AYWMEN Bab 22 : AKHIRNYA AKU INGAT!

Sekitar beberapa hari setelah putus dengan Alice, keadaan di sekolah sudah kembali normal. Tapi aku belum. Sejak awal aku terlalu sering merasa lupa sesuatu. Tapi baru saat – saat setelah putus dengannya-lah, aku baru benar – benar berpikir. Kenapa waktu kencan kita, aku merasa seperti dapat de ja vu? Kenapa waktu dia lari menjauh setelah hampir berciuman terasa familier? Kenapa kok aku seperti MENGENAL Alice bahkan sebelum ini? Benarkah aku tidak pernah bertemu dengannya?

“Game over.” Aku tersentak kaget saat sadar dari lamunanku. Perasaan sudah berkali – kali game ini sudah kumainkan, tidak pernah aku mengalami game over pada level 23. Memalukan… aku menghela napas panjang. “ Ryker…” “Hmm?” aku berbalik untuk menemukan Mom berkacak pinggang. “Mana kacatamu?” “Kamar.” Jawabku singkat.
“ Pakai.”
“ Tapi…”
“ Pakai atau kamu bersihkan loteng.”
“Loteng?” tanyaku heran.
“ Ya loteng. Sudah agak lama kita tidak membersihkan loteng…”
“Kita kan jarang ke lot..-“
“ Dan kamu jarang main game NDS-mu sekarang. Mau kubuang?” aku melompat dari sofa dan langsung naik ke lantai 2.

“ Ash! Bantu!!” teriakku sambil menggedor pintunya Ashley. Ashley keluar dengan hidung merah, “ Aku pileeek…” “Kamu bisa melihat Barbie-mu lagi dan aku nanti akan bacakan kamu buku, gimana?” “ Itu bohong, Ryker tidak pernah membacakan aku buku!” “Panggil aku kakak, dan makanya nanti aku bacakan.” “Kalau Ce Alice di sini aku pasti dibelanya.” Omel Ashley. aku terdiam sebentar. “ Jadi? Aku bantu apa?” tanya Ashley. “Er… nggak jadi, aku bereskan sendiri saja.” “ Haaah??” “ Kamu pilek, istirahat sana,” “Tapi katamu…” “ Panggil aku kakak, atau setidaknya onii-san atau apa dong! Sudah, lupakan saja aku minta bantuan.” Kataku sambil mendorongnya kembali ke kamarnya. Aku tidak perlu anak berumur 5 tahun yang membereskan loteng sambil pilek berat dan mengutarakan nama Alice terus menerus. Ashley masuk lagi, dan aku mendengar dia terbatuk kecil. Aku menatap pintu  yang dicat pink itu dengan perasaan tidak tentu. Dia tidak pernah benar – benar sehat sejak…

“ Ryke!! LOTENG!” teriak Mom dari bawah. “ I-iyaa!” teriakku balik sambil berjalan ke loteng. Aku naik ke loteng yang pengap dan bersin. Debu berkeliaran di mana – mana. Sambil menarik sapu , pel dan lap, aku menutup pintu dan menggerutu. Kemudian aku menyapu, mengepel, mengelap, bersin, mengomel, mengangkat barang – barang dan kardus, menemukan game lamaku, tertawa melihat komik – komikku, dibentak Mom karena malah mainan di loteng, kemudian kembali menyapu… saat akhirnya aku menemukan satu kardus dalam posisi terjatuh.

“Huh..” kataku sambil mengangkat kardus itu. Isi kardus itu tidak banyak, malah aku mengenali semua tulisannya sebagai tulisan Gran. Aku menarik foto album yang terjatuh. Halaman pertama. Fotoku, WAKTU BAYI. Aku terhenyak melihat betapa anehnya aku waktu bayi. Aku duduk bersila sambil menarik album itu untuk dilihat lebih dekat. Fotoku waktu sebulan, dua bulan, tiga, hingga ke umur 1 dimana rambutku sudah kelihatan seperti landak kecil. Aku terpaksa nyengir saat melihat foto dimana Gran memainkan musik metal dan bukannya Mozart. ( yang penting musik! Bukan jenisnya!) Kemudian aku tertawa dan memandangi satu per satu halaman itu.

Playgroup, Kelas TK.. hari pertama sekolah, kalimat pertama, potongan rambut baru… kemudian foto itu. Aku sedang menertawakan betapa bodohnya aku terlihat di suatu foto dan membalikkan halaman saat melihat diriku sendiri. Umur 4 tahun. Aku harus mengernyit untuk bisa melihat dengan siapa aku difoto, karena loteng tidak memiliki lampu dan hari mulai sore, PLUS! Foto itu tua banget… akhirnya setelah meneliti dengan serius… aku menyadari sesuatu. Seorang anak perempuan.. itu yang pasti. Rambutnya coklat agak pendek, dikuncir 2. Ha? Tunggu dulu, siapa itu? Aku membaca judulnya, “ Ryker dan Alice.” oh ternyata Alice…

STOP…

TUNGGU…

HAH???

WAIT…

APAAAA?!?!?!?!?!?!?!?!?!?

Aku membaca ulang judul itu dengan hatiku berdegup super duper kencang. Alice. itu PASTI Alice. Rambut coklat, mata hijau. Tapi ada yang aneh di foto itu. Jika biasanya Alice yang kukenal yang mengusiliku dan mengejek… di foto itu kebalikkannya.

Aku, Ryker Freddickson, JELAS – JELAS sedang mengejek Alice. Rambutnya sedang aku jambak di foto itu, dan mukanya kelihatan seperti orang mau menangis. Mukaku? Dengan bahagia nyengir lebar, tangan kiriku malah menunjukkan tanda PEACE ke arah kamera. Aku mengernyit ke arah foto itu. Alice? Aku berpikir dengan keras. Ada banyak sekali orang bernama Alice di dunia ini… tapi pada saat yang bersamaan seorang Alice yang tinggal di kota ini dengan rambut coklat dan mata hijau tidak terlalu sering ditemukan. Masih ada kemungkinan itu bukan Alice Stuart.. tapi pada saat yang bersamaan, hatiku mengatakan itu Alice. Seriously? Aku PERNAH bertemu Alice?? Kapan? Waktu masih umur 4, rupanya… pasti sebelum Mom dan Dad ‘menjemputku’… di rumah Gran? Masih kelas TK? Dan pada detik itu seperti disambar listrik, seakan – akan memori di otakku yang dari dulu aku cari – cari tiba – tiba bergerak, dan sebuah flashback teringat…

“ Rykeeeeer!!!” jerit Alice histeris. Aku tertawa terbahak – bahak dan mengambil mainan kodok itu. “ Haha, Alice takut sama kodok!!” aku menjambak rambut coklatnya itu. Alice melengking, air mata terlihat di ujung matanya.Aku mendengar Gran berteriak, “ Ryker, tinggalkan Alice sendirian.” Tidak akan, batinku sambil tersenyum kepada Alice. “ Ayo Alice! Cepat atau kita terlambat!” kataku sambil mendorongnya dan menariknya, menyeretnya sedikit dan tertawa lagi. Ia terombang – ambing dengan binggung. Lalu aku merebut bonekanya dan sesaat kemudian boneka Teddy-nya jatuh. Ia menjerit panik dan menarik boneka itu dari lumpur. “ Oh…” responsku, setengah merasa bersalah soal Teddy-nya. “ Ah, lupakan saja Teddy.” Kataku lagi sambil tersenyum dan mendorongnya lagi. ia menjerit kepadaku dengan marah tapi dengan mata berkaca – kaca. Lalu aku mengejarnya keliling kota sampai ia memohon untuk minta minum..

Aku terduduk dengan shock. Secepat aku ingat itu, aku ingat nyaris semuanya. Alice. ya itu Alice, Alice Stuart yang kukenal baik… yang selalu ku-usili dan kuejek, karena aku tidak tahu bagaimana dia mau berteman. Tetanggaku.. tetanggaku? Alice mantan tetanggaku? Aduuuh…INI MENJELASKAN SEMUANYA.

Dia mau balas dendam. Sekarang aku ngerti kenapa. Maksudku, aku mengusilinya dengan berpikir aku BERTEMAN dengannya. Ia jelas tidak mengerti dan memusuhiku… dan suatu hari, aku menghilang dari tempat aku biasa mengejeknya, dan muncul 8 tahun kemudian. Dan aku lupa total… Ia hanya mau balas dendam ke orang yang membuatnya mengalami MKKBS ( Masa kecil Kurang Bahagia Sekali)

Aku menarik photo album itu dengan tangan gemetaran. Kemudian membalik halaman itu. Dan halaman satunya lagi. dan yang satunya lagi hingga ke halaman terakhir. Dan lebih banyak foto denganku dengan Alice. Setiap foto itu tampak menghantuiku. Ya ampun, ALICE BENAR. Aku tidak pernah menyangka akan mengatakannya. Alice Stuart yang selama ini kucap sebagai orang gila yang salah mengenaliku ternyata benar. Dia memang mencariku, dan aku juga mengenalnya. Aku memejamkan mataku karena perasaanku yang campur aduk dan kepala yang mendadak pusing.

* * *

 “ Ryker?” aku menoleh. “ Hah?” “ Kamu akan pulang kan?” aku mengerjap sedikit. Pulang? Pulang apa? Aku berkedip lagi dan memicingkan mataku. Dan sosok yang tadinya agak kabur mulai memperjelas. Cewek… dikuncir 2. “ Tentu saja aku akan pulang. Kamu kan temanku.” Kataku dengan lancar.“ Janji?” aku menjambak rambutnya. Ia menjerit. Kemudian aku tertawa lagi. dan untuk terakhir kalinya, aku berlari menjauh dari kejarannya.. naik ke mobil yang tinggi dan pergi dari kota ini… dari belakang aku mendengar ada perempuan yang memanggilku terus menerus dan…

BYUUUR!!! aku terbatuk dan bangun. Mom di sebelahku, berkacak pinggang, ember yang tadinya penuh berisi air dibawa-nya. “ Mau sampai kapan tidur?! Nanti kamu telat sekolah!” “ Seko-lah?” tanyaku sambil memeras bajuku yang basah.
“ Memangnya itu kata baru buatmu?” “ Yeah, Mom. Itu kata baru. Semuanya berubah sejak 1300 tahun yang lalu..” kataku berusaha terdengar seperti cowok yang muncul dari masa lalu. Mom berusaha tak tertawa, “ Kalau kamu hidup 1300 tahun yang lalu, kamu belum boleh main game. Terlalu berbahaya buatmu.” Ujar Mom sambil mengambil PSPku dan mau membuangnya ke tong sampah. “ Ah, aku cepat beradaptasi.” Kataku cepat sambil mengibas – ngibaskan tanganku dan merebut PSPku. Mom menghela napas panjang. “Cepatlah siap – siap ke sekolah. Kamu sudah setengah jam terlambat bangun.” Ujar Mom. “Aaaaaah… malas, Mom…” kataku saat ingat apa yang harus kuhadapai di sekolah. Aku melompat lagi ke tempat tidurku yang basah. Mom melotot, “ Mau disiram lagi? Ryker Freddickson, kamu ke sekolah sekarang!”

“ Ogaah!!!”
“ Ryker, apa yang terjadi padamu? Belakangan ini kamu rajin ke sekolah!”

Karena aku ingin bertemu dengan Nerd Club, membahas game dan berteman dengan mereka lebih baik. Dan aku juga ingin melihat cewek itu. Cewek yang cantik tapi beri aku seribu masalah itu. Dan aku harus perang dan balas dendam.. kepada cewek yang punya dendam ke aku.  Batinku. Berharap Mom bisa membaca pikiranku. Rupanya tidak bisa, terlihat di mukanya yang muak.

“ Mom, aku cuma malas… itu aja. Plis? Aku capek…” dan memang aku capek. Capek perang dan ketemu tiap hari dengan dia. Pastinya Mom tidak menerima alasanku. Ia menyeretku keluar kamarku meskipun aku sudah menarik pintu kamarku. Ia membentakku dan aku berteriak minta tolong. Dad muncul dan tertawa terpingkal – pingkal waktu melihat kita berdua. Ashley akhirnya terbangun dan menatap ke arah kita dengan heran. Dad merekam dengan video kamera. Aku tetap memeluk tiang pintu kamarku. Setelah banyak teriakan – teriakan dan tawa dari Dad. Akhirnya tanganku kram dan Mom berhasil menarikku ke lantai bawah untuk makan pagi… dan aku terpaksa sekolah.

***

                     Aku menghela napas panjang untuk ketiga kalinya di 5 menit terakhir ini. Hugo tampak prihatin. “ Ryke, itu tidak ada di naskah. Ayolah!! Aku perlu bisa menguasai peran ini sebelum hari Selasa!!” “ Hugh.. aku tidak mau jadi cewek..” protesku sambil melepas wig berwarna pirang yang panjang itu. “ Kenapa tidak suruh Ethan saja? Rambutnya sudah pirang.” Omelku sambil melihat ke arah Ethan.
“ Oits! Aku lagi fokus hacking. Tidak bisa bantu.” Kata Ethan sambil menolak wig itu. Aaron menyilangkan tangannya sebagai signal ia tidak bisa dan meneruskan membaca. Aku menghela napas panjang lagi.
“ Cewek itu…” seluruh Nerd Club tampak kaget. “ Cewek siapa?”
“ Ryker punya cewek favorit lagi? wuhu!!”
“ Ihiiiy!!”
“ Congratz, man!”
“ Diamlah..” omelku. “ Maksudku itu, aku sedang…” lalu aku terdiam.

Suasana hening, seluruh Nerd Club tampak sedang menunggu perkataanku.“ Sedang… well, sedang.. er… haus.” ( Opsi 2 dari Nerd’s Rules : kalau tak punya jawaban, kabur.)

“ He?”
“ Um, ah, er, yah.. aku agak haus, jadi aku, yeah.. permisi..” kataku terbata – bata dan keluar dari ruang janitor sambil tersandung dan terburu – buru. Ah, sial!! Aku berjalan ke cafeteria dengan perasaan seperti orang normal menjadi gila. Rasanya BERAAAT… dan seluruh dunia ingin menarikmu ke dasar neraka. Aku menghela napas panjang dengan beban berat saat memasuki cafeteria yang ramai. Segerombol anak – anak populer sedang memarken hp baru mereka. Kelompok Punk ada di ujung lainnya, sedang mendengarkan music rock. Klub pecinta binatang sedang asyik berdiskusi di ujung sana. Dan para maniak belajar lagi.. belajar. Aku menarik karton kecil jus apel dan menatap sekelilingku. Kacau seperti biasa. Bahkan persis seperti hari pertama aku datang ke sekolah. Aku tersenyum kecil.

Ah, hari berat itu… aku ingat insomniaku sampai membuatku bergadang karena melewati hari yang terlalu berat. Apa yang bisa kuminta? Bertemu 3 kenalan orang aneh, pelajaran killer di jam pertama, salah loker, malu di depan kelas, tapi yang paling penting, mungkin bahkan yang membuat hari – hari berikutnya tampak sedikit lebih berat dan sedikit lebih menyenangkan , pada saat yang bersamaan :

AKU BERTEMU ALICE.

Jadi apa yang harus aku katakan kalau aku ternyata pernah bertemu dengannya sebelum hari pertama sekolah? Well, itu simpel. Aku membuang karton jus apelku dan keluar cafeteria dengan langkah lebih mantap. Aku cuma harus mengingatkannya.

 * * *

“ Kalian akan tunggui aku? Serius? Tidak perlu… aku cuma…” “ Ryker!” potong Hugo, “Kamu muncul tiba – tiba setelah tergagap – gagap dan kamu berkata akan bertemu dengan Alice?! Mantan pacarmu itu?! Gila apa?! Tidak, kita akan menunggui kamu hingga kamu waras setelah kamu keluar dari ruangan itu.” “ Tapi aku…” “ TIDAK!”

“ Ryke… sudahlah, kita cuma akan menungguimu di luar ruangan pimpinan sekolah setelah kamu bertemu dengan Alice. ngapain sih emangnya kamu mau ketemuan sama dia?” “ Kalian akan tahu BESOK. Jadi tidak usah nunggui..” “ Kalau gitu kita tidak akan biarkan kamu keluar dari sini!!” aku menghela napas panjang dan menatap ke arah Nerd Club dengan kesal. Aku perlu ngomong dengan Alice, tapi detik aku bilang aku perlu keluar dari ruang janitor setelah pulang sekolah hari ini untuk bertemu dengannya, tiba – tiba mereka panik… dan mereka mau menungguiku setelah pertemuanku dengan cewek gila itu. “ Ya sudah. Aku diburu waktu. Kalian boleh tunggu di luar… tapi jangan menguping!” 3 cowok mengangguk, senang argumen mereka menang. Aku keluar dari ruang Janitor, dan mereka mengekor. Aku bisa mendengar Hugo berbisik “ Dia sudah gila.” dan dibalas dengan Aaron, “ Aku tahu..” Aku menoleh dan memandang mereka dengan benci. Mereka cuma nyengir. “ Kurasa dia mau menembak Alice lagi..” bisik Ethan, disusul Hugo yang berkata, ‘ ihiiiy!!’ aku mengumpat – ngumpat sambil membelok ke gang ruang pimpinan sekolah.

Lalu aku terdiam. Ini saatnya aku harus ngomong ke Alice… aku mengetuk pintu ruang itu dengan tegang. Seakan – akan semuanya jalan slow motion. “ Ryker?” tanya Cynthia heran saat membuka pintu. “ Er… hai?? Bisakah aku ngomong ke Alice.. sendirian?” Daisy menyikut Alice yang tampak heran. Heather langsung keluar dari ruangan. Cynthia menurut. Daisy masih tersenyum menggoda, lalu ia keluar juga. Aku masih sempat mendengar Hugo terkesiap. Dan Ethan serta Aaron berkata, ‘ hi’ dengan canggung ke cewek – cewek itu. Aku menutup pintu dengan pelan lalu membalikkan badan. “ Hei.” Sapaku. “ Ngapain??” tanya Alice heran. “ Ummmmm… well… susah menjelaskannya… tapi, aku tahu apa maksudmu.” “Tahu maksudku apa?”

“ Tahu maksudmu… soal… aku… Urgh! Gini aja, kita main game saja. 5 pertanyaan. Kamu tanya 5 pertanyaan, aku jawab. Aku tanya 5 pertanyaan, kamu jawab. OK?”Alice tampak semakin kaget. Tapi aku tahu ia penasaran dengan apa yang aku maksud.

“ Ok..??” jawabnya ragu – ragu, lalu ia bertanya.
“ Ngapain kamu disini?”
“ Uh… well, suatu hal yang penting. OK? Giliranku untuk bertanya. Kamu yakin kamu nggak salah mengenaliku?”
“ Yakin, seyakin air akan mendidih di suhu 100 derajat celcius. Dan jawabanmu untuk pertanyaanku itu aneh… anyway, pertanyaanku! Game favoritmu apa?”
“ Uh…. High School Hell??”
“ Kenapa?”
“ Itu pertanyaan yang ketiga… seharusnya..”
“ Jawab sajalah!” desaknya.
“ Yah.. maksud dari gamenya nggak jelas, agak horor, seru, banyak level, cewek – cewek cantik, apalagi yang bisa diminta? Giliranku untuk bertanya. Menurutmu, aku melupakan sesuatu kan?”
“ Yeah.”
“ Nah, bagaimana kalau aku ingat apa yang kulupakan?”
“ Hah??”
“ Bagaimana, kalau misalnya, aku ingat semua hal yang terjadi antara aku dan kamu.. sebelum aku pindah lagi ke sini???”
“ Ryker…” ia berkata tiba – tiba, tampak syok.
“ Pertanyaan yang kelima.” Dan aku berhenti sebentar, karena jantungku benar – benar mau copot. “ Kamu, Alice Stuart, adalah mantan tetanggaku yang sekelas denganku waktu TK.. kan?” Alice terkesiap. Aku serasa tidak bisa ngomong apa – apa lagi saking tegangnya. Apa reaksinya? Menangis? Memelukku karena akhirnya aku ingat? Atau…

“ RYKER! DASAR COWOK BRENGSEK!” umpatnya langsung sambil memukul lenganku dengan super duper keras. “ Aaaah…” ucapku refleks sambil memegang lenganku.
“ KAMU INGAT DAN KAMU TIDAK BILANG APA – APA KE AKU?!” bentaknya sambil maju selangkah.
“ Hei, Lis! Lis! Bukan itu, aku..” kataku sambil mundur.
“ BUKAN APANYA?! AAARGH!! TAHUKAH KAMU AKU BERUSAHA KERAS UNTUK MENGINGATKANMU?! DAN TERNYATA KAMU INGAT?!?!” teriaknya sambil terus maju untuk memojokkanku.
“ Lis… aku tidak ingat…” kataku sambil terus mundur.
“ TERUS KENAPA KAMU TAHU?!” teriaknya emosi sambil mendorongku hingga menempel ke tembok. Ia tampak mau menampar… agh!!
“ Lis, stop, stop, STOP!” ia berhenti mengangkat tangannya yang tadi sempat mau ia layangkan ke mukaku. Aku melepas tasku, dan menarik foto itu. Sambil menaruh tas itu di lantai, aku menunjukkannya foto itu. “ Uh… Mom menyuruhku membersihkan loteng, dan, yah.. aku ketemu, dan… ingat?” jelasku agak takut – takut. Alice meneliti foto itu. Aku terdiam. Ia menaruh foto itu di meja, lalu membentak lagi sambil menunjuk – nunjuk foto itu, “ KAMU INGAT HANYA GARA – GARA FOTO USANG SEPERTI INI?!”

“ Hei! Foto itu memberi.. ow! BISAKAH KAMU BERHENTI MEMUKUL?! FOTO ITU MEMBERI JAWABAN LANGSUNG TAHU! KAMU MEMBERI PETUNJUK UNTUK INGAT TAPI DENGAN SUSAH!”
“ TAPI ITU TETAP PETUNJUK!”
“ YANG TIDAK DAPAT DIMENGERTI!”
“ KAMU SAJA YANG DODOL HINGGA TAK MENGERTI, RYKER!”
“ DAN KENAPA KAMU MASIH MENYIMPAN DENDAM SEPERTI ITU KE AKU?! ITU TERJADI SEKITAR 8 TAHUN YANG  LALU! KAMULAH YANG TERLALU BERHARAP AKU INGAT!”
“ ORANG BISA INGAT APA YANG MEREKA LAKUKAN PADA TEMAN TK MEREKA!”
“ WELL, TIDAK SEMUA ORANG BISA!”
“ TAPI KAMU MEMBUATKU MERANA! SEHARUSNYA KAMU INGAT!!”
“ AKU TIDAK MEMBUATMU MERANA! AKU CUMA JADI TEMANMU!”
“ KAMU JADI MUSUHKU DAN MENERORKU TERUS TIAP HARI!”
“ ITU BOHONG! AKU MENEMANIMU PULANG-PERGI KE SEKOLAH-RUMAH TIAP HARI!”
“ Yeah.. MENEMANI SAMBIL MENJAMBAK! AKU TIDAK PERNAH BISA TENANG SELAMA ADA KAMU!”
“ KAMU TIDAK PERNAH BISA TENANG KARENA KAMU HIPERAKTIF!” teriakku, suaraku sudah mulai serak karena dari tadi berteriak.

“ Kamulah yang hiperaktif, Ryker!” bentaknya emosi, tapi suaranya juga sudah serak.
“ Plis! Siapa yang mengejarku keliling sekolah waktu Maret kapan hari?!”
“ Itu waktu kita kelas 7, bukan TK! Dan aku punya hak untuk mengejarmu! Aku punya hak untuk balas dendam!”
“ Setidaknya kamu bisa ngomong jelas, biar aku ingat! Kenapa kamu justru menjauhiku, membuatku binggung! Kalau kamu ngomong jelas, aku pasti…!” tapi ia tidak mendengar ocehanku dan langsung menyerangku. Aku mundur, dan ia mengejar. Lalu ia mengejarku hingga barang – barang berjatuhan.. “ Lis! Dasar gila! stop!”

“ Kamulah yang gila, Ryker!” “ Dasar aneh!” “ Aku tidak aneh!”

Kamu mungkin capek membaca argumen, debat, dan tengkaran konyolku dengan Alice. Jadi kupercepat saja. Pokoknya kita saling mengejar. Lalu saling mengejek. Kembali saling berargumen. Mengingat masa lalu dan membawanya kembali ke masa depan, dan juga membentak dan berteriak seperti anjing bulldog kesetanan. Kita terus seperti itu hingga rasanya aku mulai gila karena mungkin pita suaraku sudah rusak karena terlalu sering berteriak dan otakku sudah tidak bisa dibuat untuk berpikir. Mungkin kita tetap melanjutkan tengkaran itu hingga berhari – hari dan berbulan – bulan. Mungkin bahkan melewati tahun – tahun… dan barang – barang dilempar, jangan lupa ada sedikit adegan menampar dan lebih banyak protes. Hingga akhirnya, aku jatuh, dan duduk. Kehabisan energi untuk berdiri, ngomong pun sudah tinggal bisikan. Alice ikut terdududuk di sebelahku, kemungkinan besar juga tidak bisa ngomong. Sambil terengah – engah, kita tetap berargumen.. dalam bisikan.

“ Dasar cowok aneh.”
“ Cewek gila!”
“ Kamulah yang mengejekku pertama kalinya! Dan kamu lupa!”
“ Aaaah!! Sudahlah, aku capek, Lis… kenapa sih kita melanjutkan argumen kita dengan gengsi, dan saling menyerang tanpa henti, mengulang kembali apa yang kita omongkan dan terus menerus saling menyalahkan?” tanyaku kesal. Ia tampak BT. Aku berkata lagi dengan kesal, “ Kalau kamu beritahu soal masalah TK itu dari pertama kalinya kita bertemu, aku pasti…”

Lalu aku terdiam, tidak bisa melanjutkan omonganku. Ia juga terdiam. Akhirnya aku melanjutkan, “ Aku pasti ngomong sori.” Lalu aku menatap ke arahnya. “ Sori. Aku tidak pernah bermaksud membuatmu takut waktu masih TK… aku tidak pernah bermaksud lupa. Aku cuma seorang pelupa, itu saja. Lagian.. sori aku tidak mendengarkanmu.. sori aku membuat kita masuk ke perang…”

“ Tidak, sori!” potongnya. “ Kalau yang perang itu… itu aku.” Lalu ia menatapku dengan tatapan agak takut dan bersalah, “ Akulah yang membuat perang konyol ini.. sori…” “ Kita berdua,” Koreksiku. “ Kalau aku ingat, perang itu tidak akan ada.”

Kita berdua terdiam. Lalu kita saling pandang dengan bersalah. “ Ummmm…” ucap kita bersamaan. Lalu mataku membesar, saat aku sadar. “ Er… Lis?” “ Ya?” “ Tahukah kamu… mungkin teriakan kita tadi…” lalu aku menunujuk ke arah pintu.” Ia melongo. Rupanya ia juga baru sadar… Nerd Club dan cewek – cewek pimpinan sekolah yang lain di luar..

“ Mungkinkah mereka mendengar…??” tanyaku takut.
“ Er… mungkin…?? Ruangan ini nggak kedap suara..”
“ Sial…”
“ Emmm…”
“ Aku akan…” lalu aku berdiri dan membuka pintu. Dan tentu saja… Hugo, Ethan, Aaron, dengan Cynthia, Daisy, dan juga Heather… ada diluar. Mereka mendengar semuanya. “ Oh, darn…” gumamku pelan bersamaan dengan Alice yang sudah berdiri di sebelahku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Si Baka Punya Cerita

Temukan Info Baka di Sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: