AYWMEN Bab 7 : Baby Sitter Terparah

Well, peringatan Alice sempat membuatku ‘agak’ tegang. Karena itu artinya aku dan seluruh Nerd Club akan didera oleh 4 cewek yang pintar semua dan punya kedudukan yang lebih tinggi di sekolah ini daripada kita. Aku ‘agak’ takut hingga aku lupa kalau hari ini… adalah hari dimana aku akan bertemu dengan si baby-sitter. Aku baru ingat saat Dad berkata kepadaku di rutinitas pagi hari kita. ( aku makan sereal dan Dad membaca koran sambil meminum kopi). “ Oh ya, malam ini aku dan ibumu akan pergi ke pesta teman kita. Pasti akan pulang larut. Dan kau tahu sendiri, kalau kita belum lupa atas kejadian di Tokyo.” Kening Dad berkerut sedikit. Agak aneh melihat pria yang berumur 30 , bertubuh kurus dengan muka blasteran Jepang dan Amerika mukanya berkerut. Apalagi kalau pria itu adalah ayahmu. Aku menunduk sedikit. Muka Dad kembali normal dan dia berkata sesuatu tentang baby –sitter yang cewek dan akan datang sekitar jam 5, seraya membalik kertas koran. Dad tiba –tiba berdeham, membuatku mengangkat kepalaku lagi.

“ Sudah saatnya kamu belajar mendekati cewek.” Kata Dad dengan nada seperti berbicara tentang cuaca. Aku melongo,“HAH?” tanyaku keras- keras. Aku cukup yakin aku salah dengar. Dad tersenyum. “ Saat aku seumuranmu aku lebih berani, tahu?” OK, aku tahu Mom dan Dad itu SELALU nekat, tapi bukankah yang ini agak terlalu… cepat? Aku tidak yakin aku siap… sesaat aku membayangkan aku pacaran… pa…ca..ran… Ryker sayang… apa babe?? Aku bergidik ngeri. Buru – buru aku berkata, “ Dad… bukannya apa sih, tapi aku lebih senang mencari cewek.. sendiri. Dan tidak sekarang.” Dad kelihatan agak kecewa, (er… bukan pertanda baik?) dan berkata, “ Terserah. Asal kau tahu, jika kamu mulai..” ia berhenti sebentar dan memandang ke arahku penuh arti, (bertelepati), “ aku akan dengan senang hati mendukungmu.” Kemudian ia bangkit dan pergi ke kamarnya. Bersiap – siap membuat gambar bangunan lainnya. Aku masih agak shock dengan kejadian barusan, tapi aku memaksa diriku berdiri dan ke kamarku. Aku harus sekolah.

 * * *

          Saat pulang sekolah, hal pertama yang kulakukan adalah: Membuang tasku di kamarku. Setelah itu aku cepat – cepat main game. Tahu kan first impression itu penting? Nah, aku ingin baby sitternya Ashley langsung tahu aku bukan tipe cowok rajin yang suka mengerjakan PR dan ramah padanya. Aku membolak – balik CD video gameku dan berdilema game apa yang akan kumainkan. Zombies? Nggak. Fishing? Nggak. Pembantaian Negara? Nggak. Fantasi Barbie World? Nggak, DAN DARI MANA GAME INI?! Aku melotot ke arah CD berwarna pink dengan gambar Barbie itu. Ashley. Tanpa ragu, pasti Ashley. Aku melepas CD itu dan menaruhnya di paling belakang. Ashley jarang membuka PS. Aku kembali membolak – balik CD. Antara Food Fight sama Skateboarding.. hmmmm… saat itulah aku dipanggil Dad. “ Ryker!” teriaknya. Aku berdiri dari sofa dan berjalan ke arah kamarnya. Mengetuk sekali. Tidak dijawab. Mengetuk dua kali. Masih tidak dijawab. Mengetuk tiga kali, tiba – tiba kepala Dad muncul dari belakang pintu. “ Bisakah kamu menata meja? Ibumu masih sibuk arisan.” Aku menaikkan alis dan berkata, “ Er, Dad? Bukannya hari ini kalian ke pesta?” “ Ya.” “ Terus…?” “ Well, ibumu barusan mau pulang. Tapi dia ditahan di situ oleh teman – teman barunya karena ada gossip baru. Ia janji akan pulang 10 menit sebelum jemputan kita datang.” “ Jam berapa jemputan kalian datang?” “ 10 menit lagi.” Bel pintu terbunyi. “ Ryker?” pinta Dad. “ Tapi… meja?” “ Well, mintalah Ashley kalau gitu.” Kata Dad singkat dan menutup pintu. “ ASH!” teriakku. Ashley turun dari tangga dengan muka cemberut. “ Aku bukan abu.” ( Ash= abu) Katanya kesal. “ Itu nama panggilanmu.” Kataku sambil tersenyum. Ashley selalu marah kalau dipanggil Ash. Ashley membukakan pintu untuk Mom dan Mom langsung melakukan ‘jurus siap – ke – pesta – dalam – waktu – 5 – menit’-nya. Aku berjalan santai ke arah meja makan dan menyiapkannya. Jika Dad dan Mom pergi… dan cuma aku, Ashley dan Baby sitternya… jadi untuk… 3 orang? Matematika kadang membingungkan. Waktu selesai menaruh garpu terakhir, telepon berdering. Ya ampun, sibuk amat! Aku mengangkatnya, “ Halo?” “ YO!” teriak orang dari seberang. “ Hugo?” tebakku. “ Yup.” Jawabnya. “ Kenapa?” “ Aku lupa ngomong, tapi bisakah kamu melakukan sesuatu? Lihat ke tasmu dulu.” Aku membawa telpon portable itu ke kamarku. “ Kenapa?” “ Kamu pernah kan nggambar tokoh di game terkenal itu? Yang..” “ Maksudmu Doc?” “ Pokoknya ilmuwan gila itu lho!” “ Ya, iya, namanya Doc itu. Si orang gila yang jenius.” “ Nah, eh… kamu kan punya buku gambarmu itu..” aku melihat isi tasku. Buku gambarku hilang. “ Hugh.. kamu apakan buku gambarku?” tanyaku heran, “ Er, yah… aku nggak sengaja membawanya pulang. Aku bawain besok…sori terlambat ngomong.” “ Nggak apa – apa.” Kataku sambil keluar kamar. Bel pintu terdengar lagi. Mom berteriak, “ Aku yang mengambilnya!”

“ Terdengar sibuk di rumahmu.” Kata Hugo. “ Yeah. Babysitternya Ashley tampaknya baru datang.” “ Oh? Kalau gitu sebaiknya aku pergi dulu. Oh, dan hei, gambarmu bagus. ” “Oya? Thanks.” “ Yeah.” Kemudian disambung oleh suara tut – tut – tut, tanda Hugo sudah mematikan teleponnya. Aku berjalan menuruni tangga, dan menaruh telepon portable itu di chargernya, saat jalan ke ruang keluarga, aku mendengar Mom berkata, “ Well, ini suamiku, Jon Freddickson..” “Freddickson?” ulang suara cewek. Langkahku terhenti. Kenapa suara itu terdengar familier? “ Well… Ashley?” Ashley berjalan mendahuluiku dan cepat – cepat berlari ke Mom. “ Ini Ashley. Dia umur 5.” “ Hey, Ashley!” kata suara cewek itu dengan ramah lagi. Aku berjalan pelan, sedikit ragu. “ Dan anak laki – lakiku…” Dengan tegang aku berjalan ke Mom dengan langkah lebih cepat. “ Ryker?” panggil Mom. “ Ryker?” ulang suara cewek itu dengan suara keras. NO WAY. Ini tidak mungkin terjadi. Aku berjalan cepat dan segera melihat sosok Baby sitternya Ashley. Aku menelan ludah. Nasib deh.

Di depanku, berdiri baby sitternya Ashley. Tapi aku lebih mengenal sosok cewek cantik ini, dengan nama Alice Stuart, si pembantai nerd club yang kemarin menyatakan perang. Alice terbelalak, sedikit terkesiap. Aku serasa mau pingsan. Kenapa hidupku harus selalu terlibat dengan dia? “ Ry- Ryker?” kata Alice. Aku memandang lurus ke arahnya dan dengan sedikit tergagap menjawab, “Hei, er… Alice.” Mom memandang ke arahku heran. “ Kalian saling kenal?”

“ Tidak.” “ Iya.”

Kita saling menatap. Alice menjawab tidak. Aku menjawab iya. Mom memandang ke arahku keheranan. “ Kita sekelas.” Jawabku singkat dengan tatapan mata,”JANGAN TANYA APA – APA.”. Mom tersenyum, “ Ini memudahkan diriku… nah, karena kalian sudah saling kenal, aku ingin Ashley dijaga 2 kali lebih baik.” Sebuah mobil hitam tiba – tiba mengklakson di depan rumah kita. Pandangan Mom teralihkan, aku menggunakan kesempatan itu untuk mengacak – acak rambut Ashley. “ Ryker!” omel Ashley kesal sambil cepat – cepat merapikan rambutnya. “ Well, aku pergi dulu. Permisi, Alice… dan Ryker, jangan sampai aku kembali dan menemukan sofa gosong.” Kata Mom penuh peringatan. Dad memegang pundakku sebentar, memberiku tatapan serius, kemudian dia pergi menyusul Mom. Alice melambaikan tangannya hingga mobil itu pergi. Kemudian dia memandang ke arahku dengan pandangan tersadis yang paling ada. “ Aku… akan main.” Kataku cepat dan segera kabur ke ruang keluarga. “ Hei! Ryker! RYKER!” teriak Alice. Ashley mencueki kita berdua dan naik ke lantai atas. Aku mengambil CD yang skateboard dan memasangnya. “ Ryker.” Kata Alice lagi. “ Apa sih?” tanyaku kesal. “Apa maksudnya ini?” Tanya Alice. Aku memandang ke arahnya. “ Well, kamu baby – sitternya adikku, the end. Tamat.” Jelasku.  “ BUKAN ITU! Tapi… Urgh! Emangnya sejak kapan kamu punya adik?” “ Er… sejak dulu?” “ Tidak waktu kamu masih kecil.” “ Ya waktu aku masih kecil. Aku umur 7 saat Ashley ada.” Alice mengerjap,

“ Oh. Kalau begitu, aku memang tidak tahu.”

“ Memangnya apa sih yang kamu tahu?”

“ Heh, aku tahu banyak hal.”

“ Alice, kamu sudah cukup membuatku pusing di sekolah, JANGAN, PLIS! JANGAN! Tambahi lagi sakit kepala ini di rumahku.” Kataku kesal sambil duduk di sofa dan memegang joystick PSku.

“ Kan terserah aku.”

“ Alice..”

“ Apa sih Ryker?” ulangnya, dengan nada yang tadi aku pakai.

“  Aku capek.”

“ Terus? Aku bukan apa – apamu.”

“ Apa hubungannya capek dengan apa – apaku? Apa sih apa – apa?”

“ Maaf, aku tidak ngerti bahasa Idiot.”

“  Hey.”

“ APA?!”

“ Urgh!!”

“ Um…” kita berdua menoleh ke kiri. Ashley berdiri sedikit canggung. Alice bertanya, “Kenapa?” dengan suara termanis. Kenapa dia tidak menggunakan suara itu jika berbicara padaku? Batinku kesal.“ Aku… agak lapar.” Aku melirik jam dinding. Masih jam 5. “ Kamu bisa makan biscuit kalau kamu mau.” Kataku sambil melanjutkan gameku. “ Mom menaruh toplesnya begitu tinggi.” Aku memandang ke arah Ashley. Sambil menghela napas panjang, aku berdiri dan berjalan ke dapur, mengambil toples kue, dan kembali ke ruang keluarga. Aku membuka toples itu dan menyerahkan 1 biskuit kepadanya. “Nih,” kataku. Ia mengambil biskuit itu dan memakannya. Kemudian ia pergi ke kamarnya lagi. Aku menaruh toples itu di meja dan mengambil 1 biskuitnya.  Alice memandang ke arahku. Kaget. “ Aku tidak tahu kamu bisa begitu terhadap adikmu.” “ Hei, dia lapar, dan aku mengambilkan toplesnya. Apanya yang baik?” tanyaku sambil memutar skateboard visual itu. Yes! High score! “ Biasanya orang – orang akan menyuruh si baby – sitter itu mengambil hal – hal seperti itu.” Kata Alice lagi. Aku melanjutkan ke level 5. “ Well, asal kau tahu, kamu bukan satu – satunya baby sitter di sini. Profesimu cuma ½ di sini, aku juga bertanggung jawab atas adikku sendiri, tahu.” Aku memutar skateboard itu, tapi ada tikungan tajam. Aduh… OK, ini bisa aku lakukan jika aku konsentrasi.

Alice tersenyum. “ Sori aku meneriakimu tadi.” Konsentrasiku buyar. Aku menoleh ke Alice. Alice? Ngomong sori? IMPIANKU JADI KENYATAAN! “ Hmm.” responsku, dalam hati aku kegirangan. “ Aku tadi dengar ibumu berkata sesuatu tentang sofa gosong.. apa itu?” “ Cerita panjang.” “Aku akan ada di rumah ini sampai jam 9.” Aku menatapnya. “ Alice, jujur, aku tidak mau cerita. Itu cerita agak memalukan.” Alice berdiri. “ OK, akan kupaksa kamu.” Hah? Dia menyambar joystickku. Skateboard visualku jatuh. GAME OVER. “ Alice… aku sudah sampai level 7!! Mengulangnya butuh waktu lama dengan iklan dan lain – lain!” Protesku. “Emangnya aku peduli?” Tanya Alice. Ia menyeretku dengan menjewer telingaku. “Ow, ow , ow, ow, ow, ow, ow, ow, ow, ow…!” teriakku seraya setiap langkah yang dia ambil. Ia mendorongku ke kursi meja makan, aku yang masih bingung terduduk keheranan. Butuh sekitar 3 detik waktu aku sadar apa yang harus kulakukan aku cepat – cepat berdiri, tapi ia mendorongku balik. “ Tidak ada tali di sini?” tanyanya kecewa. Sambil tetap mencari – cari tali, aku mencoba melepaskan diriku sendiri dari pegangannya. Kemudian ia meneriakkan seruan bahagia. “ Aha!” dia berdiri di depanku. Tidak memegang tali. Tapi CD limited edition PSku. Aku terkesiap. “ Al-Alice… hati – hati dengan itu..” kataku pelan – pelan. Alice tersenyum, “ Reaksimu membuatku lebih yakin CD ini sangat penting.” Aku terdiam. “ Well? AYO! Jelaskan! Kalau tidak, CD ini akan tamat riwayatnya.”  “ Tidak ada apa – apa yang ada untuk diceritakan.” “ Sofa gosong? Aku yakin ada.” Aku menggelengkan kepala. Alice memberi tanda akan mematahkan CD itu. Well, Ryker, kamu memang selalu merusak harga dirimu sendiri. Tampaknya cerita itu akan aku ceritakan juga ke kalian. Alasannya? Karena si baby sitter terparah yang pernah ada ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: