AYWMEN Bab 14 : Liburan-Pilly

Tgl : 21 Februari
Ide : Ryker Freddickson
Pelaksanaan : Mengganti bola lampu ruang sekretaris saat sedang rapat pimpinan sekolah dengan bola lampu mati.
Hasil : sukses! Banyak yg kaget!!

Tgl : 1 Maret 2011
Ide : Hugo Johnsen.
Pelaksanaan : Mengubah naskah drama milik grup pimpinan sekolah kls 7(saja) saat jam teater
Hasil : sukses 50%, tapi akhirnya detensi.

Tgl : 8 Maret 2011
Ide : Aaron Llyod,
Pelaksanaan : Menyembunyikan dokumen – dokumen sekretariat
Hasil : Sukses! 1 kelompok panik semua, tapi mereka berhasil menemukannya

Tgl 25 Maret
Ide : Ethan Taylor
Pelaksanaan : Mengubah isi dari website sekolah. Dilaksanakan selama 2 minggu. Isinya diubah menjadi cara membuat
sandwich.
Hasil : Sukses besar! Antivirus yg mereka bikin tetap lemah.

Aku berhenti membaca buku perang itu untuk ngulet sebentar. Lalu aku kembali membolak – balik halaman – halaman buku perang itu hingga halaman yang ada tulisan Aaron, itu aksi kita beberapa hari yang lalu. Menyatakan kalau kita menjejali toilet cewek dengan laba – laba. Tapi setelah itu, kita kehilangan ide. Sejak kejadian valentine itu, waktu memang terasa berjalan cepat sekali, dan sekarang, kita sedang menikmati liburan 3 minggu dengan udara panas. Karena bosan di rumah terus, kita setuju untuk ke rumahnya Hugo yang memiliki taman belakang yang cukup luas. Sambil tidur – tiduran di rumput dan bersahabat dengan semut, kita membaca – baca buku perang sekolah dan manga sambil mencoba meminum jus sayur yang disajikan. Kecuali Hugo, dia tidak mengalami kesusahan apapun untuk minum jus itu . “ APA – APAAN DENGAN MUSIM PANAS ( BEEEEEP) INI?!” teriak Ethan tiba – tiba. “ Ethan! Kamu mau dihantam bazooka tetangga?!”tegur Hugo marah.

“ Tapi dia punya ‘point’. Maksudku, siapa sih yang mau menghabiskan waktu liburan dengan tidur – tiduran sambil membaca manga tidak jelas?” tanya Aaron sambil menutup manga yang ia baca. “ Sebenarnya sih rencananya Ryker kita pergi bareng ke mall atau apa.” Kata Hugo. Aku mengangguk riang. “ Tapi waktu tadi kita mau mengajak kalian, tiba – tiba ortu-ku pergi, dan aku disuruh tinggal di rumah.” sahut Hugo sedih. Ethan menepuk pundak Hugo, “ Aku merasa kasihan padamu.” Katanya. “Kamu kan nggak pernah disuruh jaga rumah, enak banget..” omel Hugo sambil menatap Ethan sinis. “ Bersyukurlah Hugo, ortu-ku lebih parah.” Kataku , mencoba terdengar menasihati. “ Memangnya kenapa?” tanya Hugo. “ Ya, mereka kan sering pergi – pergi. Kadang tiba – tiba banget baru beritahu. Pernah sekali, aku bangun pagi, dan seisi rumah kosong melompong. Mereka mengajak Ashley pergi dan aku disuruh menjaga rumah selama 24 jam, sendirian.” “ Wow.” Aaron menggelengkan kepalanya, takjub.

“ Jadi kita mau ngapain?” tanya Ethan tidak sabar. “ Ryker?” tanya Aaron.
“ Hei, kok tanya ke aku?”  “ Ya, mungkin ada game baru??” aku memutar bola mataku dan berpikir. “ Hmmm… HSH kan kalian sudah tahu. Setahuku sih produsennya HSH lagi bikin game baru, tapi itu akan muncul 3 tahun lagi. Gamenya sendiri muncul baru sebulan lagi.” Jelasku. “ Oh.” “ Ya sudah.” “ AKU BOSAN…” “ Semuanya bosan, Ethan. Jangan jadi seorang bayi..” “ Aku tidak jadi seorang bayi.. edan.” “Maksudmu?!” “ Sudahlah, jangan bertengkar..” aku mendengar bunyi ringtone HP-ku berdering. Kubuka flap-nya. “ Hei Ryker! Paman terkerenmu disini!!” untuk sesaat aku agak kaget. Lalu aku sadar, ini Paman Kira, saudara kembar ayahku yang lebih tua semenit DAN yang tinggal di Jepang. “ Mau ke Shibuya nanti?” tanyanya senang. Aku bangun dari lokasi tiduranku dengan cepat. “ Paman Kira.. aku tidak di Jepang lagi.” Kataku, dengan cepat menggunakan bahasa Jepang. “ Tunggu.. apa?!” “ Yeah, aku sudah pindah lagi. Dari… er… Januari yang lalu.”

“ APA?! Terus apartemenmu di Osaka…” “ Kosong. Jadi sebaiknya Paman jangan telpon lagi.. pulsamu akan habis.” Kataku agak takut. “ Tapi… tapi…” “ Sori … mungkin lain kali, kalau aku pindah ke Jepang lagi,” Paman Kira berkata ya kemudian menutup sambungan telepon.

“ Siapa tuh? Tiba – tiba pakai bahasa Jepang gitu?” “ Ah, pamanku.” “ Hei, jelaskan kalimat – kalimat yang kamu katakan!” kata Aaron penasaran. Ia memang suka bahasa aneh. Aku mengingat – ingat kata – kataku tadi dan men-translate-nya untuk mereka.“ Wow.. rumit.. tapi kamu tidak serius ke Jepang lagi kan?”tanya Hugo. Aku menutup flap HP-ku dan memandang ke arahnya. Seluruh nerd Club memandangiku. Aku terdiam. “ I don’t know.” Kataku dengan nada agak bingung. “ Kok bisa ‘don’t know?’” tanya Ethan.

“ Ortu-ku biasanya memberitahuku kita akan pindah sekitar 3 minggu sebelum kita pindah. Aku tidak dapat berbuat apa –apa karena mereka pasti sudah selesai mengurus semuanya untuk pindah. Setahuku, mereka bilang tidak akan pindah lagi.” “ Untuk selamanya?” “ Iya…” seluruh nerd klub langsung menghembuskan napas lega. Tapi aku agak tidak nyaman. Aku sendiri sudah memberi-tahu diriku sendiri, bahwa janji Mom dan Dad untuk tidak lagi pindah ke Negara lain… itu tidak dapat dipercaya. Tapi, kesempatan untuk janji itu dipercaya juga ada. Urgh, masa bodo?! Lagipula, kita berada di tengah – tengah libur musim panas. Kita harus menikmatinya.

“ ANYWAY…” kata Ethan keras, “ Kita mau ngapain nih jadinya?!” “ Oh diamlah.. kita tidak bosan separah itu untuk pergi ke pantai untuk bertemu dengan laut dan meminum limun dingin di sana kayak cewek – cewek di TV.” Seluruh Nerd Club hening.

* * *

“ Jadi kita memang sebosan itu ya?” tanyaku setengah menahan tawa. Setelah kalimat yang diucapkan Aaron muncul. Tidak memerlukan kata – kata bagi seluruh Nerd Club untuk siap – siap ke pantai dan menyetujui hal itu. Bahkan Hugo rela membiarkan rumahnya dijaga dengan kunci saja. ‘ asal tidak sampai 1 jam.’ Katanya. Seriously.. dia bukan satpam yang baik. “ Ah, di pantai tambah panas saja!!!” teriak Ethan stress. “ Setidaknya di pantai kamu bisa ‘ bersenang – senang’ dengan panas.” Kata Hugo sambil memukul Ethan ringan. “ Hei, café yang di situ tidak terlalu rame.” “ Mana?!” “ Tuh.” Ada café yang menghadap ke laut, banyak sekali kursi dan meja bundar dengan payung yang berada di pasir. “ Ke situ aja. Lebih enak sepi.” Kata Hugo. “ Wow, Hugo, itu kata – kata paling nerdy ke-11 yang ada di teoriku!” kataku dengan nada bercanda. Kita duduk di café itu dan memilih minuman yang memakai banyak bahan es. “ Eh, awas kepiting.” Kata Ethan memeringati.

“ WHAT?! Dimana?!”
“ Ow!! Hei, aku dicapit…”
“ Hahahaha!!”
“ Hei, bantu aku lepas ini dong!!”
“ Sebentar.. cara paling efisien melepas capitan kepiting adalah…. Oh tidak aku lupa.”
“ Tidak peduli, tarik aja!!”
“ Hei, jangan sampai kakiku tiba – tiba lepas juga!!”
“ Memangnya kamu zombie?!”
“ Permisi pesanannya…”

Aku, Ethan dan Aaron berhenti menarik kepiting dari kaki Hugo dan memandang ke arah pelayan yang sedang memberikan minuman itu. Aku melongo. Aaron syok. Ethan tampak kaget bukan main. Hugo tampak seperti mau pingsan karena malu. Di depan kita, ada cewek ber-rambut panjang, beranting panjang juga, dengan baju pelayan dari restoran itu. Cynthia.

“ CYNTHIA?!” teriak kita bersamaan. Tunggu dulu ini bukan ‘salah naskah’, kan?!
Cynthia tampak baru sadar kalau itu kita, grup yang ia bantai di sekolah. “ Er… hai??” kita semua saling pandang dan menatapnya lagi. “ Haai..??” sapa kita bersamaan. “ Um… ini eh, er.. minumnya kalian.” Katanya sambil tetap memberikan minuman – minuman itu.

“ Kamu kerja paruh waktu di sini?” tanya Ethan agak kaget. “ Ummm, well tidak juga. Aku membantu bibiku yang memiliki tempat ini.” “ Oh.” “ Ya, maksudku, siapa sih yang bekerja paruh waktu? Itu kan dilarang.” Aku tersedak es yang besar. Tunggu, bekerja paruh waktu itu dilarang? Cynthia pergi dan kita langsung berbicara lagi.
“ Hei Hugo, bagaimana kepitingmu?” “ Oh, dia melepaskan capitnya.” “ Itu bagus..”
“ Cynthia tidak kelihatan seperti cewek yang membantai kita di sekolah.” “ Itu karena kita tidak di sekolah. Bukankah kita pernah bertemu dengan grupnya pimpinan sekolah dan mereka malah baik – baik saja dengan kita?” “ Ya, kejadian telur itu kan?” “ Yap.”

“ Ryke? Kamu tidak apa – apa?” tanya Aaron. aku bangun dari lamunanku dan berkata, “ Ha? Oh, ya…” kemudian memandang ke arah lain. “ Apakah bekerja paruh waktu dilarang?” tanyaku. Ethan langsung menjawab. “ Tidak. Tapi entah bagaimana, satu sekolah tidak seberapa suka pada anak yang bekerja paruh waktu.” “ Kenapa?” tanyaku sembari menoleh ke Ethan dengan cepat. “ Entahlah.”

“ Tapi…” “ Kenapa? Apakah kamu kenal seorang anak dari sekolah yang kerja paruh waktu?”

Aku menunduk dan berpikir. Jika aku jujur pada Nerd Club, aku akan disambar petir dan mati. Tapi pada saat yang bersamaan.. jika aku jujur pada Nerd Club maka… pembicaraan ini akan beralih dalam menggunakan kelemahan Alice sebagai senjata perang. “ Tidak.” Kataku. Apa yang kamu lakukan?! Kamu melindungi Alice?! Tidak lama kemudian, Cynthia muncul lagi.

“ Er… bisakah aku berkata sesuatu?” Kita semua saling memandang. “ Apa?” tanya Ethan hati – hati. “ Well, sebenarnya aku akan melanggar janjiku pada yang lain.. tapi kurasa ini untuk yang paling baik,” ia menghela napas panjang, “ Kurasa Pilly agak aneh.” Pilly? Oh.. kura – kura. Setelah kejadian kura – kura menetas, cewek – cewek antusias sekali memilihkan nama. Dan anehnya, mereka memberi nama kura – kura itu Pilly. Butuh waktu 3 minggu bagi mereka untuk memilihkan nama, buset, ya kan?! Bu Merri senang sekali dengan hasil kerja kita ( dan laporan perfect buatan Alice)
Maka ia membiarkan kita membawa kura – kura itu pulang. Pertama, kita tetap menggilir Pilly ke rumah masing – masing. Seperti yang aku pernah ngomong, Nerd Club menjadi lebih seru saat ada Pilly, meskipun ia hanya bisa memandangi kita. Setelah agak lama, kita setuju sebaiknya Pilly dipelihara satu orang saja, dan Cynthia mengangkat tangannya untuk  menunjukkan ia bisa dan mau menjaga Pilly, sama banyaknya seperti kita semua menjaganya.

“ Ia tidak mau makan, dan seharian berada di rumahnya terus.” “ Ah, biarlah. Dia cowok, cowok juga butuh yang namanya privasi.” Kata Hugo sambil mengibas – ngibaskan tangannya. “ Dodol, dia kura – kura.” Kataku sambil mengetuk kepalanya.

“ Cuma ada satu cara untuk tahu kebenaran!” kata Aaron. Ethan senyum lebar. Ia menarik laptopnya keluar dan mengetik ‘kura – kura’ di internet. “ Hmmm…” ia melepas kaca matanya. Aku tahu gerakan itu. Itu bad habbitnya Ethan, melepas kaca mata, memakainya lagi. Kemudian melepasnya lagi, membersihkannya, kemudian memakainya lagi. “ Ada kemungkinan dia diare.” Kata Ethan serius. “ APA?!” teriak kita semua bersamaan. “ Kura – kura bisa diare?!” tanya Cynthia heran.“ Ya ampun, kalian benar – benar menganggap aku serius?” tanya Ethan sambil tertawa. Cynthia menatap Ethan dengan tajam. “Yang serius!” katanya kesal.

“ Tapi memang, mungkin dia flu.” “ Kamu serius?” “ Ya aku serius!! Kura – kura juga bisa bersin, tahu.” “ Masa, tempe?” “ Eh, sejak kapan pembicaraan ini beralih ke lauk pauk?” “ Katanya sih kalau flu beri saja obat manusia, berdosis lebih rendah, tentunya.” Kata Ethan sambil menutup laptopnya. “ Kamu yakin dia flu?” tanya Cynthia takut. “ Tentu saja tidak. Aku bukan spesialis hewan, belum lagi kura – kura.” Cynthia menggigit bibir bawahnya. “ Ok… akan aku cari tahu lagi. Thanks sudah membantu.” “ Hmm.” Ia mengambil HP-nya keluar, menekan angka – angka, dan aku mendengar dia berkata,  “ Alice, bisakah kamu datang…”

***

                          Malam harinya, aku sedang tidur – tiduran di kamarku sambil memainkan NDS-ku, ketika jendela kamarku diserang oleh kerikil. Aku bangun dari tempat tidurku dan membuka jendela. “ Hei, Ryke.” Kata Hugo dari luar jendelaku. Ia diluar batasan pagar dan sedang memegang segenggam kerikil. “Hugo? Ngapain kamu? Tunggu, aku tidak mau berpura – pura jadi rapunzel hanya supaya kamu bisa latihan peranmu sebagai pangerannya di jam teater.” Kataku tegas sambil mulai menutup jendela lagi. “Tunggu!!” desisnya agak keras. Aku berhenti menutup jendela dan membukanya sedikit lagi. “Apa?” “ Aku tadi mencoba menelponmu, tapi gagal terus.”

“ HP-ku lagi di-charge karena low-bat dan mati.” Kataku. “ Ya, nah, kamu perlu keluar rumah dan ikut aku ke pantai sekarang!!” “ Kenapa? Tunggu, aku tidak mau pura – pura jadi cewek dari Titanic hanya karena kamu mau…” “ Oh shut up, aku tidak mau latihan teater.” “ Terus?” “ Ini tentang Pilly!” “ Ha? Kenapa?” “ Dia… dia…” Hugo mendecak dan menatap ke arah lain. Aku sadar apa yang ia maksud. “ Tunggu sebentar.” Kataku dan menutup jendelaku lagi. Sambil memakai baju yang lebih layak dan memasang sepatu dengan buru – buru, aku mengambil kunci rumah dan mengunci pintu utama dan pagar agar rumahku tidak kemasukkan pencuri, dan lebih penting lagi :  supaya Mom tidak tahu aku pergi.

Pertama aku dan Hugo berjalan. Kemudian langkah kita dipercepat, lalu tiba – tiba kita sedang berlari ke arah pantai. “ Pilly, dia… beberapa saat yang lalu Pilly dibawa ke dokter hewan oleh Cynthia dan Alice.” kata Hugo sambil tetap berlari. “ Te- terus?” kau yakin mau dengar lanjutan cerita? Suara di otakku berkata. “ Dia… seharusnya tidak bisa hidup lebih lama dari minggu lalu, karena ia sangat teramat lemah. Saat ia menetas, ia tidak di habitat aslinya dan… yah pokoknya dia sangat lemah.” Kata Hugo, kemudian berdeham. Kita membelok, aku sudah bisa melihat pantai sekarang. “ Dokter hewan membawanya pulang ke rumahnya Cynthia. Satu – satunya cara supaya Pilly tidak sakit lagi adalah…” Hugo tidak melanjutkan ceritanya. Suaranya agak serak dan ia kelihatan kesusahan mengatakan lanjutan cerita itu. “ Suntik mati.” Kataku, melengkapi kalimatnya. Memang kedengaran aneh bahwa kura – kura harus disuntik mati apalagi hanya karena dia lemah. Aku hanya menebak asal, tapi Hugo mengangguk.

“ Heather… ia meminta agar seluruh kelompok 3 untuk bertemu dan menemani Pilly di saat – saat terakhirnya.” Saat sepatuku menginjak pasir, aku merasakan hatiku yang mencelos bersamaan dengannya. Mungkin bagi kalian, kura – kura hanyalah binatang biasa. Hewan piaraan yang tidak bisa dilatih, dll. Tapi, Pilly dan kita… sebenarnya ia sudah menjadi teman kita. Hugo pernah mencoba melatih Pilly agar bisa jadi mata – mata untuk perang kita. ( gagal) Ethan pernah membahas jawaban fisika dengan Pilly. Aaron mau mengajarinya bahasa Prancis. Dan aku bisa rileks saat curhat perasaanku yang binggung terhadap tingkahnya Alice, karena ia tidak akan mengerti, dan perilakunya akan sama terus ( memandangiku dengan heran). Aku yakin, grup pimpinan sekolah kelas 7 juga suka pada Pilly. Tapi masa ia harus hidup dengan sengsara dan stress?

Saat kita sampai di tempatnya Cynthia. Aaron dan Ethan sudah ada di sana. “ Kalian agak terlambat.” Katanya dengan suara serak. “Apakah dia sudah…” “ Belum. Tapi kalian tidak sempat berkata apa – apa kepada Pilly.” Si dokter hewan itu meneliti Pilly, dahinya mengerut, dan matanya membesar. Dokter hewan itu berdiri. Kemudian ia menatap ke arah Cynthia. Ia menyuruh semuanya mendekat sebelum ia berkata sesuatu yang membuatku benar – benar berharap ada tombol backward atau setidaknya undo di dunia nyata. “Maafkan aku, ia sudah mati sebelum disuntik.” Cynthia mengatup mulutnya. “ Apa?” tanya Ethan, pandangan matanya lurus ke arah mata dokter hewan itu. Itu jarang. Ethan sering takut melihat mata orang yang belum ia kenal. “ Aku baru sadar tadi, saat dua orang ini datang. Ia sudah mati.” “Tapi…”

“ Kura – kura selemah dia dapat mati kapan saja. Setidaknya ia tidak merasakan suntikan. Dan seperti yang saya katakan sebelumnya, ia sebenarnya bisa mati bahkan tanpa suntikan.” Kata dokter itu. Seluruh kelompok 3 tampak seperti ditonjok di perut dan mau muntah. Daisy, salah satu dari kita yang bisa berpikir lurus, mengatakan terima kasih ke dokter itu dan mengantarnya keluar ruangan. Hugo mencari tempat duduk dan memandang ke bawah. Heather tampak terpukul, dan Cynthia berkaca – kaca. Aaron berjalan ke kotak kecil milik Pilly, dan mengeluarkan kura – kura kecil itu. “Aku pernah membaca,” katanya, memecah keheningan, dengan cara lebih berani dari biasanya. Bahkan tanpa gagap. “ Kura – kura lebih senang berada di habitat aslinya. Kurasa Pilly juga sama. Bagaimana kalau kita melepasnya ke laut..?” Heather mengangguk. Daisy mengangguk. Ethan mengangguk. Cynthia mengucap ‘ya’ dengan serak. Hugo mengangguk. Aku mengangguk. Alice menatap ke arah kita. Kemudian ia keluar dari ruangan itu dan ke beranda, menghadap ke laut. Daisy menghela napas panjang. “ Ia sayang sekali kepadanya.” Katanya kepadaku. Aku memandang ke arah Daisy. Pertama aku heran kenapa ia berkata hal itu kepadaku. Tapi kemudian aku memandang ke arah Alice. Detik berikutnya, aku ikut keluar ke beranda itu. Alice duduk di anak tangga, tangannya bermain pasir. Aku berjalan pelan – pelan dan duduk di sebelahnya.

“ Hai cewek aneh.” Sapaku. Ia cepat – cepat menghapus air matanya dan membalas,“ Hai idiot.” “ Aku minta maaf soalnya.” Kataku. “ Aku.. juga. ” Katanya, setengah tidak fokus. Aku memandang ke langit. “ Kurasa dia sudah jadi salah satu dari bintang itu.” Kataku sambil menunjuk langit. Ia menatap ke arah langit juga. “ Dasar cowok edan. Kamu serius percaya cerita – cerita kalau saat seseorang atau binatang mati mereka menjadi bintang?” tanyanya sambil mengerling ke arahku. Suaranya tajam, tapi tatapannya kelihatan sedih. “Menurutmu?” tanyaku balik. Ia tertawa, tapi kemudian ia berhenti tertawa, dan mulai sesenggukan. “Kamu boleh menangis.” Kataku sambil melebarkan bahuku sedikit. Mungkin ia tahu kalau aku tidak akan meledeknya, jadi ia mulai menangis. Dan kemudian ia mulai menangis sambil menutupi matanya. Lalu ia beralih ke bahuku. Sambil ia tetap memukuli bahuku, tiba – tiba ia berkata,“ Itu tidak adil.” Katanya sambil menangis. “ Tentu saja itu adil.” Kataku sambil mengangkat tangannya agar tidak lebih keras memukuliku. “Bukan, aku tahu kalau Pilly akan mati suatu hari nanti. Lebih tepatnya semua benda hidup akan mati suatu hari… Tapi kamu. Itu yang tidak adil.” Katanya sambil mulai mengangkat mukanya dan menatapku. Aku tidak mengerti apa maksudnya. Tapi kurasa ini bukan saat yang tepat untuk bertanya. Ia mulai berhenti menangis. Kemudian ia melepas cengkramannya pada bahuku. Kemudian ia berdiri dan masuk ke ruangan di belakang kita lagi, menyatakan kalau ia sekarang sudah siap untuk melepas Pilly ke laut juga.

Saat memandang pemandangan malam hari dan laut, serta Aaron dan Cynthia yang melepas Pilly ke laut. Aku melirik Alice. Ia tidak lagi kelihatan seperti cewek lemah yang mau menangis di pundakku. Hugo mendatangiku. “ Wow, pundakmu basah.” Ia memandangiku dengan alis terangkat dan memperhatikan arah pandanganku.

“Aku hanya membantu seorang cewek aneh. Apa salahnya?” tanyaku sambil nyengir. Hugo terkekeh. Lagipula, Nerd Club cukup suka dan ingin menjadi gentleman. Perang macam apapun tidak akan mengubah fakta itu. Beberapa saat setelah itu, kita mulai pulang ke rumah kita masing – masing. Dan liburan itu menjadi satu bagian kecil dari hidup yang jarang muncul di otak kita di masa depan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s