AYWMEN Bab 9 : Vegetarian Day

Aku pergi ke sekolah dengan senyum di bibirku. Puas rasanya mengetahui rahasia gelap Alice yang tidak diketahui teman – temanku. Aku berjalan kearah lokerku. Hatiku lebih berbunga – bunga melihat lokerku itu. OK, memang pada awalnya aku kecewa dengan loker sekolah ini, tapi setelah beberapa hari, aku kembali jatuh cinta pada bentuk kotaknya dan warna birunya. Ruangan sempit di dalamnya kuisi dengan buku – buku dan gambar – gambar tokoh Anime Jepang favoritku. Bahkan aku berani memasukkan beberapa majalah khusus gameku. Resikonya besar, tapi sifat fanatik gameku memaksaku. Hugo, Aaron dan Ethan sudah duduk di lantai, kembali menatap kearah laptopnya Ethan yang berwarna kuning itu. “ Hey Guys.” Sapaku sambil membuka loker. “ Heeei.” Jawab mereka bersamaan. Aku hendak menceritakan mereka tentang kelemahan Alice, ketika aku tanpa sengaja melirik layar laptop itu, aku merasakan kakiku lemas. YOUTUBE! Dan lebih lagi : VIDEO CARA MERAUT PENSIL DENGAN BENAR!! Aku membanting buku – bukuku dan langsung ikut duduk dengan mereka.

“ Wow,” gumam Aaron. “ Aku tidak pernah menyadari hal ini…” kata Hugo. “ Aku juga,” kata Ethan. “ Pensil itu wajib berbangga telah diraut dengan benar.” Kataku, disertai anggukan kepala 3 orang di sebelahku. Ethan menekan tombol ‘replay’, dan kita kembali fokus kepada layar itu. Tapi terjadi malapetaka : grup Pimpinan Sekolah kelas 7 datang. Anehnya, Alice tidak bersama mereka, cuma si cewek Perpus, ( yang namanya Cynthia), si penjaga daerah resepsionis sekolah, ( Heather namanya.) dan si pengatur cafeteria, (atau Daisy).( butuh waktu lama untuk menghafal nama dan wajah mereka, aku gampang lupa.) Mereka bertiga berdiri di depan kita. Ethan meng-close Web Internet itu dan cepat – cepat mengshut – down laptopnya. Hugo berdiri dan mengambil tas selempangnya. Aaron membuka lokernya dan menarik keluar kamus bahasa Italinya. Aku mengambil tas laptop milik Ethan dan menyerahkan tas itu. Mereka bertiga tampak agak kaget melihat reaksi kita langsung berpindah dari ‘cowok – cowok merana yang nongkrong di lantai’ menjadi ‘siap – siap ke kelas’.

Well, ini adalah rencana Nerd Club sejak mendengar peringatan perang itu. Kita akan menunjukkan sikap cuek pada perang ini, jika kita ikut – ikutan perang atau hal konyol lainnya, kita akan memperparah keadaan. Jika kita melakukan hal ini, seharusnya mereka akan capek sendiri. “ Oi, kita perlu bicara.” Kata Cynthia, nada bicaranya agak tegas. Tapi nggak menyaingi Alice, nope, sama sekali tidak. “ Hmm?” Tanya Ethan tak bersemangat sambil menarik resleting tasnya. “ Kita akan mulai perang…” Kita bereempat berjalan menjauhi mereka. “ OI!” teriak Cynthia tiba – tiba, mengejar kita. “ Tahu nggak sih kalau ninggalin orang yang lagi bicara itu nggak sopan?” tanyanya BT. “ Ada urusan apa sama kita? Kalau tentang perang konyol itu lagi, minggir.” Kata Ethan. Sejak kapan dia bisa berani sama cewek? “ OK, kamu tahu? Aku benci cowok yang tidak gentle.” Kata Cynthia emosi dan kemudian ia mengangkat kedua tangannya dan berjalan menjauh. Entah kenapa, aku tidak suka cara dia bicara. Dan sisa hari itu mereka habiskan untuk full menghabisi kita.

“ Pak?” sela Daisy saat pelajaran PKn. ( Ini hari Jumat). Seluruh Nerd Club menoleh ke arah Daisy. Aku mengepalkan tanganku. Moga – moga ia hanya bertanya soal pelajaran.. pliis, pliis… “ Mengapa Anda tidak memberi Hugo dan kawan – kawan di sebelahnya sebuah pertanyaan?” tanyanya dengan nada protes. Pak Quinn menaikkan alis. “ Maaf, apa maksudmu, Miss. Ramora?” “ Saya menyadari kalau Hugo dan teman – temannya jarang diberi pertanyaan. Dan saya rasa semua orang harus diberi kesempatan untuk mendapat pertanyaan, tidak? Itu hak mereka.” jelas Daisy panjang lebar. Pak Quinn terdiam. Ia berjalan ke meja guru dan menarik keluar daftar absensinya. “ Ah, ya. Saya sering melewatkan nomor – nomor ini, nah, nomor 8? Siapa?” Ethan mengangkat tangannya. “ Ya?” tanyanya, terdengar tegang. “ Bisakah kamu menjelaskan apa maksudnya hak pribadi?” tanya Pak Quinn.

UFFF!! Hak Pribadi? Aku yakin Ethan tidak pernah dengar hal itu. Ia tidak peduli menghack facebook atau e-mail seseorang dan tidak merasa melanggar apa – apa karena baginya, ia hanya mencari informasi, dan informasi dapat dicari dengan berbagai cara, tidak peduli bagaimana cara itu. Ethan menelan ludah. “ Er… well… hak pribadi adalah… hak? Yang dimiliki oleh semua orang?? Berarti, ummm… kalau , well… yah… kan, gini lho ; ck,” ia mendecak lidah sekali. Oh tidak, sindrom gagap. Ia menarik napas panjang dan kemudian merangkum informasi sedikitnya dan prinsip hidupnya menjadi cerita : “ Hak Pribadi adalah hak yang dimiliki oleh semua orang. Tapi jika kita memerlukannya, hak pribadi orang itu BOLEH dilanggar.. ya?” Pak Quinn kelihatan shock. “ Tidak, Mr. Taylor, kurasa hak pribadi tidak boleh dilanggar oleh siapa – siapa. Maaf, tapi Anda harus ikut pelajaran tambahan saya setiap hari kamis mulai minggu depan.”

* * *

Ethan terus menerus mengerang. “ Ethan, bisakah kau berhenti melakukan erangan itu?” omel Aaron. “Kamis… hari keberuntunganku!! Kenapa pada hari dimana aku selalu merasa bahagia dan lebih giat menghack komputer harus diganti menjadi belajar PKn?! Apalagi tentang hak pribadi yang tidak masuk akal…” “ Mau tissue?” tawar Hugo. “ Kamu tidak membantu.” Kata Ethan kesal. Aku memegang pundaknya,  “ Well, setidaknya sebentar lagi nilai PKn-mu akan tambah baik!” kataku mencoba membuatnya lebih bersemangat. “ Yeah.. mungkin kau benar. Tapi tetap saja… KAMIS!!!” teriaknya dramatis. “ Cih, dasar lebay, kalau ka-“ tapi Hugo tidak menyelesaikan kalimatnya. Kita membuka pintu cafeteria dan langkahnya terhenti. Mulutnya melongo. Tapi dalam hitungan detik, berubah menjadi senyuman lebar. Di depan kita memang ada cafeteria, tapi perubahan drastis terjadi. Di mana – mana ada warna hijau. Di tengah – tengah cafeteria, terdapat spanduk lebar dengan tulisan :

`VEGETARIAN DAY!’

Hugo bersemengat sekali hari itu. Ia langsung mengambil SEMUA makanan yang tersedia. Selama aku dan Aaron dan Ethan… well, kita hanya meneliti semua makanan yang disediakan dan tidak mengambil apapun. “ Apa – apaan ini?” bisik Aaron padaku. Aku mengangkat pundak. “ Mungkin di kelas 7 akan ada kayak ginian?” tanya Ethan setengah ragu – ragu. “Mungkin… tapi tetap saja… aku tidak bisa makan apapun selain wortel dan beberapa brokoli.” Aaron mengaku.
“ Aku cuma bisa makan 15 daun bayam, kalau lebih, aku akan muntah.” Ethan menyahut.
“ Aku hanya bisa makan jagung dan kacang polong.” Bisikku sambil mencoba tidak menghirup bau sop sayur. Melihatnya saja sudah mual.Bagaimana rasanya? Bisa – bisa kayak.. hii!!

Kita bertiga melirik Hugo yang sedang riang mengambil lebih banyak sawi. “ Dia menangis dalam hati.” Ujar Aaron. “ Hah?” tanyaku. “ Si Hugo. Dia dipaksa menjadi vegetarian oleh orang-tuanya. Sebenarnya ia ingin bisa makan daging, tapi jika ia nekad memakannya, ia akan muntah – muntah. Ia kelihatan senang sekarang, tapi cek 25 menit lagi, ia akan kelihatan kayak orang yang sudah divonis hukuman mati. Pasti menyesal memakan sayur, dll.” Aku menggelengkan kepalaku. Ryker Freddickson, kamu tidak salah dengar kan? Aku tidak pernah menyangka Hugo seperti itu. Ia selalu kelihatan tersenyum, dan menawarkan tissue, atau berceloteh senang tentang suatu hal. Mungkin aku akan memasang alarm di jamku untuk 25 menit. Untuk sekarang aku hanya dapat melihat dia memakan jamur dan sayur – sayur itu dengan lahap.

25 menit kemudian
Hugo mencengkram lenganku waktu ekstra basket ini. (seluruh Nerd Club ikut ekstra basket. Kita merasa kita butuh sesuatu yang terkesan COWOK..) “ Ryker…” katanya lemah. Aku mengecek jamku. 25 menit. Tapi ia kelihatan sekarat daripada divonis hukuman mati. Sesekali bahkan meringis kesakitan. “ Dude, kenapa?” tanyaku. Ia mencengkram lebih keras. “ Aku butuh…” “ Ya?” “ Toilet.” GUBRAK! Dia benar – benar merusak suasana ‘sekarat’ ini. “ Well, silakan.” Kataku kesal sambil berusaha melepas tangannya dan mengambil bola. Momen ini rusak gara – gara dia. “ Bukan, maksudku aku rasa aku akan…” dan dia kelihatan mau pingsan. Aku agak takut sekarang. Apakah dia butuh toilet untuk ‘berbisnis’ atau untuk muntah? Aku meminta izin pada Coach dan membawa Hugo yang sekarang mulai keringat dingin ke tempat idamannya Aaron : toilet. Ia berjalan setengah mau jatuh ke toilet dan langsung mengeluarkan segala macam hal yang ia makan tadi. Muntah. Aku bisa mendengarnya terbatuk, keselak, muntah lagi dari luar pintu, punggungku menghadap ke arah bilik dia. Sambil mencuci tangan karena agak jijik. Saat tiba – tiba terdengar keheningan dan napas tersenggal – senggal Hugo, aku bertanya, “ Semuanya OK?”. Tapi ia kembali terbatuk dan terdengar suara muntahan lagi. Ethan dan Aaron tiba – tiba muncul.

“ Hei, kita melihat kalian berdua ke sini.” Kata Ethan. Aku menunjuk jempolku ke arah bilik dimana Hugo sedang muntah. “Apakah dia selalu seperti ini tiap makan sayur? Aku tahu dia agak putus asa tentang harus jadi vegetarian, tapi ini berlebihan banget.”  Ethan mengangkat bahunya, “Tidak, biasanya hanya menyesal, dan belakangan ia tidak seberapa menunjukkannya. Tapi ini reaksi biasanya jika memakan daging.” “ Ia tidak memakan daging setahuku.” “ Aku juga tidak melihatnya makan daging…” “ Kalau ada daging tadi aku pasti mengambilnya…”
“ Guys?” terdengar suara Hugo dari biliknya.
“ Yeah?” jawab kita bersamaan. “ Aku rasa aku kehabisan tenaga untuk muntah lagi. Ia membuka pintu biliknya dalam kondisi masih duduk di lantai. Mukanya kelihatan parah. “ Kurasa kamu harus pulang.” Kata Aaron. Aku dan Ethan mengangguk. “ Itu tidak terdengar segitu parah sekar-“ tapi Hugo kembali muntah lagi sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya. Aku rasa kita harus menemaninya ke rumahnya dengan membawa kantong plastik, aneh… vegetarian day dan disusul oleh Hugo muntah – muntah? Pasti ada masalah di sekitar sini.. dan apakah ini aku aja? Atau masalah itu (mungkin) memiliki nama ‘ pimpinan sekolah kelas 7’?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s