AYWMEN Bab 19 : Ryker Suka Alice! Tunggu.. APA?!

Ethan dan laptopnya sudah nyaris berciuman. Dahinya mengkerut seperti orang tua dan kacamatanya sampai melorot. Tangannya tidak berhenti mengetik di keyboard. Kalau sudah sampai seperti itu, pasti dia sedang hacking dan terputus dari dunia nyata. Aku mengalihkan pandanganku ke Aaron. Dia sedang membaca buku pengetahuan soal berapa panjang satu gulungan tisu toilet. Aku menoleh ke arah Hugo. Ia sedang menulis laporan berbahasa politik untuk detensi ( yang ia dapat dari Heather kapan hari.) Aku memandang ke arah apa yang sedang kukerjakan. Tidak ada. Aku menarik napas dalam dan mengeluh. “ Kenapa? Masih sakit?” tanya Aaron sambil membalik halaman bukunya. “Tidak, hanya bosan.” Aaron mengangguk dan menurunkan bukunya, “Sama.” Mendadak Ethan mengumpat pelan. “ Kenapa?” tanyaku heran. “ Aku bosan hacking. Aksesku ditolak terus.” Kita menoleh ke Hugo yang menguap sambil menyatakan sesuatu : “Laporan ini tidak akan selesai hari ini ataupun besok, ataupun 300 tahun lagi.” dilemparnya bolpen itu.

“ Aku bosan.” Kataku lagi. “Wow, sindrom ‘ aku bosan hingga setengah gila dan menjadi manja’ telah menyerang Ryker.” “Enak aja.” Protesku. Hugo nyengir dan mengambil buku perang dari balik tumpukan tisu toilet. Ethan mengetik lagi sambil berkata, “Kita sudah agak kasar kapan hari, bagaimana kalau minggu ini kita minta maaf secara halus ke mereka?” “Dengan apa? Telur cicak lagi?” “ Dodol..” Setelah agak lama mendengarkan mereka berdebat tentang perang, aku berdiri dan membuka pintu janitor, “ Aku keluar sebentar.” Kataku. Langkahku terhenti. Aku terkesiap, masuk kembali, dan membanting pintu janitor. “ Sialan!” desisku panik. “ Kenapa?” tanya Ethan. Hugo mengangkat mukanya dari buku perang. “ Ada… ada!!”

“ Monster?” usul Hugo.“ Zombie?” tanya Ethan. “ Godzilla??” tambah Aaron.“ CEWEK!!” jawabku.
3 cowok langsung menatapku dengan pandangan ‘ seriously?’. “ Terus kenapa kalau ada cewek? Memangnya dia bloody mar–“ “ JANGAN SEBUT NAMA TERKUTUK ITU KE AKU!!” jeritku. ( Baca kembali bab 17, aku jelaskan soal cerita horror itu kan?) “ Ayolah Ryke, kamu memang Nerd, tapi kamu masih bisa ngomong dengan satu cewek aja, kan?” “ Masalahnya bukan itu.” “ Terus?” “Cewek itu… Cynthia.” Mereka semua saling pandang. “ HUAAAA!!!” jerit mereka bersamaan. “KENAPA BARU NGOMONG SEKARANG?!” “ Karena aku panik?” “ Kok malah bertanya?! Apakah dia melihat kamu masuk kembali ke sini?” “ Mungkin!” “ Mungkin?” Hugo menempelkan telinganya ke dinding. “ Ada langkah kaki… mendekat.. oh.. menjauh. Tunggu ada yang lain. Oh no, no,no, TIDAK!! Ada yang mendekat!” “ Dia ke sini?” “ Iya!”. Ethan mendorongku. “ Good luck, Ryke.” Ia menodorongku ke pintu, menyuruhku keluar.“ What the hell?” kataku spontan dan menepis tangannya. Aku kehilangan keseimbangan dan mengenai Hugo. Hugo yang terlalu fokus menyembunyikan kembali buku perang langsung jatuh dan mendorong Aaron. Aaron menabrak pintu dan memegang gagangnya. Aku, Hugo, dan Ethan saling mengunci di lantai, kita bertiga mengangkat kepala dan melihat Aaron. “ Keluarlah!” bisik kita bersamaan. Aaron menggeleng takut. Kita bereempat saling menendang dan mendorong di ruangan super sempit itu. Suatu saat, Aaron membuka pintu dan terjatuh keluar. Kita bertiga menutup pintu itu bersamaan dengan punggung kita. Terdiam sebentar, sambil terengah – engah. Butuh waktu setengah menit untuk sadar Aaron sendirian diluar sana dengan Cynthia. Hugo melihat dari lubang kunci. Ethan menemukan 2 gelas dan memberikan satu ke aku. Kupasang gelas itu di telinga untuk mendengarkan pembicaraan mereka.

“ He-hei, Cynthia…” kudengar Aaron berkata dengan nada takut.
“ Aaron? Ngapain kamu di ruang janitor?”
“ Oh, ya kamu tahu… er… mengambil tisu toilet?” aku mengalihkan pandanganku ke kotak tisu toilet. Kotak itu jatuh dan tisu ada dimana – mana. Pasti tadi jatuh dan Aaron mengambil satu.
“ Oh? Benar… well, aku juga mau ambil tisu toilet. Harus refill sekarang kalau tidak pasti habis dan ada protes!”
“ Oh.. ok… erhm, ambil ini saja, yang di toilet cowok nggak habis kok.”
“ Oh, tapi aku juga harus isi yang di toilet cowok!”
“ Tapi tisu tidak habis di toilet co-“
“ Nah, Aaron, bukan masalah habis atau tidak. Aku akan pergi untuk waktu yang lama dan tidak akan ada orang yang mengisi tisu toilet!”
“ Pergi? Memangnya kemana?”
“ Oh, kamu tidak dengar? Kupikir semua orang tahu. Semua cewek sekolah ini akan pergi untuk studi wisata khusus cewek. Perintah kepsek. Tidak bisa ditolak.”
“ Tunggu… apa?”
“ Yeah, cowok dilarang. Sori.”
“ Tunggu…APA?”
“  Anyway… aku akan mengambil yang ini sekarang. Jadi aku harus duluan. Oh, dan siap –siap detensi, nanti kita akan mengutukmu!” Kudengar Cynthia berjalan menjauh. Pelan – pelan kubuka pintu itu. “ Tunggu… APA?!” teriak Aaron.
“ Heh..??” gumamku pelan.

 * * *

                  Well, Cynthia tidak bohong. Sekitar seminggu kemudian, sekolah kita tidak berisi satu pun murid cewek. Kemana mata memandang, yang ada hanyalah segerombolan cowok – cowok. Bahkan ada klub baru! “ Klub Pacar laki – laki yang sedang ditinggalkan ceweknya.”  Kedengaran bodoh, dan memang bodoh.

Kehilangan murid cewek merupakan perubahan berat pada sekolah. Lebih banyak terjadi perkelahian dan cowok – cowok tidak lagi bicara sopan. Setiap menit, kamu pasti mendengar seseorang mengumpat kasar. Sebagai Nerd Club yang jarang mengumpat dan menghindari perkelahian, kita merasa seperti orang suci di lautan orang kanibal. Ethan mendapat info kalau cewek – cewek itu akan kembali setelah 5 hari dan 4 malam. Pada hari ketiga, ini terjadi pada Nerd Club:

“ Ryker, aku tahu kamu akan membenciku setelah ini, tapi kurasa kamu jatuh cinta sama Alice.” kata Hugo dengan nada menceritakan game baru. Aku menjatuhkan pensilku. “APA?!” teriakku dengan heran campur marah. “Serius! Dalam 3 hari kamu tidak bertemu dia, kamu telah berubah menjadi sosok cowok emo yang terus menerus mengerling ke arah tempat duduk Alice yang diisi cowok lain.” Aku menggeleng – gelengkan kepala, dan menaikkan kacamataku ( aku tidak bisa fokus melihat papan karena begitu banyak anak cowok yang berdiri dan berkelahi. Terpaksa pakai kacamata. Toh nggak ada cewek ber-rambut coklat yang akan meledekku..), “ Aku cuma senang dia pergi dan tidak menganggu kita lagi.” balasku.

Ethan menyikut kita berdua dengan penggaris dari meja belakang. “ Dude? Ini di tengah pelajaran Sejarah. Kenapa kalian membahas hal ini sekarang?” “ Karena satu kelas ini terlalu ramai dan tidak akan ada orang yang mendengar kita.”  “Hmm.. benar juga. OK, jadi Ryke? Kamu suka Alice?”
“ Aaron, tidakkah kamu ke toilet sekarang?” tanyaku mencoba mengganti topik.
“ Ah, pergantian topik. Cara klasik. Kamu memang suka dia.”
“ Tidak akan terjadi.”
“ Tapi sudah terjadi.”
“ Tidak akan!”
“ Ok, kamu tahu apa? Aku punya ide lain.”
“ Apa?” “ Kalian tahu film Ghosting?” tanya Ethan. Aku, Hugo, dan Aaron menggeleng. “Kemarin aku beli dvd-nya. Itu film horror. Bagaimana kalau kita nonton malam ini?” “What??” tanyaku kaget. “Hei, itu bukan ide jelek, film spontan, sudah lama kita tidak melakukan itu.” Kata Hugo sambil nyengir.

“ Ortu-ku pergi nanti malam. Rumahku? Jam 7?”  tanya Aaron. “Aku tidak ikut.” Kataku sambil mengalihkan pandanganku kembali ke buku paket sejarah. “Oh yeah, Ryker tidak ikut. Dia lebih senang duduk di kamarnya membayangkan Alice.” aku merasa rambutku lebih tegak dari sebelumnya. “ Ok, kalian tahu apa? Aku ikut.” Kataku marah. “ Yaaaay!!” “Ethan, sudah berkali – kali kita ngomong… jangan ngomong ‘yaay’ dengan suara cewek. Itu sangat culun!!” omel Aaron. Ethan mengangkat bahu. Mukanya mengatakan, ‘ aku tidak bisa melakukan apa – apa tentang itu.’  Aku  menghela napas panjang sambil berkata, “ Yo Aaron. Ada makanan tersangkut di kawatmu.” Aaron melempar buku paketnya ke aku. Buku itu meleset dan mendarat di mejaku dengan suara, GEDEBUG, yang keras. “ Itu yang dikatakan oleh cowok yang aku coba bantu dengan film horror?” tanyanya kesal.  Hugo tertawa, “ Aku yakin film itu tidak semenakutkan itu.”

***

                         Aku berhasil mendapat izin dari Mom untuk ke rumahnya Aaron. ( meskipun ia mencelotehiku tentang ‘ pulang jangan malam – malam’ sebelumnya.) sambil berjalan ke rumahnya Aaron, aku memerhatikan jalanan di malam hari. Ada beberapa orang yang sedang jalan – jalan malam. Pohon – pohon mencoba berebut oksigen satu sama lain ( OK, aku mungkin agak lebay soal itu..) aku berbelok di tikungan dan berpapasan dengan segerombolan anak sedang skateboarding. Pandanganku tertuju ke café yang dulu biasa kita kunjungi kalau pulang sekolah dan stress. Aku berjalan melewati café itu, dan mengetuk pintu rumahnya Aaron.

Hugo membukanya sambil nyengir. “ Hei, dia datang!” “ Woohooo!!”teriak salah seorang dari mereka di dalam. Aku berjalan masuk melewati ambang pintu dan syok. Seluruh ruang keluarga Aaron sudah menjadi ruangan untuk nonton film. Ada tumpukan pizza ( ada satu yang vegetarian buat Hugo), popcorn, dan gelas isi soda campur sirup campur es krim campur… yah, lupakan minuman itu saja.. anyway, Ethan sedang tiduran sambil mengetik di laptopnya. Dan aku yakin Hugo-lah yang bertanggung – jawab atas satu pizza yang jatuh di lantai itu.“ Kalau ortu-ku pulang lebih cepat, aku akan mati.” Kata Aaron sambil memegangi kepalanya. “ Mau nonton sekarang?” tanya Ethan. Aku mengangguk. Ia menutup laptopnya dan membuang pizza jatuh itu ke tong sampah. Aaron menutup gorden. Hugo yang mematikan lampu. Aku memasang DVD itu sambil berkata, “ Hei, DVD ini ditulisi ‘tidak untuk anak di bawah 16’.”  Hugo duduk di sofa itu. “ Hei, kita anak berumur 16 tahun… dikurangi 3 atau 4.” “ Yeah, Ryker. Pasang DVD itu sajalah. Kita bukan anak cewek yang takut gelap atau apa.” Aku memasang DVD itu. “ Kita tidak akan takut, kan?” tanya Aaron. “ Nggak mungkin…” kata Ethan sambil mengibas – ngibaskan tangannya.

DVD itu mulai main, aku ikut duduk di sofa dan menarik popcorn dari toples. Tentu saja, setelah itu, tidak ada satupun dari kita yang makan popcorn ataupun meminum dari gelas itu. Karena setelah itu, aku sadar betul larangan ‘ tidak untuk anak di bawah 16.’ Aku tidak ingat benar bagaimana kita berteriak dan menjerit sepanjang film itu dan aku tidak mau menceritakan soal film itu, ( kita sudah punya adegan horror di bab sebelumnya.) .. tapi beginilah kira – kira tanggapan kita sepanjang film:

“ Hei.. anjing yang lucu, mengingatkan aku tentang… OH MY!!!!”
“ Apa?! Dia hanya anjing kecil yang OOOWW!!!”
“ Oh!! Oh my!! OOOH!!! Gila!! GILA!!!”
Kita bereempat menutup mata.
“ Sudah berakhir??”
“ Yeah… pheew.. wow. OK, nah itu agak mengerikan.”
“ Yeah. Whew.”

Kita terdiam menatap TV itu dengan mata besar. sekitar 5 menit kemudian, Aaron tidak tahan lagi dan menjerit.

“ Aaron, bisakah kamu diam?” bisik Hugo sambil menyikutnya. Aku memberikan toples popcornku ke Ethan. Tapi ia juga tidak berselera makan.“ Aku tidak merasa aku bisa makan apapun sekar- WHAT?!” teriak Ethan.Aku melongo memandangi TV itu. Kita bereempat mundur hingga sofa itu ikut mundur sedikit. “ Aku tidak bisa lihat.” Kata Hugo sambil menutup matanya.

“ Gila….”
“ Selesai?”
“ Sud—BELUM!! BELUM!!”
“ Huaa!” kita bereempat terdiam dan memerhatikan TV itu lagi.
“ Itu dia.. itu dia!”
“ Mana hantunya?”
“ Ssst! Jangan dipanggil! Nanti dia muncul dan—HUAA!! YA KAN?! DIA MUNCUL!!”

( Sekitar 1 jam kemudian.)

DVD itu mati. Dan kita bereempat terdiam. Hugo berdiri dan menyalakan lampu. Ethan mengambil tas laptopnya. Aaron membersihkan  makanan – makanan yang ada. Dan aku mengeluarkan DVD itu lagi. setelah semuanya beres. Kita saling pandang. “ WHAT THE HELL?!” teriak kita bersamaan. “ Film apa itu?!” “ Aku tidak akan menonton film lagi. LAGI.” “Lupakan nonton film! Aku tidak akan bisa lihat kaca lagi!” “ Urgh, aku pulang sekarang.” Aku keluar dari rumah itu dengan hati kesal dan takut. Setiap beberapa langkah, aku memandang ke belakang dengan takut. Paranoid? Aku bilang ‘tidak mengambil risiko’. Aku membayangkan apa yang akan dikatakan orang – orang yang mengenalku sekarang. Dad pasti bilang, “ Cowok tidak boleh takut hantu!” Mom pasti bilang sesuatu seperti… “ Kalau memang takut ngapain ditonton?” Gran akan ngomong, “ Sesuatu seperti itu? Untukku? Kurang mantep.” Mr. Tyrell… yeah, dia pasti hanya tertawa dan merangkulku dengan satu tangan. Kalau paman Kira akan lebih paranoid dariku sekarang. Aku membuka pagar rumah dan masuk ke rumah yang sepi. Aku bersiap –siap mau tidur. ( anehnya saat gosok gigi pun aku tidak berani menggosok sambil melihat cermin. Bagaimana kalau ada hantu itu yang muncul di belakangku?) aku masuk ke kamarku, dan kali ini mematikan lampu setelah memastikan tidak ada apa – apa di bawah tempat tidurku dan di dalam lemariku. Sambil mencoba tidur sambil memikirkan sesuatu seperti padang rumput dengan berbagai macam kelinci dan kucing imut dan bukan hantu yang sedang menarik jantung manusia dengan kejam, aku menarik selimutku hingga menutupi seluruh badanku. Saat itulah muncul pertanyaan itu.

Apa yang akan dikatakan Alice? Aku melepas selimutku lagi. Kaget bagaimana pertanyaan itu muncul. Aku membalikkan badan dan berpikir. Well, dia mungkin berdecak sambil berkata, “ Itulah mengapa aku tidak menonton film hantu! Tidak worth it.”  Aku tersenyum kecil. Mungkin itu yang dikatakannya.Atau mungkin ia akan melipat tangannya ( tanda dia sebenarnya takut) dengan kesal jika ikut menontonnya sambil berkata, “Ngapain film bego ini diciptakan?”  aku tertawa kecil. Kemudian aku terdiam.

Jadi apakah kau suka Alice? kalimat itu terngiang lagi. aku menatap ke arah langit – langit dan  berpikir keras. Jika aku bersama Nerd Club, aku akan berkata “tidak” dan mengomeli mereka. Tapi mereka tidak ada di sini sekarang, jadi apakah aku menyukainya? Aku mengernyitkan dahiku. Yah, dia cewek cantik. Dan pintar. Dan juga lucu. Tapi ia juga gila, dan bisa menjadi sangat jahat jika diperlukan. Well, dia tidak pernah TERLALU jahat, dan saat terjadi kesalahan yang membuat kita benar – benar dihukum parah, dia selalu meminta maaf. Dan dia juga suka anak – anak dan binatang. Seperti Ashley dan Pilly contohnya. Dia bisa sangat sensitif, tapi kelihatan kuat pada saat yang bersamaan. Dan kadang  ia bisa mengerti seseorang lebih baik dari orang itu mengenal dirinya sendiri. Aku memutar badanku dan menghadap ke dinding. Alisku tidak lagi bertemu. Dia tahu sesuatu tentangku.

 Nah, itu yang pasti! Alice selalu, SELALU, berbicara dengan nada seakan – akan aku melupakan sesuatu. Cara bicaranya itulah yang sering membuatku berpikir sampai larut malam, mengorek – ngorek memori dari otakku. Tapi aku sama sekali tidak ingat apapun tentang Alice. Kita tidak pernah bertemu. Aku menghela napas panjang. Jadi apakah aku memang suka Alice hingga aku bisa memikirkannya sampai larut malam?  Aku terdiam. Kemudian memejamkan mataku, dan tersenyum nyaris tanpa sadar sambil membatin, well… mungkin aku sedikiiiit suka Alice.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: