AYWMEN Bab 23 : Aku Tahu, Kamu Tahu, dan Kita Semua Tahu

Aku menelan ludah. Hugo, Ethan dan Aaron menatapku seperti aku punya 2 kepala. Aku membuka mulut, tapi kemudian menutupnya lagi. Aku tidak tahu harus ngomong apa ke mereka. Saat melirik ke arah Daisy, Heather dan Cynthia, mereka tampak seperti telah mendengar Pilly hidup kembali.. lalu disambar petir dan mati lagi. Aku menatap ke arah Alice. Ia tampak tak tahu harus ngomong apa juga. Akhirnya setelah saling pandang dengan canggung dan salah tingkah, aku berkata, “Er…”

“ Tunggu,” potong Hugo tiba – tiba. Aku menatapnya kaget. “Jadi… Ryker Freddickson memang PERNAH bertemu dengan Alice Stuart…?” tanyanya. Ooooh, pakai nama lengkap. Dia benar – benar kecewa. “ Mantan tetangga.” Koreksi Alice. Aku mengangguk – angguk. “Oh.” Kata Hugo terdengar shock. Lalu Ethan berkata,
“ Dan… Alice tahu dari dulu…??” “ Sejak awal.” kataku lagi. Alice mengangguk.
“ Kenapa kok.. kalian, tak ngomong dari dulu?” tanya Daisy, terdengar shock dan agak marah. Alice berkata defensive, “Yah, aku juga binggung harus ngomong apa! Masa idiot ini lupa total tentang aku, padahal dulu tiap hari dia…”
“ Nemeni kamu. Yeah, kita dengar.” Potong Heather serak. Aku menggaruk leher belakangku dengan canggung. Lalu aku berkata lagi, “ Er… mungkin kalian tadi sudah dengar, tapi aku akan ulangi lagi saja… aku baru ingat kemarin. Jadi… well, aku memang tidak ingat kalau aku ketemu Alice sebelum ini… ummm…” Alice mengangkat tangannya dan membuat tanda agar aku berhenti ngomong. Aku pun menurut.

Lalu terjadilah kekacauan terbesar seumur hidupku. Hugo, Ethan dan Aaron, jangan lupa Heather, Cynthia, dan Daisy melampiaskan bagaimana kita membuat mereka tampak seperti idiot – idiot yang ikut perang konyol. Hanya karena aku lupa dan Alice tidak ngomong, mereka jadi ikut stress. Oh, bagaimana mereka melampiaskan emosi itu? Tidak begitu senang kau bertanya.

Kira – kira anggota Nerd Club yang lain berteriak, “Ryker dasar kamu cowok pelupa yang dodol!” atau sesuatu semacamnya, anggota pimpinan sekolah yang lain berteriak dan mencubiti Alice. Lalu aku dan Alice digotong bersama oleh mereka. Kita tidak bisa mengelak.

Hugo menyeret kakiku. “Hugh! Stop!!” tapi Ethan menarik tanganku dengan marah dan menguncinya di belakang punggungku. Lalu Aaron membantu Hugo mengangkat kakiku dan mereka berdua mengangkat kakiku dan menyeretku. “Oi, OI, OIIIII!!!” teriakku panik sambil berusaha tidak menangis karena Ethan sedang mengkelikiti pinggangku. “Ethaaaan!!!” teriakku marah sambil berusaha tidak tertawa. Aku tidak seberapa yakin tentang apa yang terjadi dengan Alice. Yang pasti, ia berteriak seperti seseorang yang ada di ujung neraka. Entah apa yang terjadi. Kuharap ia berhasil hidup melalui ini.. amiin.. Aku tidak mendengar apa yang dibisiki Daisy ke Hugo, dan dari Hugo ke seluruh anggota Nerd Club, dan dari seluruh anggota Nerd Club ke seluruh anggota pimpinan sekolah. Mereka merencanakan sesuatu. Jujur, aku tidak mau mati!!

“ GOTONG MEREKA KE LAPANGAN FUTSAL!!!” teriak Hugo, disusul teriakan penuh amarah dari yang lain. Detik berikutnya, mereka menyeret kita berdua ke lapangan futsal. Saat kaki mereka menginjak rumput segar di lapangan futsal itu, kakiku dilepas dan aku jatuh ke rumput. “ Ow…” “Ethan… bisakah kamu…” “Jangan kuatir. Aku ngerti.” “Thanks.” Jawab Hugo, matanya memandangku dengan sinis. Aku menelan ludah. Apa yang mereka rencanakan?! “Hugh! Aku tidak bermaksu—“

“ Sudah diam sajalah Ryke!” bentaknya balik. “I-iya..” kataku dengan takut. Alice tiba – tiba jatuh, ( dilempar oleh Daisy), di sebelahku. “Apa yang kamu—“ tanyanya ke Daisy, tapi ia dipotong dengan cara yang sama seperti Hugo. Tiba – tiba aku lihat Ethan muncul dengan Aaron. Dan Cynthia dan Heather juga muncul. Mereka bereempat membawa setidaknya 4 ember isi air. “ Ah…” kata Alice. Mengerti rencana mereka. Aku sudah pasrah. Mereka berenam berdiri di depan kita. “ Nanti ambil ember isi air lagi.” kata Hugo ke Aaron. Aaron mengangguk. Daisy tersenyum dengan sinis. “NIH, hadiah untuk kalian yang sukses bikin kita nggak bisa hidup tenang selama kelas 7!” teriaknya. Beberapa detik sebelum aku dan Alice disiram, aku nyengir kepada Alice. Ia tersenyum lemah balik. Aku mengenggam tangannya. Lalu aku menutup mataku, dan berpikir mungkin aku.. kita, memang berhak atas siraman ini.BYUUUUUR!!!!

Siraman itu berlanjut, hingga satu lapangan futsal itu tersiram dengan air. Lama – lama, lumpur juga dibuat jadi bahan lempar – lemparan. Aku dan Alice hanya berdua membalas mereka dengan peresan baju dan lumpur yang masih nempel di kulit. Selama mereka berenam menyerang seperti sudah direncana. Akhirnya, mereka mulai berhenti menyerang sekuat tenaga. Dan setelah itu, kita cuma asal lempar lumpur dan air, tak peduli mengenai siapa. Saat semuanya sudah tak punya tenaga untuk melempar satu gumpalan lumpur lagi, kita semua tiduran di lapangan yang basah, terengah – engah. Akhirnya Cynthia terkikik, dan Aaron menahan tawa. Aku melihat muka semua anak SMP kelas 7 ini yang terkena lumpur dan agak BT, tapi masih berani untuk berteman, lalu ikut tertawa. Hugo terkekeh, dan Heather juga tertawa. Alice tertawa keras dan Ethan nyengir. Kita berdelapan terbahak – bahak menertawakan muka masing – masing. Kita tertawa terpingkal – pingkal hingga Hugo memukuli lapangan meski lapangan inilah yang jadi korban.( sori, lapangan..) Kita tertawa terus hingga siang menjadi sore dan kita tertawa hingga menangis, lalu air mata kita habis dan perut kita sudah sakit.

Perang besar gara – gara aku dan Alice ini, perang Nerd Club vs pimpinan sekolah kelas 7 : SUDAH SELESAI. Pemenangnya? Jujur saja? Kurasa ini pertandingan seri.

***

“ Kamu itu bikin aku kesal.” Ujar Alice BT. Aku tersenyum. Meski harus sembunyi – sembunyi, kita tetap menelpon satu sama lain setiap hari waktu malam. “ Memangnya kenapa?” tanyaku sambil mengubah posisi menelponku. “ Ya gara – gara kamu aku jadi dikurung di kamar! Hukuman masuk rumah dengan kondisi basah kuyup, telat 2 setengah jam, dan tas hilang! Pa dan Ma memarahiku hingga 3 jam!! Imagemu kepada Pa sudah semakin hancur.” “Tunggu, kamu beritahu papamu soal aku jadi biang perkara?!” “Aku tidak sekejam itu. Jika aku beneran cerita, kamu akan mati besok pagi. Dia punya koleksi senjata…” celotehnya. Aku merinding.

Gara – gara perang lumpur itu, kita pulang terlambat dan seluruh Nerd Club, dugaanku para cewek pimpinan sekolah juga, dimarahi dan dikurung di kamar sebagai hukumannya. Tidak juga sih, Ethan tidak dikurung, tapi ia juga tidak bisa keluar dan bersenang – senang sendiri, jadi ia juga mengurung diri di kamar untuk hacking. Kudengar Cynthia lebih parah dari kita semua, ia harus mencuci piring di restoran tantenya selama sebulan full. Tidak ada satu pun dari kita yang mengomel atau saling mengadu sih. Perang lumpur itu seru.

“ Tunggu, jadi kamu tidak ingin aku mati, kan? Oh, so sweet…” godaku. Alice menutup telponnya. Aku menghela napas panjang dan menelpon Hp-nya. ia menjawab lagi.
“ Dasar…” omelnya.
“ Jangan ditutup dong.. pulsaku akan habis…”
“Memangnya uang sakumu kamu habisin buat apa?” tanyanya.
“ Ummm….”
“Coba kutebak, beli game.”
“ Salah. Beli game DAN majalah.” Koreksiku. Saat kudengar ia mendengus, aku berkata defensif, “ Ayolah, Lis!! Aku kan juga cowok..” “ Yang terlalu maniak game! Bagaimana dengan nilaimu?!” aku memutar bola mataku. “ Ini liburan…” kataku mulai cari perkara.“Liburan yang seharusnya diisi dengan banyak latihan untuk kelas 8! Memang kita sudah masuk akhir Desember, tapi tidak berarti kamu boleh bersenang – senang terus, tahu!”

“ Aaarggh! Bisakah kita berhenti bicara soal nilai sebentar?! Otakku mau meledak di sini..” “ Dasar malas!” hardiknya. Aku mengeluh. Lalu aku kembali berkata lagi, “Jangan lupa bawa Daisy waktu lusa.” “ Iya, iya. Jangan lupa Hugo juga.” “Hei, dia sobatku. Mana mungkin aku lupa dia?”

Yap. Perang lumpur itu diadakan sekitar pertengahan Desember… oh, dan apa yang terjadi waktu natal? Aku tidak terlalu ingat. Yang pasti, NATAL SUDAH LEWAT! Dan aku lega, tebak apa yang terjadi waktu natal? Aku sengsara banget soalnya Al–… Ups! Sori, soal cerita natal itu, nanti aja, OK? Anyway, sekarang sudah tanggal 29. Festival sudah dekat. Jadi apa rencana besar Nerd Club? Hehehe, ingat soal perang selesai? Aku tidak benar – benar bermaksud itu SELESAI. Kita akan menyelesaikannya lusa, waktu festival. Kejam? Tidak juga, tunggu saja, lihat rencana perfect kita.

Aku tertawa kecil. Ia bertanya tentang tawaku itu. “Sedang membaca manga lucu.” Aku berbohong dengan suara pelan. Aku bisa mendengar Mom lewat depan kamarku untuk ke kamar mandi. Ia berbisik balik di ujung telpon “ Thanks Ryke.” “Wow, tumben ngomong thanks. Untuk?”

“ Tidak, aku serius. Kalau kamu tidak mengganti pikiranku kapan hari… waktu kita kencan, aku tidak akan meminta bantuan para kakak kelas, dan kakak kelas tidak akan meminta bantuan ke guru, dan guru tidak akan meminta bantuan ke kepsek. Jadinya, tidak akan ada festival.” Aku tersenyum. “ Thanks juga.” “ Untuk apa?” “ Untuk mengadakan festival. Tidak ada festival sama dengan tidak ada pesta untukku.” “Iyo.” Balasnya seperti anak cowok. Aku tertawa pelan. “Hei Lis,”
“ Hmm?” “ Nanti waktu festival, aku reserve kamu, ya.” “Maksudmu reserve aku? Memangnya aku kursi?” “ Bukan, maksudku… jangan pergi sama temen – temenmu. Atau pergi keluyuran sendiri. Apalagi sama cowok lain.” Ancamku. “ Kenapa?” tanyanya. “ Ya, sama aku aja! Aku punya sesuatu untukmu lusa.” “ Apa? Ejekan?”

“ Bukan.. hadiah.” Ia tertawa pelan. “ Ah, tumben banget Ryker beri aku hadiah,” katanya, suaranya terkesan sedikit manja, lalu ia menambahkan lagi. “Ok, toh aku tidak mungkin pergi sama cowok lain selain kamu.” “ Aku?” “ Yeah.” “ Oh… so swee—“ ia menutup telponnya lagi sebelum aku bisa mengatakan kalimat itu dengan nada menyebalkan. Aku terkekeh pelan dan mematikan telponku. Lalu aku meng-sms dia.

C u hr lusa, g’ night

Ia membalas sekitar semenit kemudian.

Dasar idiot.. night.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: