AYWMEN Bab 4 : Besok Pasti Lebih Baik, Kan?

“ Hi guys.” Sapaku keesokan harinya di dekat lokerku.( Entah siapa yang mengaturnya, tapi lokerku berada di kalangan nerd club juga.) “ Hai.” Jawab Hugo, Ethan, dan Aaron bersamaan. Ethan dan Aaron sedang duduk bersila di depan laptopnya Ethan, sedangkan Hugo sedang berdiri bersandar di loker, tatapan matanya ke arah laptop juga.  “ Lagi ngapain?” tanyaku. “ Kita sedang merencanakan hal – hal untuk minggu depan.” “ Memangnya ada apa di minggu depan?” “ Ulang tahunnya kepala sekolah.” Aku memandang mereka kebingungan. “ Trus kenapa kalau si kepala sekolah ulang tahun?” tanyaku penasaran. “ Di sekolah ini, ulang tahun kepala sekolah akan dirayakan sesekolah. Mereka diperbolehkan untuk bertindak semaunya mereka dan berlomba. Beberapa lomba yang sudah pasti adalah : Baju terbaik, Sikap terbaik, Kue tart terbaik, Website untuk sekolah terbaik, dan Pasangan terbaik. Siapapun yang menang akan diberi kebebasan untuk libur sehari dan piala.” Jelas Aaron panjang lebar.

“ Tapi kan ini baru 3 hari kita sekolah? Minggu depan libur lagi? Bukankah itu agak… aneh?” “ Hei, kepala sekolah kita memang aneh, lagian, kamu mau belajar, apa liburan?” “ Ok, OK, aku mengerti. Boleh kutebak kalau Ethan berencana membuat website untuk sekolah terbaik?” “ Sebenarnya kita semua mau membuatnya. Dengan kemampuan Ethan di komputer, dan ketelitian Aaron dalam hal ‘ spelling’.” Sahut Hugo. “ Masalahnya cuma satu. Kita  belum memiliki ide untuk hal – hal apa yang akan dimuat di website itu. Buru – buru apa yang dimuat di website, nama websitenya saja kita belum punya!” kata Ethan dengan suara panik. “ Ummm… Sebelum aku menyatakan ideku, jika kita memang menang, liburan sehari itu untuk kita semua atau hanya untuk Ethan?” “ Kita semua,” jawab Hugo singkat. “ OK! Aku bersemangat! Gimana kalau kita memuat tentang games?” usulku sambil ikut duduk bersila di lantai.

“ Games? Ryker, ini website untuk sekolah. Kita harus memuat hal – hal tentang sekolah. Dan jujur, kurasa games itu beda 180 derajat dari kehidupan sekolah.” Kata Aaron. “ Hmmmm… yah kalau harus tentang kehidupan sekolah kita bisa memasukkan tentang sejarah sekolah kita, semacam gps sistem agar orang – orang tahu sekolah kita letaknya dimana, yah hal – hal seperti itu.” usulku lagi. “ Aku sih setuju aja dengan ide gps itu. Ethan juga sudah tahu bagaimana caranya untuk membuatnya… tapi jika tentang sejarah sekolah… entahlah, kurasa itu kurang diminati siapapun.” Kata Hugo lagi. Setelah itu kita saling berdebat. Membicarakan ide – ide apa saja yang cocok dan tidak cocok untuk website kita. Kita begitu keasyikan, hingga kita terlambat 5 menit dari pelajaran pertama : FISIKA

Guru yang mengajar Fisika adalah seorang professor wanita yang kelihatan tua dan tegas. Sangat memuja peraturan yang ketat dan kaku. Aku merasakan bulu kudukku berdiri saat bertatap muka dengannya. Kelas itu terasa dingin sekali. Entah karena aura guru itu ( Prof. Helga) yang bisa membuat ikan lari ( eh berenang ya?) terbirit – birit atau memang karena lab fisika hanyalah ruangan yang kecil dan sempit, cuma memiliki 2 jendela kecil di pojok ruangan, dan AC-nya paling besar dari semua kelas yang lain. “ Pagi anak – anak.” Kata Prof. Helga. Suaranya kecil sekali, seakan – akan ia hanya berbisik. Tubuhnya ,yang tinggi dan kurus kering serta rambut coklat beruban yang kelihatan jelas kalau kusut, kadang bergoyang sedikit. Kesana, kemari. Ke kiri ke kanan. Seakan – akan keadaan fisiknya sedang TIDAK STABIL. Bajunya bahkan ikut memeriahkan fakta itu. Baju lengan panjang berwarna abu – abu tua dengan rok hitam yang selutut, syal warna ungu tua dan sepatu ‘ flat’, juga sehelai jas lab kusut dikenakannya. Aku tidak mengerti, bukannya guru itu seharusnya mengajari dengan pakaian yang lebih, yah, cocok? Rapi?Mungkin dia tidak pernah tidur… seperti penyihir yang meramu racun… aku menoleh sekilas ke tabung reaksi berwarna hijau tua di salah satu meja. Aku merinding lagi. Segalanya tentang dia tampaknya misterius. Hiiii…

“ Fisika adalah pelajaran yang membutuhkan otak serta tingkat analisa yang tinggi. Kamu harus teliti dan siap menerima banyak PR. Kerapian dan keseriusan bekerja akan juga saya nilai. Jangan anggap lab adalah taman bermain. Satu gerakan salah BISA berakibat fatal. Apakah saya telah membuat diri saya jelas?” Tanya Prof. Helga dengan suaranya yang hampir setengah bisikan itu. “ Ya, Prof.” ucap sekelas serentak. Aku sudah memiliki firasat buruk soal ini. “ Bagus. Semua dasar dari fisika dimulai dari rumus.”Ucapnya lagi. APA?! RUMUS?! Setelah satu bulan penuh aku berbahagia dan melupakan semua deritaku untuk mati – matian menghafal semua rumus yang aku tahu dari SD , aku akan diajari rumus? LAGI?! What The What?!

“ Mari kita mulai dari yang simpel. Hanya untuk hari ini saja, saya perbolehkan kalian untuk mengerjakan LKS ini dengan satu grup.” Aku menarik napas lega. Setidaknya aku masih menghafal beberapa rumus. Dan meskipun aku cukup yakin Hugo dan yang lain juga melupakan sebagian besar rumus yang susah, aku tetap senang kita bisa bekerja sama. “ Tapi!” sela Prof. Helga. “ Saya yang akan membuat grup kalian. Hmm… Bagaimana kalau satu grup 8 orang?” Aku mulai tegang. Mataku mencari – cari sosok Alice. Ia berada di kursi paling depan. Tapi matanya tidak fokus. Seakan – akan dia tidak begitu yakin dimana dia, sehingga dia melirik ke sana- sini. Tiba – tiba mata kita bertemu. Dan seketika itu juga, ia tampak sadar dia ada di mana, dan aku merasa seperti disengat listrik.

Suara Prof. Helga seakan – akan hilang ditelan angin, yang kudengar gumaman – gumaman tak jelas. Kita saling tatap agak lama. Dia menatapku dengan tajam dan muka yang cemberut. Aku menatapnya tanpa ekspresi. Sekitar 10 detik kemudian, dia memalingkan mukanya. Dan suara Prof. Helga kembali terdengar lagi. “ –lompok kalian akan sama di pelajaran Biologi. Saya harap kalian akan bekerja sama dengan baik dan mengerjakan tugas – tugas kelompok kalian penuh tanggung jawab. Saya akan bacakan kelompoknya. Kelompok 1 : Tina, Pete, Mellinda, Arlene, Diana , Brenda, John, dan Jim.” Aku menarik napas lega. “ Kelompok 2 : Dave, Pam, Omar, Charice, Suzy, Liam, Patty, dan Jamie.” Aku tersenyum ke arah Hugo, yang balas tersenyum padaku. “ Kelompok 3 alias terakhir : “Hugo,” Tunggu dulu.. terakhir?? Tapi itu artinya.. “ Ethan,” ucap Prof. Helga lagi. Sisanya kan cuma anggota nerd klub dan…. “ Daisy, Heather,” Apakah ini mimpi buruk?! “ Cynthia , Aaron,” Kucubit tanganku keras – keras… siapa tahu ini mimpi……  “ Ryker, dan Alice.” OUCH! SAKIIT!!

* * *

                   Setelah pelajaran Fisika yang membuat syok, dan pelajaran matematika yang membuatku harus mencubit tanganku berkali – kali supaya tidak tidur… Dan pelajaran Sains tentang semacam sel berbentuk amoeba atau apa…. Kita akhirnya memiliki istirahat panjang. Aku berdiri bersandar di loker. Menyesali semua yang kumiliki. Nasibku yang begitu menyedihkan. 3 hari pertama di sekolah dan sudah segrup dengan musuh(?) OH TIDAK… Kemudian juga keluargaku yang begitu aneh. Mom dan Dad memang orangtua yang baik, iya aku setuju. Makanan , baju, rumah, dan keinginanku ,kebanyakan, dipenuhi. Tapi mereka tidak bisa tinggal di satu tempat terlalu lama. Maksimal 2 tahun. Itupun mereka sering meninggalkan rumah selama berminggu – minggu ‘ berhoney – moon’ lagi. Meskipun mereka bersumpah ini kota terakhir dan yang paling akhir dimana mereka akan tinggal sampai nanti mati, aku tidak percaya. Mereka tidak memiliki rasa komitmen untuk cinta tanah air manapun. Aku merasa down hari ini, dan merasa malas berkumpul dengan anggota nerd club yang lain ( yang , btw, sedang berdiskusi untuk lomba website itu lagi.) Aku baru melangkahi ambang pintu cafeteria ketika aku berbalik arah lagi. Nafsu makanku sedang sedikit, dan seperti yang aku katakan, aku malas berkumpul dengan anggota nerd klub di cafeteria.

Aku berjalan keluar cafeteria dengan langkah gontai. Aku berbelok di tikungan dan nyaris menabrak orang. “ So- sori.” Kataku kaget. Tapi kemudian aku mengenali orang itu sebagai Alice. Ia menatapku dengan tatapan galak. “ Disitu kau rupanya.” Katanya dengan nada kesal. “ Kamu mencariku?” tanyaku heran. Alice mengangguk pelan. “ Ada perlu apa??” tanyaku lagi. Mukanya berubah sedikit pucat dan ia mulai lupa memasang tampang galaknya. “ Aku punya pertanyaan.” Katanya lagi. Kuperhatikan tangannya sedang mencengkram bagian bawah roknya yang agak pendek. Aku sendiri mulai tegang. Apa yang akan dia lakukan? Bertanya setengah membentak padaku? Bertanya sekali lagi kenapa aku disini? Bertanya kenapa aku sering jalan dengan Hugo, Ethan dan Aaron? Atau ia akan meminta maaf , mengatakan kalau dirinya sadar ia mendapat orang yang salah? Aku merasa berada di ambang antara keinginan menerima permintaan maaf dari Alice, dan sedikit rasa simpati karena dia mendapat orang yang salah. Aku memandangi mukanya yang, harus kuakui, memang cantik,SEKALI.

Rambutnya yang coklat tanah tergerai lemas di bahunya. Matanya berwarnahijau tua terkesan dalam dan serius. Ia sudah berdiri di depanku tanpa sepatah kata selama 1 menit sekarang. “ Well?” tanyaku, “ Apa yang kau ingin tanyakan??” Dia tampak keberatan untuk menjawab. Dengan ragu – ragu dia berkata cepat. Saking cepatnya aku cuma mendengar :“ Kadsfjasdjfwekre?” “ Hah?” Dia kelihatan sedang berperang batin. “Aku baru bertanya… apakah kau serius tidak mengingatku??” ulangnya, kali ini lebih jelas. Aku menelan ludah. Teringat dilemma hebatku kemarin malam. Aku ingat Alice, aku TIDAK ingat Alice… meskipun aku telah meyakinkan diriku kalau aku tidak ingat Alice, ( lebih ke arah TIDAK PERNAH bertemu dengannya SEKALIPUN.) Ada rasa sungkan. Bagaimana kalau memang aku mengenalnya? Cuma karena masalah sepele : lupa, aku akan menderita malu pada seorang cewek. Dengan nekad aku berkata,“ Sori Alice. Tapi seperti yang kukatakan. Aku rasa kamu salah orang.” Alice menghela napas panjang, dan meninju tanganku dengan pelan.

“ Aku sudah menduga kamu akan berkata begitu. Jangan pikir aku akan membiarkanmu berbahagia karena akan melunak padamu karena alasan konyolmu : lupa. Aku tetap akan mengadakan perang denganmu. Cuma… tidak hari ini.” Katanya. Aku baru menyadari lingkaran – lingkaran gelap di matanya yang memang kelihatan capek. Mungkinkah kemarin ia juga mengalami kesulitan tidur? Dengan langkah kaki yang tampak baru diberi beban tambahan, dia berjalan menjauhiku. Mendadak aku mendapat ide yang sangatburuk. Tapi kurasa perasaanku hari ini akan lebih baik jika aku melakukannya. “Hei, Alice.” Panggilku, Alice menoleh.

“ Apa?” tanyanya. “ Kamu, Daisy, Cynthia, dan Heather… kalian satu geng??” Alice tertawa kecil. “ Geng? Kurasa tidak. Kita bukan kelompok anak – anak cewek yang punya waktu untuk ke mall dan ber- make up. Kita bereempat lulus beasiswa waktu SD. Khusus untuk anak – anak beasiswa, mereka diperbolehkan untuk menjadi pengurus sekolah SMP kelas 1. Semacam OSIS, cuma sedikit lebih berat. Tapi kamu bisa memanggil kita bereempat teman dekat, geng, satu klub, apalah! Jika kau memanggil semua itu sebagai orang yang saling membantu dan ada meski kamu lagi BT setengah mati.” Aku menatap ke arahnya dengan kaget. Siapa sangka dia memiliki sedikit rasa moral dan kebijaksanaan di otaknya yang seharusnya sudah overload dengan pelajaran itu? “ Heh… OK.. thanks. Dan sori membuatmu menunggu.” Kataku agak tidak fokus. Ia mengangguk pelan kemudian berjalan cepat ke ujung lorong yang lain. Aku tersenyum kecil, kemudian berlari ke arah cafeteria. Rasanya masih ada waktu sedikit untuk mengusulkan ideku ke Ethan , Aaron dan Hugo.

Saat masuk di cafeteria, aku berjalan ke arah klubku. “ Hei.” Sapaku. “ Oh, hai Ryker. Dari mana saja?” Tanya Aaron sambil membalik halaman salah satu kamusnya. “Eh, ya… aku bertemu Alice.” Ethan berhenti mengetik, Hugo yang sedang minum tersedak, dan Aaron menjatuhkan kamusnya. BA-DUMP! Suara buku berat jatuh langsung terdengar. “Teruuus???” Tanya mereka bersamaan. Aku duduk di salah satu kursi kosong di situ.

“ Tidak ada apa – apa. Tapi kamu juga tidak bisa mengatakan obrolan kita tadi menyenangkan.” “ TERUUUS???” Tanya mereka lagi. “ Dia hanya bertanya untuk memperjelas apakah aku serius tidak ingat dia. Aku menjawab tidak, dan dia berkata dia tidak akan mau meringankan kadar kejahatannya untuk berperang karena alasanku yang ‘ konyol’ yaitu lupa. Tapi dia juga berkata dia tidak akan mulai perang itu hari ini. Semacam hal itu.” Kataku tenang. “ OK, Ryker. Jika aku menjadi kamu, mungkin aku akan gemetaran digertak oleh cewek seperti itu, tapi yang penting : apa yang kau rasakan , SEKARANG??” tanya Aaron. Aku menatapnya keheranan, “ Apa yang aku rasakan? Apa maksudmu? Aku merasa biasa – biasa saja. Dia tidak mengatakannya sambil mengancamku dengan pistol atau apa kok.” mereka menatapku dengan tatapan ‘ heh???’, lalu aku menambahi dengan buru – buru, “Tapi aku jelas tegang dengan apa yang akan terjadi padaku besok.” “ Ryker, berkat ceritamu yang tidak berbumbu sama sekali itu, tampaknya aku mendapat ide untuk website kita.” Kata Hugo. “Hah??” “ Topik. Kita akan membuat topik apapun dan membahasnya setiap minggu di website itu. Topik kali pertama : BAD DAY.” Jelas Hugo bersemangat. “ Kamu pasti bercanda.” Kataku tidak percaya. “ Entahlah, menurutku itu ide lumayan. Pasti banyak peminatnya.” Kata Ethan lagi. TEEEEET!!! Bel istirahat berakhir dibunyikan.  “ Bagaimana kalau nanti kita mampir ke rumahku? Kita bisa membahasnya lebih lanjut. Hanya untuk 1 jam saja.” Usul Ethan sambil menutup laptopnya dan menggotongnya keluar cafeteria. “ Yah, boleh – boleh saja sih…” kata Aaron. “ OK.” Kata Hugo mantap, senang idenya tidak ditolak. “ Apa boleh buat, ke rumah Ethan nanti pulang sekolah kalau begitu.” kataku di antara helaan napasku.

***

Sekarang Sejarah…. dan aku tidak bisa tahan untuk tidak tidur. Mataku sudah setengah terpejam. Aku memandang ke arah Hugo yang duduk di sebelahku. Dia sedang menggambar orang bete yang sedang duduk di kelas mendengarkan ceramah orang tua di depannya. Gambar itu sempat mengingatkanku tentang sesuatu… Aku memandang ke arah Hugo yang sedang kesal dan bosan, kemudian ke arah Mr. Dakota yang sudah tua dan agak bungkuk. Hmmm…. mungkin cuma imajinasiku saja. Aku melirik ke arah Alice yang duduk di salah satu kursi depan papan tulis. Dia sedang menyimak pelajaran dengan serius. Anak itu minum kopi berapa teguk nih?! Pelan – pelan aku menaikkan kepalaku yang dari tadi aku tidurkan di buku sejarahku yang tebal. Kemudian aku mengambil pensil, membuka halaman akhir dari bukuku dan menulis dengan pensil:

Alice itu pengurus sekolah bidang apa?  

Kemudian aku mengoper bukuku dengan pelan ke Hugo. Hugo berhenti menggambar sebentar, membaca sekilas tulisanku, kemudian mengambil pensilnya dan menulis :

Kamu seharusnya bertanya hal2 seperti ini ke Ethan

Aku menulis lagi :

LOL, aku tahu, memangnya kamu gak tahu? 

Tahu sih, tapi agak susah menjelaskan 

Coba dulu 

Alice semacam ketua dari semua seksi yg ada utk kls 7. Ada 3 yg paling utama : Makanan, Perpus, & Koordinasi. 3 cewek lainnya yang Daisy, Cynthia & Heather adalah pengurus semua itu. Mereka sering mengadakan rapat ttg hal2x sekolah di r. pengurus. Seksi2 yg lainnya biasanya cuma relawan yg mau, jd tdk permanen. Mereka juga tdk begitu dibutuhkan, jika mereka diperlukan, biasanya akan dibagikan pengumuman.

Ok, aku mulai ngerti, thx. 

Senang membantu 

Aku membaca ulang tulisan Hugo tentang semua seksi yang ada. Jadi jika Alice yang ketua, kerjanya paling berat kan? Trus kenapa mereka memakai baju yang identikal? ( Baju atasnya pasti rapi, ada dasinya atau berlengan panjang atau ber-vest. Dan mereka SELALU memakai rok dan sepatu berkaos kaki panjang.) Tergugat oleh penasaran, aku menulis lagi :
Jadi orang – orang yang menjadi pengurus sekolah harus memakai seragam identikal? 

Pertanyaan bagus, aku tdk tahu. Kalau tdk salah Ethan tahu ttg itu, tapi aku lupa apa. Kalau tdk salah sih memang itu aturannya atau apa. Mereka kan juga punya derajat lbh tinggi? 

Ok, thx. 

Hugo tidak membalas. Aku memandang ke arah Ethan yang duduk di belakangku, dia sedang bermain gunting kertas batu dengan Aaron.Jika Ethan bermain itu, agak susah percaya dia berhobi menghack komputer orang lain.

Sejak kapan Ethan suka menghack komputer orang? 

Lupa. Kita bertiga baru berteman saat kls 5 SD, kalau tdk salah dia sdh sering menghack jauh sebelum kita berteman 

Wow, dan dia tidak pernah ditangkap polisi? 

Ethan tdk membuka komputer org dgn sembarangan hanya utk hobi , tau. Dia membuka utk menggali informasi, n  dia tdk pernah membuka file org lain kemudian menghancurkannya / apa. Dia  tdk suka membuka file milik murid lain utk diambil idenya kalau ada esai atau laporan yg harus dikumpulkan. Setidaknya dia masih punya hati nurani 

OK, tapi menghack tetap salah kan? 

Tapi dia sudah kecanduan dengan menghack. Jika dia tdk membuka komputer hanya dalam waktu 1 hari, dia akan mengalami rasa panik yang parah, kadang kayak dia sudah  edan! 

Aku memelototi tulisan Hugo. Wow, siapa sangka Ethan begitu hacker mania? Aku tidak membalas tulisan Hugo dan kemudian menidurkan kepalaku di buku sejarahku lagi, kali ini kepalaku menghadap ke arah Alice. Aku merasa mual saat ingat bagaimana sifatnya padaku. Ketua pimpinan sekolah kelas 7…Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menyadarkannya kalau aku bukan lelaki yang dia cari. Tapi agak susah juga:

1.)   Memoriku memang payah. Bagaimana kalau aku memang pernah bertemu Alice?

2.)  Kalaupun aku melupakan piihan 1, aku akan tetap didera Alice kecuali aku punya alasan atau bukti yang memojokkannya

3.)  OK, aku tidak seberapa haus permintaan maaf, tapi jika aku menemukan cara agar Alice bisa meminta maaf padaku, aku akan senang. BANGET.

Kriing! Bel sekolah telah usai terdengar. Aku mengambil semua buku – bukuku, menaruhnya asal di tasku, kemudian keluar kelas untuk mencari lokerku. Hari ini termasuk hari berat untuk otakku. Lupakan Alice sajalah, jika masalahnya ditambahkan ke masalah hari ini, aku akan meledak karena kapasitas otakku overload. “ Rumahnya Ethan dimana sih?” tanyaku ke Aaron ( sebagian besar karena dia juga mampir ke lokernya sebentar. Dan lokernya tepat di sebelahku) “ Kamu akan lihat sendiri.” Kata Aaron singkat sambil mengeluarkan kamus bahasa Prancis dari lokernya. Dan detik berikutnya aku sudah di jalan, dengan Hugo, Aaron, dan Ethan. “ OK, jadi ideku adalah untuk membuat topik. Dan seperti yang tadi aku katakan, topik pertama adalah Bad Day. Kita bisa saja beri kayak hal – hal yang bisa dilakukan biar bad day tidak jadi bad lagi!” jelas Hugo dengan girang sambil berjalan. Aku mengangguk, ide itu tidak separah yang aku kira. “ Boleh saja.” ” Kita harus cari tahu hal apa yang disukai oleh anak SMP kebanyakkan..” ” Gampang!” tiba – tiba Langkah Ethan terhenti di suatu rumah. Dan aku melongo. Rumah Ethan mungkin sebesar rumah presiden. Besar, indah, tinggi, dan sangat luas. Ada taman yang sebesar lapangan golf, lengkap dengan kolam ber-ikan dan tanaman – tanaman serta labirin dari semak – semak yang PASTI diatur oleh gardener kelas atas. Ada pagar yang tinggi banget, mungkin 2 atau 3 meter dengan gerigi – gerigi tajam di atas, seakan – akan menantang siapapun yang mau masuk ke rumahnya. Ethan berjalan ke intercom di dekat pagar itu. “ Halooooo, ada orang di rumah??” “ Oh, master Ethan sudah kembali! Tunggu sebentar tuan muda!” TUAN?! TUAN?! WTH?!

Pagar itu terbuka dan kita semua masuk. Sambil berjalan di tapak – tapak batu yang sudah tersedia, aku memandangi taman keluarga Ethan yang besar itu. Aku berjalan lebih dekat ke Hugo dan berbisik, “ Aku sama sekali tidak menyangka hal ini.” Hugo nyengir. “ Ethan anak dari 2 orang terkaya di kota ini. Ia bisa mendapatkan apa saja hanya dengan meminta sekali. Ajaib dia tidak manja dan tidak masuk klub ‘anak kaya’ di sekolah.” Bisik Hugo. Kita akhirnya berhenti berjalan dan pintu putih dengan ornamen- ornamen yang aku cukup yakin terbuat dari emas asli dibukakan untuk kita ber-4.  “Selamat datang kembali, Tuan Ethan. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya butler berjas lengkap. “ Oh, hey Sebastien. Di situ kau rupanya. Bisa kamu atur agar kita makan siang di sini? Tidak usah yang terlalu mewah, sandwich aja cukup.” Kata Ethan sambil berjalan di depan kita. “ Dan anggurnya?” Tanya Butler itu lagi. Ethan berputar ke arah kita, “ Kalian lebih suka anggur tahun 1999 atau 1898?” tanyanya. “ Air.” jawab Hugo. “ Jus avokado.” Jawab Aaron. “ Ummmmm, cola?” jawabku ragu – ragu. Ethan berputar lagi menghadap butler itu, “ Beri apa yang mereka mau. Aku hanya meminta es jeruk aja.” “Segera.” Kata Butler Sebastien itu sambil membungkuk dan bergegas pergi.

“ Nah, sekarang apa lagi yang kita tunggu? Ayo kita mulai bikin website itu.” Kata Ethan senang sambil membuka pintu, memperlihatkan kamar penuh dengan komputer. Dan sepanjang hari itu, Ethan membuatkan draft website itu, Aaron menyiapkan kata – kata yang bisa digunakan untuk website itu, sementara aku dan Hugo? Kita bersantai , sekali – sekali berdiskusi tentang ide baru. Sekitar setengah jam kemudian, Hugo, Aaron dan aku pamit untuk pulang. Kurasa Alice benar, kita berempat mungkin akan menjadi teman baik. Saat akhirnya pagar pintu rumahku terlihat, aku tersenyum kecut, menyadari kalau aku tidak akan bertemu butler atau apapun di rumahku. Terbersit rasa iri sedikit di hatiku saat menyadari itu. Kuharap itu hal yang normal. Oh ayo Ryker! Dasar dodol, cepetan masuk ke rumahmu sana! Buat apa berkhayal yang tidak – tidak! Teriak suara di kepalaku lagi. Aku mematuhinya dengan masuk ke rumahku. “ Hey, Ryker. Kenapa kok terlambat?” Tanya Mom. “ Err, yah aku dan anggota ne- maksudku klubku akan ikut lomba bersama. Semacam lomba membuat website. Kurasa kita akan sering pulang 30 menit lebih lama dari biasanya untuk mempersiapkan itu.” Jelasku, sengaja tidak mengucapkan nerd club.

“ Wow, Ryker. Sehari setelah kamu membawa temanmu pulang, ini kemajuan pesat.” Kata Mom sambil menggeleng – gelengkan kepala senang. Aku tersenyum. “ Pokoknya jangan lupakan pelajaranmu karena kesibukkan dengan lomba itu. OK?” kata Mom lagi. Aku menghela napas. Heran juga, kapan kira – kira Mom akan menyerah dalam hal memaksaku belajar? “ Yaaaaa…” Kataku malas sambil menaiki anak  tangga.

Segera setelah aku melihat kamarku, aku menjadi emosi tanpa alasan jelas.Aku membuka pintu kamarku dan membantingnya, ( hanya untuk kesenangan sementara.) Aku melempar tasku ke ujung kamarku, menyebabkan kursi di situ terjungkal. Aku melompat ke arah tempat tidurku. Dan menyadari betapa beratnya hari ini. Sambil bergulat dengan bantalku aku meneriakkan semua nama orang yang aku temui hari ini di otakku. Tapi yang terngiang di kepalaku cuma satu nama saja. Alice. Aku meninju bantalku lebih keras. Buat apa pula aku mikirin cewek satu itu? Aku tidak kenal dia, aku tidak MERASA aku kenal dia. Sudah 4 hari sejak aku bertemu dengannya. Jika sampai seminggu dia tidak menganggap aku sebagai cowok lain, bukan cowok yang dia cari, maka aku akan berhenti berinteraksi apapun dengannya. Lebih baik begitu, karena dengan begitu, dia akan lupa. Dan kemudian dia akan mulai mencueki aku.Apakah itu yang aku mau?

Aku begitu kesal dengan diriku sendiri. Sejak datang ke kota ini, aku mendapat banyak hal yang dulu belum pernah kudapat. Teman, musuh, tugas berat, dan hilangnya waktu bermain games. GAMES! Tentu saja, hari ini aku belum membuka PSku sama sekali! Aku barusan mau bangun dari tempat tidurku ketika aku dilanda rasa malas yang hebat. Bahkan bermain games pun aku malas! Aarggh!!! Aku menendang bantalku dengan kesal, kemudian aku meninjunya lagi, dan kemudian gulat tadi kulanjutkan. Setelah mungkin 7 atau 8 menit bergulat, aku berbaring telentang di tempat tidurku karena mulai capek, bantalku jatuh di lantai. Terdengar ketukan pelan dari pintu kamarku. Aku mendudukkan diriku sendiri. Siapa pula?? Aku berdiri dan membukakan pintu. Tidak ada siapa – siapa. “ Ryker?” aku menunduk. Oh, ternyata Ashley. (Ashley memang tubuhnya kecil. Sekitar pinggangku aja.) “ Ya?” tanyaku. “ M-Mom menyuruhmu turun.” Katanya takut. “Oh, OK… hei, kenapa takut?” tanyaku. Dia tidak takut kepadaku, kan?? Dulu dia berani mematahkan disc game limited editionku dan tidak menangis ataupun merespons ketika aku membentakinya kayak orang gila. Mustahil jika dia takut padaku sekarang. Matanya yang biru, persis seperti punya Dad, membesar. “ Gelap,” katanya pelan. “Hah?” aku memutar kepalaku dan sadar apa masalahnya. Aku mematikan lampuku dan langit diluar mendung sehingga menyebabkan kamarku gelap total. Aku tidak takut gelap sih, tapi Ashley takut banget. Sekali saat kita semua berada di Tokyo ( salah satu dari sedikit kota yang pernah aku kunjungi karena hobi Mom dan Dad pindah – pindah rumah) terjadi lampu mati. Entah berapa jam Ashley menangis hanya gara – gara itu. Kenapa aku ingat? Pertanyaan bagus. Aku masih memiliki luka cakar di tanganku karena dicengkram oleh Ashley waktu itu. Dia mencengkram tanganku begitu keras hingga aku nyaris merasakan sarafku terpotong.

Aku menutup pintu kamarku kemudian berkata, “ Ashley, untuk kesekian kalinya, gelap hanya terjadi karena lampu dimatikan. Jadi asal lampunya dinyalakan, semuanya akan menjadi terang dan santai. Seperti ruangan ini!” kataku dengan nada yang kucoba agar terdengar menyenangkan. JEBREEET! Lampu mati. “ Shoot.” Umpatku kesal. Kenapa pas aku mencoba menenangkan Ashley? “ Kyaaaaaa!!!” teriak Ashley seketika. Dia langsung berlari ke arahku. Tangannya memeluk pinggangku dan kepalanya dibenamkan di perutku. Tidak lama kemudian bajuku basah karena air matanya. Aku menghela napas. Kurasa ada beberapa hal yang tidak akan berubah. Setidaknya kali ini dia tidak mengcengkram tanganku. Mataku sudah mulai beradaptasi dengan kegelapan. Sekarang tinggal menuruni tangga dan mencari senter di lantai bawah. “ Ryker? Ashley?” teriak Mom dari bawah.“ Disini Mom.” Teriakku balik. Aku memandangi Ashley yang masih menangis. Tiba – tiba aku mengingat Alice, dan bagaimana ia membenciku. Kuacak – acak rambutnya Ashley sebentar, mencoba mengingatkan diriku sendiri kalau aku harus menjaga adikku sendiri dan bukan memikirkan cewek gila di sekolahku. Lalu aku menarik tanganku, dan menyadari bahwa pada akhirnya aku akan tetap memikirkan Alice. Aku menunduk ke Ashley. Aku harus apa???

“ Hei…eh Ashley? Bagaimana kalau kita turun ke bawah dan bertemu dengan Mom, dan Dad…” kataku. Ashley tidak merespons. Aku butuh Dad di sini. Biasanya Dad tahu apa yang harus dilakukan dengan Ashley yang lagi takut. “ DAAAD!” teriakku.

“ Di bawah, nak!” Jawabnya. Oh, wow, hebat, luar biasa, aku terharu banget, sekarang dia ingin AKU yang mengatasi masalah ini. Aku memeluk Ashley dengan canggung, kemudian mencoba melepaskan tangannya dari pinggangku. Jika aku terpaksa menggandengnya, itu lebih baik. Setidaknya dia masih akan mau jalan. Bajuku sudah basah banget sekarang.

“ Hei, Ash? Bisakah kamu melepas tanganmu??” ia tidak menjawab. Aku mengeluh terang – terangan, ” Aku tinggal kamu sendirian kalau kamu nggak berhenti nangis.” . Salah langkah, dia malah memelukku lebih erat sambil menangis histeris. Aku menepuk dahiku sendiri, lalu menariknya dengan paksa. Ia langsung marah( atau mungkin nangis histeris, susah membedakannya sekarang..). Aku berjalan menuruni tangga dan berteriak, “ MOM! Ada Godzilla yang menempel disini!!!” Mom muncul dengan senter. Aku menarik lengan Ashley lagi ( lebih ke arah setengah menyeretnya) Mom mengambil tangan Ashley, dan akhirnya bajuku bebas dari mukanya dan kedua tanganku tidak membawa apa – apa. Mom memberiku segumpal lilin dan satu kotak korek api dengan satu tangan. “ Beri 1 lilin di setiap kamar yang ada di lantai 2 kecuali loteng.” Kata Mom singkat. Lalu ia pergi sambil menggandeng Ashley. Mulai berbicara dengan nada rendah ke Ashley tentang kuliah ‘ gelap itu tidak menakutkan’. Aku kembali menaiki tangga dan mulai memberi lilin di setiap ruangan.
( ekstra 2 di kamar Ashley), saat aku meniup korek api di kamarku, aku meneliti bajuku yang basah total karena Ashley. Baju yang sama yang dari tadi aku pakai dari sekolah. Aku melepas baju itu dan mengambil T-shirt lain dari lemariku. Berhubung Mom akan sibuk dengan Ashley, dan tidak mungkin ada yang BISA aku lakukan dengan listrik mati, aku kembali tiduran di tempat tidurku. Suatu bayangan terlintas di otakku yang kata Alice hanya sebesar kacang. Besok
keadaan pasti lebih baik, kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s