AYWMEN Bab 16 : Ryker dan Sekolah Lamanya

Aku tidak bisa tidur lagi kemarin malam. Dan aku tahu benar alasannya. Rasanya kata – kata Alice soal pengecut itu terngiang – ngiang terus. Aku tahu maksudnya tentang ulangan IPS, tapi aku tidak bisa TIDAK mengkaitkannya dengan… URGH!! Pokoknya setiap kali aku mengingat hal itu, aku mencoba menutup mata, memblokir semua itu, tapi mereka tetap masuk. Akhirnya aku tidak tidur dan semalaman duduk memandangi dinding. Aku tahu bagaimana caranya biar aku bisa tidur enak besok malam. Aku punya rencananya. Sekarang apakah aku bisa cukup berani untuk melaksanakannya. Aku  memejamkan mataku. Kuharap Nerd Club tidak akan menyadarinya… Terlebih lagi kuharap guru tidak menyinggungnya. Aku membuka pintu ruang IPS, dengan hati yang ragu – ragu. Aku tak percaya aku akan melakukan hal ini..

( sekitar 20 menit kemudian.)

“ Freddickson.” Panggil Mr.Kirby. Aku mengangkat mukaku. “Bisakah Anda menjawab apa artinya radiasi?” tanyanya, nadanya agak mencemooh. Radiasi? Aku tahu radiasi… tapi aku tidak yakin aku mau menjawabnya sekarang… apalagi itu tidak masuk rencanaku… maksudku… bagaimana kalau yang lain jadi kaget, dan.. “ Jawab, Freddickson.” Aku berdeham sedikit,“ Eh…” “ Anda tidak tahu?” Aku tidak menjawab, tidak berarti aku tidak tahu jawabannya…tunggu.. apa yang baru saja aku lakukan? Self –defense? Membela diri?? Sialan, insomnia ini membuatku tidak bisa berpikir jernih. Pada saat yang bersamaan, Mr. Kirby terus mengoceh, “ Sudah kuduga dari anak yang nilainya tidak bagus. Tidakkah kamu pernah belajar?”

Nah, itu sudah mau melewati batas… apa maksudnya, hah? Aku menunduk sedikit seperti biasa. Ethan menatapku prihatin, seakan – akan ia bersimpatik sedikit.

“ Setidaknya, Anda bisa mencoba untuk belajar, hmm? Apalah artinya… Anda mungkin tidak mengerti.” Kata Mr.Kirby lagi. Tiba – tiba aku ingin melempar buku IPS super tebal milikku ke mukanya. ( JANGAN DITIRU!!) Mr. Kirby mendesah, “ Buang – buang waktu saja, Anda tidak sepintar itu.” Saat kalimat terakhir itu diucapkan, aku merasakan gejolak emosi yang dari dulu kupendam. Rasanya seperti ditampar di muka… lalu dibanting ke tanah, dan di masukkan ke air, lalu kamu ditarik keluar dan ditampar lagi, 3 kali berturut – turut. Dengan marah, aku berdiri dan menggebrak meja.

“ RADIASI,” kataku keras, nyaris teriak, hingga seluruh kelas, mungkin bahkan kelas sebelah, bisa mendengarku. “ Adalah pemancaran atau semacam kerambatan gelombang yang membawa tenaga dari zat pengantara. Contohnya adalah : perambatan gelombang elektromagnetik, gelombang bunyi, gelombang lenting, dan penyinaran. Tentu saja, radiasi juga dapat berarti hal yang lain, contohnya matahari memancarkan sinar radiasi, sebagian besar radiasi itu diterima oleh bumi, tapi ada beberapa persen dari radiasi itu yang terperangkap di ozon…” Jelasku, perlahan – lahan menjelaskan dengan nada dan suara tidak sekasar dan sekeras yang tadi. Mr. Kirby… tunggu, itu salah, nah, yang benar : SELURUH KELAS 7F, syok. Mr.Kirby berdeham sedikit, agak salah tingkah, kemudian bergumam tentang jawaban yang betul atau semacamnya, kemudian kembali ke ulangan lisan itu. Aku duduk lagi, dan menyesal. Argh!!! Rencanaku gagal total!! Nah, sekarang apa? Nerd Club kelihatan mau menginterogasiku habis – habisan.

* * *

“ APA – APAAN ITU?!” teriak Hugo emosi. “ Er… jawaban?” tanyaku balik. “ Tidak mungkinl. Ryker yang aku tahu menjawab seperti itu, ikut aku!” katanya lagi sambil menarik tanganku, aku diseret ke ruang janitor. Saat pintu janitor tertutup, aku bangkit berdiri dan berkata, “ Hei, kenapa kok lampunya…” saat aku memerhatikan lebih dekat lagi, aku melongo. Lampu ruang janitor dibuat agak suram, terdapat kursi dan meja, dan Ethan, Hugo, Aaron sedang memakai topi Sherlock holmes dan kacamata hitam. Persis seperti adegannya interogasi CSI. Ok, memang aku tadinya lebay soal interogasi habis – habisan, tapi tampaknya itu benar.

“ Tersangka bernama Ryker Freddickson,” Ethan mengumumkan. “ Dulunya idiot, hari ini tiba – tiba ia memberikan jawaban terhadap pertanyaan IPS yang lebih lengkap daripada paket.”
“ Yang kita cari : BAGAIMANA HAL INI DAPAT TERJADI?!”

“ Ryker, jelaskan.”
“ Tidak mau.”
“ Ryker, jangan seperti bayi, dan jelaskan saja.”
“ Kalau aku ngomong tidak mau, artinya aku tidak mau!”
“ Kemarin kamu masih seorang idiot yang mau lari ke rumahmu dengan diguyur hujan deras, dan sekarang…”
“ Hei, aku terpaksa lari ke rumahku dengan diguyur hujan deras. Ashley sedang…”
“ OK, OK, aku salah, kemarin kamu seorang idiot yang tidak mengerti IPS,”
“ Nah, itu baru benar.”
“ Jadi bagaimana bisa kamu mendadak mengerti IPS? Bahkan sistem kebut semalam tidak mungkin membuatmu sepintar itu.”
“ Dengar, itu terjadi dulu sekali. Dan aku tidak mau mengingatnya.”
“ Ayolah Ryker! Apakah itu waktu kamu masih SD?”
“ Ya.” Jawabku jujur. “ Ya, itu terjadi di SD, puas? Nah, sekarang biarkan aku…”
“ Tidak, kita tidak puas.”
“ Tapi…”
“ JELASKAN!” teriak mereka bersamaan.

Aku menatap mereka. Mereka tidak akan meninggalkanku sendiri kecuali mendengar penjelasan. Dan mereka pasti akan tetap tinggal di sini hingga sekolah selesai kalaupun aku tidak menjelaskan. Nerd Club dan sifat Nerd mereka… Aku mendesah, “ Kita harus mengalami flashback di sini, OK?” mereka mengangguk senang.

( Amerika, SD kelas 4, umur 10)

“ Freddickson?” teriak seorang guru. Aku menoleh tegang. Pelan – pelan aku  memeluk buku sains itu dengan lebih dekat dan memeluk lututku. Seharusnya tidak mungkin kelihatan kalau aku duduk di lantai di bawah meja sains yang paling pojok. Apa itu guru? Guru yang JAHAT? Atau itu gerombolannya Mark? Yang sejak bulan pertama aku masuk sekolah selalu dipanggil ‘freak’ terus? “ Apakah itu kamu??” rasanya bukan kalau itu Mark… mungkin guru… dengan sedikit ragu- ragu, aku berdiri dan mengeluarkan suara, “ Mr Tyrell?” Seorang guru membuka pintu ruang sains itu dengan cepat, “ Ya ampun, dugaanku benar. Kamu masih disini.” Kata Mr. Tyrell. Aku tersenyum kecil dan menghela napas dengan lega . Mr.Tyrell adalah guru favoritku, mengajar IPA. “ Kamu harus pulang, orang-tuamu sudah menelpon setidaknya 4 kali ke sekolah.” “ Suruh mereka tunggu sebentar, aku masih mainan.” Kataku dengan santai dan kembali membaca buku sains punya anak kelas 6. “ Freddickson, kamu harus pulang sekarang, lagipula kamu kan ada quiz Matematika besok.” “ Jadi? Aku sudah belajar dari minggu lalu untuk quiz itu, aku lebih dari siap.” Potongku, hei, itu fakta. Mr.Tyrell menggelengkan kepalanya lalu berkata kepadaku, “ Susah tahu, ngomong sama anak sepintar kamu,” aku nyengir.

“ Kalau begitu, kamu harus pulang sekarang, karena minggu depan ada lomba pameran sains-mu.” Ujar Mr Tyrell. JEDIAR!! Aku lupa total!! “ Aku lupa total! Cr-..” “Eits, jangan lagi ngomong crap.” Potong Mr. Tyrell sambil tersenyum. “ Sori, aku akan pulang sekarang.” Kataku sambil mengembalikan buku sains itu ke tangan Mr.Tyrell. “ Setidaknya kamu boleh mainan juga, kamu tahu? Mainan asli, seperti games atau apa, kamu bisa stress jika kamu tidak bermain yang seperti itu!” teriak Mr.Tyrell. Aku hanya tertawa dan berlari keluar ruangan.

 * * *

“ Tunggu, jadi dulu kamu seorang anak super jenius yang menganggap  belajar itu mainan?” teriak Ethan heran. “ Iiiyaa??” jawabku ragu – ragu. “ Buset.” Umpat Hugo. “ Kembali ke topik awal… lanjut?” tanya Aaron. Aku menghela napas dan melanjutkan flashback.

***

( empat hari kemudian, di lapangan sekolah)

Setelah mengecek lorong benar – benar kosong, aku memegang projek sains yang sudah kubuat untuk dilihat oleh Mr. Tyrell. Beberapa hari lagi akan ada lomba sains itu, dan aku benar – benar berharap bisa membuat Mom dan Dad.. dan Mr. Tyrell senang kalau aku menang. Plus! Dapat games dari Dad! Aku menoleh dengan tegang dan merasakan hatiku mencelos saat mendengar suara kaki. Tapi tidak ada orang di belakangku. Aku merinding sedikit.

Aku tetap takut kalau ada Mark dan yang lain. Kapan hari mereka mengejarku dan yah.. itu bukan kejar – kejaran favoritku… aku menunduk ke projek sains-ku dan merasakan senyumku mengembang. Butuh banyak sterofoam, cat, tusuk gigi, dan sedotan, spons, dan barang – barang lain untuk membuatnya. Tapi hasilnya.. melebihi bahkan yang aku prediksi..!

Sebuah replika solar system. PLUS! Planet – planetnya bisa diputar, untuk membuktikan kalau mereka juga meng-orbit, dan… ciiit!

Aku menoleh dengan panik. suara tadi jelas – jelas suara sepatu kets… sepatu kets dengan sol lapuk yang mengerikan.. punya-nya ‘Big’, temannya Mark. Ia lagi mendekatiku, aku berjalan cepat – cepat menjauhi dia, tidak berani berlari. Mungkin kalau aku berlari, mereka akan mengejarku lagi.. jangan.. jangan lari. Langkah kaki di belakangku bertambah banyak. Saat aku menoleh, aku bisa melihat ada 2 cowok berbadan besar yang lain. aku menghadap depan lagi dan terkesiap. Mark sudah ada di depanku. Aku berhenti berjalan. 3 anak cowok lain muncul. Aku menelan ludah. Mereka mengelilingiku. Tanganku memegang project-ku dengan erat – erat.

“ Hei Freddickson,” ujar salah seorang anak cowok di sebelah kanannya Mark. Aku tidak kenal dia… tapi dia di kelasku. Suaranya jelas tidak ramah.. “ Punya apa itu kamu?” tanya ‘ Big’. Aku sudah memegangi project-ku dengan sangat keras hingga buku – buku jariku berubah putih. Entah bagaimana, mereka berhasil merebutnya dari tanganku. Mungkin itu karena aku terlalu tegang. Setelah sadar kalau mereka lagi memegangnya dengan asal –asalan, aku berkata dengan panik, “ H-he-hei! Hati – hati, itu dari sterofoam dan..” mungkin itu karena aku tergagap.. atau mungkin hanya karena mereka tipe anak seperti itu, tapi detik berikutnya, salah satu planet itu terlepas dari tempatnya. “ Ups,” kata Mark dengan nada mengejek, “ Sori, Ryke,” ia mendekatkan mukanya kepadaku, aku memandang ke arah matanya dengan perasaan takut. “ Kurasa aku merusaknya.” Aku mencoba merebut project-ku lagi, tapi mereka malah ramai – ramai menginjaknya. “ Hei, HEI, stop! Kenapa kalian harus melakukan…” “ Kamu tahu, Freddickson, itulah kenapa,” kata Mark lagi, ia mengambil tongkat baseball dari temannya, tanpa basa – basi, ia membantingkan tongkat itu ke project-ku, lalu mengalihkannya kepadaku. Ia menahan badanku ke dinding dengan tongkat itu, aku tersedak dan berusaha untuk bernapas, “ Kita hanya.. HARUS melakukannya, lagian, di dunia, yang kuat makan yang lemah, tahu?” Ia menendang kakiku, “ Argh!” teriakku secara refleks, “ Dan kamu, Freddickson, benar – benar lemah.” Ia melepas tongkat itu dari badanku, lalu dengan satu gerakan hebat.. ia memukulnya ke kepalaku.

Mungkin beberapa menit setelahnya, aku membuka mataku. Aku lagi di lantai, dan pelipisku berdarah. Mark dan yang lain sudah pergi, tapi habis itu aku ingat apa yang mereka lakukan.. mereka bahkan sempat menendangiku.. aku mencoba berdiri, dan sambil berjalan sedikit pincang, aku menginjak sesuatu. Saat aku melihatnya.. itu sisa dari project yang tadi aku buat.

Aku memandanginya dengan frustasi dan setengah marah. Bagaimana aku bisa se-naif itu untuk berpikir bahwa… Mark benar. Aku menendang project-ku dan menggigit bibir bawahku agar menahan tangisanku. Aku memang lemah. Tapi tidak lagi. Tidak, aku tidak mau lagi. Detik itu aku bersumpah, aku tidak akan percaya pada pelajaran lagi, untuk kebaikkanku sendiri.

 * * *

 Seluruh Nerd Club terdiam. Seakan – akan merenungkan cerita itu. “ Itu ceritanya.” Kataku dengan suara agak bergetar. “ Jadi dulu kamu korban bullying?” “Ummm…errr… iya.”

“ Dan kamu nggak lapor ke guru favoritmu itu? Waktu itu kan dia belum tentu lihat…”  “ Tidak. Dia lihat.” Nerd Club terpengarah. Aku menghela napas panjang, “Setelah itu aku lihat Mr.Tyrell di ujung lorong. Ia lagi bersembunyi di balik dinding, mengira aku tidak melihatnya.” Aku merasakan pandangan penuh tanda tanya dan heran dari Nerd Club, “Aku tidak tahu.. Kurasa aku tidak berani berdiri dan berjalan ke arahnya untuk bertanya apa dia melihat atau tidak.” “ Dan kamu tetap ikut lomba itu?” “ Tidak. Aku tidak berani.” “ Oh.” Kata Hugo. Terlihat dari sorot matanya ia agak kecewa dengan hal itu.  “ Aku tidak bangga akan itu.” Kataku defensif. “ Terus, kenapa hari ini…?” tanya Aaron heran,

“ Aku capek lari terus.” “ Tapi kan waktu dulu ulangan Fisika kamu juga tidak bisa! Kalau kamu jenius setidaknya..”
“ Hei, kamu lupa, dulu di SD memang tidak ada Fisika.” “ Oh yeah… lupa..”
“ Okeeey….. jadi sekarang kamu mau ngapain?” tanya Ethan. Aku menghela napas panjang, “ Well, rencanaku sih sebenarnya pelan – pelan menaikkan nilaiku, tapi karena hari ini ada shortcut tadi, kurasa aku bisa langsung kembali ke kebiasaan lamaku.”

Suasana Nerd Club menjadi canggung. Ampun, ini bahkan lebih diam dari hari pertama kita bertemu. “ Er…so… yeah. Um… hei, apakah itu sudah selesai?” tanya Hugo. Aku mengangguk. “ Jadi… kamu pintar?” ulang Aaron, terdengar masih kurang percaya. “ Iya.” “ Dan kamu sengaja membuat kesalahan di soal – soal ulangan?” “Iya.” “ Itu bodoh sekali.” “ Pfft!!” Ethan berusaha menahan tawa tapi gagal. Kita langsung terbahak. “ Terus, sekarang rahasia apa lagi yang bisa dikorek dari Ryker?” tanya Hugo sambil nyengir. “Oh! Aku tahu! Apakah kamu memakai kacamata?” “Seharusnya.” “ WTH?!” teriak mereka. Kurasa mereka cuma bermaksud bercanda.

“ Serius?!” “ Er… ya?” “ Tapi kamu tidak pernah pakai kacamata!” “ Karena aku malas. Toh aku masih bisa lihat tanpa kacamata.” “ Wow, aku pingin lihat sosok Ryker yang memakai kacamata. Dude, kalau ini terjadi waktu valentine, bisa – bisa kamu ranking 1 ! Pintar, pakai kacamata..” Aku mengeluh keras. “ OK, Ryke, kamu tahu apa? Kurasa kamu harus memakai kacamata itu.” “ Tidak mau.” “ Oh ayolaaah!! Tidak ada yang akan memfotoimu!” “Terus buat apa kalian menujukkan kamera HP ke aku?” “ Pliiiiissss???” “ Nggak.” “ Kalau kamu pake, aku akan membelikanmu sequel game HSH!” kata Ethan.“ Hah?! Serius?!” tanyaku tidak percaya.

“ Yap, sequelnya, limited edition kan?”
“ Buset! LIMITED EDITION?!”
“ Yap!! Silakan, pakai dulu kacamatamu.”
“ Tidak, tidak…”
“ Ayolah, Ryker!! Sequel itu penting untukmu kan? Kamu sudah membicarakan itu selama berabad – abad!!”
“ Itu semacam ‘ dream come true’ untukmu, kan?! Jadi ayooo!!”
“ Guaah!! Enyahlah kau setan!!”

Mereka mulai memojokkanku ke sudut ruangan. Pikiranku terbelah menjadi 2, antara ngomong iya, dan tidak. (bisa dibaca banget ya?) “ Ayolah Ryke! Kita tidak akan melakukan apa – apa ke kamu!!” “ OK!! OK!!! TAPI KALIAN JANJI BELIIN AKU SEQUEL ITU!” mereka langsung tos. “ Jangan kuatir! Itu janji!” ujar Ethan. Aku menghela napas panjang. “Pakai besok saja.” Kata Hugo. “ Lebih cepat lebih baik. Kita selesaikan ini sekarang.” Tegasku. Aku menarik tasku dan membuka kantong di dalamnya, kantong super duper rahasia, yang diberi kancing dan resleting, dan menyimpan kacamataku. Kutarik kotak itu keluar. Dasar anak – anak lebay, menutup mata mereka dan menyuruhku ngomong ‘ OK’ saat telah memakai kacamata itu. “ Ok.” Mereka membuka mata. “ BUSET! RYKE!” “OH, ITU TIDAK COCOK SAMA SEKALI!!” “Kubilang apa?” “ Ya ampun!!! Kita harus mengabadikan ini!!” “ Hei, katanya tidak akan foto –foto!!”
“ Cheeseee!!” “ Tidaaaaak!!”  KRIIIING!!!

“ Yo Ryke, pakai aja kacamatamu untuk mata pelajaran terakhir.” “ Ogah!”
“ Guys, tidak ada waktu untuk argumen, Ryke pakai kacamatamu itu, dan ayo cepetan ke ruang seni!” “ Aku yakin tampangmu bisa bikin inspirasi buat sekelas,” jleb..

Anehnya, itu nyata. Satu kelas langsung syok melihat tampangku dengan kacamata. (Aku terpaksa memakainya karena mereka janji akan membelikanku es krim di akhir pekan ini kalau aku memakainya. Dan aku bokek, jadi aku tidak akan makan es krim kecuali mereka membelikanku.) Alice yang selalu membuat muka mauk denganku pun sampai kaget. Matanya terbelalak menatapku. Saat Hugo mau duduk di sebelahku, Alice langsung membanting seluruh kotak ‘art n craft’-nya ke meja sebelahku. “ Sori, Hugo. Aku perlu duduk di sini.” katanya dengan mata menyipit ke arahku. Hugo mengangkat bahu, “ No problem. Silakan saja.” Katanya sambil duduk di tempatnya Alice, sebelahnya Daisy.

Urgh! Hugo! Tinggalkan masalah cintamu untuk dirimu sendiri dan jangan seret aku ke neraka! Saat pelajaran seni mulai, aku yang sudah kembali ke ‘ Ryker yang selalu memperhatikan kata – kata guru’ diganggu Alice terus menerus. “ Psst! Ryker! Kamu kok bisa pakai kacamata?! Hei!!” Aku mengeluh terang – terangan dan tetap mencatat. Tapi dia tidak mau menyerah dan terus menerus mengulangi kata – kata itu. Akhirnya aku tidak tahan lagi. “ Diaaam.. bisa nggak sih?!” desisku. Dia menyibakkan poninya,

“ Nggak sampai kamu jelasin.” Aku menekan tutup bolpenku. “ Dengar , cewek gila, percaya atau tidak, aku sebenarnya seorang anak yang pintar dan aku memakai kacamata. Aku cuma tidak mau menunjukannya, karena aku tidak mau. Puas? Sekarang cepat selesaikan gambarmu.” “ Kamu pikir aku bisa mempercayai… that piece of crap?!” bisiknya keras. Aku yang dari tadi konsentrasi untuk membuat garis yang lurus langsung kaget dan garis itu berubah menjadi zig zag. Gila, Alice mengumpat? DALAM BAHASA INGGRIS? Apakah neraka baru saja menjadi dingin?!

“ Buset, Lis. Apakah aku baru saja mendengarmu berkata ‘that piece of crap?!’”
“ Ya, terus kenapa, BTW, jangan panggil aku Lis. Aneh dipanggil itu.”
“ Ayolah Lis, semua orang tahu kalau kamu jarang banget ngomong kotor.” “ Tapi lebih jarang lagi.. tunggu itu salah, coret saja. Yang benar : TIDAK MUNGKIN bagimu untuk menjadi pintar, Ryke! Yah, OK, aku mungkin bisa sedikit percaya karena kejadian TADI, tapi kenapa kamu tidak menunjukkan kepintaranmu dari dulu? Pasti ada alasan kuat di balik itu, hmm?”

“ Pokoknya terima aku apa adanya, OK, Lis?” “ Jangan panggil aku itu! Dan kenapa kalimatmu itu pernah kulihat di suatu tempat..” “ Sumber manga tak dikenal. Website paling keren sepanjang masa.” Jawabku langsung. “ Oh, iya…. Itu benar. Website itu benar – benar keren,” Kata Alice. Yah aku tidak akan menyalahkan seseorang sepintar Alice untuk tidak mengenal sumber manga tak dikenal. Website itu dikenal satu sekolah. Kembali ke topik awal, ini hal bagus… dia mulai melupakan fakta bahwa aku sebenarnya anak pintar. Bagus… sekarang… “ Hei Ryke, kamu masih belum menjelaskan kepadaku tentang kenapa kamu menyembunyikan identitasmu sebagai cowok pintar.” Sialan, cewek ini bisa baca pikiran?!

Dia memandangiku dengan sangat cermat kemudian berkata, “ Apakah kamu pernah diejek soal itu? Dan kamu takut menjadi pintar?” tanyanya dengan nada tajam.

“ Eh? Bagaimana kamu tahu so-..” aku menutup mulutku secepatnya, tapi ia sempat mendengarku. “ Jadi aku benar?” tanyanya sambil mulai duduk lebih dekat denganku. “ Ummm…” “ Yah kalau aku benar aku akan diam, deh.. setuju?” “ OK, Ok.. kamu benar. Sekarang bisakah kamu diam?” “ Ok. Tapi..” “ KATANYA MAU DIAM?!” desisku marah. Alice terkikik geli, “ Fine. Aku diam. Tahukah  kamu kalau kamu malu lehermu memerah?” aku langsung menutupi leherku dengan kedua tanganku. “ Terus kamu pakai kacamata karena?” “ Yah seharusnya aku pakai kacamata, tapi aku masih bisa lihat dengan baik tanpanya. Jadi aku nggak pakai.” “ Memang itu lebih baik. Kamu kelihatan kayak alien.” Aku tertawa kecil. Entah kenapa lebih enak membicarakan topik ini dengan Alice daripada dengan Nerd Club.

Oh tidak, apakah aku sadar apa yang baru saja aku pikirkan?!

Anyway… kalian sekarang mengerti kenapa aku selalu sensitif soal pembicaraan kelas 4.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: