AYWMEN Bab 15 : Seorang Kakak Lelaki yang Baik

Liburan telah berakhir dan kita telah masuk sekolah selama 3 minggu. Cuaca yang panas berubah menjadi musim hujan yang makin hari makin lebat. Nerd club biasanya membawa payung… anehnya, hari ini kita bereempat lupa membawa payung sama sekali. Dan entah kenapa, alasannya adalah keluarga, yang membawa kita ke topik pembicaraan dan membuat topik awal kita ( bahasan jawaban ulangan Matematika) terlupakan total.

“ Kemarin aku bertengkar dengan mamaku,” cuap Aaron, raut mukanya kelihatan agak kesal. “ Kita kembali bertengkar masalah kamus – kamus yang aku bawa ke sekolah. Apalagi kokoku ikut mendukung ibuku. Kita masih bertengkar hingga pagi ini, jadi aku lupa membawa payungku.” Aku memiringkan kepalaku sedikit. Aaron memiliki seorang kakak laki – laki yang masih SMA. Mereka cukup dekat, tapi sifat mereka bertolak belakang. (kokonya lebih suka membaca tentang bisnis daripada membaca kamus.)

“ Yah, aku lupa bawa payungku karena kebiasaan ayahku. Ia selalu menjemur payung setiap selesai dipakai, dan payungku juga. Nah, masalahnya kemarin kakakku kan pulang dari luar negeri, jadi kegiatan rumah seperti mengangkat payung tidak dilakukan.” Kata Hugo sambil mendesah. “ Kamu punya kakak?” tanyaku kaget. Setahuku aku tidak pernah lihat kakaknya kalau main ke rumahnya. “ Iya sih, tapi kita tidak begitu dekat. Seorang kakak perempuan.” tambah Hugo. “ Dari luar negeri ngapain?” tanya Aaron. “ Dia kuliah. Bidang kedokteran.” “ O.”

“ Sebenarnya aku sudah mau memasukkan payungku ke tas, tapi aku mendengar telepon berdering, jadi aku harus menjawabnya, dan lupa total dengan payung itu.” Kata Ethan. “Bukankah butlermu yang harus menjawab telpon?” “ Well, Sebastien sedang agak sakit. Dia mulai tua, kamu tahu?” kata Ethan. Ethan selalu seperti itu, dia lahir dalam kondisi keluarga yang memanjakannya, tapi ia berusaha tidak menyusahkan orang lain. Anak yang aneh, tapi baik, memang.

“ Kalau kamu, Ryke?” aku mendesah keras dan mengangkat bahu, “ Yah, kemarin orang tuaku bertengkar. Agak mengerikan sih, aku sampai takut mereka bisa cerai. Untungnya habis itu mereka berbaikkan dan suasana rumah sudah lebih enak tadi pagi.” “ Tengkaran apa?” tanya Aaron. Aku mengangkat bahuku, “ Sesuatu tentang bagaimana cara menghilangkan phobia-nya adikku.” “ Er… phobia kegelapan kan?” “ Ya, alias ‘Achluophobia’, Aku tidak mau ke ruang keluarga dimana payung itu ada karena mereka bertengkar di situ. Tadi pagi aku bangun agak terlambat jadi lupa.” KRIIING!!! bel berbunyi. Kita menarik tas kita dan berangkat ke kelas berikutnya. Saat keluar dari cafeteria, kita mendengar suara petir menyambar yang sangat keras, sampai – sampai ada beberapa anak cewek yang menjerit kaget. Ethan mengerutkan keningnya. “Hmmm, bisa – bisa hujan deras. Sial kita tidak bawa payung.”

* * *

Ethan benar – benar harus mencoba menjadi peramal cuaca, dugaannya tepat sekali. Pulang sekolah, hujan yang super duper lebat terjadi. Bahkan orang yang memakai payung pun tidak akan bisa keluar sekolah. Tentunya, suasana langsung kacau. Pintu sekolah langsung penuh dengan anak – anak yang menunggu hujan reda, dicampur dengan air hujan yang sering terbawa angin. Guru – guru kewalahan menjaga situasi yang kacau dan hanya bisa mengatur murid – murid agar TIDAK BERGEROMBOL, dengan speaker sekolah. Agak jauh dari pintu sekolah, Nerd Club sedang duduk di lantai menunggu hujan reda juga. Pikiranku sedang kacau karena aku menerima SMS dari Dad.

Cepat pulang k rumah. Kita ber2 pergi. Jaga Ashley dg Alice. hati2

Nah, aku harus pulang ke rumah secepatnya, kalau tidak siapa tahu Ashley bisa apa dengan rumah, terlebih lagi kamarku? Aku tidak sabar lagi dan mulai berdiri.

“ Kenapa, Ryke?” “ Aku disuruh pulang.” “ Ya, kita semua mau pulang juga. Kecuali kamu mau basah kuyup saat sampai di rumahmu, lebih baik kamu tinggal disini.” Aku mendecak lidahku dengan kesal dan kemudian berkata akan ke toilet.

Sebenarnya aku mencari Alice. Aku ingin tahu apakah cewek itu juga tahu bahwa dia juga harus ke rumahku dulu. Aku mengecek satu per satu kelas untuk sosok cewek ber-rambut cokelat tanah itu. Petir menyambar sekali lagi dan mendadak seluruh sekolah menjadi gelap. Aku sendiri nyaris serangan jantung. Sambil berjalan lagi, aku tak sengaja berjalan melewati sekelompok anak geng radio. Seseorang dari mereka membawa radio berenergi baterai yang menjelaskan kalau petir tadi langsung membuat seluruh kota ini mati listrik. Sambil menghela napas panjang aku kembali mencari – cari Alice lagi. Akan lebih susah nyari cewek itu di kegelapan. Kemudian, aku mendengar petir menyambar sekali lagi, aku melihat keluar jendela. Gelap banget. Lalu aku sadar. Gelap? Petir? Rumah?!“ Shit!” umpatku kasar dan berlari menuruni tangga.

Aku lupa total Ashley takut gelap.

Kalau ia tidak memiliki orang di dekatnya atau yang menenangkannya, bisa – bisa berakibat fatal. Sialan, sudah sekitar 18 menit lebih beberapa detik aku tinggal di sekolah saat mati listrik, apa yang Ashley lakukan sekarang?! Saat aku sampai di lobi sekolah, aku langsung menyambar tasku dari tempat nerd Club dan berlari ke pintu sekolah. “ Ryker?” “ Ryke!” “ HEI, RYKER! NGAPAIN…” tapi aku mencueki teriakan anggota Nerd Club yang lain. Aku berlari keluar sekolah, dan sekujur tubuhku langsung tersiram air hujan yang deras. Aku tidak bisa berpikir jelas, kakiku berlari sendiri ke arah rumahku. Semakin lama, aku makin mempercepat lariku, tapi bajuku yang basah membuat langkahku lebih berat, dan jalanan yang licin serta pandangan kabur menyusahkanku. Tiba – tiba, kakiku menginjak lubang dan aku jatuh. “Huwaa!” teriakku. Celana di bagian lutut kananku robek dan saat aku berdiri, aku merasa kakiku sakit. Sambil melirik ke arah kakiku, aku melihat warna merah keluar, oh, apalagi sekarang?!

Sambil berdoa kilat agar tidak ada vampir yang sedang lapar, aku melupakan lukaku dan berlari lagi ke rumahku. Saat aku sampai, aku begitu panik. Kulupakan kunci rumahku, tidak ada waktu untuk itu, aku bahkan bisa mendengar tangisan Ashley dari luar rumah. Kulempar tasku masuk ke rumah dan aku memanjat pagar. Tentunya saat aku memanjat (yang bukan keahlianku, karena aku memang nggak bisa memanjat), aku jatuh dan siku tangan kiriku luka. Aku membuka pintu rumahku dengan kunci yang ada di bawah karpet. JREET! Terbuka.

“ ASHLEY!” teriakku. Kujatuhkan tasku di lantai dan mencari Ashley. “ Ash! Di mana kamu?!” teriakku, suaraku lebih serak dari biasanya. Ashley muncul, menangis, dan langsung berlari ke arahku. Parahnya, ia langsung menyambar tanganku dan mengenai sikuku yang barusan luka. Aku memeluknya sesaat, dalam keadaan basah dan gemetaran. Aku menutup pintu rumah dan menarik senter. Sambil diikuti oleh Ashley yang tidak mau melepaskan cengkramannya pada lenganku, aku menyalakan lilin di ruang keluarga, susah sekali, apalagi tanganku tetap gemetaran kena rasa sakit dari luka sikuku.
Bel berbunyi, sial!, aku melupakan lilin – lilin dan membukakan pintu. Seorang cewek berambut coklat yang dari tadi aku cari – cari berada di belakang pintu berwarna putih itu. “ Ryker? Kok kamu sudah di si-…” tanya Alice kaget, “ Ssshh, nanti. Nih.” Kataku dengan cepat dan menyerahkan Ashley ke Alice. Ashley masih menangis, dan Alice tampak kebingungan dengan situasi yang ada. Tapi ia cepat tanggap dan langsung menarik tangan Ashley dan menenangkannya. Aku kembali menyalakan lilin – lilin lagi.

Sekitar setengah jam kemudian, semua kamar sudah dinyalakan dengan lilin, dan Ashley (secara mukjizat) tidur karena kecapekan menangis, di kamarnya. Aku duduk di ruang keluarga dan meneliti lagi lukaku, saat Alice muncul. Ia mendekatiku,“ Bagaimana kamu..” “ Kamu melewati hujan deras itu juga?” tanyaku sambil memandanginya kaget, bajunya basah di beberapa sisi, tapi kering secara keseluruhan. “ Hujan agak reda beberapa menit, jadi aku mengambil payung dan secepat mungkin ke sini. Kupikir orang tua-mu masih belum keluar rumah, jadi aku agak kaget ketika…” ia berhenti saat aku melepas sikuku dan meringis kesakitan sedikit, aku dari tadi mencoba menekannya untuk menghentikan darah, “Kenapa tanganmu?” tanyanya dengan nada agak khawatir. “ Aku jatuh dari memanjat pagar. Dan by the way… bagaimana kamu bisa masuk ke rumahku langsung tanpa memanjat pagar?” “Kamu membuka kunci rumahmu dengan kunci cadangan rumahmu sendiri, ya?” “ Er… iya.” “Yah, tadi Hugo, Ethan dan Aaron memasukkan kunci rumahmu yang tertinggal saat kamu langsung pergi ke kotak ‘hilang dan ditemukan’. Aku menyambarnya dan menggunakannya. Nih,” jelas Alice sambil menyodorkan kunci rumahku. Aku mengecek tasku dan menemukan tempat aku biasa menaruh kunci. Lubang, untung saja aku memanjat dan pakai kunci cadangan. Aku menerima kunci itu dengan kaget. “ Oh, Ok…”
“ Kamu benar – benar bodoh!” ia berteriak tiba – tiba. “ Ha?” “ Kamu langsung tancap gas tanpa basa – basi dan tanpa payung ke rumahmu, dan bahkan jatuh! Kamu bisa – bisa sakit berat besok! Dodol !!” omelnya sambil memukul lenganku. “ Ow!” responsku. Alice berkacak pinggang. “ Ganti bajumu! Setelah itu kuurus lukamu.” “ Tidak usah… aku baik- baik saj—“ “ Eits!! Sekarang!” potongnya dengan nada judes. Aku tidak bisa apa – apa kecuali menurut. Saat turun dengan baju kering, Alice sudah sedia dengan berbagai macam plester, “ Duduk, dan jangan teriak.” Ia mengoleskan semacam antiseptik, dengan jumlah super duper banyak, yang membuat lukaku seperti meledak, “ OW!” “ Sssst!!” “ Bagaimana aku bisa diam da- OW!!” “ Kamu juga punya luka di lututmu?” “ Tidak, itu cuma efek samping make-up..” “ Dasar…” “ Ow! Hei!! ARGH!OWWW!!!” “ Diam bisa nggak sih?”

Aku menutup mulutku dan menelan kesakitan itu. Alice pun diam. “ Kenapa kamu langsung lari ke rumahmu?” tanyanya. “Ashley takut gelap. Ia butuh seseorang yang menenangkannya. Plus, aku kan kakaknya.” “ Kakaknya yang idiot.” Koreksi Alice sambil tertawa sendiri. Aku menghela napas panjang. “ Rambutmu kelihatan aneh kalau lurus.” Katanya lagi, mencoba agar membuat percakapan. “ Hah?” aku memegang rambutku, karena kena air hujan, tentu saja ia langsung lurus. “ Memangnya kenapa?” tanyaku heran. “ Ya nggak apa – apa. Aneh aja.” Aku tertawa. Alice tertawa kecil. Kemudian kita tertawa dengan canggung. “ Pastikan besok kamu masuk sekolah. Kita ada ulangan IPS besok.” “ Kita ada ulangan IPS?!” “ Dodol. Tentu saja. Semacam ulangan lisan. Kamu ditanya dan menjawab dengan suara.” “ Oh.” Aku menghela napas panjang dan berkata, “ Aku benci ulangan IPS. Selalu dapat jelek dari dulu. Sampai sekarang, sih..” Alice memotongku, “‘Seseorang yang mengingat – ingat masa lalu dan tidak berani lepas dari itu cumalah pengecut mencari – cari alasan,’” lalu ia tersenyum ke arahku yang merasa sedikit syok. “Itu kata ayahku, setidaknya. Aku setuju dengannya. Percayalah, kamu bukan pengecut seperti itu, kamu berani sekali lari ke sini. Kalau besok ulangan IPS nggak bisa, akan kuhajar kamu.” Aku terkekeh pelan. Tapi otakku seperti dikorek – korek

Kata – kata itu memang untuk IPS.. tapi cara ia mengatakan itu membuatku mengingat kejadian… Shit. Lupakan saja Ryke. Tapi pengalaman mengerikan itu tetap muncul meski sekilas. Aku termenung pelan dan lama. Alice benar… tapi aku– “ Kok sepi?” tanya Alice, memotong perang batinku. “ Karena nggak ada yang ngomong.”jawabku mencoba melucu. “Hahaha…”
“ Tumben hari ini kamu ketawa.”
“ Memangnya aku nggak pernah tertawa?”tanyanya.
“ Pernah…. Tapi nggak di depanku.”
“ Itu karena kamu idiot.” Katanya. Aku tersenyum lemah.
“ Selesai.” Kata Alice. Aku memegang sikuku dan lututku dengan hati – hati. Perban itu dipasang super duper rapi.

“ Wow. Rapi banget…” kataku kaget. “ Yah, aku pernah ikut ekstra dokter cilik waktu SD.” “ Hmmm, bagus untukmu.” Ia bangkit berdiri, “ Kurasa aku harus mulai membersihkan rumahmu,” “ Kenapa?” “ Oh, lihatlah sekelilingmu, Freddickson.” Sahutnya sambil tertawa. Aku memandang ke sekeliling. Air dan lumpur bekas sepatuku, dan ada kaos kaki dan sepatu yang aku tinggalkan di ujung sana, ada jejak air di mana – mana, dan sedikit darah juga. ( wow, aku merasa seperti di film horror!). “ Aku mengambil pel.” Kataku sambil berdiri juga, dia langsung menarik sapu. Suatu saat, ketika aku baru saja selesai menghilangkan jejak lumpur yang lengket di lantai kayu di lorong kecil ruang tamu, aku mendengar Alice berkata sesuatu.

“ Ryke?” aku mengangkat kepalaku. “ Ini kamu?” tanyanya penasaran sambil menunjukkan foto dengan frame yang terletak di salah satu lemari di ruang TV. Aku mendekatinya. Itu foto aku, Mom, dan Dad waktu Ashley belum ada dan kita di Brazil. “ Yeah.” “ Kamu terlihat kecil di sini.” “ Er.. umur 5.. atau 6, mungkin. Aku tidak ingat jelas.” Alice tersenyum dan meletakkannya kembali ke tempatnya. Ia menunjuk ke foto di sebelahnya, “Ini?” aku mengerling ke arah foto itu. Lalu merasa hatiku mencelos. Kapan Mom memasang foto itu? Aku sudah melewati lemari itu lebih dari ½ tahun sekarang, dan aku tidak sadar. Aku menelan ludah. “ Amerika. Umur 10.” “ Hmm.. Amerika.. SD-nya gimana ya..”katanya sambil menduga – duga. Jangan Alice, plis.. jangan bertanya apa yang terjadi disana..
“ Bagaimana sekolahnya disana?”
Bagaimana? BAGAIMANA? Jawab seperti biasa. Cuek saja. Lupakan itu,
“ Pelajarannya lebih susah dari sini.” kataku, sialan, kenapa suaraku tetap serak?
“ Gurunya baik – baik?”
“ Ya.”
“ Kalau ekstra ada apa aja?”
“ Kurang lebih sama.”
“ Makanannya?”
“ Lebih bervariasi.”
“ Naik bus sekolah juga?”
“ Yep, warna kuning.”
“ Kalau begitu… muridnya bagaimana?” aku merasakan jantungku berdetak 2 kali lebih cepat. “ Biasa.” Jawabku. Ya itu benar… mereka semua biasa, kan? Memang…

Aku menghempaskan tubuhku ke sofa. Merasa lemas tiba – tiba. Terdengar suara kecil di kepalaku lagi, tidak, itu bohong.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s