AYWMEN Bab 21 : Putus dengan Cewekku

Aku bersin. Hugo tertawa lagi. “ Aduh!! Aduh–!! Gila Ryke! Jika kamu bersin cobalah terdengar seperti cowok!!” aku menarik tisu dari tangannya dan mengomel, “ Asal kalian lupa, ini karena kalian tidak membangunkanku saat aku syok kemarin waktu jumat malam.”
“ Hei, kita sudah teriak non stop selama 5 menit.”
“Dan kamulah yang tidak bangun selama 15 menit.”
“ Yeah, bayangkan Ryker, di bawah hujan deras, tampak syok berat karena Alice memutuskannya. Ha! Dan dia pernah mengomel soal film – film romance dimana si cowok patah hati berat.”
“ Alice tidak memutuskanku,” desisku cepat sambil menarik buku di tasku, buku biologiku di loker..
“ Yeah, itu benar.” Kata Hugo sambil memutar bola matanya. Dari sudut mataku, aku melihat dia berbisik ke Aaron dan Ethan, “ Alice memutuskannya.”
“ Yang penting kamu berhasil membujuknya.” Kata Aaron keras.
“ Itu justru kurang penting sekarang.” Kataku.
“ Hah?!” respons nerd Club dengan kaget. Aku mengambil kunci lokerku dan membukanya. “ Kurasa yang penting sekarang, adalah…” ucapanku dipotong ketika ada jaket yang jatuh. Jaket sama yang aku pakai kemarin, yang kupinjamkan ke Alice. Terlipat rapi dengan ada kertas dengan tulisan tangannya yang rapi diselipkan.

Thanks.

“ Ooooo!!! Jaket dari sang mantan pacar!!” kata Hugo. Aku membalik kertas itu, dan sesuai dugaanku, ternyata ada kata – kata lebih di belakang ‘ thanks’ itu.

Brengsek.

“ Damn it… penting sekarang untuk..” “ Apa yang penting??” potong Aaron. “Maksudku…”KRRIIIIIINGGGG!!! Kata – kataku dipotong oleh bel super duper keras yang memekakkan telinga. “ Ow…” “ Hei! Siapa yang tugas menyalakan bel hari ini?!” teriak Hugo. Ethan membuka laptopnya sambil berjalan menuju kelas Mat. “Satu nama.” Kata Ethan sambil terkekeh. “Satu nama?” tanya kita bertiga heran. “Favoritnya Ryker.” Tambah Ethan

“ Alice Stuart.” jawab Aaron dan Hugo bersamaan. Aku terdiam. “Ini justru bukti dari dugaanku…” gumamku pelan. “ Hah?” “ Er.. tidak apa – apa. Ayo ke kelas Mat.” Tapi pikiranku berlari terus ke jam istirahat. Setelah berabad – abad menunggu, dan lebih dari 5 kali teguran karena melamun di kelas, dan lebih banyak lagi ejekan dari Nerd Club karena aku mencuri pandang ke Alice terus, akhirnya istirahat datang. Aku ingat dari ribuan kali aku mencuri pandang kepadanya, ia hanya balas menatapku sekali.HANYA SEKALI. Dan satu pandangan itu cukup untuk membuatku merasa dicekik dan dimasukkan ke dalam air dingin selama 3 jam. Yap, PANDANGAN CEWEK PSYCHOPATH BISA MEMBUNUHMU. Aku menghela napas panjang dan menghembuskannya. Butuh waktu lama untuk mengalihkan perhatian Nerd Club ke hal yang lain supaya aku bisa kabur dari cafeteria. Lebih lama lagi supaya aku tidak ketahuan kalau aku benar – benar PERLU untuk ke ruang pimpinan sekolah. Sekarang aku berada di depan pintu ruang itu, dengan hati berdebar – debar, dan jiwa yang akan dipenggal tidak lama lagi. Ok Ryker, kamu seorang dodol kemarin. Tapi hari ini kamu adalah seorang dodol yang lebih keren daripada kemarin. Hubungannya? Sekarang kamu bisa melakukan ‘itu’ kepada Alice tanpa perasaan bersalah. LAKUKAN ITU SEKARANG!

Aku mengetuk pintu 3 kali dengan perasaan bersalah dan agak takut. Balasannya adalah suara seperti barang pecah dan seribu file jatuh ke lantai. Seorang cewek berteriak panik. Aku menatap pintu itu dengan shock. Ruangan itu mulai terdengar lebih ramai sekarang, aku bisa mendengar seseorang menenangkan seseorang yang lainnya. Kemudian terdengar lemparan barang lain. Terdengar teriakan histeris, kemudian hening. Aku menelan ludah. 3 kali ketukan dan ada kiamat di dalam ruangan? What the maksud in the hell? Aku baru saja mau mengetuk lagi ketika Heather dan Cynthia berlari keluar dari pintu itu. Daisy kemudian keluar sambil berjalan. “Dia benar – benar butuh kamu.” Katanya singkat kepadaku. Dengan tatapan mata serius, ia memegang pundakku mengatakan ‘ good luck’ kemudian berjalan menjauh. Aku menelan ludah lagi. Mengingat bagaimana si Goku dari Dragonball yang bisa tidak memiliki akal sehat untuk bertarung (serius? Kamehameha?), atau Naruto dari.. Naruto, yang bisa menemukan keberanian, atau setidaknya Pikachu dari Pokemon, bisa menemukan muka imut yang membuat orang tidak berani memukulnya. Wahai tiga karakter dari game dan anime, BANTULAH AKU!

Aku memasuki ruangan itu. Dan di ujung satunya, cewek ber-rambut cokelat itu sedang cemberut. Tangannya memegang gelas entah milik siapa. Aku membuka mulut, berniat mengatakan sesuatu. Tapi kemudian aku membatalkannya, aku  mencintai nyawa. Alice melempar gelas itu ke lantai.

Suara gelas pecah mengudara dan aku menatap ke arah pecahan gelas itu. Janitor akan bekerja keras membersihkan semua yang dilemparnya ke lantai malam ini. Alice tampak lebih marah lagi dengan adanya aku yang membisu. Ia berjalan dengan cepat ke arahku. Merebut tasku kemudian membukanya dengan cepat. “ Ummmm…” responsku dengan heran. “ Diam.” Ujarnya kesal. Ia terkekeh kegirangan dengan gila dan mengambil keluar sesuatu yang membuat hatiku mencelos. HP-ku yang keren. “Oh…” kataku dengan takut.  “Oh yeah!” sahut Alice, tatapan matanya jelas menyiratkan dia sedang super duper kejam. “Alice… stop!!” “ Terlambat Ryker. Bertahun – tahun terlambat!!” katanya, suaranya bergetar.

“ Alice, sori, SORI!! Aku tidak bermaksud…”
“ Apa? APA?! Bermaksud apa? Mengajakku kencan? Mengusiliku, apa lagi? APA LAGI RYKER?!”
“ Lis, kamu kan tahu aku tidak pernah bermaksud nyaris, CUMA nyaris menciu-..”
“ Nyaris? Kamu berani bilang CUMA nyaris?”
“ Well, kalau kita ciuman beneran itu bisa bikin kacau.” Ujarku defensif.
“ Kacau apa?”
“ Ya kacau! Bagaimana kita bisa ketemuan di sekolah dan bertindak seperti bia-..”
“ –Sa? Biasa? Dari awal kita tidak pernah biasa.”
“ Apa maksudmu? Musuhan? Itu kan salahmu… aku tidak pernah mengajak kita musuhan.” Kataku tajam. Detik berikutnya aku menyesali kalimat itu, aku bisa merasakan bahwa ia terluka dengan kalimat itu.

“ Ryker… SIALAN KAMU!!!” teriaknya emosi. Dengan jelas ia mengangkat tangannya, mau membanting HP-ku.
“ Alice, STOP!!” teriakku balik dengan panik dan menghalangi tangannya sebelum ia membanting HP itu. Dan pada detik itu juga, hari sabtu malam itu seperti terulang lagi. Aku menarik tangannya, matanya yang hijau gelap menatapku dengan besar, dan kita berdua merasa jantung kita copot. HP-ku jatuh dari tangannya, menghantam meja, dan terpental ke lantai. Di ujung mataku aku melihat baterai HP itu terlepas. Aku cukup yakin ia tidak merencanakan yang itu. Kram mungkin? “Lepaskan, Ryker.”
“ OK.” Aku melepas tangannya. Ia memegang tangannya dengan muka memerah.
“ Tapi aku mau melepaskan lebih dari itu.” Kataku agak ragu – ragu. Ia menatapku.
“ Lanjutkan…” katanya heran. “Well… kita berumur 13 tahun.”
“ Yeah?”
“ Kelas 7,”
“ Yeah, jadi?”
“ Yah… 13 tahun saja merupakan umur yang terlalu muda untuk membangun.. relasi.”
“ Pacaran.” Sahut Alice.
“ Ya membangun relasi pacaran.” Koreksiku.  Ia mengangguk. Aku menarik napas dalam, kemudian melanjutkan,
“ Plus… aku rasa,”
“ Putus?” tanyanya memotong pidatoku yang kurencanakan baik – baik. Aku bisa merasakan hatiku mencelos lagi saat ia mengatakan kata itu. “ Yeah. Kupikir juga begitu.” balasku mencoba tidak terdengar serak. Ia mengangguk dengan kaku, “Ok,” ujarnya. Kita sama – sama diam.

Aku berdeham sedikit, “ Sori.” Ucapku. “ Tidak apa – apa.” Jawabnya cepat. “ Nggak, sungguh, sori. Aku tidak bermaksud membuat apapun di antara kita jadi… aneh.” “ Jadi, kita masih musuhan?” “ Kalau kamu mau hubungan aneh dan gila penuh cobaan dan jantung copot seperti roller coaster tanpa sabuk pegaman seperti itu, boleh.” Kataku sambil nyengir. Dia tertawa sebentar, “ Well, aku suka roller coaster… jadi…” ia tersenyum nakal, “Ryker mirip cewek..” cemoohnya. Yup, dia sudah kembali mengejek… “ Alice si… er… um…” “ Ha! Nggak bisa membalas!”

“ Er… hei, lagi berpikir di sini… ummmm… Alice si… ARRRGH! Sudahlah! Aku keluar.” Kataku sambil berjalan keluar. “ Oh, dan ngomong – ngomong…” kataku lagi sambil membalikkan badan. “ Hmm?” tanyanya. “ Lain kali kalau kamu stress atau marah, jangan lempar – lempar barang. Berbahaya.”
“ Huh, biarin! Aku suka bahaya.”
“ Tapi aku tidak.”
“ So? Kan aku bukan pacarmu lagi? Aku tidak perlu peduli apa yang kamu-…”
“ Hei, tentu saja kamu harus peduli!”
“ Kenapa?”
“ Yah…. Kalau mau jujur,” aku menghela napas panjang, tersenyum dan membuka pintu. Kemudian aku melangkah keluar sambil berkata sesuatu yang membuat leherku memerah, “ Karena mungkin…nanti setelah setahun atau dua, aku mau kita pacaran lagi.” dan di belakang, ada cewek yang kembali malu dan marah dengan kalimat itu, karena aku mendengar sebuah gelas sekali lagi pecah. Oh tidak, tunggu, HPku…!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: