Bab 6 : Warning

Setelah sekitar 1, atau mungkin 2 minggu, aku menangkap basah Mom sedang berbicara dengan senang di telpon : “ Yeah.. yeah… mmm-hmmmm… itulah maksudku! Jadi kamu akan datang besok lusa, kan? Sekitar jam 6 sore… Oh? Anak saya yang cowok? Dia sekitar umurmu, 12. Ok… jadi sudah pasti kan? Ok! Terima kasih!” Kemudian ia menutup telponnya. Aku penasaran kenapa aku juga disebut – sebut, jadi aku bertanya, “ Siapa itu?” Mom membalikkan badan dengan terkejut, “ Ryker! Sejak kapan kau…?” Ia menarik napas dalam, mengangguk sedikit seakan – akan mengakui aku ini Ninja hebat, dan kemudian berkata, “ Baby – sitternya Ashley.” Aku memutar bola mataku dan mengomel sedikit. Dulu ada kejadian memalukan dengan aku dan Ashley waktu Mom dan Dad pergi. Mengerikan. Itu apa. Sejak hari itu aku tidak diperbolehkan menjaga Ashley. Tapi jangan harap aku akan bercerita, OK? Aku mencoba tidak membayangkan baby – sitternya Ashley seperti apa dan mulai memfokuskan diriku untuk meminta izin ke Mom untuk pergi ke rumah Hugo.Setelah Mom bilang ‘ boleh’, aku langsung jalan ke rumah Hugo. Saat di jalan, aku merinding saat sadar kalau telepon Mom tadi adalah suatu ‘warning’ atau peringatan untuk hidupku. Kenapa? Baby-sitternya Ashley, sedikit banyak akan PASTI masuk ke hidupku. Dan sejauh ini, aku belum pernah dengar ada anak cowok berumur 12 tahun yang dijaga oleh baby-sitter.

“ Serius?” Tanya Hugo saat mendengar aku berkata Ashley akan punya babysitter. “ Bukannya Ashley sudah besar? Dia umur berapa sih? 7? 6?” “5” jawabku muram. “ Ooo… mau biscuit?” aku menolaknya. Biscuit buatan keluarga Hugo dijamin ada sayurnya.

“ Well, terimalah nasibmu. BTW, bagaimana dengan Alice?” Aku menggerutu pelan, “ Hugo, itu adalah kalimat yang hanya akan aku tanggap dengan senang hati jika satu kelas 7F berada di kapal tenggelam dan kita harus menurunkan seseorang ke laut penuh hiu dan buaya.” “ Tingkahnya semakin hari semakin menjadi – jadi.” Respons Hugo lagi dengan mulut penuh biskuit. Aku mengangguk muram. Pernyataan Hugo benar. Jika aku berpapasan dengannya ia akan memandangiku dengan jijik, ia memberi tahu para guru kalau aku ‘pintar’ sehingga guru – guru sering bertanya denganku. Aku yang tidak tahu jawaban dari soal mereka akan diberi tambahan PR, dipermalukan, atau bahkan masuk detensi. Frustasi hidup dengannya. Aku dan Hugo  membahas hal – hal lain seperti game terbaru, kemudian aku pulang.

* * *

Waktu aku di sekolah keesokan paginya, aku berpapasan dengan Alice lagi. Kali ini ia begitu fokus membuat muka benci itu hingga ia tidak memerhatikan jalan dan nyaris terpleset. Aku menahan tawaku dan cepat – cepat berlalu, tapi baru 5 detik aku jalan, aku berhenti.

“ Alice! Geez.. kamu selalu seperti itu kalau si erm.. siapa… Freddickson? Itu di sekitarmu. Jika kamu memang ingin membuatnya menyadarimu, lakukan dengan style gitu lho!”

“ Yeah, kayak di film – film dimana para cewek melakukan hal – hal yang bikin cowok malu sampe mau mati?”

“ Dasar alay kalian berdua!”

Setelah itu mereka berlalu sambil terbahak. Aku agak takut sama cewek yang ketawa kayak gitu, jadi aku memberi tahu nerd club tentang hal ini. “ Hiii….” Kata Aaron sambil sedikit bergidik, “Mendengar mereka seperti itu kayak nenek sihir aja…” Anehnya, Ethan malah terbahak, “ Ya ampun, gitu aja takut, emangnya apa sih yang bisa dilakukan cewek?” Tapi semuanya sudah terlambat saat kita mengangkat kepala kita dan melihat 4 cewek memandang ke arah kita. Hugo yang bingung langsung berdiri dan kepalanya membentur lokernya Ethan. Sambil tetap mencoba act cool,(padahal keliatan banget dia lagi kesakitan), dia berkata, “ Kenapa?” Daisy, si cewek berambut pendek yang mengatur makanan di cafeteria, berkata, “Cuma ngomong kalau sejak hari ini kita perang.” Haha.. aku merasa seperti di film sinetron.

“ Perang?” ulang Ethan heran. “ Ya Ethan, perang. P- E – R – A – N – G. Tapi tidak sebrutal seperti perang Viking…” Aaron mengangkat alisnya terhadap kata – kata Cynthia. Kurasa itu efek samping dari main game Viking online, “ Er… aku tidak begitu ngerti…” “Mari kita buat jadi simple kalau begitu. Dengan ini, kita bereempat menyatakan perang dengan Nerd Club.” “ KENAPA?” Tanya kita bereempat bersamaan. “ Kenapa lagi kalau bukan karena Ryker?” 3 kepala cowok berputar ke arahku. Aku memandang mereka dan mengangkat bahu. “ Ryker tidak ingat apa – apa.” Kata Hugo membelaku.Thanks Hugh, “ Dia sempat melakukan hal yang tidak bisa diampuni oleh seorang cewek kecil.” Kata Alice. Aku rasa giliranku bicara, “ Erm… aku yakin ini salah pah-“ “ Kita tidak salah paham.” Potong Alice. Ia memberanikan diri maju hingga ke depanku. “ Jika kamu tidak ingat, maka aku akan membuatmu ingat.” Aku menghela napas panjang, “ Omongamu ngelantur, tahu?” kataku pelan ke Alice. Alice tersenyum sadis dan berkata, “ Kurasa yang ngelantur sudah jelas. Dan itu bukan aku. Anyway, kita cukup baik untuk menyatakan ini secara terang – terangan. Kalian bereempat.. Siap – siap.”  Ia berjalan pergi. Aku tidak pernah suka warning. Ethan dan Hugo saling pandang, Aaron mengangkat bahu, alisnya terangkat tinggi – tinggi. Mataku menatap lekat – lekat ke arah sosok berambut coklat panjang dengan mata yang indah, aku menghela napas panjang sambil menutup mata. Apalagi kalau warning itu dari cewek yang cantik dan pintar tapi omongannya ngelantur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s