.)  Dll, yang akan sangat membosankan jika aku tulis di sini

Padahal grup Alice terus menerus menindas kita kayak begini. Kita perlu back-up plan. Saat itulah ide yang keluar dari mulut Aaron membuat kita benar – benar memikirkan perang ini dengan persepsi berbeda : “ Well.. mereka kan tetap cewek, jadi seharusnya kita bisa mengalihkan perhatian mereka dengan cowok ganteng atau apa..?” Ethan mengerjap. Ia kemudian mencari di google hal – hal apa yang membuat cewek leleh. “ Hal romantis seperti : bunga, surat cinta, dll.” Kata Ethan. “ Bunga? Whew… pasti mahal harganya, hari – hari panas kayak Februari gini?” “ Heh, jangan lupa, cinta orang itu tidak selalu asli. Kadang cinta palsu bisa diartikan dengan bunga plastik. Tidak asli, nikmatnya sementara.” Kataku, tanpa sadar mengulang kata – kata Dad waktu memberi celoteh panjang lebar kepadaku tentang cewek dulu. Mereka semua memandangku. “ Ryker…” “Kamu…” “ Cowok…” mereka saling pandang, nyengir, lalu Hugo yang angkat bicara. “Ryker, kita tidak pernah tahu sisi romantismu itu,hmm?” katanya sambil tersenyum. “Sudah jelas kamu yang paling bisa menguasai hal semacam ini, apalagi Alice dan kau, well. Hubungan kalian bisa dibilang unik.” Aku menatap nanar ke arah mereka. “ Maksud kalian? Yang tadi itu cuma joke..” ujarku buru – buru, setengah bertanya. “ Well, berikan sebatang bunga ke Alice dengan surat cinta penuh gombal atau apa gitu lho. Itu pasti akan mengalihkan perhatiannya.” Kata Ethan blak – blakan.

“ Wowowowo… stop dulu. Mungkin kalian tidak akan menyangkanya, tapi aku cuma mau naksir ke cewek jika hubungan itu serius, ngerti? Bahkan jika kalian memintanya , ataupun karena perang macam ini penting, aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu.” Mereka bertiga langsung terlihat lemas. “ Well… itu masuk akal.” “Yeah… dan dia nerd juga.” “ Ya, nerd tipe fanatik game lagi.” “ Yeah.. hmm.” Aku semakin sakit hati setiap salah satu dari mereka berbicara. Aku berdiri dari situ dan keluar dari ruang janitor. Kurasa aku harus menunjukkan ke mereka apa artinya kalau aku sedang serius. Saat di tikungan, aku melihat Alice sedang bersama cowok.

Aku kembali sembunyi di balik dinding tikungan itu. Dari balik dinding itu, aku melihat dia tampak kesal dengan cowok itu. Aku memerhatikan wajah cowok itu. Aku ingat dia… dia salah satu dari anak cowok yang shoot-nya tidak pernah meleset di ekstra basket. Aku lupa namanya siapa. Tapi aku tahu cowok itu termasuk salah satu cowok dari klub ‘orang kaya dan populer’. Rambutnya berwarna pirang ala Justin Bieber dan dia memiliki semacam four- pack di perutnya. “Alice, semakin aku memandangimu, aku tidak pernah berhenti berpikir betapa…” “ Oh, hentikan, aku benci omong kosong milik cowok. Katakan sebenarnya, kamu ingin punya cewek supaya kelihatan keren waktu valentine’s, kan? Well, aku tidak tertarik.” Kata Alice datar dan ia berjalan menjauh. Anak cowok itu menariknya kembali ke tempat tadi. “ Jangan kira aku akan menyerah, Alice. Aku selalu punya cewek, kali ini aku hanya mencari cewek yang beda. Kamu beda. Dan kamu pintar. Kamu akan semakin diakui kalau kamu jadi pacarku.” Kata cowok itu  lagi. “ Tepat sebelum hari valentine, aku akan mengajakmu keluar, dan pada waktu itu, kamu akan menyukaiku.” Ujar cowok itu, kali ini mendekatkan mukanya hingga nyaris menciumnya. Aku merasa sedikit mual. Cowok itu kemudian pergi menjauh dengan gaya ala cowok macho dan sedikit sibakkan poni. Aku memandangnya menjauh dengan alis terangkat. Lalu aku memandang ke arah Alice. Aku pikir ia akan mulai mengumpat – umpat bak cowok seperti waktu aku memasukkan cicak ke lokernya.

Pasti. 1000%, dia akan begitu. Alice bukan tipe cewek yang suka cowok macho.

Tapi, entah kenapa, prediksiku salah. Mukanya memerah semua dan ia mengangkat tangannya ke mulutnya seakan – akan sedang terpesona. Tunggu dulu… jadi Alice itu tipe cewek yang kelihatan garang di depan cowok tapi sebenarnya, ia juga suka cowok – cowok keren ber-four pack gitu?! Aku memegang perutku. Setelah aku pikir – pikir lagi… mungkin itu normal, apalagi karena aku selalu memakan daging, jarang makan sayur, dan olahragaku tidak segitu bagus. Aku masih beruntung proses kerja metabolismeku lancar jadi aku lumayan kurus. Tapi tetap saja, cowok seperti cowok-yang-aku-lupa-namanya-dan-berambut-pirang itu sukses membuat pipinya memerah. Tidak tahan melihat adegan Alice tiba –  tiba selemah itu terhadap cowok, aku berjalan menjauh dalam diam. Mendadak saja aku merasa BT.

Kenapa pula? Aku cuma melihat musuhku dengan cowok DAN, ia kelihatan menyukai cowok itu. Justru ini mungkin akan membuat pikiran Alice terlepas dari perang untuk sementara tanpa kita perlu melakukan apa – apa. Lagian cowok itu ngomong akan menembaknya sehari sebelum valentine. Valentine kan masih seminggu lagi. Kita bisa melancarkan perang kita dalam waktu seminggu. Itu waktu yang lebih dari cukup. Dan juga kita bisa…….aku tidak tahan lagi dengan pikiranku sendiri. Dengan kesal aku mengepalkan tanganku dan memukul dinding sebelahku. “ Sial.” Umpatku pelan saat tanganku kesakitan. Aku lupa loker dibuat dengan besi…

“ Dari mana saja?” Tanya Ethan. “ Jalan – jalan.” kataku ½ bohong sambil menutup pintu janitor. “ Sori kita lupa kamu tidak suka hal – hal kayak gitu.” Hugo minta maaf. “ Hah? Oh.. itu. Tidak apa – apa.” Kita diam semua. Aku mau mengatakan ke mereka tentang cowok pirang four-pack itu. Tapi setiap aku membuka mulut, aku tidak berani mengatakannya. Aku memandang ke bawah, kemudian mengatakannya. “ Kurasa… sebenarnya tidak ada salahnya bila kita…” aku tidak dapat melanjutkan kata – kataku sendiri setelah itu. “ Kita apa?” Tanya Ethan. “ Nggak.. nggak jadi.” Kataku cepat. Mereka tampak heran. Dan dalam hati, aku juga.

* * *

Esok harinya, aku bertemu Hugo di jalan menuju sekolah. “ Hei!” teriaknya. Aku tersenyum. Kemarin malam aku tidak bisa tidur lagi, aku sendiri tidak tahu alasannya apa. “ Jadi… kamu udah tahu ada manga baru?” Tanya Hugo. Aku langsung tersandung karena kaget. “ APA?!” teriakku. Hugo tahu manga baru sebelum aku? Itu hal yang tidak mungkin, kan? “ Well, sebenarnya ini manga yang cukup lama, dan yah… sebenarnya bukan manga.” Jelas Hugo. “ Hah?” “ Orang yang membuatnya agak gila. Tapi ia memiliki ide – ide yang sangat bagus. Judul websitenya  : Sumber manga tak dikenal. Isi website-nya sama sekali tidak ada satupun yang manga. Tapi ia juga sering meng-upload manga di website – website manga dengan nama web-nya itu. Isinya tips- tips keren untuk merayu cewek, bikin body jadi six-pack, cara ngomong pake suara perut, dll. Keren deh.” Aku mengangguk – angguk, “Kelihatannya seru.” Sambil membicarakan hal – hal lain, seperti menjemput kura – kura kecil milik grup 3 Biologi di ruang janitor. ( ingat kura – kura yang menetas? Nah, kita masih menggilirnya. Nerd Club senang dengan kehadiran kura – kura itu.)

Tak lama, kita telah sampai di depan lorong sekolah kita. Anehnya, lorong ini FULL PINK COLOR. Dengan tulisan besar – besar “ VALENTINE’S WEEK!” “ Valentine?” tanyaku heran. Hugo tersenyum,  “ Kamu belum melihat apa – apa.” Saat kita naik tangga, kita mendengar derap langkah kaki banyak orang. Kita membalikkan badan kita. Ada segerombolan cewek yang sedang menatap ke arah kita. Saat kita naik satu anak tangga, mereka naik satu anak tangga juga. Saat kita berhenti, mereka berhenti. Mereka cuma memandangi kita sambil berbisik – bisik. Aku memandang ke arah Hugo. Hugo mengangkat pundaknya dan mengajak kita naik lagi. Kita naik sampai lantai atas, Ethan dan Aaron sudah menunggu kita. Ethan langsung mengambil tanganku dan menyeretku. “ Ow! Ethan!!” teriakku, ia setengah mencakarku. Ia membantingku ke loker kita. BRAAAK!!  “ APA –APAAN KAU RYKER?!” teriaknya. Sambil memegangi tangan kananku yang tadi ia cakari, aku memandang ke arah mukanya yang sedang full emosi. “ Ha?” tanyaku. Hugo terlihat sedang serius berbicara pelan dengan Aaron. Akhirnya Hugo menarik napas dalam dan mengangguk sambil membentuk tanda ‘ peace’ ke arahku. “ INI!” teriak Ethan lagi, memuncratkan air yang dikenal dengan saliva ke arahku. Ia melempar sebuah majalah ke aku. Aku mengambilnya dan membaca halaman itu.

3 COWOK TERGANTENG

Kriteria :

1.)    Cakep
2.)     Sama dengan criteria pertama

Urutan cowok :

1.)   Wayne Lit: cowok cakep ala Justin Bieber pribadi milik sekolah kita! Tembakannya tidak pernah meleset, dan rayuannya selalu tepat.

2.)   Ryker Freddickson : cowok simple yang suka game. Pindahan dari Amerika

3.)  Deddy W. : cowok misterius yang sudah pacaran dengan Kristel

Aku membaca ulang halaman itu untuk memastikannya. Aku? Cowok terganteng nomor 2? Serius? No way, ini pasti salah cetak. Mukaku yang pas standard kayak gini… wah, fitnah nih! “ Ethan, siapa yang mencetak ini?” tanyaku panik. Ethan berteriak – teriak gila lagi. Aaron akhirnya menariknya ke markas pribadinya, eh salah, maksudku TOILET..untuk menenangkannya.  Hugo yang dari tadi berdiri diam akhirnya membantuku berdiri. “Ethan selalu begitu, maksudnya baik sih…” “ Hah??”

“ Well, begini. Asal kau tahu, majalah tipe begini selalu muncul tiap valentine week. Dalam kurun waktu itu, 3 cowok – cowok dan cewek – cewek dengan muka tercakep akan dipastikan masuk klub orang kaya dan populer. Alasan? Dalam kurun waktu seminggu, cewek – cewek akan mengejar cowok – cowok paling ganteng, kecuali cowok itu punya pacar. Dan cowok – cowok akan mengejar cewek – cewek paling cantik, kecuali cewek itu punya pacar. Oh, dan by the way, tidak ada satupun cewek di  pimpinan sekolah kelas 7 masuk, dan 3 cewek tercantik sudah pada punya pacar semua.” Jelasnya panjang lebar

“ Terus… Ethan?” “ Dia takut kamu akan ikut klub orang kaya dan populer.” Aku mengerjapkan mataku. “ WHAT THE MAKSUD IN THE HELL?!” teriakku. Campuran bahasa Inggris dan Indonesia adalah bahasa yang aku gunakan saat aku benar – benar kaget. Ethan dan Aaron muncul lagi. Ethan kelihatan masih kesal, tapi ia sudah tidak teriak – teriak lagi. Aku memandangnya dengan tidak percaya kemudian mendesah.

“ Well. Aku cukup yakin hal ini tidak akan mempengaruhi jabatan tetapku di nerd klub.” Kataku cukup keras. Ethan mengangkat mukanya. “ Susah tahu cari orang yang ngerti bahasa komputer kayak Hacker, ngerti bahasa Itali kayak pecinta kamus, dan orang yang ngerti silsilah keluarga sayur kayak vegetarian di dunia ini, tahu?” kataku sambil nyengir. Mereka bertiga saling pandang, “ Tapi…” kata Aaron.  “ Rileks, lagipula, muka standar gini? Aku yakin ada kesalahan.” Kataku santai sambil membuka lokerku. Saat membukanya, pintu kecil itu memuntahkan puluhan surat kecil dengan gambar hati atau ada tulisan hati – hati gitu. “ Emmm….” Kata Hugo. Aku mengangkat kakiku dari banjir surat itu. Aku menarik satu.

To : Ryker
About : Pacaran?
Dari : Cewek X

Aku melemparnya kembali seakan – akan benda itu adalah bangkai tikus. “Tampar aku.” Pintaku ke Aaron. Ia dengan lancar menamparku. PLAK! Mukaku memerah karena sakit. “Thanks.” Kataku tulus. “ Hmmm.” Langkah pertama yang aku ambil adalah benar – benar menyingkirkan semua surat itu dari lokerku. Kemudian aku menarik keluar buku – buku pelajaranku dan menutup lokerku lagi. “ Yuk?” kataku santai sambil berjalan menjauh. “Tapi… surat – suratnya?” Tanya Hugo. Aku menatap kembali surat – surat itu. Hmmmm…  “ Biarkan aja.” “Tidakkah kamu akan membacanya?” “ Satu per satu? Gila apa? Mendingan aku main Crazy Rats, game horror untuk anak di bawah umur 3,  daripada gituan. Mereka sudah baca di majalah itu kalau aku fanatik game. Aku tidak baca surat mereka? Bukan salahku. Yuk..”  mereka memandangku dengan senang. Kemudian kita ke ruang janitor untuk kura – kura itu. Di tengah jalan, aku sudah berhasil melepaskan pikiranku tentang surat itu, tapi kemudian aku melihat Alice berjalan dengan cowok pirang itu lagi. Kalau tidak salah dia yang cowok terganteng peringkat pertama… siapa, Wayne Lit? Alice tampak agak malu berjalan dengan Wayne, bahkan saat Wayne berbicara dengan suara yang sangat keras, ia cuma mengingatkannya untuk tidak boleh berteriak. Masa sih dia memang suka dengan cowok macam itu? Hah? Aku mengerutkan keningku.

***

Saat Bahasa Inggris tiba, aku dikejutkan oleh adanya seorang pria bule. Guru kita sedang tidak ada, padahal untuk ulangan hari itu, kita seharusnya melakukan conversation yang natural terhadap bule itu. Alice dipilih sebagai wakil guru (hanya sementara). Sial…pikirku. “ For number 1, I would like to announce Ryker to do the conversation first.” Crab. Ok, mengubah language-ku ke Inggris. Aku berdiri dengan terpaksa, dan berjalan ke bule itu. Sang bule tampak agak canggung. Aku mungkin juga. “ Hi.” Kataku gugup. “ Hello.” Katanya dengan logat British yang kental. Aku menghirup napas dalam – dalam dan akhirnya memberanikan diriku melakukan conversation.

“ What’s your name?”
“ Dan.”
“ Ok…. I’m Ryker. Sooo… Dan… where do you live?”
“ Oh, nice of you to ask, I live in London.”
“ London? Nice. I’ve been there once.”
“ Really? That’s amazing, but where do you come from?”
“ Me? I was born in this town, but… my parents always move from one place to another.”
“ Wow, tough life.”
“ Hahaha, tell me about it… anyway, how old are you?”
“ Old? Me? Oh.. well, I’m still in my mid-30’s.”
“ Oh, I see, sorry if I was rude on asking about that.” Sial! Aku lupa tidak boleh tanya umur!
“ No, don’t be sorry, I don’t really mind. Do you have a girlfriend?”

Aku mengerjapkan mataku. Aku? Pacar? Tidak. Tapi… aku melirik Alice sebentar, ia sedang digodain sama Wayne.

“ I haven’t, but, if I’m lucky, that girl might want to.”jawabku tanpa menunjuk siapa – siapa.
“ Hoho, and who’s that girl?”
“ Hmm? Oh, she’s an OK type of girl, I tell you,” aku melirik Alice, perhatiannya sekarang benar – benar terpusat padaku karena mendengar aku ingin punya pacar.

“ She’s smart, beautiful, she’s mature and responsible, yet she acts like a kid if it’s on revenge. And maybe she’s a little insane.” Seluruh kelas tertawa. Alice tampak kesal, tapi mukanya memerah, kurasa ia mengerti aku mendeskripsikan dia.

“ I see, well, love’s blind.” 
Aku cuma nyengir dan berkata, “ Well, we might as well end this talk, it’s been 5 minutes, everyone needs their conversation.”

“ Oh, that’s a shame, it was fun talking to you… er- what’s your name again?”
“ Ryker.”
“ OK Ryler.”
“ Ryker.” ulangku mulai BT.
“ Sorry, nice talking to you.”
“ It’s OK. Pleasure’s all mine.”

Aku kembali duduk di tempat dudukku, mengganti language ke…. “ Ryker,” bisik Hugo sambil menyenggol tanganku. “Hmmm?” “ Aku baru tahu Inggrismu mantap..” “ Aku tidak ingin menyombongkan hal itu.” Bisikku balik. “Aku kan pernah tinggal di New York, dan bahasa international adalah Inggris, jadi aku terpaksa mempelajarinya. Ortuku sering pindah, tahu?” Hugo mengerjapkan matanya, kemudian ia mengangkat ibu jarinya. “ Alice pasti shock tentang hal itu, dan soal kamu ingin jadi pacarnya lihatlah dia.” “ Itu cuma joke.” Kataku sambil menoleh dan memandang Alice. Ia sedang memandangiku dengan pandangan tak percaya. Kemudian ia menggelengkan kepalanya dan akhirnya tersenyum seakan – akan mengaku ia kalah dalam hal pelajaran Inggris. Wayne tampak menepuk lengannya terus menerus, rupanya ingin berbicara dengannya. Tapi Alice mencuekinya saja dan memandang ke arahku. Aku menoleh ke mejaku lagi. Kenapa kok aku merasa puas banget?

  * * *

“ Jadi…” “ Ya.” “ Serius?” “ Yap,” “ SALUUUT….” “ Tapi…” “ Well, lupakan Flight of the Fury untuk sementara… kenapa cewek – cewek ini mengikuti kamu?” aku menoleh ke belakang. Hugo benar, ada segerombolan anak cewek yang dari tadi mengikuti kita dari sekolah ke perjalanan pulang. Aku menghadap depan lagi. “ Nggak tahu, hey, kamu sudah sampe ke level 61? Battle-nya mantep tuh.” “ Jadi apakah aku boleh meminjam Lair of Doom?” “ Oh? Terserah, mau kamu ambil sekarang? Aku sudah menyelasaikannya.” “ Sudah?! Tapi kamu baru main game itu satu minggu yang lalu!” “ Well, aku memang game addict…” “ Buset, Ryke… itu bukan hal yang baik.” Hugo memperingatiku.

Esok harinya, jam yang sama :

“ Terus?” “ Well, aku kalah, bikin risih kan?” “ Wow, boss battle-nya sesusah itu?” “Itulah mengapa! Aku masih bingung apa yang harus aku lakukan.” “ Bagaimana dengan cewek – cewek di belakangmu ini?” Aku menoleh ke belakang. Segerombolan anak cewek ini dari tadi mengikuti kita, seperti kemarin. “ Biarin. Hugo… apa yang telah kuperbuat hingga aku kalah dalam game?!”kataku dengan alay. Hugo hanya tersenyum dan berkata, “Tabah.. tabah…”

Esok Harinya, di pagi hari. Sebelum ke sekolah

“ Hey, Ryker.” Ujar Dad tiba – tiba sambil menurunkan korannya. “ Hmm?” tanyaku. Tumben Dad berkata sesuatu saat “ritual pagi hari”. “ Sejak kemarin, aku perhatikan ada beberapa cewek yang ada di luar rumah kita saat kamu pulang sekolah, apakah kamu secara tiba – tiba memacari mereka semua?” Klontang! Sendokku jatuh di mangkuk sereal-ku. “ Dad? Serius? Ok, aku akan menceritakannya.” Aku menarik napas dalam dan berkata dengan nada normal.

“ Berhubung nyaris Valentine, sekolah membuat semacam majalah yang menuliskan 3 cowok terganteng. Dan secara pasti, 3 cowok itu akan dikejar – kejar cewek. Nah, ajaibnya, entah dari mana tragedi macam ini tiba – tiba muncul, aku bisa ditempatkan sebagai cowok terganteng nomor 2. Jadi sekarang, aku memiliki segudang cewek beserta coklat dan surat cinta mereka di mana – mana.”

Aku menarik napas dalam lagi, dan kembali melanjutkan makan pagi-ku. Dad mengerjapkan matanya. “ Okaaaaay…. Tapi kamu belum memacari mereka?” “ Tentu saja tidak.” “ Ah, kamu nggak seru.” “ Dad!” “ Cuma bercanda…” kata Dad cepat, aku mengerutkan keningku dan kembali memakan sereal-ku lagi.  “ Valentine… hmmm, kira – kira apa yang ibumu mau?” Tanya Dad sambil menggaruk bagian bawah dagunya yang mulai ditumbuhi rambut. “Mom? Nggak tahu. Belakangan ini Mom sudah jarang bicara panjang lebar ke aku.”  jawabku santai.“Well, kita memang lebih jarang ke Mall sekarang.” “ Yeah, mungkin Dad bisa memberinya tas atau apa? Cewek kan suka begitu-an.. Bunga, mungkin?” “ Oh, Ryker, apakah aku sama sekali tidak mengajarimu tentang cinta?” Tanya Dad dengan kesal dan menurunkan kertas koran. Mukanya berubah menjadi wajah – wajah cowok romantis yang di TV – TV… atau setidaknya sesuai dengan buku berjudul ‘ CARA MENGUBAH WAJAH ANDA MENJADI ROMANTIS’.

“ Valentine tuh momen romantis. Jangan cuma kasih kado doang. OK, kuputuskan, aku akan mengajaknya kencan lagi.” Aku memutarkan bola mataku. Dad menyelesaikan masalahnya tanpa bantuanku, seperti biasa. Sambil mengangkat mangkuk dan sendokku, aku berpikir lagi. Valentine…hmm…apakah Alice akan mengiyakan ajakan Wayne? Bisa saja, Wayne memiliki modal muka, dan rayuan maut. Tapi kalaupun ia berkata iya, terus aku memangnya bisa apa? Belakangan aku lihat dimana Alice ada, Wayne juga ada. Entah kenapa, pemandangan kayak gitu bikin aku sebel tanpa alasan jelas

***.

 Saat di tengah – tengah perjalanan ke sekolah, ada orang yang sedang menjual bunga – bunga asli. Rupanya untuk valentine. Aku memandangnya dengan diam. Bisa saja aku membuktikan ke Dad kalau aku benar soal cewek harus diberi bunga aja waktu Valentine. Akhirnya aku membeli sebatang bunga berwarna ungu yang kelihatan bagus. Kata penjualnya sih bunga itu bunga lili. Aku tersenyum dan meminta satu bunga mawar putih lagi. 2 lebih baik dari satu. “ Untuk pacar?” Tanya penjual itu sambil senyum. Aku langsung merespons, “ Bukan.” Kemudian aku berpikir – pikir lagi… “ Tapi mungkin dalam kasus tertentu, iya.” Penjual itu kelihatan bingung, tapi aku hanya membayar bunga yang langsung menguras uang sakuku itu, dan tancap gas dari situ. Saat sampai di sekolah, aku melewati lokernya Alice. Sambil berpikir pelan, aku membuka lokernya dengan kunciku (ternyata efektif juga kunci ini!).

Di antara buku Matematikanya, aku menyelipkan bunga lili itu. Aku menutupnya dengan cepat dan berlari ke atas, berharap apa yang aku lakukan tidak kelihatan. Sambil senyum –senyum dan menyatakan diriku gila, aku kemudian ke lokerku dan berjalan ke arah lab fisika. Well, kalau mau jujur, dari awal minggu ini aku ingin memberi Alice bunga. Alasan? Gak tahu. Tapi karena itu sudah selesai, aku cukup lega. Alasan? Gak tahu juga. Aku menampar mukaku sendiri. Belakangan ini aku kurang fokus dan sering lupa kalau Alice adalah musuhku dan rencana hari kiamat baginya masih dalam kondisi 10% jadi. Kurasa aku sendiri juga lupa kalau Alice sudah punya Wayne dan merasa bunga lili itu akan membuat perhatiannya teralihkan. (seperti rencana awal kita sebelum ada Wayne.) “ Ryke!” aku menoleh dengan kecepatan kilat dan ditabrak oleh Aaron. GUBRAK! Kamus bertebaran dimana – mana. “ Ow….” “ Kenapa sih kamu?! Aku dari tadi meneriaki kamu tahu?” tanya Aaron dengan muka kesal. “ Oya?? Sori…” “ Pffft! Geez…” aku tersenyum penuh minta maaf sambil membantunya mengambil kamus – kamusnya. “ Jadi… siap untuk quiz Fisika?” tanyanya sembari memeluk 5 kamus.

“Quiz? FISIKA?! Kita ada quiz fisika?! What the maksud in the hell?!” desisku panik. Aaron tertawa terbahak – bahak. “Makanya, punyalah agenda! Cari tuh buku kecil untuk menulis ulangan, quiz atau apa gitu, tanggal berapa, bahannya apa. Cek setiap hari, biar kamu bisa nyicil sedikit bahannya sebelum last minute.” Kata Aaron dengan wajah penuh bijaksana. Aneh… untuk sementara dia kelihatan seperti memiliki kumis panjang seperti sosok pak tua bijaksana di film kung fu yang aku pernah lihat…  ah, imajinasi. Begitu masuk ke lab fisika, bel berbunyi. Aku panik. Mati sudah, aku belum belajar sama sekali!! “ Hugo!! Tolong bantu aku, man!” desisku panik. “ Wowo, kenapa?” tanyanya heran. “ Aku lupa kalau hari ini ada quiz fisika, aku akan mati!!” desisku lebih cepat. Hugo mengangkat tangannya. “ Hands up, sori bro, itu aku tidak bisa bantu.”  “ Pagi 7F… yah, siapkan bolpen, dilarang ada buku. Kita mulai quiz sekarang juga.” Aku mengeluarkan bolpen dan tip-ex. Dalam hati, jantungku serasa mencolot. Aduh Ryker. Kamu melakukannya lagi.  Aku memejamkan mataku. Bagaimana kalau kali ini kamu pura – pura gila sebentar? Aku membuka mataku dan mencengkram mejaku. “Seakan – akan aku mau melakukan hal itu.” Kataku di bawah napasku. “ Apa?” Tanya Hugo. “ Nggak.” Kataku. Tapi saat kertas dibagikan, ada godaan memang untuk menjadi gila.

15 menit telah berlalu tapi sejauh ini aku cuma bisa menulis nama dan kelasku. Aku melirik ke arah Hugo. Ia terus menulis. Sial, Hugo cukup pintar, tapi ia sering ‘gak ngeh’ tentang Fisika, biasanya kalau ia bisa aku pun juga bisa. Sial sial sial!! Aku memukulkan kepalaku ke mejaku selama 3 detik. Saat mengangkat kepalaku, ada bekas merah sedikit di dahiku. Hugo menoleh ke aku dengan penuh keprihatinan. Sial!!! Aku membaca lagi pertanyaan – pertanyaan itu. Tapi bahasanya itu lho, aku tidak mengerti. Akhirnya aku menjawab asal pake “feel”. Untung saja ini pertanyaan pilihan ganda. Aku menatap ke arah Alice. Ia duduk sebelah Wayne, dan tampak sangat kesal dengan Wayne. Saat aku memperhatikan, rupanya Wayne sedang mencoba minta jawaban dari Alice terus menerus tapi Alice mencuekinya. Aku menoleh kembali ke kertas itu. Berdoa sebentar dan kembali menatap kertas Hvs putih itu. Tiba – tiba aku mendapat ilham. HALELUYA! Aku menghapus jawaban nomor 1 dan menuliskan apa yang kuingat. Kemudian aku mengisi jawaban nomor 3 – 8 dengan cukup percaya diri. Tapi ada 36 nomor di sini. Hanya benar 6 nomor akan memberiku nilai yang sangat sedikit. Tapi setidaknya bukan nol… kan? Aku memegang kepalaku, terutama rambutku. Saat tanganku menyentuh rambut hitamku yang spiky, aku mengacak – acaknya dengan spontan. Kemudian benakku berlayar ke Dad. Oh yeah, ini sih rambut keturunan dari Dad. Lebih tepatnya aku memang mirip sama Dad.

Dad adalah blasteran Jepang – Amerika. Aku mendapat rambut hitam legamnya dan bentuk muka asia dari dia. Mom lahir di sini, tapi ia memiliki darah orang Prancis. Aku mendapat mata abu – abu yang agak hitam darinya. Tapi kebanyakkan orang biasanya berkata aku mirip Dad. Kalau mau jujur, itu memang kenyataan. Dad tidak suka kerja. Ia lebih suka di rumah, buka youtube , mencari teknik – teknik baru untuk memancing atau mencari video – video karate. Mom sering mengomelinya, kurang lebih seperti ini dialognya :

Mom : “ Jon, tidakkah kamu kerja?”
Dad : “ Nanti.”
Mom : “ Hei! Kita harus bisa bayar pajak tahu!”
Dad : “ Yeah aku tahu.”
Mom : “ Jangan ‘ yeah, aku tahu’ ke aku! Ayo! Kerja di kantor sana!”
Dad : “ Renee… aku tidak kerja di kantor.”
Mom : “ KALAU GITU KERJA APA GITU DONG!!”
Dad : “ OK, Ok… sheesh…”
( Mom akan mulai berkacak pinggang dan menggeretu pake bahasa planet Saturnus)

Tapi lebih parah dialog denganku…

Mom : “ Ryke, stop gamemu sekarang. PR.”
Aku : “ Mom… 5 menit lagi.”
Mom : “ Ryker Freddickson, sekarang juga!”
Aku : “ Yeah, satu menit…”
Mom : “ Matikan atau aku akan larang kamu main game selama satu bulan.”
Aku : “ OK, OK! Sheesh…”
“ Waktu habis, kumpulkan. Selesai, tidak selesai.” Suara Prof. Helga menembus semua benakku tadi. Aku tersentak kaget. Hugo mulai berdiri sambil tetap mengernyitkan mukanya dan mengecek kerjaannya. Aku berdiri juga. Sambil memberikan kertas Ulanganku, aku merasakan dinginnya aura prof Helga. Hiii… sori harga diri, kamu akan terluka saat melihat nilaiku. Saat aku sampai ke tempat dudukku, sebagian besar anak sudah pergi ke kelas Matematika. Rupanya anggota Nerd Club yang lain juga. Aku mendesah, teganya… “ Freddickson?” suara Prof. Helga terdengar. Suara dinginnya membuat sekujur tulang di tubuhku menggigil. Apakah quizku begitu jelek hingga sudah ketahuan sekarang? Aku menoleh ke belakang dengan hati yang berdegup kencang. “ Ya… Ma’am??”“ Bisakah Anda membantu miss Stuart?” aku menoleh ke orang lain yang ada di sudut ruangan. Alice sedang membawa banyak sekali buku. Salah langkah, dan buku itu akan jatuh semua. Aku mengangguk sopan dan membantunya. Aku dan Alice berjalan dalam diam, masing – masing membawa 12 buku. Kita berjalan sejajar. Dan langkah kita kurang lebih sama. Membuat kita benar – benar setara. Kapan terakhir kali aku berjalan dengannya? Oh ya, tidak pernah. Ia selalu di depanku. Di nilai. Isi dompet ( aku serius. Membeli game selalu menguras uang). Teman – teman. Cinta.. “ Ryker?” Tanya Alice tiba – tiba. Aku menoleh kepadanya. Ia setengah menunduk, tapi aku masih bisa melihat kalau mukanya memerah. “ Apakah kamu pernah suka cewek?” tanyanya dengan suara yang sangat kecil. Aku menatap ke depan lagi. “ Dari mana pula pertanyaan itu datang?” tanyaku berusaha mengelak. Ia diam saja. Aku menoleh kepadanya. Sebagai cowok, hal yang paling natural adalah tidak menjawab. Cowok pecundang macam apa yang beritahu cewek, cewek lain yang disukainya?

“ Kenapa kamu tanya?” tanyaku lagi. Ia berkata dengan suara agak kecil, “ Penasaran.” “ Kalau gitu apakah boleh aku tidak menjawab?” Alice memandangku. Dan setelah sekian lama, mata abu – abu bertemu mata hijau. Sudah lama aku tidak melihat matanya. Kurasa ia juga lama tidak melihat mataku juga. “ Jawab saja kenapa sih?” tanyanya agak judes. Aku tertawa. “Hmmm, belum. Aku belum menemukannya.” “ Serius?” tanya Alice tidak percaya. “ Yeah. Sama saja aku tidak punya teman sebelumnya.” “ SERIUS?” tanyanya dengan nada naik satu oktaf. Aku mengangguk. “ Kenapa?” tanyanya penasaran. Aku menoleh ke arah lain. “Sori, aku tidak mau mengatakannya.” Ia kelihatan penasaran sekali, tapi ia menghargai apa yang aku katakan. Aku menoleh kembali ke arahnya. “ Wayne sudah jadi pacarmu?” pikirku. Tapi entah bagaimana saat itu apa yang aku pikirkan kuucapkan. “ Wayne?” tanyanya kaget. “ Yeah, Wayne.” Ekspresi mukanya datar. “Aku tidak menyukainya.” “Kamu bohong.” “ Aku tidak bohong!”

“ Kalau gitu kenapa kamu biarkan dia duduk di sebelahmu terus – terusan?”
“ Aku tidak membiarkannya, aku selalu memarahinya kalau ia duduk di sebelahku terus!”
“ Kamu menyukainya kan?”
“ Tidak.”
“ Terus kenapa kamu selalu berbicara dengannya dan tersipu malu, kalau kamu tidak menyukainya?”
“ Terserahku kan kalau aku tersipu ataupun tidak? Dan ngomong – ngomong aku tidak tersipu.”
“ Oh ya? Terus kenapa mukamu merah semua saat pertama kali ia menembakmu tempo hari?”
“ MUKAKU TIDAK MEMERAH! Dan… bagaimana kamu tahu hal itu?”
“ Kebetulan aku ada di situ.”
“ Bohong, lorong itu sepi.”
“ Sepi tidak berarti kosong.”

Ia terdiam. Aku memandang ke arahnya, menunggu jawaban. “ Baru kali ini aku kalah debat sama kamu.” Katanya lirih. “Aku bisa debat baik kalau serius.” Kataku dengan suara rendah. Ia memandangku dengan tatapan mata tidak percaya. “Alice, pertanyaanku cukup simple. Apakah kamu dan Wayne pacaran?” ulangku. Alice memandangiku. “ Tidak… tapi mungkin aku akan meng-iyakan.” “ Kenapa?” tanyaku cepat. “ Ia perhatian.” “Perhatian?” “ Yeah, barusan, ia memberikan bunga lili warna ungu yang bagus di buku matematikaku. Saat kutanyakan, ia berkata kalau bunga itu memang dari dia.” Aku mengernyitkan dahiku. Tunggu dulu, bunga  lili? Warna ungu? Di buku Matematika? Itu bunga yang aku beri ke Alice! Dan Wayne mengaku kalau ia yang memberikan bunga lili itu? Sialan, kurang ajar! Aku membuka mulutku untuk mengaku siapa yang benar – benar memberikan bunga itu. Tapi kemudian aku menunduk ke bawah, Alice lebih cocok dengan Wayne. Dia pintar, dan cantik. Wayne cakep dan populer. Buat apa aku membuat hal – hal rumit? Kita memberikan buku itu ke perpustakaan, kemudian ke kelas Matematika. Alice bertanya terus kenapa aku diam. Tapi aku tidak bisa menjawabnya.

***

“ Ryker, aku tidak bodoh.” “ Hmm?” aku menoleh ke Aaron. 3 Hari lagi Valentine tiba. Aku sekarang harus berlari kalau mau menghindari cewek – cewek. Untungnya ruang janitor selalu sepi. “ Kamu belakangan ini selalu BT kalau ketemu sama Wayne. Terus kamu juga sering memandangi Alice belakangan. Jangan – jangan kamu… cemburu?” aku tersedak, nasi bakso yang baru setengah kukunyah itu langsung tertelan. Aku mendelik ke arah Aaron. “ A- Aaron! Maksudmu apa sih?!” Aaron mengangkat alisnya. “ Jadi memang kamu cemburu? HEI! ETHAN, RYKER MENYATAKAN KALAU IA…” aku menyerang Aaron tepat pada waktunya sebelum ia sempat meneriakkan fitnah yang bisa didengar oleh satu cafeteria itu. “ Pelajaran Budi Pekerti nomor 23 : Memfitnah itu lebih jelek daripada tidak memfitnah!” desisku cepat. Aaron memandangiku dengan kaget. Aku tetap menutupi mulutnya agar ia tidak berkata apa – apa. Kemudian aku merasakan air dingin yang mengenai telapak tanganku. DIA MENJILATIKU!!!

“ YEEEEEEEEEEK!!! AARON! JOROK!!” teriakku sambil melepas tanganku. Ia nyengir. “ Jadi?? Cemburu?” aku menatap ke arahnya dengan pandangan aneh. “ Cemburu? Ke Alice? Kamu tahu lebih baik dari itu Aaron.” Aaron berkata sambil tetap mengunyah baksonya, “ Tapi kenapa kamu selalu BT tiap kali Alice dan Wayne ada?” aku terdiam, kemudian berkata lirih. “ Er… kalau mau jujur? Cemburu itu bagaimana?” Aaron memuncratkan nasinya. “ AARON! YEEEEEK!!” teriak Hugo dan Ethan bersamaan( mereka baru saja mengambil makanan mereka dan datang ke tempat aku dan Aaron duduk). “ Hei, Ryker sudah kupastikan nerd. Ia tidak mengerti bagaimana rasanya cemburu.” Kata Aaron sambil menarik keluar tisu yang ditawarkan Hugo dan membersihkan hasil muncratannya.

“ BUSET!” teriak Hugo dan Ethan bersamaan lagi. “ Hei, sejak kapan pembicaraan ini berubah menjadi aku yang tidak mengerti rasa cemburu?” tanyaku dengan nada heran. “Cemburu itu waktu kamu iri terhadap orang gitu lho.” “ Iya, contohnya ya waktu kamu suka sama orang.. terus orang itu diambil orang lain.. kan kamu merasa nggak nyaman karena kamu sudah merasa orang yang kamu suka itu direnggut gitu.” Jelas Ethan panjang lebar. Aku mengangguk – angguk tanda mengerti. “ Jadi??? Kamu cemburu sama Alice?” tanya Aaron. Ia mengatakan hal itu dengan nada seperti cewek yang sedang penasaran akan jawaban BFF-nya. Aku menggeleng. “ Hei habis ini pelajaran apa?” tanyaku mengalihkan topik agar mereka tidak lanjut membicarakan hal itu. “Ada pembagian quiz Fisika.” Sahut Hugo. Aku mengerang.
“ Kenapa?” tanya Ethan. “ Oh, kamu lupa, Ethan? Ryker benar – benar mengacaukan quiz fisikanya kapan hari.” “ Heh?!” “ Dia lupa belajar.” “ HEH?!” “ Well, good luck, Ryke. Doa aja biar nggak sampai harus remidi.” Aku tersenyum kecut. KRIIIING!!! Bel nyaring sialan itu menandakan waktu makan siang kita yang penuh muncratan itu selesai. Saat meninggalkan meja makan yang biasa nerd club duduki itu, aku merenung. Benarkah aku cemburu pada Alice? Ah, jangan pikirkan itu Ryker! Sekarang pikir dulu nilai Quiz fisikamu!

* * *

Makan malam di rumah. Menunya ikan dengan kecap yang benar – benar asiiin. Satu meja berisi orang 4 yang saling berhadapan ( aku berhadapan dengan Ashley, Mom berhadapan dengan Dad , meja ini berbentuk persegi panjang) ini sunyi senyap. Saat semuanya akhirnya telah selesai makan, Mom berkata pada Ashley. “ Ashley, sayang? Bisakah kamu pergi ke kamarmu dulu? Mom akan menyusulmu nanti. Istirahatlah sebentar. Kamu mau flu.” Ashley mengomel, “ Kenapa Mom??? Kenapa aku harus menunggu??” tanyanya dengan nada manja. “ Mom harus mengatakan beberapa hal ke kakakmu dulu.” Jawab Mom sambil mengerling ke arahku. Oooh, itu menyakitkan. Ashley mulai sadar dengan suasana yang tidak enak ini, langsung turun dari kursi makan, dan pergi keluar dari ruang makan tanpa berkata apa – apa. Begitu pintu kamar Ashley terdengar tertutup dari kejauhan, Mom mulai membersihkan meja dengan cepat. Aku diam saja. Dad berdeham. Mom duduk di kursinya. Mereka berdua memandang ke arahku dengan tatapan mata yang kejam itu. Ooooh, itu LEBIH menyakitkan.

“ Bisakah kau jelaskan?” tanya Mom dengan nadanya yang setengah marah. Aku selalu heran bagaimana Mom bisa dengan cepat menguasai teknik berkata – kata dengan nada marah. Maksudku.. ia baru mengasuhku waktu aku umur berapa? Sekitar umur… “Ryker.” Dad mengatakan namaku dengan jelas. Aku mengangkat mukaku, saatnya aku mulai bicara dan berhenti berpikir hal yang lain, “ Aku benar – benar lupa total kalau hari itu ada quiz. Kalau aku tahu hari itu ada quiz aku tidak mungkin akan lupa belajar.” Kataku berusaha membuat suaraku normal. (suaraku selalu bergetar sedikit waktu mereka menginterogasiku seperti ini) Mom menghela napas panjang. “ Ryke, kita tidak hanya membahas nilai fisikamu.” Katanya. Aku menatapnya keheranan. “ Nilai fisikamu yang barusan ini memang jelek, malah SANGAT jelek. Tapi kita ingin tahu kenapa nilaimu merosot terus sejak kelas 4.” Kata Dad sambil mengangkat kedua tangannya ke meja. Hatiku langsung berdegup kencang. Oh tidak, jangan itu. Aku menatap ke arah mereka dengan tidak percaya. Tolong jangan buat aku mengulangi semua hal itu. LAGI. Kataku dengan pesan telepati yang tidak mungkin akan sampai. Aku menunduk lagi ke bawah. Mom tahu aku tidak nyaman membicarakan hal itu. Meskipun aku melihat ke bawah, aku tahu Mom berkata, “ Jangan itu.” Tanpa suara ke arah Dad. Dad menghela napas panjang. “ Ok, yang penting jangan mengulangi hal itu lagi.”  “ Remidinya kapan?” tanya Mom.

“ 15 Februari.” Jawabku. “ Apakah kamu bisa mengejar semua isi quiz itu dalam waktu sekitar 1 minggu itu?” tanya Mom khawatir. Aku mengangguk. Dad mengerutkan dahinya. “Tunggu dulu. Aku mau remidimu itu 100% betul semua.” Kata Dad setelah diam sejenak. Aku menatap ke arahnya, “ Maksud…?” “ Apakah Alice pintar di kelasnya?” hatiku mencelos. Itu lebih parah daripada dilempar ke kandang singa. “ Ya… lumayan.” Kataku berusaha terdengar tidak meyakinkan. “ Nilai ulangan fisikanya berapa?” “100.” Jawabku jujur dengan pasrah. Aku tidak bisa lari dari hal ini, bahkan dengan berbohong. “ Nah, itu mempermudah hal. Waktu hari valentine, Alice akan berada di rumah ini selama lebih dari 3 jam. Pastikan kamu benar – benar memantapkan quiz itu dengannya.” Kata Dad, puas dengan solusinya. Aku menjatuhkan kepalaku ke meja. BRAK!

* * *

Saat aku sampai di sekolah pada hari valentine… “ Hei Ryke!” “ Happy valentine Ryke!” “W’sup Ryke?” aku tersenyum ke arah seluruh anggota nerd club yang lain.“Sama – sama tapiii….. KENAPA KALIAN MENJAGA JARAK 2 METER DARIKU?!” jeritku. “ Biasa, kamu cowok terkeren nomor 2 di sekolah. Ratusan cewek akan mengerubungi kamu dalam waktu 5..4…3…2…saa-“ saat Aaron nyaris menyelesaikan hitungannya. Aku mendengar derap kaki seperti kuda. Saat aku menoleh ke belakang, segerombolan cewek sedang berlari membawa coklat dan kartu. “ OH CRAB…” kataku sambil mundur dan langsung lari. “-tu.” Selesai Aaron. “FREDDICKSON!” teriak cewek – cewek itu.

Aku tidak pernah berlari secepat ini. Nyawaku terancam. “ Apa yang kulakukan hingga aku terpaksa menerima hukuman melanggar hak asasi manusia seperti ini?!” gumamku mulai putus asa. Aku berbelok ke kanan dan menemukan harapanku. Dengan cepat, aku langsung masuk ke toilet cowok. Begitu pintu toilet cowok tertutup, aku lari ke sudut terjauh dari pintu dan meringkuk di situ. “ Yah masuk toilet…” “ Keluar!” “ KE-LU-AR!” “ KE-LU-AR!” teriak mereka terus menerus. “ Gila apa?! Aku tidak akan keluar bahkan jika ada sequel game-nya Beyond the Hell!” gumamku pada diriku sendiri. Kemudian aku berpikir – pikir lagi. “ Well, MUNGKIIIN, aku akan keluar JIKAAAA ada sequel game-nya Beyond the Hell….” Ada anak cowok keluar dari salah satu bilik toilet itu. Ia menoleh ke aku yang sedang memeluk kedua lututku. Kemudian ia menoleh ke arah lain dan berkata, “Orang edan..” JLEB.. ow, itu sakit. TEEET!! Bel berbunyi. Segerombolan anak cewek itu langsung terkesiap dan lama – lama bayangan diluar pintu toilet mulai menghilang. Aku menghela napas panjang yang lega. Aku berdiri, dan keluar pintu toilet itu, dan bergegas pergi ke ruang pelajaran. Meskipun demikian, satu hari itu PENUH dengan kutukan yang sama.

Setiap kali pergantian jam pelajaran, pasti ada segerombolan cewek yang mengikutiku. Hingga puncaknya, jam istirahat. “ Ryke! Jaga jarak!” teriak Ethan sambil mengacung- acungkan penggaris 50 cm miliknya, menyuruhku minimal harus sejauh 50 cm darinya. Aku menoleh dengan penuh waspada. Benar saja, segerombolan anak cewek tampak lagi, kali ini ada yang membawa boneka Teddy yang BUESAAAR. Aku mengeluh keras kemudian berlari ke toilet cowok. Saat sampai di markas pribadi Aaron itu, aku merasa lapar. Tapi bagaimana mungkin aku bisa keluar dari sini?

Sebenarnya aku pintar juga sembunyi di toilet cowok. Cewek – cewek itu tidak mungkin masuk ke sini, kan? Tapi resikonya besar juga, aku jadi lapar begini. Aaargh! Aku benci valentine’s. Cewek – cewek pada mengejar cowok tanpa rasa harga diri. Mereka membuat coklat – coklat. Dan mengharapkan mendapat hadiah. Dan jika mereka tidak mendapat hadiah apapun dari cowok yang mereka sukai, mereka malah sedih dan depresi. Ujung – ujungnya bunuh diri. Aku menghela napas panjang. Perutku mulai bernyanyi. “ Sya-la-la-la…” tunggu sebentar, itu bukan suara perutku. Pintu toilet terbuka sedikit, dan muncul Aaron yang sedang bernyanyi – nyanyi, membawa 2 tray makanan. “ Aaron?” tanyaku, mengerjapkan mataku dengan tidak percaya. “ Aku duga kamu akan di sini. Jadi aku bawa makanan.” Katanya sambil nyengir. Ia memberikan tray makanan pertama ke aku, duduk di sebelahku dan mulai makan. Tidak menyia – nyiakan kesempatan emas ini, aku langsung mengunyah. Kita mengunyah dalam diam. Kunyah- kunyah-kunyah-kunyah-telan- “ Hugo dan Ethan lebih ingin makan di cafeteria?” tanyaku. Aaron menelan lalu berkata,“ Kurang lebih begitu kata mereka.” Aku mengangguk. Kunyah-kunyah-telan-kunyah.. “ Hei Aaron.” Aaron mengangkat mukanya. “ Hmm?” “ Kenapa kamu membawakanku makanan?” Aaron tersenyum sedikit.

“ Dulu sebelum kita membuat grup Nerd Club, tidak.. lebih tepatnya sebelum aku kelas 5 dan sekelas dengan Hugo dan Ethan, aku benar – benar tidak punya teman. Aku paling benci melihat semua orang lain memiliki ‘geng’ dan ‘grup’, dll, jadi aku selalu sembunyi di toilet.” Ia tersenyum pahit. “Ada seorang guru yang tahu aku tidak punya teman. Entah kenapa, guru itu selalu menemaniku waktu aku duduk di toilet seperti itu. Bahkan ia sering membawakanku makanan. Guru itu biasanya cuma duduk menemaniku dan menceritakan masa – masa jayanya waktu menjadi mahasiswa.” Ia tertawa kecil, seakan – akan mengingat cerita gurunya itu. “Lama – lama, aku mulai menikmati waktu istirahatku dan menggagumi guruku itu. Melihat kamu di toilet, duduk seperti aku begitu, aku ingin menghargai guruku dan melakukan hal yang sama.” Katanya, mengakhiri cerita panjangnya. Aku tersenyum. aku tahu bagaimana rasanya menggagumi seorang guru…dulu.Kemudian kita makan dalam diam, hingga bel istirahat selesai.

 * * *

“ Aku pulang..” teriakku sambil menaruh kunci rumah di gantungan kunci ruang tamu. Mom muncul. Memakai baju yang terlihat seperti baju yang dipakai 1 dekade yang lalu.“Well?? Bagaimana menurutmu?” tanyanya sambil berkacak pinggang dan berputar ke kanan. “Apakah itu….” “ Ya.. itu baju yang aku pakai waktu ayahmu mengajakku kencan pertama kalinya.” Katanya sambil tersenyum. “ Masih cukup?” tanyaku heran. Mom melotot. “ Apa maksudmu?! Sejak aku pertama kali pacaran dengan ayahmu hingga sekarang, sama sekali tidak ada yang berubah!”

“ Bagaimana dengan perasaan? Kata Mom perasaannya pernah berubah dari suka ke cinta, dll begitu…” “ Ya, kecuali perasaan…” aku memutar bola mataku. “ Cepat ganti bajumu, Alice seharusnya datang sebentar lagi.” Aku mengeluh dan menutup mulutku saat Mom memberiku pandangan tajam. Kemudian aku naik ke lantai atas. Saat sampai di kamarku aku mendengar pintu terbuka dan suara Mom berkata,  “ Alice! Senang kau telah sampai. Pastikan Ryker bisa lolos remidinya.” “ Jangan kuatir, Ma’am. Aku pasti memastikannya.” Aku bergidik ngeri. Entah kenapa kalimat Alice terdengar mengerikan. Aku turun ke bawah, membawa buku fisika dan kotak pensilku. Dad muncul memakai kemeja putih lengan pendek dan celana jeans.

“ Siap?” tanya Dad. Tidak. Jawabku dalam hati. “ Yup. Ayo.” Kata Mom.  Mom dan Dad pergi, berjalan kaki ke restoran untuk sebuah candlelight dinner dan menonton bioskop. Persis seperti waktu mereka kencan pertama mereka, atau sesuai apa yang mereka beritahu. Begitu sosok Mom dan Dad menghilang, Alice menutup pintu dan menyeretku ke ruang TV. “ Duduk!” katanya. Aku duduk di carpet itu. “ Kamu dapat berapa?” tanyanya. “Jelek.” “ Ya aku tahu kalau jelek, tapi berapaaa??” “ Di bawah standard.” “ Itu sih sama aja..” aku mengeluarkan kertas quizku dan menunjukkannya. Dia terkesiap dan langsung lemas ke lantai. “ APA?!” Dia mulai teriak – teriak, untungnya aku hanya melihat mulut komat kamit nggak jelas karena aku menutup telingaku. “KOK BISA ITU LHO?!” teriaknya saat aku akhirnya melepas telingaku karena panas. Aku mengangkat pundak. Alice mengacak – acak rambutnya. Aku mengeluarkan pensil dan penghapusku. Alice menghela napas dan duduk di karpet itu, menghadap ke arahku. “ Kita mulai dari awal. Kamu simpan nggak soal yang dikasih Prof.Helga yang tentang satuan?” “ Yeah.” “Keluarkan itu. Kita kerjakan beberapa soal beratnya untuk refreshing.”

Jadi sepanjang sore itu, aku dan Alice belajar seperti nyawa kita sedang terancam. Alice mengarahkanku memakai rumus apa, dan lama – lama aku mulai sadar Fisika itu…JAUH lebih susah dari bayanganku. Cuma jika kamu diarahkan seperti ini, kamu dapat mengerti lebih mudah. Alice perlu mengecek apa yang sedang Ashley lakukan setiap 15-20 menit. Tapi begitu Ashley memutuskan untuk tidur saja, dia langsung full power menyiksaku dengan soal fisika super berat. “ Massa Jenis sekarang! Kerjakan aja semuanya!” katanya dengan keras. Aku berteriak, “ Apa?!” “ Tunggu.. kamu benar.. kita tidak boleh melakukan itu.” Aku menghela napas panjang dengan lega. Tapi dia malah menarik sebuah kertas dari tasnya dan berkata, “Nih! Ini soal dari pelajaran tambahan Prof. Helga yang kuminta. Kerjakan juga!” kepalaku ambruk ke meja itu.

“ GUAAAAH…. Alice.. aku tidak tahan belajar kayak gini terus- terusan… beri aku istirahat 5 menit…” Alice mendesah, “Baiklah… OK, fine. 3 menit.” Aku mengangkat kepalaku dan memandangnya dengan tatapan memohonku. Ia menatapku dengan kesal, “ 2 menit.” Aduh, malah dikurangi.. Alice menarik buku latihan fisikaku dan meneliti jawaban – jawabanku. “ Jawabanmu yang nomor 5 ini apa?” tanyanya sambil menunjukkan soal nomor 5. “ 36. Dengan rumus pakai system S/I ,kan? Jadi aku harus mengubahnya lagi baru aku dapat mengkalikannya dengan yang satunya.” Kataku setelah melirik soal itu. Alice mengangguk. “ Sudah bisa gitu..” katanya sambil membalik – balikkan halaman buku itu. Kemudian ia berhenti membolak-balikkan buku itu dan berkata, “ Ah?”. Aku mengangkat mukaku. Dia memegang sebuah mawar putih. “ Ngapain kamu punya mawar putih kayak gini di buku fisikamu?” aku sendiri agak kaget, kemudian mengingat – ingat kenapa… oh ya.

“ Sekitar beberapa hari yang lalu.. nggak, perasaan waktu itu hari rabu yang lalu, waktu ada quiz ini. Aku membeli 2 bunga dari toko emperan tengah jalan. 1 itu ya bunga mawar putih itu. Sebenarnya aku berniat kasih ke Mom. Dodol, aku lupa total.” Kataku sambil menghela napas panjang. Tampaknya Dad benar. Bunga tidak pernah cocok untuk Valentine. Sekarang dia date dengan Mom dan bungaku layu total. Alice mengerjap dan tersenyum.

“ Anak mami.” Gumamnya pelan. “ Aku bisa mendengarmu.” Kataku dengan kesal. Ia menaruh bunga yang sudah setengah layu itu pelan – pelan di meja. “ Bagaimana dengan bunga satunya?” aku memandang ke arahnya dengan tatapan poker face-ku.  “ Bunganya bagus. Warnanya ungu. Kata penjualnya sih itu bunga lili. Tapi aku tidak begitu yakin. Aku cuma menaruhnya di loker seorang cewek.” Alice tampak seakan – akan ditampar. Mukanya merah padam. “ Jadi… tunggu dulu. Kamu pasti bohong… tapi kata Wayne…” aku cuma tersenyum dan berkata, “ Kurasa 2 menit telah lewat. Ayo.” Alice menutup buku fisikaku yang tadi mau aku kerjakan. “ Mau jujur? Kurasa kamu sudah pintar fisika.” Katanya tenang. Dengan satu gerakan mulus, ia menjatuhkan semua buku fisika ke lantai. GUBRAK! “ Jelaskan padaku, apa maksud ceritamu tadi.” Kata Alice dengan nada marah.

“ Bukannya aku sudah ngomong? Akulah yang memberi kamu bunga itu. Wayne cuma asal ngomong kalau dia yang memberi kamu bunga itu.”
“ Terus apa alasanmu kamu beri bunga itu?”
“ Biasa aja. Kurasa kamu cocok dengan bunga itu. Jadi aku beli dan beri ke kamu. Sama dengan Mom-ku, aku merasa ia berhak mendapat bunga seperti itu.”
“ Oh, gentlemen sekali.” Katanya dengan sarkastik
“ Yeah, dan Wayne?”
“ Sejak kapan topik ini berubah ke Wayne?”
“ Kurasa dari awal cowok itu memang naksir kamu.”
“ Ya, aku tahu itu, terus kenapa?”
“ Aku tahu dia ingin kamu jadi pacarnya. Dia seharusnya menembakmu kemarin.”
“ Ya, memang. Terus kenapa?”
“ Jadi kamu jawab iya nggak?”
“ Mau tahu aja.”
“ Alice, jawab.”

Alice dan aku sudah saling berdekatan sekarang. Kita saling memandang dan tangan kita saling terkepal di atas meja. Alice melepaskan kepalannya dan merapikan rambutnya.

“ Kenapa kamu ingin tahu?” tanyanya dengan nada yang lebih lembut.
“ Ya gak apa – apa , kan?”
“ Bagaimana bisa itu bisa jadi jawaban?” suaranya naik satu oktaf.
“ Jawab saja kenapa sih?”
“ Jawab apa?”
“ Pertanyaanku kan sudah jelas… kamu pacaran sama Wayne tidak?”
“ Demi raja nan jauh di sana! TIDAK, RYKER, TIDAK!” teriaknya dengan emosi. “ Dengar, aku tidak suka Wayne. Tidak pernah. Tidak akan. Dia memiliki semacam hal yang menjijikkan di otaknya yang keluar setiap kali ia ngomong. Dan dia sama sekali tidak menghargaiku, ataupun cewek lainnya, ATAUPUN SESEORANG PUN DI LUAR SANA. Kamu kira aku suka sama cowok seperti itu? Maka kamu SALAH!”

Aku merasa kelegaan hebat memenuhi otakku seketika. Terang – terangan, aku menghela napas panjang, lalu aku nyengir lebar. Alice menyibakkan poninya dan berkata, “ Ayo, kita masih punya banyak latihan Fisika.” Aku menggeleng riang.

“ Ogah.” “ Ryker! Kerjakan!” “ Katamu aku sudah pintar Fisika..” dia mulai mengomel lagi, dan aku menutup telingaku lagi. Kali ini dengan senyuman dan pikiran yang menyenangkan :  Valentine sudah berakhir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: