AYWMEN Bab 8 : Insiden Tokyo (dan Akhir Malam yang Panjang)

                   “Hal ini terjadi waktu aku masih 9. Ashley masih umur 2 waktu itu dan keluargaku menetap di Tokyo. Mom dan Dad lagi pergi ke bar malam, lagi. Kali itu aku disuruh menjaga Ashley. memberinya susu yang sudah ada di kulkas, dll. Aku melakukan SEMUA yang disuruh Mom. Tapi aku mulai bosan. Tidak ada acara bagus di stasiun TV waktu itu, Ashley juga tampak bosan. Aku malas mengerjakan PR, jadi aku pikir akan bermain cahaya dan bayangan dengan Ashley,” jelasku. Alice menarik kursi dan duduk. “ Terus?” “ Well, aku tidak dapat menemukan senter, jadi aku mengambil lilin. Aku menaruhnya di meja depan sofa di ruang tamu. Supaya jika Mom dan Dad datang, aku akan langsung tahu. Ashley aku ajak juga. Aku mencari korek api, tapi rupanya terjadi kebocoran di sekitar laci korek api itu, sehingga sebagian besar dari korek api itu tidak bisa nyala.” Aku berhenti, menatap ke arah Alice sebentar, menarik napas, lalu melanjutkan, “Aku mengambil kotak korek api yang lain, kali ini karena kesal aku menyalakan semuanya sekaligus. Rupanya kotak korek api yang ini tidak kena air jadi apinya langsung besar gitu. Karena panik aku langsung menjatuhkan semua batang korek itu. Semuanya langsung kena sofa dan…” aku diam sebentar lagi. Sambil menghela napas panjang aku berkata lagi, “ Well, aku berhasil menyiramnya dengan air. Ashley kubawa kabur ke ruang keluarga waktu itu. Aku menyiram sofa itu entah berapa kali, pokoknya daerah sofa itu hangus. Waktu Mom dan Dad pulang, well… aku kena semprot, tidak diberi wewenang untuk menjaga Ashley lagi untuk 17 tahun yang akan datang, dikurung di kamar kecuali untuk sekolah, dan tidak boleh main PS untuk 2 bulan, dll. Pokoknya merana.” Alice tidak tahan lagi, ia terbahak. “ Itu sih salahmu sendiri!” kata Alice di tengah sela – sela tawanya. Aku memutar bola mataku, “ Bolehkah aku kembali main sekarang?”

 * * *

Sebanyak aku membenci Alice, aku harus mengakui cewek itu pintar menjaga adikku. 30 menit pertama, dia memang mendera aku, tapi sesudah puas menertawakanku, dia mengembalikan CDku ke tempatnya , bertanya kamar Ashley yang mana dan kemudian ke kamar Ashley. Aku sempat mengintip dari celah pintu, ia mengajak Ashley main. Ashley suka sekali main Barbie. Jadi Alice juga terpaksa ikut main. Tapi ia tetap tersenyum dan menjaga Ashley. Saat makan malam, ia setengah memaksa Ashley untuk makan dan lain – lain. Jam setengah 9, Ashley sudah tidur. Itu semacam mukjizat, Ashley tidak akan pernah mau tidur jam berapun meski aku menyuruhnya. Aku mematikan kabel PSku. Saat memutar kepalaku, aku melihat Alice. Ia berjalan pelan, kemudian duduk di sofa dekat TV. Tiba – tiba merasa agak sungkan, aku menemaninya. Kita saling diam –diaman selama waktu yang serasa 1 jam, padahal nyatanya cuma 1 menit. Merasa agak sungkan berbicara tapi juga kesunyian yang canggung.

“ Ummm…”

Kita saling pandang. Kita berkata, “ Ummm” pada saat yang bersamaan. Kembali kita sunyi. Aneh banget.

“Alice,” “Ryker,”

Kita saling pandang lagi. Dia berkata “ Ryker” pada saat aku berkata ”Alice.” Aku tersenyum tipis, kemudian menganggukan kepala, tanda ia boleh ngomong duluan.“ Soal di sekolah…” nah, itu topik yang aku juga barusan mau bicarakan. “ Aku punya alasan kuat tentang perang itu. Aku tidak hanya main – main.” Kata Alice. “ Yeah, aku tahu. Kamu selalu ngomong hal itu.” Kataku lagi. Kita sunyi lagi. “Tapi… akan sangat membantu jika kamu menjelaskan kepadaku sekarang apa yang kamu maksud dengan ‘Ryker pernah melakukan hal tidak pantas pada seorang gadis kecil’. Karena setahuku.. aku tidak pernah melukai Ashley, ataupun cewek lain.” “ Kamu hanya tidak ingat. Perang ini seharusnya refreshing bagimu.” “Sejak kapan perang itu refreshing?” Alice terdiam. Kita menjatuhkan topik itu. “ Well, kenapa kamu jadi baby – sitter?” tanyaku mengganti topik dengan buru – buru. Alice mengangkat mukanya. “ Aku? Well, sebenarnya pekerjaan ini rahasia.” Katanya, tersenyum kecut. “ Aku agak tertekan kalau sehari – hari cuma mengurus kerjaan sekolah dan acara, pembagian pengumuman, apalagi kalau sudah dekat festival. Aduuh..” katanya sambil menutup mata dan menghela napas panjang. “ Orang tuaku menyuruhku mencari suatu les atau hobi baru yang membuatku lebih rileks. Saat itulah aku melihat brosur untuk bekerja sebagai baby – sitter. Tapi kalau seorang guru dari sekolah kita tahu… well, hasilnya akan merugikan diriku.” Jelas Alice. Aku mengangguk. Alice terdiam lagi. “ Sebentar… kenapa aku baru memberitahu rahasia penting ke lawan perangku?” Tanya Alice tiba – tiba. Air mukanya berubah panik. Aku tersenyum, ahaha!!! Ternyata dia cerewet juga! “ Urrgh!! Alice, dasar dodol!” katanya pada dirinya sendiri, marah – marah. Aku mau mengomentarinya, tapi bel berbunyi. Tampaknya Mom dan Dad telah pulang. Ternyata benar juga pepatah gombal yang aku pernah dengar : Setiap peristiwa ada hikmahnya. Peristiwanya adalah menemani seorang baby sitter yang bikin aku merinding untuk setengah jam di malam hari ini. Dan hikmahnya, adalah senjata bagus untuk menyerang lawanku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Si Baka Punya Cerita

Temukan Info Baka di Sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: