AYWMEN Bab 18 : “…..!!”(fill in blank) Oh Tidak, Kamu Sakit??

Sudah agak lama sejak kejadian tengkaran, dan Nerd Club sudah kembali, well… nerdy. Lagi. Beberapa kejadian konyol sudah berlalu di rumahku, hingga aku juga agak malu kalau harus cerita. Contohnya, Mom meninggalkanku dan Ashley dengan ditemani dengan baby sitter terparah itu, membuatku marah padanya. Saat aku teriak, “ Mom meninggalkan Ashley sendiri denganku DAN DENGAN CEWEK?! Bagaimana bisa?!” “ Bisa saja.” Kata Mom praktis, ia mengibaskan rambutnya memakai kacamata hitamnya, berpose ala ‘dancing queen’ dan berteriak, “ ‘CUZ I’M A FUNKY MAMA!” Lagu ‘Beat It’-nya Michael Jackson meledak secara bersamaan dengan teriakannya. Aku menoleh ke arah stereo. Dad yang menyalakan music itu. Dad mengangkat bahu, “ Aku disuruh oleh ibumu.” Katanya defensif.

Terus, terus, juga ada kejadian aku dan Ashley pergi ke tempatnya Gran, nenekku yang baik hati dan mantan penyanyi rocker, dan membesarkanku hingga umur empat…. Tapi cerita – cerita itu akan harus menunggu. Karena sekarang, kita masuk September… dan bahkan, SEPTEMBER TANGGAL 27.

Aku seharusnya ingat apa yang akan terjadi pada 27 September!! Jika kalian menebak ‘sial’?? Kalian benar. 100 poin!! Nah, sehari sebelumnya, aku pasti dibuat lupa oleh berbagai hal yang baik –baik… aku tidak akan dimarahi kalau main game terus… ulangan di hari itu akan berjalan lancar tanpa aku harus belajar… dan aku baru tahu kalau jika aku punya teman, teman – temanku juga akan lebih senang membicarakan topik favoritku! Puncaknya, aku akan tidur tanpa gangguan. Sampai aku sadar keesokan harinya… hidup tidak mungkin seindah itu.

( 27 September tahun ini)

Aku bangun dengan kepala yang pusing , BANGET. Perutku mual dan aku nyaris tidak bisa berjalan lurus. Dan… HEI!! Aku tidak minum bir!! Kembali ke topik awal… waktu jam wekerku bunyi, aku harus memegang kepalaku suapaya bisa mematikannya dengan benar saking pusingnya. Kulihat jadwal sekolah di agendaku. Ulangan Bahasa Inggris hari ini. Tidak mungkin aku tidak masuk sekolah, ADA ULANGAN! Reputasiku sebagai “ anak cowok yang mendadak pintar” bisa hancur.

Yah, aku disambut oleh Mom dan Dad dengan “…….!!!” ( fill in blank) yang keras sekali, aku tambah pusing. Aku cuma tersenyum. ( Jika aku beritahu mereka aku sakit, mereka akan memaksaku meminum obat super duper pahit yang aku tidak suka. Plus, tidak sekolah). Aku akan memberitahu mereka aku sakit saat pulang sekolah saja pikirku. Entah bagaimana, aku berhasil menyeret diriku sendiri ke sekolah. Pusingku selalu muncul-hilang-muncul-hilang. Dan hari ini terasa sangat dingin sekali, aku sampai pakai jaket. Saat muncul di lokerku, Hugo menatap ke arahku dengan alis terangkat.

“ Dude, kenapa kamu?” “ Ha?” “ Pakai jaket, dan dari tadi kamu bersandar ke loker sambil meringis – meringis gitu. Kamu sakit?” tanyanya. “ Aku tidak sakit.” kataku sambil menarik buku Inggrisku keluar dari loker. Hugo menyentuh tanganku. “OWW!! Ryke, gila! Tanganmu panas banget!!” teriak Hugo. Aaron dan Ethan menoleh kaget. “ Ha?” “ Ryker sakit? Tumben banget?” Aaron menyentuh tanganku juga. “ BUSET!! Gila, itu lebih dari 100 derajat celcius!!” Ethan mengangkat alisnya, “ Mungkin kamu harus pulang.” Usulnya. “ Pulang? Aku baru sampai sekolah dan aku disuruh pulang?! Dude, hari ini ada ulangan bahasa Inggris, dan aku….” Aku berhenti di tengah – tengah kalimatku karena terbatuk. “ See? Kamu sakit.” bantah Hugo. “ So what?” tanyaku menatapnya kesal sambil terbatuk lagi. Kita melewati pelajaran 1,2,3… dan bertemu dengan pelajaran Bahasa Inggris. Aku super duper pusing hingga dari tadi memegang kepalaku terus. Aku menggoreskan jawaban terakhir untuk soal itu dan langsung memijat jidatku.

“Ryker? Apakah kamu sudah selesai?” Aku terbatuk sedikit. “ Iya.” Jawabku. Miss Helen tersenyum kecil. “ Saya perhatikan kamu dari tadi tampak sakit? Apakah kamu perlu ke UKS?” tanyanya. “ Tidak.” Jawabku singkat. “ IYA.” Jawab anggota Nerd Club yang lain bersamaan. Miss Helen berdiri dan mulai berjalan ke arahku.

“ Dia sakit panas, miss!!” kata Hugo. “ Mulut ember.” Gumamku kesal padanya. Hugo nyengir lebar. Miss Helen memegang leherku sambil berkata, “ Kamu sakit ap-… Wow. Panas.” Katanya cepat sambil langsung menarik tangannya menjauh dari leherku. “ OK, ada yang mau mengantarkan Ryker ke UKS?” “ SAYA!” teriak Hugo mengacungkan jarinya. Miss Helen mengerjap, lalu mengambil kertas ulangan Hugo.

“ Mr. Hugo Johnson…” ujar Miss Helen, menekankan namanya Hugo, ”Saya yakin sekali… Anda menggunakan kesempatan ini untuk 2 hal. Pertama untuk mengantar teman Anda, dan kedua untuk lari dari ulangan ini?” Hugo mengangkat ibu jarinya, “Betul!” katanya. Sekelas tertawa. Miss Helen mengembalikan kertas ulangannya. “Kalau begitu, permintaan Anda tidak saya kabulkan. Anyone else?” Tidak ada yang angkat tangan. “ Siapa yang sudah selesai?” Koreksi Miss. Helen. Cuma ada satu orang yang mengangkat tangannya, Alice. Cewek itu memang bakat alami di Inggris… SIALAN!  “ Alice, bisakah Anda mengantar Ryker?” Alice memiringkan kepalanya sedikit, air mukanya jelas berkata kalau ia bisa tapi tidak mau. “ Tolong?” Alice menghela napas secara pelan dan berdiri. “ Ryker. Ikut dia.” Kita berdua ke UKS setelah itu.

Kembali aku berhadapan dengan situasi yang melibatkan ALICE. Urgh. Benci banget.
“ Tumben kamu sakit?” tanya Alice dengan nada cuek. “ Semua orang bisa sakit, kan?” tanyaku kesal. “ Hei, aku masih berbaik hati menemanimu ke UKS, dan ini bagaimana kamu berkata – kata denganku?” “ Yeah!” Alice menatapku kesal. “ Anyway, apa benar kamu sakit?” tanyanya. “ Kurasa kamu agak telat menanyakan hal itu. Tapi… iya. Memang aku merasa SEDIKIIIT… tidak enak badan.” “ Hmmm… nah, itu UKS.” Kata Alice sambil menunjuk sebuah ruangan. Aku tidak masuk. “ Well? Ayo!” Kita masuk ke ruang UKS, aku didorong oleh Alice. “ Oh, siapa yang sakit?” tanya seorang suster. “ Dia!” kata Alice sambil menunjukku. Suster itu menyuruhku duduk. Dan melakukan check-up. “ Lepas bajumu.” Kata suster itu. Muka Alice langsung memerah. Aku menatapnya dengan agak malu. Tunggu dulu, ngapain dia disini? “Ngapain kamu disini?” tanyaku ke Alice. “ LEPAS BAJUMU.” Kata suster itu lagi. Aku membuka satu per satu kancing bajuku. “ Yah, aku kan sudah selesai ngerjain ulanganku dan… OK, kamu tahu apa, aku akan lihat ke arah yang lain.” Aku memandang ke arah badanku. Memangnya ada apa? WHAT? WHAT?! Memang aku tidak punya six pack… atau 8 pack… atau 4….3…2….pack… OK, stop.

Suster itu berhenti memakai stetoskop. Aku memakai bajuku lagi. Dia mengambil sebuah thermometer automatic dan mengukur suhu badanku. Beep, ( btw, itu bukan mezzo, tapi suara thermometer itu sukses mengukur suhu.) “ OK, mau tahu kamu sakit apa?” “ Apa?” “ Demam. TINGGI. Sebaiknya kamu tidur dulu.” Katanya sambil mendorongku ke tempat tidur yang ada di situ. “ Berapa suhunya?” tanya Alice iseng. “ 39,9.” Jawab suster itu. Alice mengerjapkan matanya. “ Hah?” “ 39,9.” Ulang suster itu. “ Tapi, pada orang – orang tertentu mereka sudah tidak bisa bangun dan berjalan dengan suhu seperti itu!” protes Alice sambil mengerling ke arahku. “ Hmm… kamu menyembunyikan fakta kamu sakit dengan ahli. Lain kali, langsung saja ke UKS kalau tidak enak badan, OK?” kata suster itu ke aku.

Suster itu tersenyum kecil kemudian menyuruhku tidur sekali lagi, jadi aku melepas jaketku, serta sepatuku, kemudian duduk di tempat tidur. Suster itu menghilang setelah itu. Alice tampak agak canggung. Kurasa aku lebih lagi. “ Ummm…” katanya agak ragu – ragu. “ Apa?” tanyaku. “ Kamu seharusnya tidur.” Katanya dengan suara kecil. “ Aku tahu..” gumamku pelan sambil menidurkan kepalaku di bantal dan masuk ke bawah selimut. Dia mengambil kursi dan duduk di sebelah tempat tidurku. “ Kenapa kamu tidak kembali ke kelas saja?” tanyaku mulai merasa tidak enak. “ Kamu tahu apa? Aku pasti bosan menunggu kalau di kelas. Toh ulanganku sudah selesai. Lebih baik aku mengejek kamu saja disini.” Katanya. Aku memutar bola mataku. Dia tertawa jahat.

“Bagaimana rasanya sakit?”
“ Kurang aj– cih, memangnya kamu tidak pernah sakit?”
“Hei, aku lebih pintar dari kamu. Dan.. ya, aku pernah sakit, sekali, dua kali.”
“ Lebih pintar dari aku? Asal kamu lupa, aku sebenarnya pintar, dan nilai ulangan mat-ku yang minggu lalu lebih tinggi dari punyamu.”
“Urgh! Jangan membahas soal itu lagi!”
“ Nilaiku lebih tinggi.. lalalalalala!!” Alice tampak kesal sekali.
“ Yang pasti rasanya tidak enak.”
“ Kalau apa?”
“ Kalau sakit. Kan kamu tadi tanya bagaimana rasanya kalau sakit.” Dia menaikkan alisnya.
“ Demam setinggi itu… bukannya kamu harusnya pusing?”
“ Kalau tiduran seperti ini tidak juga.”
“ Hmm… baguslah.” Aku terbatuk sedikit. Dia mengulurkan tangan kirinya. Aku menatapnya heran.
“ Kenapa tanganmu?”
“ Kalau aku sakit aku lebih senang kalau memegang tangan seseorang.” Balas Alice.
“ Dan kamu berharap aku memegang tanganmu?”
“ Tidak berharap, hanya berusaha membantu.”
“ Terima kasih atas USAHAmu. Tapi aku tidak memerlukannya.” Kataku mencoba terdengar sopan.
“Yakin?”
“ Tidak juga.”
“ Jadi kamu mau memegang tanganku?”
“Tidak juga.”
“ Sudahlah, Ryke. Kamu kan sakit. Dan aku mau bantu.”

Aku menatapnya. Dia balas menatapku. Dengan pelan, aku mengambil tangannya dan membiarkannya menggandeng tanganku. “ Nah. Lebih enak bukan?” tanyanya dengan nada seperti ngomong “ Aku sudah beritahu kamu!” Aku memiringkan kepalaku sedikit. “ Tidak, apalagi kamu meremas tanganku terlalu keras. Ow…” “ Itu salah satu dari sedikit alasan kenapa aku mencoba menggandeng tanganmu. Biar aja patah.” “ Dasar… ada udang di balik batu..” dia tertawa kecil. “Keren juga kamu, bisa sakit!” ejeknya. “ Ouch! Hei, jangan keras – keras!” aku menceletuk saat ia meremas tanganku dengan keras. “ Hahaha…” tawanya. Aku menoleh ke arah lain, menutup mataku dan mencuekinya selama 5 menit. Lama – lama, dia tidak lagi mengejekku dan ikut diam. Tangannya masih memegang tanganku. Beberapa saat kemudian, aku tertidur.

  * * *

                  “ Dia bangun tidak sih?” aku terbangun saat mendengar suara. Lalu berusaha tidur lagi. Masih mengantuk, tapi suara itu keras.. “ Ssst! Jangan keras – keras!” “ Rasanya sih dia tidur… harusnya.” “ Yeah. Harusnya.” “ Terus ngapain kita ngeliati dia tidur?” “ Heh, ini namanya membesuk. Ya kalau tidur ataupun tidak ya harus duduk atau berdiri menemani.” “ Ssst!! Jangan keras – keras! Suster tadi kalau menegur bisa mengerikan sekali!” Akhirnya aku batal tidur dan duduk.
“ Ngapain kalian?” tanyaku ke arah Nerd Club dengan mengantuk. “ Hua! Dia bangun!” “ Kalian berbisik sama teriak nggak ada bedanya.” Kataku sambil menguap dan mengulet. Aaron tertawa, “ Sori kita membangunkanmu.”
Aku mengangguk pelan. “ Ini jam berapa?” tanyaku. “ Lagi istirahat. Sekitar 10 menit lagi kita harus pergi.” “ Oh.” “Yeah, kita makan dulu. Tapi untung kita makan sebelum ke sini.” kata Ethan, berubah serius. “Kenapa?” “ Karena kita sempat melihat siapa yang membesukmu duluan. Tebak siapa?” tanya Hugo. “Alice.” jawabku yakin sambil mengangkat bantalku dan mencoba duduk bersandar ke bantal. “ Lho, jadi kamu tahu?” tanyanya lagi. “Cuma tebakan. Dia kembali ke kelas, kan?” “ Yeah, tapi kita sampai heran kenapa dia lama banget kembali ke kelas. UKS kan nggak jauh – jauh amat. Heran kok dia nggak dimarahi Miss. Helen.”

Aku menggaruk rambutku. Dia telat ke kelas hanya karena mengenggam tanganku? Ngapain dia mau melakukan hal itu? Tidak masuk akal.. “Bagaimana rasanya? Lebih sehat?” tanya Ethan. Aku mengangkat bahu. “ Kalau duduk seperti ini masih pusing.”
“ Kalau begitu kita permisi dulu saja biar sang putri tidur.”
“ Maksudnya lho…”
“ Hahaha.” Aku menatap ke arah mereka. Apakah mereka tahu kalau hari ini tanggal 27 September? Baru aku mau ngomong..mereka pergi karena diusir oleh suster itu. (“membesuk macam apa yang pakai teriak – teriak?! Keluar!”) aku disuruh tidur lagi, dan berniat melakukan itu saat pintu UKS terbuka dan ada orang lain yang ingin mengunjungiku.
“ Heran hari ini aku jadi populer.” Gumamku sambil tertawa kecil. Seorang gadis yang cantik muncul di depanku. “ Hei Alice.” “Tumben menyapa.” Aku tertawa kecil lagi. “ Kamu kembali ke kelas sampai telat. Itu baru tumben.” Dia duduk di kursi sebelahku lagi. “ Aku bisa kembali ke kelas kapanpun aku mau.” “Kamu tadi mengunjungiku lagi ya? Waktu aku masih tidur.” “ Waktu awal – awalnya istirahat, Iya. Bagaimana kamu tahu? Suster memberitahumu?” “ Yah… tidak juga. Tapi tidak ada yang perlu di-khawatirkan. Anyway, kenapa kamu menjenguk lagi?” “ Karena aku lupa sesuatu.” Katanya sambil mengernyitkan dahinya. “Aku kembali sekarang karena alasan yang sama. Aku merasa seperti ada yang aneh. Seperti aku lupa sesuatu setelah menemanimu ke UKS.” “ Barang ketinggalan?” “Tidak… well. Terasa seperti itu, tapi tidak ada satupun barangku yang ketinggalan disini.” Aku ikut memikirkan hal itu. “ Rasanya ada yang aneh.” Ulangnya lagi, sambil menggigit bibir bawahnya. “Hmmm… ini hari apa?” “ Senin.” “ Tanggal??” “ 27 September.” Jawabku langsung. “ Hm. 27 September… aduh!! Aku sama sekali tidak ingat!” katanya frustasi. Aku tertawa kecil. “ Bagaimana kalau kita omong – omong sebentar? Aku pernah dengar kalau setelah berbicara kadang kita bisa ingat sesuatu.” “ OK, itu bagus… bagaimana kamu, sudah sehat?” Suster tadi muncul sebentar untuk mengambil kopi dan mengatakan sesuatu dari balik gorden. “ Suhunya menurun jadi 39.6 saja.” Alice mengerjapkan matanya, “ Itu bagus… harusnya.” Kudengar langkah kaki suster itu menghilang. “ OK…. Umm… harus ngomong – ngomong… ooh! Aku tahu, bagaimana Ashley?” “Biasa. Kenapa?” “Aku sudah agak lama tidak menjaganya. Penasaran bagaimana dia sekarang.” “ Dia baru saja potong rambut.” Kataku, ingat model rambutnya Ashley yang sekarang lebih pendek.“ Kyaaa!! Pasti tambah imut.” “ Demi celana Spongebob, Alice! Mukanya sama persis sama aku dan rambutnya sehitam punyaku dan kamu membedakan kita seperti ratu dengan budak!” protesku kesal. Dia tertawa terbahak – bahak. “ OK… OK… dasar kakak sensitif yang bodoh.”Aku menghela napas panjang dengan kesal. Dia memiringkan kepalanya sedikit.

“ Hei Ryker, kamu umur berapa?” aku terbatuk secara spontan. “ Kenapa kamu mau tahu itu?” “Nggak tahu. Mendadak pingin tahu.” “ Apakah aku terlihat TUA bagimu? Memangnya kamu ulang tahun kapan?” Alice memiringkan kepalanya ke kanan. “1 Februari.” Aku menaikkan alisku. “ Jadi sudah lewat?” “ Ya.” “ Aku tidak tahu sama sekali… sori agak telat. Happy Birthday.” Ucapku sambil menyalaminya. Dia berterima – kasih dengan sopan dan diam. “ Kamu kok nggak ngomong kalau ultah?” tanyaku lagi. “ Yah, aku tidak mencoba memberitahukannya ke banyak orang.” Jawabnya dengan nada datar.“Oh. Jadi kamu tidak bikin pesta begitu?” “ Tidak.” “Hmm.”

Dia membuka mulutnya dan berkata, “ Kalau kamu… kapan kamu ulang tahun?” aku menggaruk kepalaku. “ Well…” TEEET!!!! Bel yang berbunyi secara tiba – tiba itu membuatku nyaris melompat. Suster tadi muncul dan berkata ke Alice, “ OK, waktu telah habis. Silakan kembali ke kelas.” Alice berdiri dan berjalan ke pintu keluar. Saat mau menutup pintu, mendadak matanya membesar dan dia berkata, “ Tunggu!” tapi suster itu sudah menutup pintu itu dan Alice sudah harus kembali ke kelas. Aku menidurkan kepalaku lagi dan bertanya – tanya apakah dia sudah mengingat apa yang ia lupakan itu. Tidak lama kemudian, aku tertidur lagi. ( dasar babi.)

* * *

                     Kali kedua aku terbangun adalah karena diguncang pelan oleh sebuah tangan. Saat kulihat siapa yang mengguncangku, ternyata dia Hugo. “ Hei, dude. Sori membangunkanmu. Tapi sudah lebih dari setengah jam sejak jam pulang.” Aku duduk dan mengerjapkan mata mencoba fokus. “ Kamu nggak pulang?” tanyaku ke dia. Dia menggeleng. “ Kupikir tidak benar pulang saat kamu masih di sekolah.” “ Thanks.”

“ Well, Ethan dan Aaron tadinya mau begitu juga. Tapi Aaron harus menjaga rumahnya dan Ethan ditelpon ayahnya. Aku tahu.. jarang kan? Jadi dia langsung pulang.” Tambahnya buru – buru. Aku mengangguk – angguk sambil turun dari tempat tidur. Sambil memasang sepatuku aku bertanya, “ Siapa yang bawa tasku?” Hugo memandangku heran. “ Nah, kita juga tidak tahu! Saat mau membawa tasmu, kita baru sadar ada orang lain yang sudah membawanya. Kupikir ada yang sudah mengantarnya ke kamu!” aku melongo.
“ Tunggu, aku tidak pernah mendapat tasku!” Hugo melongo juga. “ Oh tidak…. Jadi tasmu hilang?” aku menarik jaketku, kemudian terbatuk. Pusing itu muncul lagi. “ Tasku tidak mungkin hilang.” Kataku sambil berdiri dan mencari suster itu untuk berterima kasih. Setelah aku berpamitan, aku dan Hugo keluar dari UKS dan mencari tasku. “ Mungkin ada guru yang mengantarnya ke rumahmu.” “ Tidak mungkin…” “ Atau mungkin di lokernya kita?” “ Aku sudah cek, tidak ada apapun di sana.” “ Di kelas juga sudah tidak ada… tempat lost and found?” “ Kita melewatinya barusan, tidak ada apa – apa selain botol minuman dan pensil hilang.” Aku memegang kepalaku dengan pusing dan frustasi dicampur. Hugo mengecek jamnya, “Oh tidak…” gumamnya takut. “ Kenapa?” “Ibuku akan membunuhku kalau aku tidak pulang dan memasak sekarang.” Katanya panik. Aku menelan ludah. “Pulanglah, aku cari sendiri tasku.” Kataku. Dia menggelengkan kepalanya, “Tidak mungkin! Kamu berniat mencari tasmu dengan kondisi pusing dan panas?” “ Yeah. Pulanglah Hugh, aku bisa melakukannya.” Hugo berprotes tapi aku lebih pintar debat. Hingga akhirnya, dia pulang ke rumahnya dengan menurut. Aku menghela napas panjang, dan pergi ke ruang yang dari tadi ingin kudatangi. Ruang pimpinan sekolah. Aku mengetuk pintu ruang itu. Terdengar suara yang berkata, “ Masuk.” Aku membukanya. 4 cewek yang aku kenal dan beberapa cewek kakak kelas yang lain memandangku kaget. “Ryker?”

Heather melepas kacamatanya, “ Aku pikir satu – satunya orang yang mau bertemu kita cuma si Michelle dari kelas 7A?” “Yang sudah membikin janji untuk bikin acara, iya. Kamu harus bikin janji dulu.” Kata Daisy ke aku. Aku mengangkat tanganku, “ Bukan, em, aku ke sini karena ingin tahu, apakah ada yang melihat tasku?” “ Tasmu?” ulang 3 cewek. Aku mengangguk. “Aku mau pulang, tapi tasku tidak ada.” Alice membuka lemari dan menarik sebuah tas merah bergaris hitam. “ Maaf, aku menyimpannya agar aman tapi lupa bilang ke kamu.” Katanya sambil menyerahkan tas itu ke aku. Aku mengangguk “ Thanks, aku pulang dulu.” Mereka bergumam ‘ iya’ dan aku keluar. Aku memakai tasku dan berjalan menjauh. Menghitung… 5…4…3…2…

“ Ryker!” panggil suara cewek yang sudah kukenali. Bingo!! Aku menoleh. “ Aku sudah tebak kamu yang ambil tasku.” Ujarku. Alice mengerjapkan mata. “Bagaimana kamu tahu?” “ Kamu ingat yang kamu lupakan, bukan? Dan kamu ingin beritahu apa yang kamu ingat itu. Tadi waktu keluar UKS, kamu ingat.” Dia memiringkan kepalanya.
“ Gila, ternyata kamu memang pintar.” aku merasa sedikit tersinggung tentang itu, tapi biarlah. Dia berjalan ke arahku. Kemudian berkata, “ Yeah, memang benar, aku ingat apa yang aku lupakan. Aku ingat sesuatu tentang kamu.” Aku menelan ludah.

“ Oh ya?” “ Ya.” Dia berdiri di depanku, kemudian menarik tanganku dan membisikkan sesuatu ke telingaku. Aku tersenyum. “ Kamu satu – satunya orang di sekolah yang mengatakan itu.” “ Hmph. Aku hanya bersikap sopan.” “ Hahaha, judes amat… thanks.” Dia memukulku. “ Ow! Hei, kamu benar – benar harus belajar untuk tidak sembarangan memukul.” “ Itu karena merahasiakan hari pentingmu.” Kemudian ia mengeluarkan senyuman killer-nya dan berkata lagi, “ Aku menyelipkan kue di tasmu. Kalau yang itu karena kamu sakit pada suatu hari yang sepenting ini. Turut berduka.” Aku menggaruk leher belakangku, “ OK… well, aku pulang dulu, bye cewek aneh.”
“ Cowok gila.”
“ Freak.”
“ Idiot,”
“ Dodol.”
“ Bodoh.” Aku menghentikan langkahku.
“ Hei, bagaimana kamu tahu aku hari ini u-..” tapi saat aku menoleh, Alice sudah kembali ke ruangannya. Aku menghela napas panjang. Tambah satu pertanyaan lagi ke ‘tumpukan pertanyaan ke Alice pada saat yang tepat.’ Aku duduk di lantai dan mengambil keluar kue dari Alice yang dibungkus plastik. Aku tidak mungkin diijinkan makan kalau sudah sampai rumah dan ketahuan sakit, jadi aku memakannya dengan kelaparan ( nggak makan waktu istirahat). Setelah menelan sisa kue yang manis dan membuang plastik itu di tong sampah, aku memakai tasku dan berjalan.

Sambil memegang dahiku yang panas, aku berkata pada diriku sendiri, “ 27 September…” kemudian tertawa kecil dan menurunkan tanganku. Tersenyum sedikit, lalu berjalan pulang. “ Happy birthday to me.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s