AYWMEN Bab 5 : Menang itu 1/4 dari Segalanya

Aku nyengir lebar saat melihat apa yang telah kita kerjakan selama satu minggu penuh ini. Hugo juga tersenyum lebar. Ethan yang sedang bersandar di kursi komputernya melepas kacamatanya dan menghela napas panjang. “ Whew, selesai.” Katanya. Aaron menutup kamusnya dan mengumumkan, “ Dengan ini aku mengumumkan tidak ada kesalahan kata dalam penggantian language. Termasuk Prancis, Cina…” “ Jepang, Inggris, dan Indonesia. Ya kan, Aaron?” potong Hugo. Aaron tampak kesal dipotong, tapi ia kemudian tersenyum dan berkata, “ Ya.” “ Jadi, sekarang kita hanya menunggu  kemenangan, kan?” tanyaku. “ Hmmm, nggak juga. Kita juga sedang menunggu acaranya The Edan’s yang akan main 5 menit lagi.” Tanggap Hugo. Ingat acara TV yang pernah aku ceritakan? Yang isinya jayus banget dan sebenarnya gak seberapa pantas dan layak untuk ditonton? Tapi bisa membuat kita semua nguakak karena kita saling mengomentari isinya? Ya itulah ‘The Edan’s’. nama yang aneh, kan? Aaron mengambil backpacknya dan menjebloskan kamus bahasa Prancis yang tebalnya membuat mataku nyaris copot. Tasnya mendadak terbuka, dan robek lagi. Aaron hanya menghela napas. “ Hei Ethan, minta kantong kresek lagi ya?” Ethan memakai kacamatnya lagi dan memandangi tas robek itu, “ Ini sudah ke-21 kalinya tas itu robek sejak kelas 6. Aku merasa kasihan pada tasmu. Kamu benar –benar harus berhenti membawa terlalu banyak kamus.” Aku melirik ke arah Aaron. Ia tampak sedih. Aku sudah satu minggu penuh bersama nerd klub. Dan aku termasuk orang yang mudah kenal situasi. Tanpa diberitahu, aku sudah tahu beberapa hal di sini. Seperti Hugo suka banget sama wortel tapi berharap orang tuanya tidak terlalu memaksanya menjadi vegetarian. Atau seperti Ethan yang mau jika aku memintanya untuk menghack komputer gamer terkenal yang aku favoritkan. Ia senang meng-hack komputer itu. Katanya ada banyak rintangan dan security sistem. Ia berhasil masuk, tapi ia hanya punya 5 menit. (Jadi aku hanya memiliki sedikit waktu untuk membaca walkthrough buatannya.) tapi salah satu dari hal terbesar yang aku tahu, adalah kecintaan Aaron pada kamus nyaris sama besar dengan cintaku pada loker. Jika kamus adalah manusia, maka Aaron adalah playboy yang sukses. Ia mengencani tiap kamus paling lengkap berbahasa APAPUN. Inggris, Cina, Jepang, Prancis, Indonesia, Korea, Itali, Latin, Afrika, dan lain – lain. Tapi bedanya dengan playboy yang kerjanya gonta- ganti pacar, Aaron tidak mau meninggalkan ‘pacar-pacar’nya ini. Ia terlalu setia. Hal ini tentu saja merugikan tasnya. Dan merugikan punggungnya. Aku hanya bisa membayangkan bagaimana berat tasnya waktu hari rabu.
Selain dari itu, aku juga sadar kalau nerd club saling mencoba menghentikan. Aaron dan Hugo selalu mencari kesempatan menghentikan Ethan untuk menghack. Aaron dan Ethan tampaknya juga berusaha memakasa Hugo makan cheeseburger. Sementara Ethan dan Hugo selalu berusaha membuat Aaron berhenti membawa terlalu banyak kamus. Ini salah satu dari sedikit alasan mengapa aku berdoa agar game – addictku juga tidak dicoba dihentikan. AMIN… “ OK, sekarang, THE EDAN’S!” Kita berempat berjalan pelan ke bawah untuk mencari ruang TV di rumah Ethan. Hal ini cukup susah. Rumah Ethan punya setidaknya puluhan kamar. Jika kamu perlu toilet, kamu bisa pilih 5 toilet dengan berbagai nuansa. Orang tua Ethan, SAYA SALUT PADA ANDA!!! Kita berempat langsung memencar dan mencari kamar TV yang besar itu. “ Oooi, para monyet dodol, aku menemukannya!” teriak Aaron. “ Siapa yang monyet dodol?” “ Ya sudah, koreksi, koreksi ; Oi, para kerbau malas..” “ OK! OK! Kita mengerti. Kita akan kesana sebelum kau mulai meneriaki kita dengan panggilan ‘ cacing kebakaran’…” Kita bertiga lari kearah letak Aaron berada.Kita berempat duduk dengan nyaman, saling senyum, dan dalam hati aku berkata, Besok kontesnya, tapi aku tidak peduli menang atau kalah, suara intro lagu The Edan’s main. Belum apa – apa, si Hugo sudah berguncang hebat menahan tawa. Aku tersenyum. Jika aku sudah bisa sesantai ini dengan mereka, kurasa kota ini adalah kota yang paling cocok denganku.

* * *

              Kita bereempat duduk di kursi kayu dengan tidak nyaman. Laptop Ethan di depan kita bereempat, di atas meja kayu. Aku melirik ke arah kelompok lain. Kelompok punk yang menghasilkan website super gothic yang penuh dengan adegan video klip horror dan rock. Kelompok anak kaya dan populer yang menghasilkan website berisi penuh tips – tips menjadi populer, dan yang lain – lain. Semakin kita melihat hasil grup lain, semakin kita grogi dan takut. Ethan kelihatan mau semaput karena begitu tegang. Aku bisa memaklumi hal itu. Ia yang paling banyak bekerja dalam membuat website ini, jadi dia yang paling berharap tidak akan kalah. Sambil menunggu para juri datang ke meja kita, aku memandangi seluruh isi aula yang hanya didinginkan oleh kipas angin. Pandanganku tertuju pada grup Alice. Aku menelan ludah. Sudah 1 minggu penuh sejak Alice tidak berbicara padaku. Tapi ia SELALU memandangiku. Dengan pandangan yang kejam dan dingin. Saat aku melihatnya dengan wajah itu, aku merasa aku harus meminta maaf, akan apa? Aku pun tidak tahu. Dengan tegang aku mencoba tersenyum dan melambaikan tangan, seperti biasanya saat mata kita bertemu. ( Operasi ‘ ramah’ : tersenyum dan melambaikan tangan seakan – akan tidak ada apa – apa di antara kalian). Tapi senyumku benar – benar payah, seakan – akan senyum orang mau muntah. Dan lambaian tanganku juga tidak berhasil, aku malah memukul Hugo sedikit. “ Hei!” respons Hugo. “ S- sori..” kataku. Hugo mengikuti arah mataku dan kemudian menyadari apa yang aku lakukan. “ Alice lagi? Ngapain sih kamu ngeliatin dia terus?” “ Bukan ngeliatin dia terus, dia aja yang memandangi aku terus. Bisakah kau bayangkan rasanya dikuntit cewek? Horor. Itu apa.” Kataku sedih. “ Dia menguntit kamu?” bisik Hugo, sedikit shock. “ Yup. Dulu cuma di sekolah. Ia mengikutiku kemanapun aku pergi. Ia bahkan menunggu diluar toilet cowok saat aku harus melakukan bisnis! Tapi belakangan hari ini, dia bahkan mengikutiku keluar sekolah. Tidak sampai rumahku sih, tapi tetap saja…” bisikku balik. “ Mungkin dia suka kamu?” usul Hugo. Aku tertawa sumbang, “ Yeah, jika itu alasannya kurasa akan ada petir menyambar laptop Ethan,” Kita menunggu 3 detik. Tapi tidak ada petir yang menyambar, jadi aku yakin itu bukan alasannya. “ Well, kamu harus melakukan sesuatu. Aku tidak tahan melihatmu merana  seperti itu.” Balasnya prihatin. “ Aku tidak pintar bersosialisasi.” Kataku lagi.

“ Aku juga. Tapi jangan gunakan itu sebagai alasan dong! Harga diri priamu dimana sih?” tanyanya kedengaran gemas dengan kondisiku. Aku menunduk lesu. Hugo benar. Aku tidak pantas diperlakukan seperti ini. TERUTAMA OLEH SEORANG CEWEK! Jika hari ini, Alice tetap menguntitku, aku akan berbicara padanya. Dan jika besok ia melakukannya lagi, mungkin aku akan belajar karate… lamunanku buyar saat seorang pak tua berdiri di hadapan kita.

Juri! Sesuai dengan latihan, kita tersenyum dan bergantian menjelaskan. Fungsi dari peta kota ini, fungsi dari berbagai bahasa yang dapat dipilih, fungsi dari tips – tips rileks waktu akhir pekan, dan yang terakhir, apa maksud dari bad day dan efek samping membahayakannya bagi pelajar. Juri tersebut hanya mengangguk – angguk dan mencatat di clipboardnya. Kemudian ia mengangguk dengan hormat dan berjalan ke grup lain. Ethan langsung pingsan di tempat.

* * *

 Tidak tahan dengan udara panas di aula, dan juga tekanan ketegangan menunggu keputusan juri, aku mengusulkan kita bergantian menjaga dan beristirahat. Semuanya setuju dengan ideku dan Ethanlah yang pertama beristirahat. Dia kelihatan yang paling stress. Sedikit udara segar mungkin bisa membantunya. Ia kembali sekitar 15 menit kemudian dengan muka yang lebih rileks. “ Thanks, aku lebih lega sekarang.” Katanya penuh syukur. Hugo meminta izin untuk beristirahat setelah Ethan karena ia belum makan pagi. Kita membiarkannya ‘merumput’ di cafeteria. Sesaat kemudian, ia kembali dan semuanya memaksaku untuk beristirahat. Jadi aku keluar dari aula panas itu. Saat berjalan dengan langkah santai, aku mendengar langkah kaki orang lain. Tanpa memandang ke belakang pun aku tahu itu Alice. Saat membalikkan badan, aku melihat Alice sedang memandangiku. “ Alice, aku tidak bodoh. Kamu sudah mengikutiku kemanapun aku pergi selama 1 minggu ini. Sebenarnya apa yang kau mau?” tanyaku. “ Balas dendam.” Jawabnya singkat. “ Bukankah aku sudah ngomong? Kamu salah orang. Kita tidak pernah bertemu.” “ Hah! Alasan bayi. Kita pernah bertemu Ryker. Cuma kamu saja yang tidak ingat.” “ Kalau begitu, kenapa kamu mau balas dendam?” “ Kalau aku memberitahu kamu. Penyiksaan terhadapmu akan berlangsung jauh tidak seseru ini.”
Sialan. Aku mendesah dan memberinya pandangan paling sedih yang aku punya, meskipun aku tahu itu tidak akan berhasil. Dia hanya memandangiku dengan senyuman puas. “ Oke, kan aku sudah ngomong, apapun yang aku lakukan di masa lalu, meskipun aku tidak ingat, aku minta maaf. Apakah begitu susah untuk menerima permintaan maaf dari seseorang yang tidak tahu salahnya apa?” “ Apakah begitu mudah untuk menonton daun tumbuh seharian penuh tanpa menguap?” Aduuh, apakah perlu pakai metaphor yang aku tidak mengerti??

“ Kamu akan capek mengikutiku kemana – mana.” “ Aku tidak akan seyakin itu.” Cewek satu ini memiliki otak tajam yang bisa berdebat. Sementara aku memiliki otak kacang yang hanya cocok untuk main game seharian. Dengan situasi seperti ini, sudah pasti hanya satu hal yang bisa aku lakukan : MENYERAH. Dengan diam aku berjalan ke arahnya, melewatinya, lalu kembali ke aula lagi. Alice tidak bergerak dari posisinya.

***

“ Cepat amat istirahatmu!” seru Aaron saat aku kembali duduk di kursiku. “ Aku sedang tidak nafsu makan.” Jawabku. “ Oh, ya, aku ingat jawaban itu. Alice lagi kan?” Tanya Hugo. Aku mengangguk pelan. Ethan langsung menyahut, “ Kali ini ngapain dia?”“ Tidak ngapa – ngapain. Hanya debat singkat.” Jawabku lagi. “ Dia berkata tentang ‘ aku ingat, tapi kamu lupa’ itu lagi, ya?” Tanya Aaron. Aku mengangguk lagi, merasa agak capek. “ Dan kamu serius tidak ingat Alice? Mungkin siapa tahu memang kamu kenal dia..” kata Hugo ragu – ragu. “ Hugo, kalaupun aku kenal dia, dia tidak akan memiliki alasan untuk membenciku. Aku cukup yakin dia salah mengenaliku dengan orang lain.” Kataku. “ Memangnya ada 2 orang yang sama – sama memiliki nama Ryker Freddickson, sama – sama memiliki rambut setajam landak, dan sama – sama idiot?” Tanya Ethan. Aku memukulnya pelan. Dia nyengir, Aaron menyela lagi, “ Tapi Ethan ada benarnya, Alice tahu nama lengkapmu tanpa kamu memberitahunya. Dia pasti tahu kamu dari suatu tempat…” “ Aku tidak pintar bersosialisasi.” Responsku sekali lagi, lama – lama itu bisa jadi semboyannya Nerd Club… “ Heh, aku juga. Tapi apa hubungannya hal itu dengan Alice?” “ Aku cuma mau mengatakan kalau di sekolah – sekolahku yang dulu aku tidak pernah memiliki teman. Paling cuma kerja kelompok. Fakta ortuku sering gonta – ganti pekerjaan membuatku tidak punya teman.” Jelasku. “ Terus ngapain  kamu cari teman di sini?” “ Simple sih, ini kota terakhir yang akan ditinggali selamanya oleh ortuku. Aku HARUS punya teman disini atau ibuku akan membunuhku.” “ Tapi kamu kan pernah ke New York.” Protes Ethan. “ Apa hubungannya New York dengan cari teman?” tanyaku heran. Ethan mengangkat bahu. Anak ini memang agak aneh… Diskusi kita terhenti dan hatiku mencelos saat mendengar suara mike. Kita bereempat memutar kepala kita ke juri dan benar saja, si juri sedang memegang mike.

Tangan kirinya memegang kertas. “ Perhatian, sekarang pengumuman pemenang lomba website. Langsung saja, juara ketiga diambil oleh grup ‘Punkers United!” grup punk di sebelah kita langsung bersorak. Aku menelan ludah dan menoleh ke arah Hugo, ia tampak tegang. Aaron? Ia tampak mau pingsan. Ethan? Pingsan beneran. Aaron menyubit Ethan untuk bangun lagi. Aku sendiri juga tegang. “Mari, lanjut, juara kedua dimenangkan oleh grup Lilic Red’s!” kelompok berisi cewek yang aku tidak tahu masuk geng apapun memekik senang. Si juri memuji hasil website mereka, dan kita berempat mulai mengepalkan tangan saking tegangnya. Tiba – tiba Hugo berkata pelan, “ Hey, guys?” kita bertiga menoleh kepadanya. “Kurasa, menang itu ¼ dari segalanya. ¾ lainnya hanyalah perjalanan kita ke aula ini, membuat website itu dengan senang. Yang penting cuma have fun, kan?” Kulihat Ethan baru mau mengatakan sesuatu tapi terpotong oleh kata – kata juri, “ Dan juara pertama dimenangkan oleh grup Penelope’s Kitchen! Terima kasih atas perhatiannya, saya juga menghargai semua grup lain yang bekerja keras demi lomba ini. Terima kasih.” Ethan langsung duduk bersandar lemas, kayak prajurit kalah perang. Aku yakin dia dengar kata – kata Hugo tadi, tapi kurasa, rasa kecewa itu pasti ada. Saat berpikir hal itu, aku baru sadar.

Bagaimana kalau Alice sendiri kecewa? Mungkinkah dia kecewa karena aku tidak mengingatnya? Tapi aku sendiri tidak pernah bertemu dengannya!… kan??? KAN?! Bagaimana aku bisa mengingat orang kalau tidak pernah bertemu dengannya?! Pikiran itu menganggu banget. Aku menghenyakkan pikiran itu dari otakku dan mulai sadar dimana aku berada. Di aula. Kalah. Ethan mulai membereskan laptopnya. Oh, ya. Kita harus keluar. Kita kalah, tidak ada maksud bagi kita disini. Aku berjalan bersama seluruh teman – temanku. Tapi sedetik sebelum pintu aula tertutup, aku menoleh ke belakang, melihat ke arah Alice. Yang sudah pasti, balas menatapku.

Kali ini dengan pandangan mata setengah melamun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s