AYWMEN Bab 20 : Kencan. KENCAN?!

Situasi sekolah yang barbar telah menjadi normal setelah seminggu kehadiran cewek – cewek. Meskipun ada banyak sekali anak cowok yang masuk detensi, kurasa kita semua ( terutama guru – guru) sangat lega ada cewek – cewek membawa peluit dan meneriaki kita untuk diam lagi. Anyway, lupakan situasi adanya cewek, karena kalian tidak mungkin menebak apa yang terjadi di ruang janitor minggu lalu. “Kalian tahu kan? November adalah sebulan sebelum festival. Grupnya Alice pasti super sibuk, ini saatnya kita menyerang!” kata Hugo dengan semangat. Ethan menggaruk kepalanya, “Well, iya sih. Tapi mau apa? Terakhir kali aku cek, mereka tidak melakukan apa – apa ke kita. Cuma menyebar gossip. Bukankah kita sudah bikin kesepakatan kalau tidak boleh menyerang habis – habisan kalau belum diserang habis – habisan?” “ Ah, ingat kejadian bulan Agustus. Kita diserang habis – habisan dengan hantu palsu.” Aaron mengingatkan.
“ Well, memang, tapi kita sudah membalas mereka kan? Ingat kekacauan di ruang cafeteria? Kita kan yang melakukan itu.” Kataku lagi. “ Oh, yeah.. benar juga.” Hugo menggeleng – gelengkan kepala, lalu berkata keras, “ Bukan itu maksudku,” Kita memandang ke arahnya.

“ Maksudku adalah, kita serang mereka untuk terakhir kalinya, hingga mereka tidak akan mau menyerang kita lagi. Dengan kata lain, perang berakhir dengan kemenangan di tangan kita.” Aaron menjatuhkan pensilnya. ( mulai dari sini, bayangkan segalanya berjalan dengan slow motion.) Aaron berdiri, Ethan berdiri, dan aku juga. Kita semua berteriak, “setuju!!” sambil memeluk Hugo dengan bahagia. Bangga akan prestasinya memberitahu ide brilian itu. ( slow motion berakhir di sini.) “ Bagaimana caranya kita melakukan itu?” tanyaku. Kita semua sudah duduk dan bersikap normal lagi. “ Ahahaha, aku tidak tahu.” Kata Hugo tertawa dan tiba – tiba serius. “ Hmm, yah, kita bisa menyebarkan gossip buruk tentang mereka. Mereka lakukan itu ke kita, kita balas!” “ Tapi menyebarkan gossip hanya akan membuat mereka mau membalas kita balik.”
“ Hmmm… benar juga.” “ Bagaimana kalau kita mengacaukan ruangan mereka lagi?”
“ Pernah terjadi, mereka malah senang merapikannya kembali karena akan menemukan file – file mereka yang hilang.” “Damn, terus apa?”
“ Yeah,kita kehilangan ide – ide.”
“Aku punya ide.” Kataku tiba – tiba, otakku berjalan. Mereka semua menatapku kaget.
“ Lanjutkan…?” kata Hugo ragu – ragu. “Kita kacaukan festival.” Mereka menatapku syok. “ Dude, itu terlalu kejam.” “Kamu mau merusak acara yang dinantikan seluruh sekolah?!”
“No way. Cari yang lain.” Aku mengangkat bahu, “Hei, bukan itu maksudku, hei! Dengarkan aku dulu, OK?” aku menceritakan mereka rencanaku. Pelan – pelan, mereka mulai sadar maksudku sebenarnya. Mata mereka membesar. Dan 3 cowok menganggukkan kepala mereka. “OK. Kita pakai itu.” Sekitar 2 mingu telah berlalu dan apa yang kita lakukan? Sudah jelas! Mempersiapkan bahan untuk rencana penting itu!! Tapi sesuatu terjadi. Yang membuat aku sendiri menyesal… kenapa akulah yang membuat rencana itu?!

“Alice dan gengnya akan mengganti acara festival!!” teriak Hugo, tiba – tiba muncul di ruang janitor. DENG DONG!!! “WHAT?!” teriak kita bertiga.
“ Yeah, aku barusan ke toilet, melakukan…”
“ Hugh, percepat urusan pribadimu, langsung ke intinya.”
“Oh, yeah, sori. Nah, saat aku mau kembali ke ruang janitor, aku berpapasan dengan Alice dan gengnya yang berjalan bersama, aku lupa siapa yang berkata pokoknya ada yang berkata, “ Jadi kan festival diganti?” dan Alice mengangguk!” “Bagaimana kita bisa menghalanginya?!”
“Kita butuh seseorang yang dapat mengubah pikirannya.” Kata Aaron.
“Kapan dia rapat?” tanyaku langsung. Ethan berhenti mengetik dari laptopnya, “Aku langsung mencari itu saat mendengar mereka akan mengganti acara. Minggu depan.”
“PERSIS, minggu depan?”
“Jam 7 malam. Gila, rapat diluar jam sekolah…”
“Dan dia sudah tahu itu semua?”
“Belum. Pengumuman untuk rapat itu baru akan diberitahu lewat ruang pengumuman 15 menit sebelum pulang sekolah hari ini.”

Aku menghela napas panjang. Aku pikir aku akan menyuruh Ashley memberitahu ke Alice sesuatu tentang festival itu. (Alice pasti mendengarkan Ashley.) tapi pengumuman itu hari ini. Tidak ada waktu, bahkan jika Ethan meng-hack ruang pengumuman dan mesinnya. Aku memegang kepalaku dengan frustasi, mencari akal buru – buru. Gagal. “Guys, aku kehabisan ide.” Ujarku putus asa. Rencana itu sudah yang terbaik… Ethan menatapku prihatin. Aaron tampak berpikir keras juga. Hugo satu – satunya yang menatapku dengan pandangan yang paling pintar. “ Apa?” tanyaku kepadanya. “Ryker… aku rasa… kamu memang punya ide.” “Apa maksudmu? Aku benar – benar kehabisan ide!” “Ayolah, gimana kalau pakai saja rencana yang dulu?”

“ Rencana dulu apa?”
“ Rencana waktu dulu Valentine itu lho! Yang Alice harus menemukan cinta supaya dia teralihkan perhatiannya… Cuma kali ini dia harus menemukan cinta yang bisa mengganti pikirannya!”

Aku melongo menatap Hugo. Lalu aku berdiri keluar ruang janitor.

Rencana itu tidak akan pernah berhasil… aku tetap berjalan ke arah lokernya Alice. Aku tahu dia di sana. Selalu tahu dia dimana. Entah kenapa. Alice tidak suka cowok biasa… tidak suka cowok lebih tepatnya. Paling pol ya cowok macho. Biarlah dia sendiri.. cinta tidak akan mengganti pikirannya.. aku dapat melihat pundaknya sekarang. Ia sedang berceloteh dengan Daisy, Heather, dan Cynthia. Hentikan pikiran idiotmu itu Ryker… kamu tahu apa yang kamu lakukan itu akan membunuhmu sendiri. Aku tidak peduli dengan suara di otakku itu. Untuk pertama kalinya di hidupku, aku tidak mendengarkan suara itu.

Aku sedang menentang akal sehat. Menentang apa yang biasa aku lakukan. Menentang sifat nerdyku. Aku sedang melawan alam semesta, dan.. Ok, momen lebay harus stop sekarang.

Aku menggebrak lokernya. Ia tampak sangat kaget. “Ryker? Apakah kamu sudah gi…” “Mau nggak jadi pacarku?” tanyaku tanpa bisa mengendalikan lidahku, apalagi jantungku.

Alice tampak shock. Daisy terkesiap, aku menghiraukannya. Aku terus menunggu jawabannya.

“ Apa yang telah merasukimu?!” bentaknya tiba – tiba.
“ Tidak ada! Aku sehat, dan aku sedang bertanya pertanyaan dan menunggu jawaban di sini!!”
“ APAKAH KAMU MEMAKSA?!”
“ Yeah! AKU MEMAKSA! Kamu harus mau!”
“ Dasar gila!”
“ Terus kenapa kalau gila?! Asal kita cocok, kan tidak apa – apa?!”
“ Apa sih maksudmu?!”
“ Kamu mau jadi pacarku ga?!”

Alice tidak lagi mencoba ganti topik. Emosinya terpancing. Dan secara ajaib, muncul jawabannya,
“ Ya! YA AKU MAU!”
“ Ya sudah!” kataku, berbalik untuk pergi, ia menarik lengan bajuku dan memandangiku dengan emosi.
“ Gitu aja?! Dasar jayus! Kita harus pergi nge-date!” bentaknya.
“ Emang pacaran harus nge-date?!”
“ Ya iyalah! Ayo ke mana gitu!”
“ Ya ke mana? Kamu kan yang beri usul!!”
“ OK, JEMPUT AKU DI RUMAHKU JAM 6 HARI JUMAT MALAM, JANGAN SAMPAI TELAT!”
“ OK!”
“OK!”
“ YA OK!!”
“ IYA, IYA!! NGERTI!!”
“ Fine!”
“ Fine!”
“ Fine!”
“ BISAKAH KAMU PERGI?!” teriaknya
“ Bye!”
“ Jangan sampai nggak datang!” teriaknya lagi.

Aku membalikkan badanku dan berjalan dengan penuh emosi. Setelah membelok ke lorong berikutnya, aku baru sadar apa yang terjadi. Shit. Sial. Shit. Sial. SHIT! SIAL!! Aku baru saja ajak Alice kencan. Aku berlari ke tempat yang muncul di kepalaku tiap kali ada masalah berat seperti ini : toilet. Aku masuk ke bilik pertama yang kosong. Menguncinya. Menarik napas dalam dan berteriak keras – keras. “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRGGGGHHHHHH!!!!!!!” Aku mendengar pintu toilet terbuka. “Hei, siapa itu?”
“ Terdengar seperti Ryker.”
“ Hey Ryke! Itu kamu?”
“Tinggalkan aku sendiri!! Ini semua salah ide dodolmu itu!!” teriakku merana ke Hugo. Hugo terdengar jelas menahan tawanya. Tapi ia gagal dan tertawa seperti nenek edan yang baru saja mengubah katak menjadi kodok. “Ya ampun, siapa sangka Ryker sebodoh itu?! ‘alihkan perhatian Alice’ dan yang ia tangkap ‘ ajak Alice kencan’…. OH MY… hahaha!!” kata Hugo dengan nada jayus-nya. “Bagaimana kalian bisa tahu?” tanyaku dengan putus asa, lengkapkah penderitaanku di dunia? Ternyata belum, “Kamu keluar dengan ekspresi seperti akan menumpahkan satu botol racun semut ke satu lorong sekolah, kita jelas khawatir kamu sudah gila jadi mengikutimu. Lagipula, pembicaraanmu dengan Alice bisa terdengar dari lantai satu… kalian berteriak, tahu?” Aku menggedor pintu itu dengan marah, “Shitalan!! ( Gabungan dari kata Shit dan sialan) Kenapa aku bisa begitu bodoh hingga—hingga….!!”   Ethan berkata, “ Dude, rileks.. tarik napas dalam…”

“Tarik? Napas?! DALAM?! Aku baru saja meresmikan kapan aku mati dan aku harus tarik napas dalam?! Aku bahkan belum selesai memainkan ‘ High School Hell 2’!” “ Tapi kamu sudah menyelesaikan PR Matematikamu, kan?” tanya Aaron.
“ Dari 3 hari yang lalu…” “ Maka kamu akan hidup. Sekarang keluar dari toilet itu dan kita ke ruang kesenian. Kencanmu besok aja lho.”
( Keesokan harinya)
“ Freddickson!” “ Hah? Apa? Dimana? Kapan? Bagaimana? Siapa??” tanyaku kaget, terbangun dari lamunanku. “ Fokus, FOKUS!!” teriak guru OR yang aku lupa siapa namanya itu. Aku berhasil memberitahu Mom dan Dad kemarin malam kalau hari ini aku ada acara, ( baca : Kencan) dan mereka tidak dapat membaca. Kecuali Dad, kurasa ia bisa membaca sedikit, tapi ia tidak mengatakan apa – apa. Nerd Club menghabiskan kemarin dan sepanjang hari ini untuk menghiburku. Aku senang mereka simpatik, tapi tidak senang dengan cara bicara mereka. Mereka berbicara seolah – olah kencan itu hal yang lebih mengerikan dari mati.

“ Kamu tidak boleh berkomentar tentang warna bajunya.”
“ Jangan pernah membelikannya apa – apa, dia jadi ketagihan dan kemungkinan besar menjadi matre.”
“ Pernah berniat ngomong dia gendut? Batalkan itu kalau kamu menyayangi nyawamu.”
“ Jemput dia sesuai jam yang ditentukan, OK? Jangan telat sedetik pun. Tapi jangan datang terlalu awal sedetik pun. Mereka sangat sensitif.”
“ Yeah, kalau kamu telat diomeli, kalau kamu datang awal dikira terlalu obsesif dan kurang ajar.”

Seluruh pembicaraan berbau seperti itu membuatku tegang tentang seluruh hal ini, aku bahkan tidak bisa konsen di ekskur basket. “Sori, sir!” kataku dengan penuh perasaan bersalah dan bodoh. Kemudian aku berlari ke arah bola lagi. Pada suatu kesempatan, Ethan yang sedang membawa bola dan aku bertemu. “Tegang?” tanyanya sambil menghalangiku yang mencoba merebut bola itu. “Jelas.” Jawabku dan merebut dengan sukses. Aaron menarik bola itu dari tanganku, “Kalau gitu hati – hati dengan bola.” Katanya sambil berlari menjauh. Ia melemparnya ke ring tapi meleset. Seorang anak dari timku membawanya. “Kamu tidak bisa konsen kalau seperti ini.” Kata Ethan sebentar. Kemudian ia berlari lagi. Aku menirukan lagi kata – katanya dengan nada mencemooh, kemudian berlari mengejar bola itu. Tapi sesuatu di sudut mataku membuatku berhenti. “Alice…?” kataku dengan heran saat melihat sosok cewek itu. “ Ryke!” “ Ha?”

gubrak!! Bola itu menghantam wajahku dengan kecepatan 149 mph. aku jatuh ke lapangan dengan tangan memegang hidungku.“Owwwwww….” “Freddickson, apa yang kamu lakukan?!” teriak si pelatih, putus asa terdengar jelas di suaranya, “ Kamu jadi cadangan!”. Kemudian pelatih itu memanggil cadangan lain untuk menggantikanku. Aku tidak bisa lebih TIDAK peduli menjadi cadangan. Aku memfokuskan mataku , yang tadi berkunang – kunang karena terbentur bola, ke tempat Alice tadi berdiri. Dia menghilang. Aku mengernyitkan dahiku dan bangkit berdiri. Menoleh – noleh kemana – mana, tapi ia benar – benar menghilang. “Hei Hugo..” aku memanggilnya, “Apa yang…”

“ Hei, sori dengan bola itu.” Katanya. “Er, itu tidak apa – apa, apakah tadi kamu lihat Alice?” “ …. Waktu PKn? Yeah,” “Bukan… maksudku BARUSAN, seperti di daerah sana, dekat botol minum kita, yeah? Nah disitu.” “ Tidak.” “Tapi… aku melihatnya, dan…” “Buset, sekarang kamu berhalusinasi? Bagus, lanjutkan dan kamu akan berakhir di rumah sakit jiwa.”

Aku memukul lengannya dengan keras. “Ow!” ujarnya sambil menggosok – gosok lengannya. “ Yo, Hugh, kita dipanggil.” Panggil Ethan.“Jangan kuatir! Aku akan ke sana setelah menenangkan si gila ini.” Kata Hugo dengan muka berwibawa. Aaron terbahak. Aku memasang muka frustasi. “Hei Ryker, rileks, kita akan membantumu nanti.”

***

Mereka tidak bohong soal membantuku. Setelah pulang sekolah, Nerd Club berpisah selama setengah jam dan berkumpul lagi di rumahku setelah itu. Entah bagaimana, mereka bisa mempersiapkanku untuk kencan mengerikan ini dengan berbagai macam bahasa yang dapat menutupi fakta kalau aku kencan. Karena jika tidak, ortu-ku akan tahu kalau aku kencan, dan itu tidak baik. “Hei, Ryke! Siap – siap untuk acara besar itu!” “Yeah, janji penting di gedung beratapnya si ( Hugo berdeham pelan).. ya ampun, aku mulai batuk.” Mereka menunggu diluar kamarku selama aku menarik satu per satu baju di lemariku dengan putus asa, mencari baju yang setidaknya pantas.

Ini susah, karena lemari bajuku berisi 2 tipe baju :

  1. T-shirt polos berwarna biasa
  2. Baju berkerah/ hem berwarna biasa

Selamat, Anda telah mengelilingi lemari baju Ryker Freddickson!! Tapi setidaknya.. aku pasti tenang kalau memakai sesuatu yang nyaman, kan? Aku mengambil t-shirt favoritku dan keluar dari kamarku. “ WTH?!” teriak Aaron. “ Hah?” “Kamu mau ‘keluar bareng’ dan memakai baju seperti itu?! Dia akan me’matahkan ranting hubungan’ detik pertama setelah melihatmu!”
“ Terus kamu suruh aku pakai baju apa??”
“Yang…. Berkelas.”
“Yeah, memberikan kesan… jantan.”
“ Salah, betina.”
“ Dodol…”
“ Sialan kalian.” Ucapku kasar sambil masuk ke kamarku lagi. Aku memandang ke arah jam dengan ngeri. 1 jam lagi, dan aku harus menjemput pacarku. Aku berdoa, mukjizat itu nyata, ada baju yang setidaknya membuatku kelihatan cule!! ( cute and cool), dan aku menemukannya. HALELUYAAAAA…. Dengan cepat, sinar matahari menyinari kamarku, mataku membesar, mulutku ternganga, tanganku menarik baju terlupakan itu… dan secepat itu mulai, secepat itu berakhir pula… matahari total terbenam, kamarku menjadi gelap, aku berhasil bersin. Aku keluar dari kamarku sekitar 5 menit kemudian. “Wow.” “Yo Ryke satu kata, kamulaikeren.” “Itu tiga kata.” “Yang disambung jadi satu, ayo pergi, ingat JANGAN PERNAH TERLAMBAT!”

Aku berjalan ke arah rumahnya Alice dengan agak takut. Berkali – kali tanganku memastikan aku membawa semuanya, jam tangan.. Hp.. dompet… apa lagi? Surat izin untuk merebut hatinya? ( yang terakhir itu dari sumber manga tak dikenal, damn.. aku seharusnya tidak membaca halaman tentang gombal – gombalan, mereka tidak mau keluar dari kepalaku sekarang..) Aku menelan ludah, saat aku menoleh, Nerd Club sudah menghilang. Mereka akan menjemputku di depan rumahnya Alice ( bersembunyi di belakang rerumputan tentunya) 5 menit setelah kencan ini selesai untuk mengetahui apakah aku sukses membujuknya. Aku menggaruk leher belakangku dan mengetuk pintu rumah Alice yang bergaya Victoria tua.  Ngomong apa… ngomong apa?? Gila, aku harus ngomong apa?!  Pintu itu terbuka dan aku nyaris melompat. Saat kuperhatikan siapa yang membuka pintu itu, kakiku berubah menjadi jelli. AYAHNYA ALICE.

Buset, aku tidak siap untuk kencan dan sekarang aku sudah bertemu dengan AYAHNYA?!?! What.. the HELL?! Aku belum siap matiii!!! “Selamat pagi, siang, sore, petang, MALAM!! Sori, er.. selamat malam, um, Sir? Apakah Alice ada??” tanyaku, suaraku bergetar dan aku tergagap – gagap. Ayahnya memandangku dengan tatapan mata paling sadis. Aku menelan ludah, OK, aku pasti membuat kesalahan dengan 2 kalimat pertama itu…

“ Er, nama saya Ryker…” kataku, kemudian menambahi dengan buru – buru, “Freddickson. Ryker Freddickson.” Lalu aku menjulurkan tangan kananku. Ayahnya Alice menjabat tanganku dengan sigap dan nadiku langsung putus. Aku memaksakan senyuman untuk menutupi rasa sakit itu. Kemudian aku mendengar suara langkah kaki yang menuruni tangga dengan cepat, bahkan tergopoh – gopoh. Kemudian Alice muncul, dengan sesuatu yang membuatku nyaris melongo. Dia terlihat… BERBEDA. Aku sudah terbiasa dengan rambut coklatnya yang terurai. Ia mengikat sebagian ke samping dengan sebuah pita merah. Aku sudah menganggap rok pendek dan atasan selalu rapi-nya hal yang biasa, ia memakai baju yang lumayan u can see, dengan pita baju di pundaknya dengan celana pendek. Aku terbiasa melihatnya memakai sepatu kets yang keren. Ia memakai gladiator dengan high-heels. “Hei, Pa. Ini Ryker.. dan… eh, yeah, kita akan pergi malam ini.” Ayahnya melepas tanganku dan berkata dengan suara lembut, raut mukanya tidak sekeras tadi, “Jangan malam – malam.” Alice melewati kusen pintu dan berdiri di sebelahku. “Jangan kuatir, tidak akan sampai jam setengah 9.” Kataku, mecoba terdengar dewasa dan penuh tanggung jawab. Pintu langsung dibanting detik aku selesai bicara. OUCH.

Aku memandang ke arah Alice, mukaku pasti kelihatan terluka hingga dia tertawa puas. Kemudian kita berjalan keluar dari halaman rumahnya, menuju ke… tunggu, kita mau ke mana? “ Mau ke mana?” tanya Alice. “Kamu mau ke mana?” tanyaku balik. Dengan mata berbinar, dia menjawab, “Golly Amusement Park!!” Golly Amusement Park merupakan taman hiburan yang.. selalu rame, aku cuma ke sana sekali, bersama dengan Ashley, Mom dan Dad beberapa bulan yang lalu. Tiketnya harganya amit – amit. Aku menatapnya dengan pandangan syok dan berkata, “Nggak.” “Hah?” “Sori, lagi bokek.” Jawabku cepat. Ingatanku kembali ke uang sakuku yang kupakai untuk beli majalah game yang special edition. Alice terlihat agak sakit hati. “Er, akan kuajak kamu ke sana lain kali, Ok?” dia diam saja, “Kamu suka taman hiburan, ya?” tanyaku merasa agak bersalah. Kenapa pula aku menghabiskan uang sakuku untuk majalah sialan itu?

“Yeah, aku sedang ingin naik roller coaster…” katanya dengan sedih. Hah? Roller coaster? Mainan untuk orang bunuh diri yang sukses membuatku muntah seharian? Yang membuatku teriak kayak orang gila saat naik di atasnya? Dan cewek di sebelahku ini SUKA roller coaster?! Aku merasa sedikit tekanan setelah itu, lumayan menyesali kenapa aku menjanjikan ‘pergi lain kali’. Dan juga kembali bersyukur aku membeli majalah game itu..“Er.. jadi mau ke mana kalau nggak ke Golly Amusement Park?” tanyaku. Ia berpikir keras. “ Yah.. kita selalu bisa pergi ke mall.” “ Yeah, itu lebih baik.” Jadilah kita ke mall.

* * *

Suasana Mall rame. Mau apa? Ini hari malam sabtu, jelas pasti rame. Aku menundukkan kepalaku dengan kurang nyaman. Alice menarik lengan jaketku. “Ayoooo!!” katanya tak sabar. Aku berjalan lebih cepat, “Mau kemana?” “Nggak tahu, jalan aja tapi, masa di tengah jalan terus mbambong?” tanyanya dengan kesal. Aku tersenyum sambil menunduk. “Hei, lihat.” Aku mengangkat kepalaku. Ada sebuah rink ice skating besar di tengah aula mall itu. Alice tersenyum lebar, “Masuk yuk!” “Kamu bisa ice skating?” tanyaku heran. “Bisa.. sedikit. Dulu pernah belajar. Kamu?” aku menggaruk kepalaku, “ Erhm.. nggak.” Kemudian terkekeh kecil, “Aku tidak pernah berani.”

“ Kalau gitu beraniin! Ayo masuk,”
“Heee?? Tapi kita pasti jatuh.. dan jatuh itu bagian yang menyebalkan.”
“Tapi kamu harus jatuh untuk bisa melakukan sesuatu.” Balasnya berapi – api. Aku kalah debat, kita melepas sandal dan sepatu kita, meminjam sepatu ice skating yang berbau ikan amis karena terlalu banyak dipakai orang banyak itu, dan masuk ke rink.

Kali pertama masuk, aku nyaris jatuh dan tanganku kemana – mana mencari keseimbangan. Alice yang masuk duluan tertawa ngakak dan membantuku. Tetapi saat aku memegang tangannya, dia kehilangan keseimbangan. “ H—hei!!” kataku dengan panik dan menarik tangan kirinya untuk menjaga kita berdua agar tidak jatuh. Dia menjerit kemudian menemukan keseimbangan. Kedua tangan kita saling mengunci.

“ Katamu kamu bisa.” Kataku dengan heran. “Aku bilang aku bisa.. dulu.” Koreksinya. Aku tertawa kecil dan melepas peganganku. “Kalau gitu kita harus belajar bareng.” Ujarku. Ia melotot, “Tidak! Aku akan belajar sendiri.”“Kenapa..?” tanyaku heran. Tapi rasa gengsinya itu membuat dia mulai meluncur bebas, dan menjerit ketakutan setiap seseorang melewat di depannya. Aku terpaksa belajar sendiri. Tidak berani menjauhi tiang – tiang yang ada, rasanya peganganku ke mereka bagaikan aku memegang joystick PS. Kemudian ada orang bodoh yang nyaris menabrakku karena juga ada di dekat tiang, nah, itulah yang membuatku meluncur. Aku terkesiap dan mengerem. CRIIT!! Potongan es yang tergores sepatuku berterbangan. Aku memandang ke arah kakiku dengan heran. Aku… sukses mengerem? Kemudian mencoba meluncur ke kiri. Gampang banget. Ke kanan? Lebih gampang lagi. aku tertawa pelan dan mencoba meluncur membuat lingkaran. SUKSES!!  Alice tiba – tiba muncul di sebelahku.

“ Katamu kamu nggak pernah nyoba!” katanya dengan nada menuduh. Aku nyengir, “ Memang, mungkin ini bakat alami. Ya pasti lah, aku kan ganteng, pintar, keren, dan, ow!” ia memukul lenganku dengan keras. “ Narsis!” ujarnya sambil meluncur pergi dengan kesal. Aku tertawa dan meluncur lagi. Kemudian aku mendengar.. GRUSAK!! Aku menoleh, dan benar saja, Alice jatuh. Salahnya meluncur sambil emosi. Aku meluncur ke arahnya dan berkata, “ Kok bisa jatuh?” “ Ya bisa saja dong.” Katanya, mukanya memerah. Ia mencoba berdiri tapi terpleset lagi. Aku menjulurkan tanganku. Ia menatap ke arahku kemudian mencoba berdiri sendiri. Terpleset lagi. Aku tertawa sedikit saat ia meniup poninya ke atas dan akhirnya mengambil tanganku. Tawaku menghilang saat Alice menarik tanganku. Bukannya aku yang menariknya, tapi dia malah menarik tanganku untuk bisa berdiri. Aku langsung tertarik dan ikut jatuh. GRUSAK!

Mau tahu bagaimana rasanya jatuh di atas rink ice skating? Tidak perlu. Nih, aku ceritain aja, rasanya tidak enak. Basah, dan konyol sekali. Saat aku memandang ke Alice, ia membalas menatapku. Kemudian, menyadari kekonyolan itu, kita berdua tertawa. Well.. mungkin jatuh tidak terlalu menyedihkan.

***

               “ Jadi sekarang mau ke mana?” tanya Alice. Kita sudah keluar dari rink itu karena sudah kedinginan, bahkan meskipun kita meluncur terus. Aku berpikir sambil mengerutkan keningku. Alice kemudian berkata, “ Hei, aku tahu!” “Hmm?”
“ Kita keliling kota saja!”
“ Alice.. aku tahu kota ini kecil, tapi jalan kaki terus bisa bikin capek, tahu? Yakin?” Alice tersenyum penuh misteri, “Siapa yang bilang kita  akan jalan kaki?” ia kemudian mengajakku ke sebuah tempat.. kelihatan seperti bengkel dan garasi digabung menjadi satu.

Aku menelan ludah. Alice terus masuk ke dalam, mencueki cowok – cowok bertubuh besar yang memanggil – manggilnya dan bersiul saat ia lewat. Aku menatap ke arah mereka. Cowok – cowok itu membalas dengan pandangan ‘kubunuh kau malam ini’. Aku menelan ludah lagi, “ Hei, Alice??” tanyaku agak takut, “Kamu yakin ini tempat yang benar?” “Yeah! Ayahku sering mengajakku ke sini waktu aku kecil.” Buset.. pantas dia tidak takut. Alice melewati satu mobil lagi yang sedang dicat dan berteriak, “Hei!! Aku butuh motor!!” seorang pria kekar dengan janggut yang awut – awutan dan baju robek mengangkat kepalanya. “ Ya Tuhanku.. apakah itu kamu Alice Stuart?” “Yep!” kata Alice, nadanya menggandung rasa bangga. “ Kamu sudah lama sekali tidak ke sini, kucing!” Kucing? Bukankah Alice manusia? Heh??“ Yeah, aku sedang sibuk belakangan. Hei, aku butuh motor, hanya untuk semalam, kamu bisa mengambilnya nanti di rumahku. Aku tahu Pa akan senang melihatmu.” Wajah pria itu mencerah, kemudian ia melihatku dan mengernyitkan mukanya, “ Siapa si lemah itu?” OUCH.

“ Hei ini.. er… erhm…” Alice tampak kebinggungan bagaimana cara menjelaskan statusku. “Pacarnya.” Lanjutku, muka Alice memerah. Sial, kenapa aku tidak bilang namaku saja? Pria itu mengangkat alisnya dan berkata,“Pacaran, eh? Sialan, anak muda zaman sekarang. Boleh pacaran waktu umur segini…” ia menarik napas dalam dan mengeluarkannya dengan dramatis. Kemudian dia berjalan ke arahku, “Hei, aku tidak tahu apakah kamu pernah bertemu dengan ayahnya,” kata pria itu, mengerling ke arah Alice, “ Tapi jika kamu sudah bertemu dengannya ataupun tidak, aku akan tetap mengatakan ini, kalau kamu menyakiti Alice dalam segala bentuk apapun. Bahkan sedikit saja…” kemudian dia menarik bajuku dan hampir mengangkatku dari tanah.

“ Kamu akan menerima ini.” Katanya lagi, menunjukkan kepalan tangannya. Aku menelan ludah, “ Er… yeah. Aku mengerti.” Alice tampak canggung dan sungkan dan kemudian (bersamaan dengan kelegaanku) dia berkata, “ Hei.. jadi.. motor?” “Oh,OK..” kata pria itu, melepas pegangannya ke kerah bajuku dan mengambil motor lain yang lebih normal.

“ Kamu YAKIN, dia senang aku ada?” tanyaku kepada Alice. “Tentu saja, Billy selalu jaga jarak pada orang baru.. jagalah sikapmu dan kamu akan bertahan hidup.” Katanya sok. Aku menggaruk kepalaku kemudian berkata, “Jadi.. tidak ada helm?” “ Lebih seru tanpa helm.” Ok… satu lagi fakta mengerikan dari naik motor…

“ Bagaimana dengan harus ada surat izin mengemudi atau apa?” “Heh? Gila apa? Surat izin mengemudi? Itu untuk anak umur 3 tahun. Kamu tidak perlu lulus tes untuk bisa mengemudi.” Katanya lagi. Aku mengerjap, “Ok, kalau gitu.. kenapa kamu belum naik?” “Haloo? Kamu masih di sana Ryke? Kamu kan yang nyetir?” tanya Alice, berkacak pinggang. Aku melongo. “ Er.. aku tidak pernah naik..” “Jadi? Kamu pasti bisa.” Aku menurut dengan setengah hati. Kedua tangannya memegang pundakku. “Jadi..” “Nyalakan dulu mesinnya.” “ Oh, thanks…. Yang mana itu?” Alice memutar kunci dan motor itu langsung menyala. “ Oh.. itu.”

“ Gas-nya jangan terlalu keras.” Nasihat Alice. Aku menekan gas dengan pelan.
“ Jangan terlalu pelan juga.” Kata Alice kesal. Aku menekannya lebih keras. TERLALU keras. Alice menjerit dan tangannya langsung memeluk pinggangku. “ RYKE!! RYKER!! Jangan terlalu keras!! REM!!” jeritnya. Aku membelok dadakan agar tidak menabrak dan berteriak, “ YANG MANA ITU?!” “YANG DI KIRI!! KIRI!!” teriak Alice. aku menginjak apapun yang ada di kiri. “ YANG MANA?!” tanyaku lagi. Alice menginjak kakiku dan sambil berteriak ngeri, kita berhasil mengerem. Aku menghapus keringatku dan berkata, “ Alice.. kamu yang nyetir.” “ Tapi..” “ Tidak ada tapi. Aku tidak mau mati muda.”
Alice mengangkat bahunya dan bertukar tempat denganku. Dengan satu sentuhan pelan, motor itu langsung jinak dan berjalan sesuai dengan keinginannya. Aku memegang bahunya dan dia menyetir. Aneh, nyata, memalukan, mungkin semuanya digabung jadi satu membuatnya berkata, “ Hei Ryker,” “ Hmm?” “Pernahkah aku bilang kalau kadang.. kamu memang sedikit seperti cewek?” “ Hei!” protesku dengan marah.Alice melepas satu tangannya dan mencubit pahaku dengan keras untuk membuktikannya. Aku menjerit, lengkingan yang BENAR – BENAR mirip cewek.

Pubertas sialan, kenapa mereka selalu bekerja terlambat?

Alice tertawa ngakak. “Alice!” protesku, kemudian berhenti untuk membuat suara tinggiku menjadi normal, “ Al- Alice!” kataku lagi, kali ini dengan suaraku yang lebih rendah. “ Itu tidak lucu!” protesku. “ Yeah, lihat saja muka para pembaca.” Pembaca? Apakah dia sudah gila?  “ Hei, jadi kita mau makan apa?” tanya Alice. “ Hmm, aku belum mikir sampai situ.”
“ Yang murah.. dan enak.. dan paketnya besar.. dan..” aku menahan tawa. “ Pfft!”
“ Hei!” protes Alice.
“ Apa?”
“ Ngapain ketawa?”
“Ya.. nggak apa – apa. Sehat.”
“ Sehat? Kayak itu alasan sebenarnya. Apa? APA?!”
“Nggak.. cuma.. yakin mau makan banyak? Bukannya cewek nggak mau makan banyak untuk diet?” tanyaku.
“ Hmph, asal kau tahu, aku bukan tipe cewek yang rela kehilangan makanan biar perut jadi kayak papan.” Ujarnya kesal. “Benarkah?”
“ Ya!”
“ Wow. Dan kupikir kamu menjaga makananmu.”
“ Well, aku memang menjaga makananku. Tapi itu tidak berarti aku tidak makan sesuai yang kumau.” Jawabnya judes, “Lagipula, sistem metabolismeku lancar.”
“ Ha, kita sekawan kalau begitu.”
“ Haha, apakah itu sebuah kalimat persahabatan atau ejekan?”
“ Mungkin sedikit dari keduanya?” Alice tertawa sambil berkata,
“ Kamu gila! Jadi? Mau makan apa?” aku berpikir sejenak. “Bagaimana kalau…”

***

“ Tempat ini BENAR – BENAR tidak cocok untuk kencan.” Kata Alice sambil memandang ke sekeliling restoran burger itu. “Kenapa? Kan mereka punya paket hemat. Porsi besar. Lumayan enak, kan itu yang kamu mau?” tanyaku balik. Alice berkacak pinggang sambil ngedumel nggak jelas. “ Hah?” tanyaku. “ Nggak apa – apa.” Jawab Alice cepat. “ Tapi kamu memang benar..” kataku lagi. “ Tentang?” “ Tempat ini tidak cocok untuk makan dengan tenang. Terlalu rame.” “ Jadi mau ke mana?” Aku berpikir sebentar dan tersenyum, “ Aku tahu… tapi kita harus pesan dulu.”

“ Pesanannya?” tanya seorang dari karyawan restoran burger itu. Tanpa basa basi, Alice langsung menjawab, “ Paket nomor 3, minumnya diganti yang besar, sama… blab la bla…” hebat, aku tahu dia suka roller coaster, sekarang aku tahu dia suka makanan porsi besar. Apakah aku sial atau diberkati? Apakah aku akan hidup atau mati? Ya ampun, mereka bisa menjadi puisi keren. Aku berbakat… “ Dan Anda?” tanya karyawan itu, membangunkanku dari lamunan. “ Er… itu.” Kataku sambil menunjuk paket nomor 1. “OK. Bawa pulang atau makan di sini?” “ Pulang.” Jawabku cepat sebelum Alice menjawab. “ Hah?” respons Alice. “ Apa kataku tadi? Oh ya, si hebat Ryker Freddickson yang berada di depanmu ini, punya ide.” Kataku balik sambil mengambil kertas berisi makanan itu dan keluar dari restoran. Aku dan Alice kemudian naik motor ke sebuah apartemen yang gaya bangunannya sudah dari zaman tua. “ Kita makan.. di sini?” tanya Alice dengan mata yang besar. Jelas – jelas mencoba menyembunyikan kekagetannya. “ Nggak.” Jawabku balik sambil menggandeng tangannya dan menuntunnya ke jalan belakang apartemen itu. Ada banyak sekali anak tangga untuk masuk ke apartemen itu dalam bentuk “ pintu belakang”. Aku menaiki semua anak tangga itu terus, tanpa masuk ke apartemen. “ Kita mau kemana sih?” tanya Alice kesal. “ Sudahlah, ikut saja.” Kataku sambil naik satu level lagi. “ Bagaimana kalau orang apartemen itu melihat kita menaiki tangga menuju rumah mereka?” tanya Alice takut. “ Itulah mengapa kita tidak akan masuk ke rumah mereka. Numpang sebentar, masa tidak boleh?” tanyaku balik. Alice bergumam, “ Betul juga… tunggu, apa yang betul?”

Aku berhenti berjalan dan berkata, “ Kita sudah sampai.” Alice mengangkat mukanya dan terkesiap, menutup matanya. Kita berada di atap apartemen itu. “ Ryke?! Kita mau bunuh diri apa?!” “ Kamu nggak suka tinggi, Alice?” tanyaku heran, agak kecewa. “ Nggak!!” “ Tapi kamu suka roller coaster, kan?” protesku. “ Yah, tapi roller coaster kan bukan aksi bunuh diri!” “ Siapa yang mau bunuh diri?” Alice terdiam. “ Sini…” kataku pelan sambil menarik tangannya untuk berjalan lebih masuk di atap itu.

“ Buka matamu.”
“ Ga!”
“ Ayolah… kamu pasti suka.”
“ Dan kalau tidak?”
“ Well… kamu akan tetap suka makanannya.” godaku sambil menggoyang – goyangkan kertas berisi burger kita. Untuk sesaat kita hening.
“ Kamu… kamu di sana kan?” tanyanya takut.
“ Kalau tidak ada artinya aku hantu, bergentanyangan, wiiii…” kataku dengan nada agak autis, bayangan aku hantu yang bergentayangan jelas membuat Alice tidak nyaman. Alice membuka matanya dengan perlahan. Aku menawarkan tanganku supaya dia tidak jatuh. Dari atas apartemen yang tinggi, kita bisa melihat lampu – lampu jalanan dan rumah, dan jika memandang ke arah utara, kita bisa melihat lampu – lampu mobil sedang menuju kota lain. “ T-tinggi banget!!” ujar Alice. Aku nyengir.

“ Ayo.” Ajakku sambil memasuki atap itu. Bukan tempat yang bagus.. banyak besi – besi yang dibiarkan di sini, dan banyak sekali air hujan yang tergenang pula, tapi setidaknya kita bisa melihat pemandangan. Aku duduk di ujung atap itu. Salah langkah atau kehilangan keseimbangan, dan aku akan jatuh dari ketinggian 23 lantai. “ Ryker.. kamu yakin duduk di situ?” “ Kalau duduk di besi itu kita tidak bisa melihat pemandangan.” jelasku. Alice tampak agak ngeri untuk duduk di sini. “ Hei, jangan kuatir,” ujarku, menenangkannya, “ Aku akan menjaga agar kita tidak jatuh.” “ Yeah, dan itu keluar dari mulut cowok yang tidak bisa naik motor.” Cemooh Alice, ia duduk di sebelahku. Kemudian kita makan.

Alice dan aku tidak berbicara selama bermenit – menit, mungkin cuma sebentar, tapi terasa seperti seharian.

“ Hei,”

ucap kita bersamaan. aku memandang ke arahnya kaget, ia balas menatapku. “ Er.. kamu dulu.” Kataku. “ Um.. OK.. well, jadi… kamu pasti sering melihat pemandangan ini ya?” “ Apa? Lampu – lampu di malam hari?” tanyaku, Alice mengangguk. “Dari mana pula pertanyaan itu muncul?” tanyaku heran.

“ Yah, kamu katanya sering pindah kota, negara, rumah, apapun lah, kan sering naik pesawat. Jadi dari ketinggian yang lebih tinggi dari ini, sering melihat lampu – lampu.” jelas Alice panjang lebar. Aku menggaruk kepalaku, “ Yah… mungkin aku lebih sering melihat sesuatu seperti ini daripada kamu…” “ Jadi, nggak bosan ngeliat ini lagi?” aku tertawa, menatap ke arahnya, dan berkata, “ Tidak. Ini tipe pemandangan yang tidak akan membuat kita bosan sampai kita mati.” Alice mengangguk – angguk,
“ Okay… giliranmu.”
“ Hmm?”
“ Tadi kamu mau ngomong apa?”
“ Oh.. itu..” aku berdeham sedikit dan berpikir sebentar.
“ Hei Alice.”
“ Ya?”
“ Kamu suka pesta?” tanyaku.
“ Dari mana pula pertanyaan itu muncul?” tanyanya persis dengan nadaku.
“ Yah.. pingin tahu aja.” Kataku ringan. Dengan cuek, Alice menggigit kentangnya, dan berkata, “ Yah.. aku tidak membencinya, tapi aku juga tidak menyukainya sampai bagaimana gitu..”
“ Jadi.. festival sekolah nanti akan ada?” tanyaku cepat. Sial, perhitungan salah, dia pasti curiga.. Ia menatapku kaget. “Kenapa kamu tanya itu?” Ya kan? YA KAN?! dia curiga!! Dasar Ryker dodol!   “ Yah…” aku menatap ke atas, hanya ada sedikit bintang.“ Aku rasa dari dulu aku tidak pernah berpesta. Jadi sebenarnya aku mengharapkan festival ini ada dan aku ingin ikut…” ujarku, ini cerita jujur.“ Kenapa kamu tidak pernah ikut pesta?” potongnya. “ Yah… biasa aja,” aku meneguk sodaku dan berkata lagi,

“ Nggak banyak teman.”
“ Kenapa nggak cari teman?”
“ Karena itu susah.”
“ Masa cari teman aja susah?”
“ Terasa susah bagiku.”
“ Kamu nempel dengan clubmu itu setiap hari.”

OUCH. Itu tidak menyenangkan.

 Yaaah…” aku merasa serba salah. “ Itu kondisi yang laiiin.. atau mungkin tidak juga, aku tidak banyak punya teman dulu. Apalagi yang cocok. Nerd Club bisa mengerti aku. Dan aku bisa mengerti mereka.”
“ Dan itu definisi ‘ teman’?”
“ Jelas tidak.”
“ Terus?”
“ Aaargh!! Cukup dengan pertanyaan sosialnya!!” kataku kesal.
“ Kenapa?”
“ Karena aku berkata demikian.”
“ Heh!” protesnya sambil memukul lenganku. Kemudian ia menatapku serius. “ Kenapa?”

Aku menarik napas dalam dan menjelaskan, “ Dulu aku susah mencari teman. Setiap hari ke sekolah jarang bicara sama siapa – siapa, dll, dll, dsb, dst, kamu tahu sendiri, hal – hal emo. Well, aku punya teman disini. Teman pertama. Dan kemungkinan besar pestaku yang pertama. Jadinya festival ada, kan?” tanyaku lagi. Alice terdiam, kemudian berkata, “ Ryker.. ada kemungkinan festival itu tidak jadi.” “ Kenapa?”

“ Susah. Biayanya, aturan sekolah, sekuriti kurang, pokoknya..” dia menarik napas dalam, kemudian tersenyum lemah, “ Kurasa harapannya sudah tidak ada.”
“ Tapi… tidakkah kamu mau festival?”
“ Ryker… bukan itu masalahnya.”
“ Ayolah, tentu saja itu masalahnya. Satu sekolah suka festival. Jika kamu membatalkan festival itu tanpa mencoba melanjutinya, semuanya pasti kecewa.”
“ Tapi siapa yang mau membantu?”
“ Well… pasti ada. Kenapa tidak coba dulu? Pasang poster di dinding  – dinding lorong, minta bantuan bidang apa, bla – bla – bla… pasti ada yang setidaknya mau. Dan jika tidak, aku bisa minta bantuan Nerd Club.” Kataku, mencoba membujuknya.
“ Yah, itu ide yang bagus.. tapi…”
“ Alice, tidakkah kamu ingin ikut festival? Kamu selalu membicarakannya, mengaturnya dari awal kelas 7, kenapa tidak mempertahankannya?” Alice menatapku dengan tatapan mata ragu – ragu. Kemudian ia menarik napas dalam dan berkata, “ Tentu saja, aku ingin ada festival! Tapi…”
“ Eits! Tidak ada tapi!”
“ Tapi, Ryker..”
“ Lalalalala, nggak mau!” kataku sambil menutup telinga. Alice memukul lenganku. “ Kepala batu.” Ujarnya kesal. Aku nyengir. Ia tersenyum dan berkata, “ Kamu benar. Festival harus ada! Aku akan memberitahu yang lain besok.”

Nah, itu lebih baik. Aku membatin pelan dan tersenyum. Sekarang rencana kita bisa berjalan lancar. Kemudian Alice melakukan sesuatu yang membuatku nyaris jatuh dari ketinggian ini. Ia menyandarkan kepalanya ke bahuku dan tersenyum. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa melakukannya. Pertama, tingginya dan aku kurang lebih sama, bagaimana dia bisa kelihatan kecil sekarang? Dan kenapa kok dia selalu sukses membuat pikiranku kacau? “ Apakah kamu sudah ingat?” tanya Alice tiba – tiba.

“ Ingat apa?” tanyaku balik. Ia mengangkat kepalanya.
“ Ah, lupakan saja.”
“ Ingat apa?” desakku.
“ Bukan apa – apa.” Aku memikirkan apa yang selalu dia katakan kepadaku. Bahwa dia mengenalku, dan aku lupa sesuatu. Tapi apa? Aku mengernyitkan dahi, dan membuka mulut. Belum suaraku keluar, ia meletakkan jarinya yang kurus di dahiku.

“ Mengernyitkan dahi seperti itu bisa bikin kamu gampang tua, tahu?” Aku tersenyum,
“ Ha, kalau begitu aku tidak usah belajar matematika saja.”
“ Kenapa?”
“ Karena setiap belajar mat, aku pasti mengernyitkan dahi.”
“ Yah itu kan beda kasusnya!” Aku tertawa. Dia tertawa. Kita tertawa dengan jayus. Kemudian dia menggigil. Aku mendengar suara guntur tidak jauh dari sini. Aku mendongak, langit berubah warna menjadi sedikit merah, dan awan – awan bergumul di atas kita.

“ Kita harus cepat pulang.” Ujarku, agak bergumam.
“ Y-ya?” tanya Alice dengan gigi bergemetar.
“ Kamu dingin?”
“ R-ru-rupany-rupanya..” gagapnya.
“ Katanya tadi nggak apa – apa.”
“ Yah kan ta-tadi habis se-selesai ice skating, aku na-naik motor. Kena an-angin lagi. T- terus kan ma-makan t-tapi sa-sambil..” Aku melepas jaketku dan tidak mendengarkannya. Ia berhenti berbicara karena kaget. Aku memasang jaket hitamku itu ke bahunya, berdiri dan mengajaknya pergi meninggalkan atap gedung itu. Dalam perjalanan menuju ke tempat motor, ia mengenggam tanganku dan meremasnya. Dunia tidak pernah terlihat sekecil dan mudah ditendang seperti ini. Dan pada saat yang bersamaan, aku tersandung batu. Dasar, ternyata aku tidak cocok jadi pembuat puisi.

* * *

                 Alice memarkir motor besar itu di depan rumahnya. “ Yakin kamu nggak mau dianter ke rumahmu?” “ Tidak, aku akan jalan.” Kataku tegas. Dia tersenyum kecil. “ Kalau mau jujur… kurasa kamu tidak perlu berpamit dengan ayahku.” Katanya lirih. “ Oh?” “ Yeah, Pa mungkin sedikit emosi dengan adanya kamu dan…” aku berpikir sejenak. Apa yang dikatakan Alice ada benarnya… tapi tidakkah berpamit termasuk ‘ jadilah sopan di hadapan ortu pacar’, alias peraturan nomor 5 di kuliahnya Ethan kemarin? Alice menggelengkan kepalanya dan berkata, “ Anyway, akan aku atur. dan thanks.” “ Untuk apa?” “ Untuk malam terbaikku.” Ia tersenyum. Aku nyengir, “ Thanks untuk malam terbaikku juga.” Ia berjalan menjauh, mau masuk ke rumahnya. Aku merasa seperti idiot. Apakah kamu akan meninggalkannya? Kenapa?  Dia memiliki suatu rahasia yang kamu ingin ketahui. Tapi yang lebih penting.. bukankah kamu menyukainya? Kejar dia, dodol! Jadi aku mengikuti suara di kepalaku (yang SELALU memanggilku dodol…)dan berjalan dengan cepat, mendekati Alice, hingga aku dapat menarik lengannya dan memaksanya untuk tidak pergi. Menceritakan rahasianya kepadaku. Memintanya untuk jalan – jalan lagi. Karena aku tidak, jelas SAMA SEKALI TIDAK, ingin malam ini berakhir begini saja. “ Alice–.” Kataku pelan, tapi pada saat yang bersamaan, dalam kecepatan kilat, dia berputar,
“ Ryker.. jak-!!”

Tapi apapun yang hendak ia katakan itu terpotong. Jelas sekali dia tidak memprediksikan kalau aku ada di belakangnya, dan kaget. Ia menarik napas dengan cepat dan mundur secara refleks. Sial sekali, memakai sepatu gladiator dengan ‘high heels’ tidak cocok untuk itu. Ia terpleset dan mau jatuh. Aku langsung menarik tangannya agar ia tidak jatuh. Pada saat yang bersamaan, ia menggapai pundakku. Jadinya kita saling mengunci. Ia mengangkat mukanya karena bingung, dekat sekali hingga muka kita nyaris bertabrakan. ( jika diperhalus : Kita nyaris berciuman). Mukanya langsung memerah, dan leherku juga terasa seperti terbakar saking malunya. Rasanya semuanya seperti slow motion, tapi diperparah. Karena aku tahu ini bukan slow motion. Jantungku terasa seperti mau keluar, rasanya seisi perutku dibalik dengan cepat,kepalaku seakan – akan nge-fly kayak waktu Ethan menantangku meminum wine merah. Lidahku kram. Aku tidak bisa ngomong. Mungkin aku agak terlalu dramatis, tapi mata hijaunya itu bisa membuat siapapun mau jatuh dan menyembah cewek ini karena terlalu cantik. Mungkin kita tetap di posisi itu selama beberapa menit, ataukah itu detik? Atau jangan – jangan bulan? Tiba – tiba Alice melepaskan pegangannya dan mencari keseimbangan. Ia membalikkan badannya, dan berlari masuk ke rumahnya. Ia bahkan tidak menoleh ke belakang untuk lihat aku yang berdiri dengan menyedihkan. Begitu pintu rumahnya itu dibanting tutup… BRAK! JEDIIIIAAAR!!! Kilat langsung menyambar disambut dengan hujan deras langsung menyerangku.

Aku tidak berlari mencari tempat teduh. Bahkan tidak saat Ethan, Hugo dan Aaron datang membawa payung lima menit kemudian. Itu saat yang didefinisikan sebagai : PINGSAN DI TEMPAT

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: