AYWMEN Bab 10 : Jamur

“ Hanya ada satu makanan yang memiliki khasiat separah itu.” Kata Ethan geram sambil memutar laptopnya. Kita sedang mencari mengapa Hugo sakit – sakitan, ini hari Minggu dan kita sedang bertemu di kafe murahan dekat rumah Aaron. Hari jumat, sabtu dan sekarang minggu. 3 hari. Terakhir kali aku menjenguknya, Ibunya melarangku masuk ke kamarnya karena Hugo tidak disitu, ia berada di kamar mandi, muntah terus. “ Jamur.” Kata Ethan.“ Jamur?” tanyaku. “ Jamur.”
“ Kau serius?”
“ Hugo diracuni.”
“ Racun?!”kata Aaron panik

“ Jangan kuatir, disini ditulis jamur yang disediakan di cafeteria itu memang beracun, tapi hanya sebatas muntah – muntah dan sakit perut dengan sedikit gejala masuk angin selama 4 hari. Besok, Hugo bisa kembali ke sekolah. Bahkan dalam beberapa kasus, bisa – bisa hari ini ia sudah selesai muntah – muntah dan hanya terlalu capek ke sekolah.” Jelas Ethan sambil memutar balik laptopnya. Aku menunduk ke bawah. “ Ryker, kamu tidak apa – apa? Jangan bilang kamu mau muntah juga.” “ Ha? Bukan.. bukan itu… cuma, apakah menurutmu… Daisy yang melakukannya? Maksudku.. kan Daisy yang menjaga seluruh cafeteria…” Aaron terdiam. Ethan tampak merenung.

“ Aku sama sekali tidak memikirkan hal itu.” ujar Ethan setelah diam. “ Ya… well, sudahlah, kalau tidak ada bukti. Kita tidak bisa menuduh.” Kataku lagi. Setengah memaksa diriku sendiri percaya hal itu. Tapi ada sisi jahatku yang yakin Daisy sengaja melakukannya. Mereka selalu melakukan perang konyol itu setiap hari. Aaron sempat ditipu kehilangan kamus Italinya. Sifat paranoidnya membuat dia mencari dari lantai 1 sampai atap sekolah,dan kira – kira inilah yang terjadi :“ Gila, kamus Italiku dimana?!” “ Hei Aaron!!” terdengar teriakan cewek dari luar jendela kelas kita. Aaron berlari keluar jendela. Heather ada di situ, mukanya menunjukkan kesadisan tidak dibuat – buat, di tangannya terdapat kamus Itali super duper tebal itu. Kemudian dengan satu lemparan hebat, kamus itu terlempar ke kali sampah yang bau di belakang sekolah. Aaron pingsan seketika.

Anyway… Aku berkali – kali disuruh untuk menjawab pertanyaan yang menghasilkan banyak pelajaran tambahan bagiku sekarang. Mungkin mereka sadar Hugo cukup pintar untuk tidak tertipu dan dapat menjawab sehingga menggunakan jiwa vegetariannya sebagai senjata? Hari itu, aku tahu Alice akan menjaga Ashley. Aku akan bertanya. Hoho, akan kutunjukkan padanya sifat Ryker yang jahat. MWAHAHAHA!!!

 * * *

“ Hey,” sapaku. Aku menjenguk Hugo lagi di minggu sore ini. Kali ini ia sudah cukup sehat untuk bisa tidur di kamarnya, tapi ia masih kelihatan sakit. “ Heeeei…” sapanya senang. Komiknya ia lempar ke meja belajarnya saat ia melihatku.“ Mana Ethan dan Aaron?” “ Ethan ditelpon ayahnya, ia harus pulang untuk makan siang bersama. Aaron sedang les bahasa Jerman.” “ Oo..” kita terdiam sebentar. “ Dan kamu?” tanyanya. Aku memandangnya heran, “ Aku di sini…”
“ Bukan itu maksudku, dasar! Maksudku kenapa kamu kelihatan kayak mayat berjalan?”
“ Hah?”
“ Jangan ‘ hah’ ke aku, jawab!”
“… aku hanya berpikir mungkin Daisy yang melakukannya.”
“ Apa? Meracuniku? Jangan kelihatan kaget, aku tahu. Menurutmu aku tidak tahu jamur itu berbahaya?”
Aku melongo, “ TERUS KENAPA KAMU MAKAN?!” teriakku shock. Tidak yakin aku mendengar dengan benar.
Hugo tersenyum, “ Bisakah kamu menjaga rahasia?”
Aku agak bingung, tapi aku mengangguk. “ Bagus.. well, dari dulu aku selalu senang dengan Daisy, apalagi masakannya. Kurasa ia juga cukup menyadari aku vegetarian karena ia selalu memastikan ada sayur.”
Aku menelan ludah. Ini bukan topik bahasan ‘cowok’ favoritku. “ Terus?”
“ Kemarin, aku kaget karena ada vegetarian day. Kupikir ini memang perangkap. Jamur itu memang kelihatan agak berbahaya, tapi aku sudah makan banyak sekali jamur, aku lupa dan langsung memakannya. Saat muntah itulah aku ingat jamur itu beracun.”
Aku terdiam. “ Oh, dan Daisy? Ia datang tadi.” Ujar Hugo lagi. “ HAH?!” ini bertambah parah seiring waktu. “ Untuk minta maaf tidak mengecek jamur itu terlebih dahulu. Ternyata bukan karena racunnya, tapi karena expired datenya tahun lalu.” Jelas Hugo. Aku mengerjap, mencoba memilih kata – kata, lalu..“ Jadi…” “Yeah, jangan kuatir, aku sadar dia tidak cocok denganku. Perang akan berlanjut seperti biasa besok.” Aku tersenyum. Lega deh, Daisy tidak akan bersama Hugo terus menerus. Hugo terlalu polos untuk pacaran. Dan bayangkan berapa informasi penting akan terbuang? Aku melihat ke arah jamku. “ Alice pasti di jalan…” “ Apa?” Tanya Hugo. “ Hah? Oh tidak… Cuma si baby- sitternya Ashley pasti sedang di perjalanan ke rumahku.” Hugo mengerjap, “ Tapi kamu berkata Alice…” “ Tidak, bukan Alice.” kataku defensif. “ Kau yakin? Kamu tidak perlu berahasia atau apa tahu.” “ Ya, aku yakin.” Tegasku. Hugo memandangiku.

“ Aku harus pergi. Bye.” Kataku setengah tidak fokus. Apa yang baru saja aku lakukan? Ikut merahasiakan rahasia Alice? Sejak kapan aku melakukan hal itu?

Waktu di jalan, aku masih memikirkan hal itu. Setelah dipikir – pikir… aku tidak pernah bercerita tentang Alice ke Nerd Club sejak hari ia menjaga Ashley. Apakah secara tidak sadar aku telah merahasiakan hal ini? KENAPA? Bukankah aku membenci Alice? Semuanya terjadi begitu saja. Mulutku seakan – akan berkata hal itu secara natural. Tapi kenapa? Apakah aku mulai gila?! Kurasa tidak. Jadi kenapa aku terdengar seperti melindungi Alice? Lagipula, kenapa pula aku ingat Alice waktu melihat jam tanganku? Nggak ada fotonya di jam tanganku aja lho. Cewek itu tidak pernah… tapi aku berhenti berjalan saat menyadari hal itu. Belakangan ini, ia tidak lagi menguntitku, bahkan saat papasan di koridor, ia akan cepat – cepat berlalu. Selalu Daisy, Heather, dan Cynthia yang melakukan perang. Aku kembali berjalan. Dan tanpa kusadari, aku telah melewati peanut block dan sampai di jalan dekat rumahku.Aku agak tidak fokus saat membuka pintu, aku berteriak “Aku pulang…” seperti adat istiadat Jepang ( perintah Dad.) Tapi tidak ada jawaban.

“ Mom?” masih sunyi. “ Dad?” tetap sunyi. Hm, mungkin mereka sudah pergi ke pesta perkawinan itu. Aku ke ruang keluarga dan menjatuhkan diriku di atas sofa, dan mengulet. Tiba – tiba ada tangan yang menyodorkan minuman berwarna hitam, berpikir itu cola, aku mengambilnya. “ Thanks Ash.” Kataku sambil langsung menengak setengah dari gelas itu. “ Sama – sama.” Aku memuncratkan cola itu. Kepalaku berputar 180 derajat, “ ALICE?!”

Dodol, aku terlalu tidak fokus hingga lupa dia ada!!!! “ Yeah. Hai.” Kata Alice. Aku menelan ludah dan bertanya agak takut, “ I-ini a- ap- apa saj- sa- saja??” sambil mengangkat gelas itu. “ Kamu pikir itu cola kan? Itu campuran pahit antara Mylanta, obat perut maag, terus ada juga sedikit telur busuk , susu, jahe, dan sprite, dan banyak sekali gula.”“ Kamu spesial bikin minuman ini?” “ Yap! Enak?” TIDAAAAAAAK!!!!!!!!

Berbeda dengan Hugo- yang berlaku gentle dan memakan racun yang dibuat seorang  ‘lady’- aku berlari ke kamar mandi dan membuang minuman itu ke wastafel. Semoga minuman itu tidak mencemari lingkungan : AMIN… dan aku mulai berkutat dengan diriku sendiri untuk memuntahkan cairan itu. Kumur – kumur? Sudah. Kumur – kumur dengan air garam? Sudah. Menonjok perut? Sudah. Mengeluarkan suara – suara muntahan agar menipu diriku sendiri bahwa aku akan muntah biar muntah beneran? Sudah.Menyatakan mereka semua gagal, sudah. Menyerah? SUDAH. Aku turun ke kamar bawah dan menemukan Alice sedang di dapur. Memasak dengan Ashley. Waktu aku buka pintu dapur, aku melihat Alice menutup oven sambil berkata, “Sekitar 1 jam lagi, kue – kue itu akan selesai.” “ Yaaay!!” kata Ashley sambil bertepuk tangan. Alice tersenyum. “ Hei, itu ada racunnya juga nggak?” tanyaku BT sambil menunjuk ke arah muffin yang sedang di-oven. “ Ih, aneh amat.” Kata Ashley sambil memutar bola matanya. “ Hei, sopanlah sedikit ke kakakmu.” Kataku kesal. Ashley bertanya pelan apakah ia boleh naik ke kamarnya ke Alice. Alice mengangguk, dan Ashley langsung lari, berhenti sebentar untuk menjulurkan lidah padaku, dan lari kembali ke kamarnya.

Alice tertawa kecil.
“ Senang ya?” tanyaku dingin.“ Kalau mau jujur? Iya. Ia mirip sama kamu, cuma lebih sopan, baik, dan pengertian. Belum lagi lucu.”
“ Kamu hanya mengulang semua keahlianku! Sopan, baik, pengertian, dan lucu.”
“ Gila apa? Gak mungkin.”
Ia tersenyum kecil, tapi kemudian duduk di kursi meja makan sambil menghela napas panjang. “ Hei.” ujarku. Ia menengadah, “ Apa?”
“ Kenapa kamu menjauhiku?”
Alice memandangiku, “ Sejak kapan kamu mau aku dekat dengamu?”
“ Kamu menyatakan perang, jika kamu bertanggung – jawab, kamu akan ikut perang.”
“ Plis deh Ryker. Tapi aku…” dan ia kehilangan kata –kata. Sambil menutup mata dan mendesah, ia berkata, “ Aku takut.” Ia mengakui.
“ Hah?”
“ Aku takut kamu memberi – tahu grupmu soal pekerjaanku ini, dan aku akan diejek. Aku tidak mau diejek lagi. Itu membuatku takut, kamu tahu? Ejekan. Itu yang paling mengerikan dari hidup bagiku.”
Ia bergidik. Aku tidak percaya cewek seperti Alice bisa bergidik ngeri seperti itu. Dan ia takut pada ejekan? Plis. Aku mengerti hal itu menakutkan… tapi..
“ Hei, aku belum beritahu siapa – siapa.” Alice mengangkat kepalanya, kelihatan tidak percaya. “Aku tidak akan beritahu. Itu yang pasti.” Janjiku.
“ Kenapa tidak?”
“ Kenapa harus?”
“ Tapi…”
“ Alice, bukankah aku bilang aku tidak akan memberitahu? Aku jamin , sebagai cowok,  aku tidak akan memberitahu. Jika aku sampai memberitahu, aku akan kesambar petir 3 kali.” Janjiku.
Alice terpengarah, “ Jadi kamu belum beritahu?”
“ Jadi aku tidak akan pernah beritahu,” Koreksiku.

Alice tampak bingung. Kemudian ia menggelengkan kepala dan tersenyum. Tapi senyuman itu berbeda dari biasanya. Senyumannya yang satu ini membuatku membeku. Jika senyuman bisa membunuh, aku sudah mati- ti – ti- ti! Dokter hebat pun tidak akan sukses membangkitkan diriku. Killer smile. Itu apa. “ Thank You.” Ucapnya tulus. Aku mengangguk. Masih agak bingung bagaimana aku bisa ‘membeku’ seperti itu, aku berjalan dengan sedikit terseok – seok, dan ke kamarku. Aku menekan sakelar lampu, menutup pintu dengan suara pelan, dan kembali membeku. WHAT THE HELL JUST HAPPENED?!

Itu jelas keluar dari bayanganku. Senyuman itu.. Aku merasa seperti pernah melihatnya… bila memori-ku ini dvd, aku pasti sedang me-rewind filmnya… Aku melirik ke arah tas merahku, aku terdiam. Film memori itu seakan – akan di pause. Tapi bukan di tempat aku mencari senyumannya Alice. Tapi di Amerika. Di kejadian ‘itu’. Aku memejamkan mataku. Di benakku, aku menekan tombol off di dvd itu mati – matian untuk memblokir memori itu.Tidak ada gunanya mengingat – ingat kenangan buruk.. Tapi… tidak ada salahnya jika aku berhenti bermain sandiwara ini sebentar. Pelan – pelan aku menarik keluar buku Matematika-ku. Kubaca soalnya baik – baik. Dan malam itu, aku kembali mengerjakan PR-ku dengan diam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s