AYWMEN Bab 17 : Tengkaran

Bulan Juli berakhir, dan kita masuk Agustus. Belakangan hari ini, suasana Nerd Club menjadi sangat tidak nyaman. Aku sendiri juga heran bagaimana hal ini dapat terjadi. Pokoknya kita jadi lebih sering marah satu sama lain. Dan kesal juga temenan kalau kayak gini. Ini juga salah satu alasan kenapa aku tidak begitu berani mencari teman : kalau tengkaran bisa bikin stress. Hugo berpendapat kalau semua ini mulai dari… aku. WTH?!

Yah… Ethan jadi lebih protektif terhadap kita, entah kenapa. Dia jadi lebih menjaga agar Nerd Club jangan sampai saling ber-rahasia satu sama lain seperti aku. Dia bermaksud baik, tapi kita cowok kelas SMP 1. Kita tidak diprogram untuk dikekang seperti itu. Karena merasa tidak nyaman berada di ruang janitor terus –terusan, Aaron  jadi lebih suka membaca di perpus daripada merancang perang. Ethan yang tidak setuju menghasilkan argumen yang cukup HOT! antara mereka berdua. Aku masih ingat kata – kata Aaron :

“ Kita sudah lama banget perang di sini. Kurasa lebih baik kita diam saja dan biarkan cewek – cewek itu bermain konyol sendiri.” Kita bertiga lumayan tidak setuju soal itu. Tapi tentu saja, ide Aaron untuk berhenti perang sesaat diterima baik oleh aku dan Hugo. Toh kita lumayan capek juga perang kayak gini. Ethan sama sekali tidak suka dengan ide itu. Menurutnya, kita seharusnya tetap melancarkan serangan – serangan hingga cewek – cewek itu minta maaf. Aaron kembali tidak setuju, dan berkata sesuatu seperti ini :

“ Terserah kalian mau apa. Aku akan di perpus menghabiskan waktu secara efisien.” Dan jadilah Aaron mulai tidak muncul di ruang janitor lagi. Hingga hal ini terjadi tadi pagi…

Ethan mengamuk dan menyeret Aaron keluar dari perpus. Didorongnya Aaron ke loker dan terjadilah tengkaran konyol antar Nerd Club itu.

“ Kamu jangan sembarangan ya Aaron. Kita ini satu tim! Jangan sampai terjadi perpecahan di antara kita.” ( ironis juga, justru Ethan yang paling memecah belah grup ini.) Aaron tampak marah juga. “ Maksud?!” tanyanya balik, setengah teriak.

“ Maksudku ya jangan pergi – pergi dari grup ini!”
“ Ethan, jika aku harus tinggal dan disuruh duduk diam dan manis selamanya, lebih baik aku keluar dari Nerd Club!”
“ Apa?!”
“ Hugo, bantu aku!”  teriak Aaron lagi.

Hugo dan aku yang dari tadi sedang bingung bagaimana menenangkan mereka langsung terkejut. Hugo berkata dengan tergagap, “ Ya, er.. Ethan, memang kamu agak… over protektif belakangan ini… tapi itu bisa diatasi…”

“ Ya kan? Bahkan Hugo pun menyadari sifat brengsekmu itu.”
“ Apa yang kamu bilang?! Ryke! Bantuin!!”
“ Hah? Yah… um… setidaknya kamu bisa melupakan ide tentang keluar dari Nerd Club, kan Aaron? Kita kan satu klub yang harus tetap bersatu..”
“ Ryker kurang tepat, yang tepat adalah bahwa kamu harus kembali ke ruang janitor setiap istirahat!”
“ Ya ampun, Ethan. Dengarkan dirimu bicara seperti cewek cerewet yang centil untuk satu kali!! Kamu benar – benar parah. Kamu tahu tidak?” kata Aaron. Suara mereka sudah keras sekali, satu lorong itu memandangi kita.

“ Apa katamu?!”
“ Kamu dengar apa kataku cewek!”
“ Dasar kutubuku sialan!”
“ Hacker tak ada guna!”

Ethan mengepalkan tangannya. Hugo langsung tahu apa yang akan terjadi, dan langsung menghalangi Aaron dari pukulannya Ethan. Aaron langsung maju untuk menghajar Ethan, “ Hei!” teriakku sambil menahannya dari belakang. “Jangan ganggu vegetarian!” teriak Aaron ke Hugo. Ethan tampak kaget ia memukul Hugo bukannya Aaron. Hugo berubah marah sekali pada Aaron karena ia yang baru saja melindunginya dari pukulan malah diteriaki. “ Aaron, jangan bersifat seperti ( beep!! Sensor!) dan bertoleransi terhadap sifatnya Ethan sedikit!”

Aaron menyikutku di perut, membuatku melepaskannya, lalu mendorong Ethan. “Lupakan itu Hugo. Aku tidak akan mengambil nasehat dari vegetarian.” Ujar Aaron kasar. Hugo kesal sekali dan memukul Aaron. Aku panik dan langsung mencoba melerai mereka, “Hei, hei, hei!!” mereka malah memukulku bersamaan. “HEI!!!” teriakku marah. “ Minggir noob!” “Siapa yang kamu panggil noob?!” teriakku marah dan tetap mencoba melerai mereka. Kita pun saling berantem hebat. Ethan memukulku dari atas, Hugo memukul Aaron dan Aaron memukul Ethan. Aku mencoba tidak memukul siapa – siapa dan tentunya gagal karena aku lumayan emosi juga, akhirnya aku melupakan tentang ‘melerai’. Kita jadi saling menendang dan memukul hingga membawanya ke lantai. Dan ke dinding loker. Anak – anak yang melihat kita langsung mengerubungi untuk melihat perkembangannya. Lorong jadi ramai. Terdengar teriakan seorang cewek, “Hei! Minggir, minggir! Permisi, hei, stop! Stop!!” kemudian terdengar suitan panjang dan nyaring yang membuat kita bereempat berhenti karena telinga kita langsung nyaris tuli. Aku melihat siapa yang memegang peluit itu. Daisy Ramora.

“ APA YANG TERJADI DI SINI?!” teriaknya dengan nada super duper marah.
“ KALIAN BEREEMPAT! DETENSI, SEKARANG!!” kita bereempat menatapnya. Lalu kita saling pandang. Kemudian mencuekinya dan kembali berpukul – pukalan lagi. “Hei! HEIII!!!” teriaknya lagi. Kali ini, ia berhasil menyeret kita ke ruang detensi. Sambil menghela napas panjang, ia menutup pintu ruang detensi dan menatap kita dengan tajam. “Duduk.” Kita bereempat duduk saling berjauhan satu sama lain. Ia menghela napas panjang lagi.

“ Jelaskan kepadaku apa maksudnya tadi.” Katanya dengan marah. Tidak ada satu pun dari kita yang menjawab. Ethan mengetuk – ngetukkan jarinya ke meja. Hugo menatap ke arah Daisy dengan tidak mau tahu. Aaron melipat tangannya dengan kesal. Aku sendiri cuma memandang ke luar jendela. Daisy menghela napas panjang. Ia mengeluarkan HP-nya, kemudian menelpon seseorang. “ Halo? Heather? Itu kamu? Hei, bawa yang lain ke ruang detensi sekarang. Ya, ini darurat.” Katanya singkat dan langsung mematikan HP-nya. Tidak lama kemudian, Alice dan anggota grup pimpinan sekolah kelas 7 yang lain muncul. “ G-gr-grupnya Ryker?!” tanya Alice kaget. “ Mereka saling pukul – pukulan di lorong lantai 2.” “ Apa? Tapi mereka selalu bersama kayak bebek!” protes Cynthia. Kita bereempat tetap melanjutkan apa yang tadi kita lakukan. ( Mengetuk meja, memandang keluar jendela, dll) “ Bisa jelaskan mengapa mereka sekarang duduk berjauhan?” tanya Daisy. “Hmmm..” “ Hei, aku baru saja kursus bahasa cowok. Biarkan aku yang melakukannya.” Heather menarik napas panjang.

“ Siapa yang memulainya?” tanyanya. Detik itu kita langsung jawab bersamaan sambil menunjuk satu sama lain. “ Dia!” kita bereempat saling pandang dengan marah dan kembali berteriak.

“ Jangan sembarangan, semua orang tahu kamu yang memulainya cewek!”
“ Maksudmu apa?! Bukannya kutubuku kayak kamu yang selalu bikin kita semua risih?!”
“ Sudahlah! Memang dari awal semua kesalahan ini dari kamu cewek!”
“ Kenapa kamu masih ikut – ikutan vegetarian?!”
“ Karena aura si gamer brengsek itu!”
“ Sejak kapan aku yang salah?!”
“ Dasar pengkhianat nerd kalian semua!”
“ Tutup mulutmu Hacker!”
“ DIAAM!” teriak Daisy emosi. Kita bereempat (yang sudah berdiri dan mengacungkan tinju) terdiam. Cynthia memberi suitan panjang yang rendah, “ Whew, sekarang aku mengerti apa maksudmu.” “ OK, detensi sekarang. Kerjakan tugas tentang penemuan Albert Einstein yang pertama. Kumpulkan besok lusa. Kerjakan bersama – sama.” Umum Heather. “Tidak akan terjadi.” Kataku sambil duduk dan menatap keluar jendela lagi. “ Jika aku harus berbicara dengan orang gila itu lagi,” kata Ethan sambil menunjuk Aaron, “ Aku bisa gila.” Alice memegang kepalanya, “ OK, kalian tahu apa? Biarkan mereka berkeliaran sesuai keinginan mereka.” “ Alice! Tapi…” “ Daisy, aku serius. Biarkan.” Daisy mengigit bibir bawahnya, dan berkata, “ Kita langsung ke mata pelajaran berikutnya.”

 * * *

                 Aku tidak bisa ingat kapan aku kembali pulang dari sekolah tanpa membanting pintu kamarku dan merasa marah sekali. Kurasa… ya, kebiasaan itu terjadi setelah aku terlibat tengkaran ini. Setiap kali aku masuk kamarku aku merasa seperti orang idiot yang dipermainkan, bahkan meskipun aku telah mendapat nilai 100 untuk semua mata pelajaran ( kecuali Olahraga.) Setelah itu aku akan melempar tasku ke kursi hingga kursi itu terjungkal, dan melakukan gulat bantalku. Tidak jarang, Ashley diam – diam mengintip dengan cara membuka pintu kamarku dan melihat dari sela – sela. Pasti gara – gara aku benar – benar extreme bikin rame.. Aku pasti berpura – pura tidur saat itu. Sudah sekitar 1 minggu sejak kita tengkaran, dan hubungan kita malah bertambah parah. Kita tidak lagi bertemu bersama untuk menonton ‘ The Edan’s’ lagi. Dan kita juga berhenti merencanakan perang. Bahkan… kita berhenti bertemu di loker. Setiap kali aku ke lokerku, pasti tidak ada orang lain di sana. Kita tidak duduk bersama juga. Tempat duduk kita yang biasanya di kursi belakang sekarang diambil oleh anak – anak yang tidak aku kenal. INTINYA, kita tidak lagi bertemu. Bahkan tidak di toilet.

Malam itu..

Aku mendengar dering HP-ku. Kubuka sebelah mataku dengan mengantuk, WTH? Telpon jam segini… tunggu, ini jam berapa? Aku mencari jam wekerku dan melihat kalau ini jam 12 malam. Baru setengah jam aku tidur. 2 jam pertama kuhabiskan dengan berbaring terlentang tanpa bisa tidur karena insomniaku.(aneh bukan? Padahal aku pikir jika aku menjadi Ryker yang pintar, aku tidak lagi insomnia. Tapi itu tidak pernah terjadi.. kembali ke cerita!!) Aku mengambil HP-ku dan membuka flap-nya, kuangkat telpon itu tanpa melihat siapa yang menelpon. “–lo?” kataku dengan mengantuk dan kembali menutup mataku, siap lompat ke dunia mimpi secepatnya. “ Ryker?” Aku membuka kedua mataku dengan kaget dan tidak jadi melompat.

“ Ha?”
“Apakah itu kamu?”
“Al-Alice?! Apakah kamu sudah gila?! Ini jam 12 malam! Aku tidak akan heran kalau ini Paman Kira tapi…”
“ Ryker, aku tidak punya waktu untuk celotehanmu.”
“ Oh, sori… kenapa kamu telpon?”
“ Pertanyaan bagus… aku cuma ingin tahu…” kudengar suaranya mulai menjauh, ia menghela napas panjang dan berkata lagi. “ Ryker, apakah kamu tahu kenapa aku membencimu?” Hatiku berdegup kencang. Dia mau memberitahuku ini , SEKARANG?! “Ti-tidak. Aku tidak tahu.” Kataku dengan gugup. “Apakah kamu mau tahu?” tanyanya lagi.

“ Well… umm… iya.”
“ Kamu yakin?”
“ Ya.”
“ Dan kamu tidak peduli kalau alasan itu benar – benar, dan maksudku BENAR – BENAR, bodoh?”
“ Ya, mungkin aku akan PEDULI, tapi aku masih mau tahu…”
“ Bahkan kalau itu merusak image-mu terhadapku?”
“ Plis, image-mu sudah rusak.”
“ OK, aku tidak akan beritahu.”
“ Tunggu! Tunggu, Alice… aku cuma bercanda…”
“ Kalau begitu kamu mau tahu?”
“ Iya, sangat!”
“ Datanglah ke sekolah sekarang. Ke lab fisika. Aku menunggu.”
“ Tapi ini jam 12 mala-..”

Sambungannya terputus. Aku mendecak lidah dengan kesal. Apa maksudnya? Aku harus ke sekolah tengah malam begini? Lebih baik aku tidur. Kuletakkan HP-ku di meja dan kembali tiduran. Aku tidur terlentang. Kemudian mengubah posisiku, kemudian mengubah lagi posisiku, kemudian berguling lagi ke arah sebelumnya. Akhirnya aku berhenti tiduran dan duduk. “ What the heck..” kataku kesal dan memakai baju yang lebih layak pakai daripada piamaku. Kutarik HP dan jaketku, kemudian aku ke sekolah….

Tidak ada yang menarik dari sekolah waktu tengah malam. Serius. Semuanya gelap. Aku membuka pintu sekolah. Tidak dikunci. Hei, aku baru sadar… aku bisa dikira pencuri dan dipukuli!! Atau… aku bisa fokus ke lab fisika, karena Alice ada di sana. Lab fisika adalah ruang paling jauh, di ujung. Ruangnya besar, pintu masuknya ada dari 2 arah. Utara dan Selatan. Aku masuk, disambut dengan lab fisika yang kosong. “ Alice?” panggilku tegang. Aku menutup pintu lab fisika dengan tegang dan berjalan. Kosong. KELIHATAN kosong, Alice pintar bersembunyi. “ Alice? Cewek gila? Lis? Aku harus panggil apa biar kamu keluar?” gumamku pada diriku sendiri. Aku melewati botol – botol fisika berwarna merah, berimajinasi kalau aku dijebak oleh kawanan vampir dan habis ini aku akan berubah jadi vampir.. ya, mereka akan datang dalam… Pintu lab fisika mendadak terbuka. “HUA! VAMPIR!!” jeritku. “Wha-..” “ Hah?” aku menatap bayangan  yang masuk itu. Tidak.. Alice tidak punya bentuk tubuh seperti itu. Tidak, yang punya bentuk tubuh seperti itu adalah…

“ Ethan?!” tanyaku kaget. “Ryker?! Kamu si GothicLolita 456?!”  “Ha?” “ Dude! Aku tidak akan mungkin menyangka kamu…” “ Tunggu— tunggu dulu, ngapain kamu disini?!” tanyaku panik. “ Hah? Kamu kirim e-mail ke aku kalau kamu menunggu di lab fisika! Butuh waktu lama untuk menyadari kamu ternyata satu sekolah sama aku!” “Tunggu dulu, aku tidak pernah mengirim e-mail! Aku bahkan lupa password e-mailku apa.” “ Hah?” Pintu dari Utara terbuka dan Hugo muncul, “Ngapain kalian disini?” tanyanya kaget. “Tunggu, kenapa kok Hugo juga disini?!” tanyaku mulai panik. Alice tidak mungkin menceritakan alasan itu kalau mereka pada ketemuan disini!!! “ Vegetarian, keluar sekarang, aku butuh flaskdisk baru dari GothicLolita.” “ Tunggu… apa? Aku disini untuk urusan penting! Aku…” ia dipotong saat ditabrak dari belakang oleh seseorang. Kita semua makin kaget saat melihat siapa itu. Itu Aaron! “ Hah? Ngapain kalian semua disini?” tanyanya.

“ Aku butuh flaskdisk dari GothicLolita!” teriak Ethan sekali lagi.
“ Aku akan-er, yah… dapat kencan dengan cewek!”  kata Hugo
“ Yah, aku kan dapat kamus penting!! Jadi minggir!!” Aaron mengumumkan
“ Hei, aku disini untuk urusan lebih penting dari kalian semua!!” teriakku. Mereka semua menatapku. “ Apa?” tanya Hugo. Aku merasakan leherku memerah.

“ Al-Ali- ah sudahlah pokoknya penting!!”
“ Masih mau bermain rahasia – rahasiaan?!” teriak Ethan marah. Kita kembali berargumen. Hugo akhirnya tidak tahan. “ Kalian tahu apa? Aku sudah muak, aku keluar dari sini.” katanya sambil menuju ke pintu utara. Ia membuka pintu itu, tapi pintu itu tidak terbuka. Ia mengulanginya hingga tiga kali. “ Kenapa?” tanya Ethan kesal.“Ter- terkunci.” Kata Hugo sambil mencoba membuka pintu itu lagi. Aaron berlari ke pintu selatan, dicobanya untuk membuka pintu selatan, terkunci juga. “Mungkin cuma tersangkut. Sini.” kataku mencoba tetap tenang dan mencoba membuka pintu itu sambil mendorongnya. Tidak terbuka. Kucoba mendorongnya lebih kuat. Tetap tidak mau terbuka. Aku mencoba lagi, kali ini mendobraknya dengan bahuku. BRUAAK!! “ Owww!!” teriakku sambil memegang bahuku. “ Dodol, pintu itu dari besi!”

Hugo mencoba membuka pintu itu lagi. “ Tidak terbuka!” katanya, suaranya terdengar panik. Ethan mendecakkan lidah. “Ah ya sudahlah, kita tunggu lima menit, coba lagi nanti.. dan.. HUAA!!” teriaknya tiba – tiba. Kita bertiga nyaris melompat.
“ Ethan! Kenapa..” tapi aku tidak melanjutkan kata – kataku. Tidak perlu. Kita bertiga tahu mengapa ia berteriak. Ada jendela kecil di lab fisika. Dan di jendela itu, ada seorang gadis dengan rambut hitam super duper panjang sedang mengetuk – ngetuk jendela. Bajunya putih semua. Seperti Kuntil anak plus Sadako. “ B-bu-bus-buse-BUSET!!” teriak Hugo ketakutan. Secepat kilat, cewek itu menghilang. Lampu yang tadi menerangi Lab fisika tiba – tiba mati nyala – mati nyala. Aaron menutup matanya dengan takut. Aku mencengkram meja dengan ketakutan. Tanpa peringatan, tiba – tiba lampunya mati total, dan sebuah boneka jatuh dari langit – langit. Boneka porselen yang matanya bisa membuka tutup. Ethan berdiri dengan ketakutan, kemudian menyentuh boneka itu. “ Mama.” Terdengar suara boneka itu. “ HUAAA!! BONEKA BICARA!!” teriak Ethan sambil berlari menjauh boneka itu dengan tangan bergoyang – goyang seperti gurita.

Aku merasakan adrenalin di sekujur darahku. Kurasakan setitik air jatuh ke mukaku. Eh? Aku menyentuh air itu. Berwarna merah. “ Ryke – Ryke… Ryker!!!” teriak Hugo ketakutan. “ Ha?” “ Kamu berdarah!!” teriak Aaron. Aku menatap ke atas, terdapat cairan warna merah darah yang tadi menjatuhiku. Aku melongo. “ Ak- aku tidak berdarah tapi – tapi…. HUAA, BLOODY MARY ITU NYATA!!!” teriakku panik dan menjauhi titik itu. “ Ha?” “ Kalian tidak tahu?! Itu legenda kuno… yang ternyata NYATA!! Kalau kamu mengatakan namanya bloody mary… di depan kaca, selama 5 kali lebih… dan apalagi kalau kamu cowok, kamu akan dikutuk!!” kataku sambil berdiri semakin dekat ke dinding. “ Sialan, aku tahu waktu aku mengatakan nama itu waktu umur 8 aku akan dikutuk!! Cepat atau lambat!!” “ Dude!! Kamu masih bisa selamat!!” teriak Aaron.  “ Bagaimana?!” tanyaku panik. “ Berjalan keliling ruangan ini sambil mengucapkan nama cewek yang kamu suka.” “ Tapi aku tidak punya cewek yang aku suka!” “ Kalau gitu kamu akan mati!!”

“ Tunggu! Apakah kalian tidak sadar?! Kita semua dikutuk!! Kita tidak bisa keluar dari ruangan gelap, dihantui, dan ada berbagai macam makhluk halus yang mulai bermunculan!! Ryker sudah kena getahnya!! Ethan juga!! Jika dilanjutkan, kita semua bisa disiksa secara mental dan masuk RSJ!!” kata Hugo gemetaran.  Ethan tampak ketakutan, ia mulai keringat dingin. Jujur aja, aku juga. “ Cepat! Bagi informasi apa saja tentang bagaimana keluar dari tangkapan hantu!!” Kita semua sudah duduk berdekatan di sudut terjauh dari jendela. “Tunggu, aku ingat ada cara kalau  kita harus menyanyi  lagu wajib Negara!” “ Kalau gitu nyanyi sekencang – kencangnya! 3…2…1!!”

Kita menyanyikan lagu Negara kita sampai Hugo melakukan sesuatu yang membuat kita berhenti bernyanyi. Ia melepas jaketnya. Kemudian sepatu, kaos kaki, kalungnya, kemudian mulai membuka satu per satu kancing bajunya. “ Hugo?! Apakah kamu sudah gila?!….. atau dirasuki?!?!” tanya Ethan, berhenti bernyanyi. “ Aku ingat sesuatu! Suku di suatu tempat nan jauh di sana menjauhi hantu dengan cara pelan – pelan membuka baju secara random!” katanya.
“ Sembarangan! Cari cara yang lain, dan cepat pakai bajumu kembali!” ujar Aaron.

“ Mungkin kita harus berdoa dengan bahasa Spanyol, aku pernah dengar soal itu…”
“ Alamak, siapa yang bisa bahasa Spanyol?!” “ Aku lumayan bisa! Tapi… ngomong apa?” “Yah, itu aku juga tidak tahu.” “ Dodol, kalau gitu cari yang bisa kita lakukan!!”
Aku yang dari tadi mengorek – ngorek informasi yang bisa berguna dari otakku diam terus. Tiba – tiba seperti disambar petir, aku mendapat jawabannya. “Idiot!!” teriakku pada diriku sendiri, kukeluarkan HP-ku dari kantong. “ HP? Kamu dari tadi bawa HP?!” “Itulah mengapa!!” Aku menyalakan HP-ku untuk menelpon siapapun untuk bantuan… ketika hatiku mencelos. “ Oh tidak…” “ Kenapa?” “ Signalnya tidak ada!” “ WHAT?!” aku mengangkat HP-ku tinggi – tinggi untuk mencari signal, bahkan sampai berjalan mengelilingi ruangan, naik meja dan kursi. Lab fisika tidak memiliki signal. “ Terus kita mau apa?!” tanya Aaron putus asa. “ Mungkin ini memang nasib.” Kata Hugo, memasang tampang Pak Tua Yang Bijaksana-nya. “ Nasib tidak pernah dapat diubah dari kehidupan..” “ Hugo… ngapain kamu latihan Teater pada saat seperti ini?” “ Ahaha… ketahuan juga…” “Hugo, kita perlu keseriusan…”

“ Tapi Ethan,” Aaron memotong Ethan, “Dalam hidup itu tidak pernah ada yang namanya keseriusan!! Yang ada hanyalah kekonyolan yang amat sangat, dan yang bisa kamu lakukan adalah menertawai keadaan yang kamu alami itu! Kamu tahu mengapa aku mulai menjauhi Nerd Club? Itu karena kamu tidak lagi menyadari adanya kekonyolan dari pribadi idiot Ryker-..” “ Hei!” protesku. “ Ah biarlah Ryke! Ethan, kau malah menyuruh kita semua menjadi serius!” Aaron melolong.Ethan terdiam. Aaron juga ikut diam. Hugo dan aku saling pandang. “ Aku memang bersifat seperti orang brengsek belakangan ini.” Ethan mengakui dengan suara kecil. Hugo tampak kaget sekali, ia mulai bergemetar. Tapi pada waktu itu… kita semua pada kaget karena gemetarnya Hugo benar – benar tidak terkendali. Seakan – akan dia tiba –tiba kena sakit ayan. “ Hugh?” tanyaku takut. Kupegang pundaknya. “ OH crap!! Hei, Ryke!! Cepat lepas tanganmu itu!” teriak Ethan. Aku melepas peganganku. “Kita harus berkata, “ anyanyanyanyanyanyanyanynyanyaynyanyaya” untuk 3 menit untuk menyelamatkannya!” kata Aaron. “ Hah?” “ Itu solusi paling efektif untuk orang sakit seperti ini!” ( note dari penulis : itu solusi paling tidak efektif) Jadilah kita bertiga teriak – teriak ‘anyanyanyanyanyanyanyanyanynanynyanya’ selama 3 menit, yang terasa bagaikan 3 jam.

Hugo tetap gemetaran, kali ini karena tertawa terlalu keras melihat kita bertiga ngomong kalimat aneh itu. “ Guys! Hahaha.. ya ampun dasar orang edan… aku tidak apa – apa!” kata Hugo akhirnya. Kita bereempat duduk lagi. Masih bingung harus berbuat apa. “ Hei, mungkin cewek sadako itu sudah hilang…” kataku sambil melihat – lihat ruangan. Air yang tadi menjatuhiku itu berhenti menenetes. Dan boneka itu sudah kelihatan seperti boneka biasa yang cuma diikat oleh benang putih. Ethan mencoba membuka pintu Utara lagi. “Tetap terkunci.” “ Sama.” Kata Aaron yang mencoba membuka pintu Selatan. “ Hei, bagaimana kalau kita keluar lewat jendela saja?” usul Hugo. “ Terserah, tapi aku akan tetap disini.” Kataku sambil menguap, lama – lama mengantuk juga. Tapi aku tetap ingin mendengar cerita Alice.

“ Ha? Oh ya, kamu belum menceritakan alasanmu disuruh ke sini.” “ Hei bagaimana kalau kita bicara itu saja? Toh tidak ada kerjaan. Mulai dari Ethan.”

“ Aku kan sudah  cerita, aku dikirimi e-mail oleh teman e-mailku yang bernama GothicLolita 456. Dia menyuruhku ke lab fisika untuk mendapat flaksdisk baru. Datang sendiri. Butuh waktu untuk sadar ia satu sekolah denganku.”

Kita semua mengangguk –anggukkan kepala. OK… itu masuk akal bagi Ethan untuk percaya…

“ Kalau aku sih akan dijodohkan sama cewek. Cewek itu mengirim surat ke aku 2 hari yang lalu. Menyuruhku untuk bertemu di lab fisika agar kita bisa menyusun rencana nge-date. Aku kan tidak pernah kencan, jadi aku ngomong OK…” jelas Hugo sambil tersenyum malu.

Kita semua menggeleng – gelengkan kepala. Dasar orgil yang berharap cinta akan datang…

“ Aku dapat kertas menyuruhku ke lab fisika di lokerku. Akan dapat kamusku yang hilang!!” jelas Aaron singkat. Kita semua mengangguk kecil. Mereka semua memandangiku. Aku berdeham sedikit.

“ Ya…er… well… wow, ini pasti bikin leherku berwarna merah.” Kataku sambil menutup leherku dengan tangan terlebih dahulu. “ Um… Al-al—Alice,” kataku tegang. Mereka semua memandangiku kaget tapi tidak berkata apa –apa. “ Alice mau memberitahuku alasan kenapa dia membenciku. Asal aku datang ke lab fisika. Baru saja menelponku jam 12 malam.” Kataku sambil menunduk. “ Katamu kamu tidak kenal dia!” kata Hugo heran. “ Dan memang aku tidak kenal dia. SEBELUMNYA. Tapi cerita harus ada 2 sisinya, kan? Aku ingin dengar cerita dari sisinya. Mengapa ia membenciku.” Kataku sambil menggaruk leher belakangku. Kita semua terdiam.

“ Gentleman sekali,” ejek Aaron. Aku memukulnya, tapi tidak sekeras saat aku meninjunya kapan hari, “ Sialan..” Kataku pelan. Hugo berdiri, “ Well, kita bisa…AIYAAA!!” teriaknya. kita semua menoleh ke arahnya.

“ Hugh, kenap- OH WHAT THE HELL?!” jerit Ethan. Cewek sadako itu muncul lagi!!!

Kali ini dia berada di dalam ruangan yang sama dengan kita. Hugo mundur 7 langkah.
“ Lempar apapun ke dia!” “ Dodol, dia pasti tambah marah!!” “ Lupakan saja, pukul dia pakai lemari saja!!” “ Memangnya aku hulk?!” “ Teriak asyasyasyasyasya saja! LEBIH EFEKTIF LAGI!!” “ Hua, dia tambah dekat!!” kita mundur ke arah dinding.  “ Cewek sadako yang cantik, memangnya kita melakukan apa sama kamu?” tanya Hugo. “ Cantik? CANTIK?! Sekarang kamu pakai taktik merayu hantu?!” “ Terus kamu mau aku pakai taktik apa? Lepas baju lagi?” “ Kamu tahu, sekarang aku berniat melakukan itu…” “ LUPAKAN TAKTIK LEPAS BAJU!” teriakku marah sambil mendorong kursi di depan kita. “ Ryker benar! Taruh halangan – halangan ke depannya!!” kata Aaron. Kita semua menarik kursi – kursi dan menaruhnya di jalur hantu itu jalan.

“ Dia punya otak? HANTU PUNYA OTAK?!” teriak Hugo panik saat hantu itu menyingkirkan kursi itu ke meja lagi. Kita sudah mundur sampai ke dinding. Kita bereempat jatuh terduduk dan berdempet – dempetan kayak cowok gila. Rasanya aku bisa muntah saking takutnya. “ Punya kata – kata terakhir?” tanya Hugo. Kita semua saling pandang. Semua kelakuan kita 3 minggu yang lalu kembali ke benak masing – masing. Memukul kayak orang kesetanan. Saling meledek. Emosi berlebihan. Dan yang paling parah : lupa bahwa kita sebuah club… sebuah nerd club.“ Sori…” ucap kita bereempat bersamaan.  MAK JEDIAR–BYUUR!! Hantu itu menyiram kita dengan konfeti yang meledak. Tunggu dulu…

Hantu? Menyiram? Kita? Dengan? Konfeti?!?! “ Kamu!!” teriakku emosi sambil berdiri. “ Dia bukan hantu!” teriak Hugo, menyadari kesalahan kita. “ Tidak, memang tidak!” terdengar suara cewek. Pintu utara terbuka, Alice keluar dari dalamnya. “Memang tidak!” katanya sambil tersenyum nakal. “ Alice..” kataku pelan dengan nada heran. Tiba – tiba seperti disengat listrik aku sadar rencana licik mereka. “ JADI KAMU MENJEBAK KITA KE LAB FISIKA HANYA UNTUK BERBAIKKAN?!” teriak Ethan, ( thanks Ethan! Kamu baru saja mengatakan hal yang aku pikirkan!!). Alice tersenyum. “ Bingo!” kata Cynthia yang muncul dari pintu Selatan. “ Idemu brilian sekali Alice!” kata Daisy yang muncul dari langit – langit, terdapat pintu dari langit – langit yang bisa dibuka, pasti dari situlah muncul boneka dan darah palsu itu!

Alice mengibas – ngibaskan tangannya. “ Ah, jangan begitu. Heather-lah yang harus kita beri terima kasih. Aktingmu perfect!” Heather menyibakkan rambutnya.

“ Thanks.” Katanya sambil tersenyum. Aku merasa mau bunuh diri saja. “ BTW, bayangkan apa yang terjadi jika video ini masuk Youtube?” tanya Cynthia sambil mengangkat video kamera. “ Oh, berilah judul ‘ 4 orang gila’.” “ Hahaha!! Setuju!!”
“ Aku keluar dari sini.” Kata Hugo marah sambil keluar lewat pintu Utara. Kita bertiga menyusulnya.

Sambil berjalan ke arah rumah masing – masing, kita bereempat masih mengumpat – ngumpat dan saling berkomentar pedas tentang cewek – cewek itu.

“ Sialan!”
“ Apa? Sialan? Lupakan sialan! Gunakan #@&)$# saja!!”
“ Ooooh, kasar banget.. tapi kalau dipikir – pikir lagi. ITU KATA YANG TEPAT!!”
“ Itulah mengapa!”
“Grrr!! Ini jam berapa?”
“ Ryke, jam Hp!”
“  #@$*)(^&%!! Oh, maaf. Jam… 2 . PAGI.”
“ Kita disekap selama 2 jam?!”
“ Terasa cepat… atau lambat?” kita saling pandang geram. Kemudian terjadilah keajaiban itu. Hugo tertawa. Pada awalnya aku berpikir dia kerasukan Bloody Mary ( LAGI) tapi setelah itu, aku sadar ia hanya menertawai tampang kita, para cowok Nerdy yang tidak mengerti benar situasi kita dimana dan sedang cemberut bak monyet gorilla. Aku mulai tertawa. Aaron terkekeh. Ethan terbahak. Kita tertawa terus hingga perutku mau meledak dan suaraku serak. Kita pulang ke rumah masing – masing secara diam – diam, tapi di dalam hati kita, kita sudah sangat teramat lega. Tengkaran konyol kita sudah selesai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Si Baka Punya Cerita

Temukan Info Baka di Sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: