AYWMEN Bab 3 : Ke Rumahku Dong!

“ Hei, kalian mau nggak ke rumahku?” tawarku dengan nada biasa.  Ini adalah jam istirahat yang panjang, alias makan siang, atau lunch break. Aku agak takut aku bertindak terlalu cepat… tapi aku juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Jarang banget aku dapat teman. Kita sedang di kantin sekarang dan duduk bersama tampaknya adalah kewajiban seorang member nerd klub. “ Ke rumahmu?” ulang Hugo dengan pandangan bertanya. “ Erm.. iya. Ibuku selalu memaksaku membawa pulang seorang teman ke rumah baruku, entah dimana kita tinggal. Aku biasanya berhasil menghindar dari paksaannya, tapi aku tidak keberatan kalau kalian yang datang.” Kataku. “ Ummm.. OK… Yah, suatu kehormatan memang. Tapi bukankah kamu baru boleh mengundang orang ke rumahmu kalau kalian sudah BENAR – BENAR dekat??” Tanya Aaron. “ Tidak harus sampai sedekat itu lah! Maksudku, aku anggotanerd club kan?? Jadi jika kita sesama member, itu sudah cukup ‘ dekat ‘ bagiku.” Mereka bertiga memandangiku seakan – akan aku ini dewa. Ok, itu mengganggu.

“ Tidak pernah, dalam hidupku yang panjang ini, TIDAK SEKALI PUN PERNAH! Aku menemui orang seedan Ryker yang bisa begitu bodoh untuk ikut suatu klub tidak beruntung dan mengajak orang lain ke rumahnya meskipun baru mengetahui nama orang itu tadi pagi.” goda Ethan. Aku mulai berpikiremangnya dia sudah hidup sepanjang apa??? Tapi mereka menyetujui untuk datang ke rumahku dengan 1 syarat. Aku memberi penjelasan tentang nerd.

“ HAH?” ucapku dengan pandangan heran. “ Kamu dengar kita. Kita ingin tahu nerd itu apa.” “ Tapi kalau kalian tidak tahu apa itu nerd, bagaimana kalian membuat sebuah nerd club?!” tanyaku heran. “ Jangan jadi bodoh Ryker. Kita tahu nerd itu apa. Tapi definisi aslinya itu tidak pernah ada. Coba cari di kamus merk apapun di kota apapun , tidak mungkin ada.” Kata Aaron. Aku memandangi mereka. “ Eeeeeh… ya… emmm, apa yaaa…” kataku gugup. Aku merasakan keringat dingin mengalir dari dahiku. Oh beeeep!!! Aku sama sekali tidak memprediksikan adanya pertanyaan ini. Tiba – tiba , seakan – akan disambar petir, aku mendapatkan suatu ilham untuk menjawab pertanyaan itu. “ Nerd selalu identik dengan kutubuku,” Kataku bersemangat, berharap satu kalimat itu cukup bagi mereka. “ Tet – tot, SALAH! Pada awalnya kita memikirkan nerd memang sebagai kutubuku. Tapi kutubuku itu book worm, bukan nerd.”

“ Mereka kurang lebih berarti sama kan?”
“ Kita tidak mau menerima jawaban seperti itu, Ryker. Coba tebak definisinya.”
“ Hmmm, yah…” tiba – tiba indra ‘ teori’ ku berjalan. ( Kamu sudah baca teoriku tentang sekolah – sekolah, kan? Nah aku sering membuat teori – teori seperti itu. Setiap kali aku mendapat ide untuk teori , aku menyebutnya ‘ indra teori.’ Wow, keren kan??) Anyway aku mulai berpikir :

Nerd? Mereka menyebut diri mereka nerd kan?? Jadi apa yang sama dari mereka semua? Woits, jangan lupa, mereka menganggapku nerd juga. Jadi apa yang membuat kita semua sama?? Sama – sama cowok?? Hmmm, rasanya bukan. Kalau begitu apa?? Memakai kacamata jelas – jelas bukan pilihan. Dan pintar komputer sudah keluar dari options list… dan barusan mereka mengatakan book worm tidak selalu nerd. Jadi APA?!

Mendadak ada flashback di kepalaku. Bagaimana aku bertemu Aaron pertama kali, gelagapan bertemu orang asing. Bagaimana Hugo selalu bermata bulat sempurna ketika aku mengatakan hal – hal yang menyangkut ‘ aku sudah ikut klub’. Bagaimana Ethan begitu terobsesi terhadap komputer dan lebih tertarik menghack komputer dan menganalisa daripada berkenalan dengan orang yang ia hack sendiri. Dan yang terakhir, bagaimana aku tidak pernah berhasil membawa teman ke rumahku sendiri dan tidak pernah memiliki teman selain games. Dengan suara mantap aku berkata,

“ Nerd adalah orang yang tidak begitu pintar bersosialisasi. Mudah terobsesi dan suka menganalisa. Tapi umumnya mereka semua orang – orang yang keren.”

Hugo, Aaron dan Ethan memandangiku dengan tatapan terpesona. “ Kalau aku benar – benar berhasil membuat suatu kamus suatu hari nanti, aku akan menggunakan teorimu sebagai definisinya.” Kata Aaron sungguh – sungguh. “ Kamu harus mendaftar menjadi orang yang mengucapkan kata – kata gombal dan puitis.” Kata Hugo sambil nyengir. Ethan tersenyum lebar, “ Definisi bagus. Ok, nanti kita ke rumahmu.” YEESSS!!

* * *

“ Mom, aku pulang.” Kataku singkat saat membuka pintu rumah. Hugo, Ethan, dan Aaron menyeruak masuk secepatnya. Seakan – akan kesempatan untuk masuk ke rumahku cuma sekali seumur hidup. “ Oh, hi Ryke, bagaimana sekola-“ Mom belum menyelesaikan kalimatnya tapi sudah bengong memandangi teman – teman ‘ baru’ku. Kejadiannya terjadi begitu cepat. Mom mengirimkan ‘ pesan telepati’ kepadaku.

Ryker, jelaskan kepadaku siapa dan mengapa ada anak – anak lain di rumah kita.         

Ya ampun, Mom! Relax! Mereka teman – teman baruku.                                            

Teman? TEMAN?! Sudah cukup. Dasar alien tak berguna, dimana Ryker? Dan mengapa kamu menyamar menjadinya?!  

Mom.. oh ya ampun! AARGH!!!

“ Mom.” Kataku cukup keras supaya semua orang mendengarku. “ Eh, aku masuk ke suatu klub di sekolah, mereka anggota – anggotanya.” Kataku sambil melambai – lambaikan tangan di depan Hugo , Aaron dan Ethan. Mom memberiku tatapan heran dan setengah menganggukan ke arah Hugo, Aaron, dan Ethan. “ Erm… ini Hugo, Ethan dan Aaron.” Kataku memperkenalkan semua anggota klub Nerd sambil menunjuk ke anak yang aku maksud.
“ Hai, Mrs. Fredickson.” Kata mereka bertiga bersamaan. Mom tersenyum. Kurasa ia sudah melupakan ide tentang aku diculik alien sekarang. “ Yah, halo juga… tampaknya kalian sudah saling kenal sekarang! Bagus! Sangat bagus! Anggap seperti rumah kalian sendiri saja!” kata Mom, sambil kemudian pergi ke lantai atas. 1 detik. 2 detik. 3 detik. “ Mau main games?” tawarku bersemangat. “ Aku tidak mengerti caranya.”jawab Hugo singkat. “ Hidupku telah kudedikasikan ke laptop. Bukan game.” Kata Ethan bangga. “ Memandangi layar komputer ataupun TV selama satu jam lebih bisa menyebabkan mata cepat lelah. Dan kamu tidak akan menyadari matamu lelah sampai kamu sudah di depan suatu layar hingga 4 jam.”  Jelas Aaron panjang lebar. 1 detik, 3 detik, 5 detik.

“ Bagaimana kalau kita ke kamarmu?” Tanya Aaron. “ Ya, itu ide bagus.” Kata Hugo. Ethan mengangguk – anggukkan kepalanya. “ Hahaha, tidak.” Jawabku sambil tertawa paksa.

“ Ryker, aku sudah melihat kamar hutan rimba dengan bau seperti WC serta berbagai banyak hal lainnya. Aku sudah kebal dengan kamar mengerikan.” Kata Ethan santai. “Apa? Bukan.. maksudku bukan itu. Aku bukannya tidak mengizinkan kalian masuk karena kamarku kotor. Kamarku benar – benar kosong. Tidak ada apa – apanya. Dan juga SANGAT kecil. Bukan tipe kamar menyenangkan.” Kataku, mencoba terdengar meyakinkan. “ Ha, tidak akan membantu Ryker. Plis?? Ayolah, tunjukkan jalan benar dan terang menuju KAMARMU!” kata Aaron dramatis, meniru gaya Mr.Trevor. Hugo terbahak. Ethan nyengir. Ekspresiku tampak merana. Aku ragu – ragu selama sedetik, kemudian aku menarik napas panjang. “ OK, ayo.”  Aku membukakan pintu kamarku dengan pelan. Kita berempat berdiri di ambang pintu kamarku yang kosong. Tempat tidurku teracak sedikit dan aku bisa melihat boneka Barbie di bawah tempat tidurku. ASHLEY!  Geramku dalam hati. Berapa kali harus kuberitahu adik perempuanku itu untuk tidak masuk kamarku? Hugo yang pertama kali masuk ke kamarku. “ Kosong melompong. Tidak ada bom atom ataupun senjata tajam, dan.. oooh! Apa itu??” tanyanya langsung sambil menunjuk ke arah lemari bukuku.

“ Oh, hal – hal membosankan tentang hidupku sebelum aku ke sini.” Kataku sambil menendang boneka Barbie itu supaya tidak terlihat. Mereka bertiga memandangi satu per satu barang yang aku taruh disana. “ Menang juara 1?” tanya Hugo sambil menunjuk sertifikatku. Aku mengangguk bangga.  “ Ini gigimu?” Tanya Aaron setengah jijik sambil menunjuk ke arah gigi tanggalku yang lepas waktu berenang di pantai. “ Bukan, itu kebanggaanku,” jawabku, lalu cepat – cepat menambahkan, “ Aaron, tenanglah. Itu memang gigiku!” “ Kamu jelas mencoba mengingat segala sesuatu..” ucap Ethan waktu memandangi fotoku waktu SD kelas 3 sambil menahan tawa melihat diriku dengan kepala nyaris botak ( si pemotong rambut agak gila). “ Aku tidak pernah bisa mengandalkan memoriku.” Jawabku singkat. Hugo menyela, “ Jadi kenapa kamu begitu yakin kau tidak kenal Alice?” Aku tidak pernah dapat menjawab pertanyaan itu.

***

Aku tidak bisa tidur. Sudah beberapa jam sejak Hugo, Ethan dan Aaron pamit untuk pulang. Aku berhasil membawa mereka keluar dari kamarku. Aaron yang mengusulkan untuk menonton TV daripada benggong. Aku memberi mereka cola dan chesse balls. (dan Hugo minta air putih) Serial kartun itu jayus banget. Tapi kita menikmatinya karena saling mengutarakan komentar sepanjang kartun. Setelah itu mereka pulang. Tidak lama kemudian, Mom menyatakan makan malam sudah siap. Tapi aku tidak memiliki nafsu makan. Aku cuma menggigit beberapa daging, kentang dan kacang polong; kemudian aku meminta izin untuk dipersilakan pergi dari meja makan. Awalnya aku mencoba bermain games di PSPku. Mencoba menyibukkan diriku sendiri. Membuat otakku tidak memikirkan hal – hal di sekolah. Tapi baterainya habis, dan aku terpaksa menyibukkan diriku dengan hal – hal yang lain. Mengetahui besok aku akan capek belajar, aku berpikir untuk tidur lebih awal. Itu masih lebih mending daripada harus belajar untuk pelajaran itu. Jadi aku meminum segelas air, menggosok gigiku, dan mencoba untuk tidur.

Dan tentunya , gagal total. Aku mencoba menghadapkan badanku ke kanan. Tidak bisa. Aku berguling ke kiri. Masih tidak bisa. Akhirnya aku berbaring terlentang memandang ke langit – langit kamarku yang gelap. Jadi kenapa kamu begitu  yakin kamu tidak kenal Alice? Kata – kata Hugo terngiang kembali di kepalaku. Kenapa? Aku sendiri tidak tahu. Ah , bodo amat!  Batinku kesal sambil meninju bantalku dan mencoba tidur lagi. Hembusan AC bertiup. Dunia terdengar begitu sunyi, meskipun ini masih jam 10 malam. Dengan pelan, aku berdiri dan membuka jendela kamarku. Sambil memandang ke arah langit yang gelap dengan bintang yang sedikit. Aku merasakan udara hangat merayapi mukaku. Aku teringat Alice lagi. Kurasa aku memang tidak begitu yakin aku tidak mengenal Alice. Kemungkinan untuk pernah bertemunya sekali masih ada, kan? Cuma yang membinggungkan adalah sifatnya yang begitu anti – Ryker itu. Jika aku pernah membuatnya begitu merana, kenapa aku tidak ingat? Kurasa alasan itulah yang selama ini kupegang sebagai pedoman untuk menentukan aku ingat Alice atau tidak. Alasan yang sangat berlogika tentunya! Jika aku pernah bertemunya, dan membuatnya merana hingga dia ingin membuatku merana juga, aku pasti ingat kan? Kan? Aku menutup jendela kamarku. Lalu aku kembali coba untuk tidur. Kali ini, aku tidak mengalami kesulitan untuk melakukan itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

The Hunchback of Jinjang Selatan

Nothing but nunsense mostly

%d bloggers like this: