AYWMEN Bab 2 : Berteman itu Membantu dan ‘Membantu’!

Yah, sekolah berakhir dengan buruk kemarin. Aku belum mendapatkan satu pun teman, dan anak bernama Alice itu membenciku tanpa alasan yang jelas. Hari selasa ini aku melakukan kegiatan pagiku seperti kemarin , ( makan sereal, menyapa Dad, menggosok gigi, mandi, mengambil tas, dan pergi ke sekolah) saat keluar rumah, aku melihat Mom berbicara dengan 2 tetangga kita lagi,“ Ah masak begitu sih Maurene?!” “ Benar, Renee! Aku melihat dengan 2 mataku sendiri, anak itu meminta uang ke pak tua itu.” “ Aku tidak percaya. Bagaimana menurutmu Natasha?” kudengar mereka bergosip dengan riang di sana ketika keluar dari rumah. “ Bye Mom.” Kataku pendek. “ Oh, OK Ryker. Cobalah cari teman, ajak mereka ke rumah kalau bisa.” Kata Mom, tatapan matanya menyiratkan ia serius soal aku harus cari teman. Anyway, untuk tidak membingungkan kalian, Renee ( baca : Renii-e. I dari ingin, e dari empati. Cobalah membacanya. Jika tidak bisa…. Baca kalimat berikutnya.) itu Mom. Aku berjalan ke sekolah dengan rute yang sama dengan kemarin. Saat masuk sekolah, aku memandang sedih ke arah loker – loker itu. Teringat apa yang diberitahukan anak berkaca – mata itu padaku, “ Semua loker ini menggunakan satu kunci yang sama. Berguna sih saat razia…”  Aku berjalan ke lantai 2 dan membuka lokerku. “ Theater, Komputer dan IPS…. hmm, yah aku harus ke auditorium kalau begitu, setidaknya itulah yang aku dengar.” Gumamku ke diriku sendiri sambil menutup lokerku. Dengan pelan aku berjalan ke ruang auditorium itu. Aku menemukan 3 anak itu dan duduk di sebelah mereka. “ Hei.” Sapaku pelan. “ Hei.” Kata mereka bersamaan. “ Er… sori kemarin kita tidak begitu sopan… namamu Ryler kan?”

“ Ryker. Pakai ‘K’.” koreksiku secara spontan. Mereka tampak kesusahan. Aku menghela napas panjang. “ RYKER. Rai-ker,” jelasku.Namaku selalu dianggap aneh. Bukan sekali ini namaku salah diucapkan. Tunggu, kalian tidak salah membacanya, kan?! Rai seperti dari kata ‘lerai’ dan Ker seperti di kata ‘ Kerja’, ngerti? Melerai Kerja, Ryker.

“ Oh, sori Ryker… aku Hugo. Vegetarian… dan nerd.” Kata anak yang kemarin cuma makan sayuran. “ Kalau aku Ethan.” Kata anak yang memakai kacamata , “ Hacker dan nerd juga.”
“ Hacker? Serius?” tanyaku kaget. “ Yup. Oh, dan sori, kemarin aku hack profil siswamu dari property sekolah. By the way, kamu serius pernah tinggal di Amerika?!” tanyanya balik. “ Iya… kenapa??” dia mengeleng – gelengkan kepala dengan sedih. “ Kenapa?! Itu pusat hacker sedunia, itu apa! Duh, kau beruntung banget…” “ Hei, sekarang giliranku kan?? Aku Aaron, pecinta kamus dan toilet.” cowok yang pakai kawat gigi itu diam sebentar. Kita bertiga menatap ke arahnya. Lalu tiba – tiba ia sadar, ” Oh, dan aku juga nerd.” tambahnya buru – buru. Aku sadar kalau harus memperkenalkan diri dan menyatakan apa yang membuatku nerd. Apakah aku nerd? Mungkin. Jadi aku berkata, “ Yah, aku Ryker. Pecandu games dan.. mungkinkah aku nerd??” “ Yah, kalau kau mengatakannya seperti itu, maka iya! Selamat datang di Nerd Club!! Er… kamu mau ikut kan??” tanya Ethan. “ Ikut??” tanyaku. Mereka memandangiku. “ Memangnya, Nerd Club ngapain?” tanyaku.
“ Well… ummm… mbambong?” jawab Ethan.
“ Pengangguran?” kata Aaron ragu – ragu.
“ Membaca komik?” usul Hugo. Aku berpikir sebentar…

Aku mengerjap. Apakah aku mau bergabung dengan anak – anak tak punya masa depan, sedikit terlupakan, mungkin bisa membuatku masuk ke masalah yang besar, dan kemungkinan besar : kuper? “ Well… yeah! Kenapa tidak?” tanyaku balik sambil tersenyum. Mereka ketawa. “ Thanks , Ryker. Aku tidak menyangka kamu mau ikut.” Kata Hugo senang. Pintu auditorium terbuka dan masuk Alice dengan 3 gadis lain. Mereka sedang berbicara serius, saat mereka mendekat tempat duduk kita, aku dengar mereka berkata,

“ Tidak mungkin! Waktu festival HARUS ada kembang api.”
“ Bagaimana ada kembang api kalau kamu tidak tahu cara menyulutnya? Kita harus belajar.”
“Lupakan kembang api, bagaimana soal makanan dan dekorasi? Hal itu masih belum selesai.”
“ APA?! Bukankah seksi konsumsi dan anak – anak yang kena detensi yang harusnya melakukan itu?? Aduh, makin lama kita membicarakan ini, kepalaku serasa pecah.”

Tiba – tiba Alice mengangkat kepalanya dan melihat aku. Ia mengerutkankan dahinya kemudian berbicara lagi dengan teman – temannya. “ Kamu kenal Alice?” tanya Hugo.

“ Nggak.” Jawabku singkat. “ Tapi dia tahu kamu. Bahkan tahu namamu tanpa kamu memberitahunya. Aku tidak akan heran kalau itu Heather , ia memang ahli ramal, tapi Alice tidak punya kekuatan gaib seperti itu.” kata Ethan panjang lebar. Aku melihat Alice agak lama kemudian bertanya ke Ethan, “ Nama belakangnya siapa?? Siapa tahu aku cuma ingat nama belakangnya.” “Stuart. Alice Stuart.” Jawab Ethan cepat. Kemudian ia nyengir dan menoleh ke Aaron yang menatapnya dengan pandangan aneh, “ Siapa bilang hacking itu salah?” Aku mengingat – ingat nama itu di kepalaku. Sekilas aku merasa kalau aku mengenal nama itu, tapi kemudian aku kembali ke ‘tidak tahu’. “ Nggak sih…. aku tidak ingat. Tapi selalu ada kemungkinan aku lupa. Aku gampang sekali lupa hal – hal penting.” Kataku dengan sedikit malu. Itu salah satu kelemahan yang aku miliki. Gampang lupa. Mereka mengangguk – angguk pelan. Meskipun kita sekarang sudah berteman , kita masih agak canggung. Mungkin waktu akan membuat kecanggungan ini berhenti agar kita dapat berteman lebih akrab.

Tiba – tiba bel sekolah berbunyi nyaring dan lampu auditorium ini mati.“ What the ….” Kataku otomatis. ( kebiasaan ini terbawa sejak masuk sekolah di Amerika) Pintu auditorium terbuka lebar, menyebabkan sinar matahari menyilaukan mata kita semua. Terdapat siluet lelaki memakai pakaian ‘ bling – bling’ dengan pernak – pernik dan celana yang norak pula.
“ Selamat pagi hadirin sekalian, di auditorium sekolah kami!!!!” teriaknya dengan nada dramatis sambil berjalan turun tangga – tangga untuk ke panggung. “ Psst! Itu guru kita??” bisikku ke Hugo yang duduk di sebelahku. Hugo mengangguk, “ Mmhmm. Mr.Trevor adalah andalan sekolah kalau masalah norak dan dramatis. Theater adalah kesenangan pribadinya. Hati – hati Ryker. Murid baru biasanya adalah target utamanya.” Jawab Hugo dalam bisikkan. Aku menelan ludah. “
“ Bagaimana dia bisa tahu kalau aku murid baru? Ini kan SMP kelas 1? Pindahan dan tidak pindahan tidak bisa dibedakan, tidak seperti di SD atau SMP 2.” “ Kamu lupa, murid baru hanya muncul setiap 5 tahun sekali… mungkin bahkan lebih. Kamu mungkin spesies punah disini.” Aku merosot di tempat dudukku. Begitu Mr.Trevor sampai ke panggung, lampu – lampu dinyalakan kembali, semua anak menepuk tangan mereka. “ Terima kasih, terima kasih. Nah, selamat datang di Auditorium, saya Mr.Trevor. Dan WASPADALAH! Karena kamu akan kudorong sampai batasmu dalam hal DRAMA.” Dudukku lebih melorot. Aku paling benci drama.

“ Nah, hari ini kita akan belajar hal terpenting dalam drama: EKSPRESI! Untuk hal itu, aku minta kalian berpasangan, TIDAK! Jangan laki dengan laki atau perempuan dengan perempuan. HARUS laki dengan perempuan.” Aku semakin merasa mual. Pelan – pelan kulirik Alice. Dia sedang memandangiku. Aku merasa aku akan jadi targetnya. Gila, aku lebih senang bila aku disuruh keliling sekolah pakai make up tebal daripada jadi partner cewek itu! “ Hei Hugo, bisakah kau memakai wig dan memakai rok untuk 2 jam pelajaran ini?? Kau bisa pura – pura jadi cewek kan??” tanyaku mencari jalan keluar. “ Sori, Ryker. Aku tidak punya wig. Dan kalaupun punya, aku tidak akan mau pakai rok. Harga diri, tahu!” katanya sambil nyengir. Tiba – tiba kita berempat didatangi oleh Alice dan cewek – cewek lainnya yang tadi membahas soal festival itu. Alice di depanku. “ Tidak ada cowok yang tersisa.” Kata Alice. Kemudian ia menarik tanganku ( menyebabkanku terjungkal dari tempat dudukku) dan menarikku ( baca : menyeretku) ke panggung dimana anak – anak lain sedang menunggu. “ Bagus! Sekarang semuanya telah berpasangan. Tugas berikutnya, kalian harus bertengkar. Saling marah, adu mulut, apapun yang mengekspresikan kemarahanmu LIMPAHKAN ke pasanganmu!” Alice memandangiku dengan puas. Oh tidak….

“ RYKER FREDDICKSON!” teriaknya menyebabkan anak – anak lain memandangi kita. “ Eh, Alice?? Bisakah suaramu kau kecilkan sedikit?? Karena…” “ KAU PIKIR KAMU INI SIAPA HAH?! MENYURUH – NYURUH AKU TERUS, AKU INI BUKAN BUDAKMU TAHU!!!” teriaknya, kali ini lebih keras. Aku mundur satu langkah, ia maju satu langkah. Menyadari kalau aku seharusnya memarahinya balik, aku berkata dengan tergagap, “ Hei, kan bukan salahku aku menyarankanmu sesuatu. Lagipula sejak hari pertama aku menginjak kakidisini, kamu memperlakukanku sebagai musuh tanpa alasan jelas. Dan , by the way, saat aku memintamu untuk MENJAGA JARAK, kau malah mendekatiku. Memangnya ada masalah apa sih dengan kamu??”

“ Oh, jadi sekarang AKU yang salah?!”

“ Ha! Sadar juga akhirnya.”

“ Oh, bermimpilah Ryker. Otakmu yang sekecil kacang itu tidak akan ingat apa yang kau lakukan padaku. Dan yang paling menyebalkan, saat aku ingin membalas dendam, kau malah menyatakan kamu bersih dari kesalahan!”

“ Kita tidak pernah bertemu sebelumnya.”

“ URGH!!! Katakan itu pada memoriku.”

“ Kau salah orang, Alice. Hadapilah kenyataan!!”

“ Kenyataannya : AKU KENAL KAMU RYKER!!!”

“ Kenyataannya : AKU TIDAK KENAL KAMU ALICE!”

Alice mulai mengernyitkan mukanya. Tangannya yang tadi dikepal dilepaskannya. Tampaknya dia mau… menamparku?? TV telah mengajariku dengan baik. Aku menunduk dengan cepat saat dia berencana menamparku. Ia sedikit kaget waktu aku jongkok dan ia malah menampar angin. Aku berdiri lagi kemudian berteriak, “ LARI!” kemudian aku berlari, Alice mengejarku. “ Ya, ya BAGUS! Inilah hal yang menyebabkan drama itu berbumbu!!” kata Mr. Trevor senang. Dodol, apakah ia tidak dapat melihat kalau aku sedang dibantai disini?! Alice nyaris berhasil menarik kerah bajuku dari belakang, aku semakin panik. Apalagi saat melihat ke belakang sosoknya tidak lagi menjadi cewek, tapi setan. “ Aaaah! Tolong, dia ingin MEMBUNUHKU!!!” teriakku memohon bantuan. “ Dari pada membantunya , bagaimana kalau kalian MEMBANTUKU MEMBUNUHNYA?!” teriak Alice. “ Dasar MONSTER!” teriakku balik.

***

                            Aku terengah – engah. Sepanjang pelajaran, Alice mengejarku sambil berteriak – teriak bak anjing herder kesetanan. Hugo menepuk pundakku dari belakang. “ Selesai olah raga?” sindirnya dengan senyuman. Aku menatap nanar kepadanya dan berkata, “ Oh,plis Hugo. Jangan begitu, dong.” Hugo tersenyum lebih lebar, kemudian mengeluarkan tissue dari sakunya, “ Mau?” tanyanya. Aku merasakan keringat bercucuran dari dahiku, tapi aku mendengar diriku berkata, “ Nggak. Nggak sampai seperlu itu…” Ethan menutup lokernya dan berkata, “ Tidak mungkin kau tidak pernah bertemu Alice sebelumnya. Ia anak yang teliti. Jarang sekali membuat kesalahan. Kalau ia menyatakan sesuatu, kemungkinan besar hal itu benar.” “ Dan dari foldernya siapa kau mendapat informasi ini?” “ Ya ampun Ryker. Kau tidak pikir aku menghack segala sesuatu yang aku tahu kan?! Seorang hacker harus bisa menganalisa, berpikir logika, menyatakan sesuatu dengan bukti!” Aku, Hugo dan Aaron memandang Ethan dengan shock dan canggung oh, dan jangan lupa menahan tawa. Ethan bertanya lagi, “ Kamu serius tidak kenal dia sebelumnya?” Aku mencoba mengorek memoriku yang payah dalam hal mengingat. “ Aku tidak yakin. Tapi 99,5% menyatakan kalau aku tidak mengenalnya.” “ Masih ada 0.5%….” kata Aaron. “ Mmm-hmm.” Kata Hugo sambil mengangguk – angguk.

“ Tapi tumben ya Alice kayak gitu? Biasanya dia itu cewek andalan sekolah, Ketua pimpinan sekolah yang jenius dan cool. Nggak pernah aku lihat dia kehilangan kontrol kayak gitu.” Kata Aaron lagi. “ Jangan – jangan Ryker ini siluman… jadi Alice kesurupan!” kata Hugo mengeluarkan teorinya. Aku meninju lengannya dengan ringan.
“ SEMBARANGAN!” teriakku keras. Dan dengan terbahak, aku berjalan dengan teman – teman baruku yang pada edan semua… TEEEEEET! Bunyi belbahwa istirahat 5 menit per selesai 2 jam pelajaran mengagetkan kita semua. “ Oh kacang kedelai susu!” teriak Hugo sambil ikut berlari bersamaku dan yang lainnya ke arah kelas kita berikutnya, KOMPUTER.

“ Aaaaaah , komputer! Pelajaran yang paling menyenangkan sedunia…” bisik Ethan sambil meregangkan badannya. Aku memandang kearah monitornya. Baru 15 menit sejak tugas diberikan dan dia telah menyelesaikannya. Aku sendiri tidak dapat menemukan cara untuk menyelesaikan tugasnya : Bagaimana cara untuk mengetahui adanya virus di komputer? Apaan? Memangnya anti virus sudah punah?! “Mr.Taylor.”  Pak Yales memanggil Ethan. “ Apakah anda sudah selesai?” ( aku tahu nada itu, biasanya digunakan untuk menyindir anak – anak yang malas. ) “ Sudah.” Jawab Ethan ringan. Pak Yales ( kentara gak percaya blas) berdiri dan cepat – cepat pergi ke computer Ethan. Membaca semua yang Ethan tuliskan, Pak Yales sampai harus menaikkan kacamatanya dua kali.

“ Memangnya kamu bisa tahu dari situ?” Tanya Pak Yales ke Ethan saat membaca nomor 3. “ Ya. Cobalah kalau tidak percaya… Pak.” Pak Yales menatap ke arah Ethan yang sedang balas menatapnya dengan pandangan menantang. Kemudian Pak Yales menggeleng – gelengkan kepalanya dan terbahak, “ Kamu lumayan nak! Lumayan!” katanya sambil menepuk pundak Ethan dan kembali ke tempat duduknya. “ Sekarang saya harus apa?” Tanya Ethan. “ Bantu teman sebelahmu itu. Dia tampaknya kurang bisa.” Kata Pak Yales enteng. Aku memandang ke arah Ethan. “ Kamu mau aku ‘ membantumu’ atau aku benar – benar membantumu?” tanyanya.  “ ‘ Membantuku.’ ” candaku. ” Sini.. kukerjakan.” ” Hah? Aku cuma bercanda..” ” Kamu mau aku mengerjakan tugasmu atau tidak? Aku tidak keberatan..”
” Ya nggak apa – apa sih.. cuma…”

Oh tidak, inikah yang mereka sebut dengan ‘ FRIENDS WITH BENEFIT”? Aku tidak terlalu punya banyak teman jadi nggak pernah tahu apa itu. Aku menatap Ethan dengan bimbang. Ethan menatapku heran. ” Er… yah… emmm… well….” ” Psst! Ethan!” Aaron berbisik keras, menyelamatkanku dari harus menjawab pertanyaannya Ethan.

” Jawaban nomor 4 apa?” ” Bill Gates. Ampun, masa nggak ngerti Microsoft diciptakan sama siapa?!” Aaron tersenyum malu lalu segera mengetik di komputernya. ” Jadi, Ryker?” aku menatapnya. Aku menatap Aaron. Lalu ke Ethan lagi. Tidak mungkin.. aku tidak ingin berteman hanya untuk saling menggunakan bakat orang untuk kepentinganku. Itu termasuk penindasan, dan.. ” Silahkan saja.” ujarku sambil mendorong keyboardku ke mejanya. Ethan memekik pelan dengan girang lalu langsung mengerjakan tugasku. Bagaimanapun juga, pertemanan juga punya unsur saling membantu… hehehe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Si Baka Punya Cerita

Temukan Info Baka di Sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: