AYWMEN Bab 24 : Festival!

“ Hugh, sudah siap semua?” ulangku lagi, dengan khawatir. “ Untuk ke-25 kalinya… SUDAH RYKER! SUDAH!!” bentaknya balik. Aku nyengir. Setelah berhari – hari MEMOHON kepada Mom dan Dad, aku akhirnya diperbolehkan ikut festival… dengan syarat tidak kembali ke rumah dengan baju berlumpur yang tidak bisa dipakai lagi. Di sisi yang lain, Hugo kesal kepadaku yang memaksanya kabur dari kamarnya untuk ikut festival. Resiko? Diketahui orang tuanya PLUS : harus jadi vegetarian seumur hidup. “ Iya, iya, sori…” “ Memangnya kenapa sih aku harus keluar dari kamarku?! Kan kalian bisa ngurus untuk festival ini sendiri tanpa aku!” kata Hugo balik, masih ngambek. “ Yeah, tapi aku punya surprise buat kamu.” “ Sup—APA SIH MAKSUDMU RYKE?!” bentaknya. ( dia emosi karena takut harus jadi vegetarian seumur hidup…) “ Sabar… ntar cewekmu nangis.” “ Cewekku…?? Aku nggak punya ce—“.. ia terpotong saat Aaron dan Ethan muncul. “ Sudah siap.” “ Akan menyala secara otomatis PERSIS jam itu. Keren kan? Laptopku gitu dong!” kata Ethan.
“ Yakin?” tanyaku.“ Yakin.” Ulang mereka berdua bersamaan.“ OK.”
“ Thanks Ryke.”
“ Untuk apa?” tanyaku heran ke Ethan. Ethan nyengir, “ Untuk memberikan ide gila itu. Rencanamu keren.” Aku tersenyum balik. “ Hei, tuh festivalnya.” Celetuk Aaron sambil menunjuk ke jalan Birchfir High. Penuh dengan stand – stand makanan berbau enak, stand – stand games biasa, dan orang – orang yang berkerumun melihat band yang tampil dan membeli balon. Siapapun boleh ikut festival, jadi tempatnya penuh.

“ Wow. Rame.” Komentar Hugo syok. “ Mmm-hmm… hei, ayo.” “ Ayo apa?” tanyanya balik. “ Menikmati festival. Kita disini untuk bersenang – senang tahu!” “ Tapi… latihan mat…” “ Oh, berhenti bersikap seperti anak rajin untuk sementara dan jadi anak liar!” kataku balik sambil menarik lengan bajunya dan menyeretnya ke dalam kerumunan orang banyak itu. Ethan dan Aaron ikut sih, tapi terpisah di tengah – tengah jalan karena Aaron ingin memancing ikan mas. Jadi aku menyeret Hugo sambil mencari – cari sosok cewek jangkung berambut coklat panjang itu… “ Di mana sih dia?!” gumamku kesal sambil tetap menarik Hugo ( yang memberontak dengan menyedihkan). Saat itulah aku melihat Alice. “ LIS!” teriakku, mengalahkan suara drum band rock yang sedang main. Alice menoleh kaget. Ia lalu tersenyum lebar dan menarik Daisy. Aku menarik Hugo. Hugo tampak kaget, lalu berbisik ke aku, “ Apa maksudmu.. tunggu.. tadi kau bilang cewekku? CEWEKKU?! Ryker!!! Lepaskan!!” sambil memberontak lebih keras. Daisy tampak ingin lari juga. Mukanya memerah. Lalu aku dan Alice berhadapan dan mendorong Hugo dan Daisy agar bertatapan muka. Saat akhirnya itu terjadi, Hugo terkesiap dan Daisy tampak super duper malu. “ H-hei.” Sapa Hugo. “ Hei..” sapa Daisy balik. “ Tahukah kalian?” tanya Alice sambil tersenyum lagi. Aku berdiri di sebelahnya. “ Di salah satu manga Jepang, ada game dimana si cowok dan cewek tangannya diikat bersama… dengan pita putih.” Lanjutku. “ Dan mereka baru boleh melepaskan pita itu saat sudah tiba waktunya game itu selesai.” Lanjut Alice.

“ Yeah… romantis,kan?” godaku sambil mengedipkan sebelah mata ke Hugo. Ia tampak merana… tapi pada saat yang bersamaan bersyukur. Ia tidak pernah berani menyatakan cinta ke Daisy. Dan aku selaku teman baiknya, sedang berusaha membantu. Yeah, membuatnya merana. Tapi dengan cewek yang dia suka, jadi tetap saja, membantu di bidang cinta, kan? “ SO!” kata Alice keras,

“ Kita penasaran apakah kalian bisa menjadi kelinci percobaan yang seru. Siapa tahu tahun depan kita bisa bikin game itu di festival, hmm? Sukarelawan akan susah dicari. Kalian tampak cocok… BANGET.” Goda Alice juga. Aku menarik pita putih itu dari saku celanaku. Alice langsung mengikatnya sementara aku menahan agar Hugo tidak kabur dan Daisy tidak menepis tangannya Alice. Ini susah… aku dicakar oleh mereka berdua. Ow…

“ NAH! Selesai!” kata Alice dengan capek, saat akhirnya pita putih itu sudah diikat mati-ti-ti! Tidak ada yang bisa membukanya, kecuali Alice sendiri. ( percayalah, aku pernah diikat dengan tali yang Alice ikat mati di rumah waktu ia babysit. Aku tidak bisa berkutik, sama sekali.) “ Aliiiiice…” omel Daisy sambil maju selangkah. Hugo terpaksa ikut maju dengan tergagap – gagap. Mukanya merah padam. Aku mengeluarkan senyumanku yang paling menjengkelkan. Tiba – tiba Daisy berjalan cepat ke arah Alice yang langsung mundur. Hugo terseret ikut maju, menghadang ke arahku. Aku kaget dan mundur bersama dengan Alice. Tatapan matanya Alice tampak kaget, jelas tidak memprediksikan hal ini… lalu ia sadar rencananya Daisy. Dengan cepat, ia menarik tanganku lalu kita berdua kabur dari dua sejoli menjalin cinta itu yang sedang berlari – lari mesra.. ihiiy! ( sori, Hugh, huahahaha) cara lari Hugo dan Daisy kelihatan romantis… banget. Seperti, tipe berlari slow motion dengan rambut bergoyang sempurna di pantai plus efek slow motion gimana gitu! Apalagi kamu bisa membayangkan lagu – lagu romantis mengikuti saat mereka berlari bersama..berbeda dengan aku dan Alice.

Kita berlari kayak orang dikejar setan. Sebagian besar karena memang kita dikejar setan. Orang – orang yang kerasukan seekor setan, maksudku. Kita berlari sambil menyuruh orang – orang untuk ‘ MINGGIR! MINGGIR!!’ dan melompati banyak meja, orang, anak kecil, mainan, makanan jatuh, genangan air yang jatuh, dan terutama kucing dan anjing yang kesasar di Festival sebesar ini. kita terus berlari masuk ke seluk beluk area stand – stand punya klub punk dan yang lain. Kita terus berlari.. hingga akhirnya aku melepas pegangannya Alice dan menggandengnya, dan kita berlari lebih pelan… lalu tertawa, dan akhirnya, kita berhenti berlari. Terus kita berjalan sambil bergandengan tangan. “ Aduh… dimana mereka?” tanyaku.

“ Hilang,” jawabnya.
“ Larimu cepat juga…”
“ Aku sprinter tercepat waktu SD.”balas Alice bangga.
“ Heh… aku pelari terparah sampai sekarang.”
“ Ah, lupakan berlari… aku jadi lapar tiba – tiba.”
Aku mengerutkan kening, lalu berkata, “ Tiba – tiba? Apa? Itu alasan terbarumu untuk minta traktir makan?” “ Siapa pula yang minta traktir… tapi kalau mau ya nggak apa – apa.” Katanya, menambahkan kalimat terakhir itu buru – buru. Aku menghela napas panjang dan nyengir lebar. “ Oh, begitu… ya sudahlah, aku juga lapar.” Kataku sambil menarik tangannya untuk ke salah satu stand yang menjual kentang. “ Hei jangan kentang dong!” protesnya. “ Kenapa?” “ Ya nggak bikin kenyang! Beli yang lain! Tuh, hotdog.” Aku menatap ke arah stand hotdog. PENUH. Melihat ke stand kentang. Sepi. PENUH. Sepi. PENUH. Sepi. Aku lebih suka sepi. Aku mengerang pelan. Lalu berkata, “ Lain kali, aku yang minta kentang dari kamu dan kamu harus bilang mau.” Alice mengangguk riang, “ Yeeey! Hotdog!!” kita mengantri sekitar 2400 JAM. Dan sudahkah aku ngomong kalau kita harus berdesak-desakan dengan banyak sekali orang yang ada di sana dan nyaris kehabisan udara karena didorong terus menerus oleh orang dari belakang… apalagi harus menahan emosi saat beberapa kakak kelas dari kita menyerobot antrian! Dan ada orang lain yang menyerobot kita lagi!! Aku harus menahan Alice untuk tidak menampar muka pria yang menyerobot itu. “ Sabar… sabar.. LIS! Jangan…” “Tidakkah kamu lihat betapa LICIK orang itu melaku—“desisnya, “ Ya, aku lihat, tapi kita tidak akan, bisakah kamu berhenti bergerak?!” kita saling melotot. Lalu aku menariknya lagi untuk maju pelan – pelan.

Setelah akhirnya antrian itu habis dan kita berhasil mendapat 2 hotdog ( punya Alice sekitar 14 cm lebih panjang dari punyaku… lebih banyak mayo, dan jangan lupa ia menambahkan telur dan keju… aku merasa seperti seorang cewek lemah di bandingkan dia.)

“ Hei, mau ke mana?”
“ Um.. masih jam berapa?” tanyaku.
“ Buset dah! Sudah jam 8!”
“ Oh. Tidakkah kamu akan bangun sampai jam 12?” tanyaku heran.
“Targetku jam 3 pagi,” jawabnya balik sambil menggigit gigitan yang super besar.
“Heh… kudengar Heather targetnya jam 5?”
“ Yeah! Tahu dari mana?”
“Facebook… hei, tidak akan ada acara pada jam 12, ya?”
“ Yeah… sayang kan? Kita cuma bisa bikin countdown dan… yah, setelah itu pulang. Aku yakin jam 10 semua orang sudah bakal siap – siap pulang…” katanya, menghela napas panjang.
“ Tapi kamu nggak, kan?”
“Nggak mungkin! Aku nggak mungkin akan tinggalkan tempat ini sampai jam 1 atau apa…”
“Oh, OK. Terus sekarang ngapain?”
“Mau nonton band? Kudengar band ini lumayan. Pernah menang lomba di luar provinsi atau apa.” Aku mengangguk dan kita berjalan ke arena band yang bermain. Kita berdiri sambil menunggu… dan menunggu… melihat jam, dan menunggu lagi, hingga akhirnya, band itu muncul. Salah satu vokalis band itu seorang cewek berdandan ala… hah? Dimana aku pernah melihat baju itu?

“ Selamat malam semuanya!” katanya dengan suara merdu di mike yang sudah disediakan. Para penonton bersorak. Aku mengernyitkan muka dan mengambil gigitan lain di hotdogku. Hmm… aku yakin pernah melihat baju itu… “Kita akan menampilkan sebuah lagu intro dari sebuah game terkenal yang barusan beken! Jadi siap – siap ya!” semuanya bersorak lagi. Alice memuat bola matanya dan berkata, “Oh, dan tampaknya kamu akan menikmati ini.. huh.. dan kupikir mereka akan memainkan lagu yang BAGUS..” aku menyikutnya, “Hei! Lagu game itu kebanyakan bagus tau!” tapi pikiranku mengembara, game? GAME?! Itu dia! Baju itu pernah aku lihat di suatu game! Game apa?! Mereka cosplay game apa?!
Lalu band itu memulai lagunya, dengan drum yang keras banget dan vokalis yang menyanyi dengan suara tinggi. Aku bisa merasakan lenganku merinding seketika. Lalu seperti disambar petir aku ingat game apa yang ada baju itu, lebih tepatnya KARAKTER ITU.

“YA AMPUN! HIGH SCHOOL HELL!” jeritku histeris. Alice nyaris jatuh mencium tanah saking kagetnya. “ Ryke apakah kamu sudah gila?!” desisnya panik. Tidak seperti aku, dia sadar semua orang sedang melihat ke arah kita dengan kaget dan menahan tawa. Sebaliknya, aku sedang menyimak lagu itu dengan penuh perhatian, muka bersinar dan mata berbinar – binar. Setelah sekian lama dipermalukan bahkan oleh Nerd Club yang menganggap aku freak karena nge-fans banget sama game itu, ada seseorang.. SEBUAH BAND! Yang membuktikan ke orang – orang ini kalau game itu memang patut digilai. Aku tiba – tiba pingin melempar hot dogku ke tanah lalu melompat ke atas panggung itu, merebut mike dan berkata,

“ Aku sudah main game ini dari 3 bulan yang lalu, dan melawan final boss-nya dan menang cuma dengan level 5, dan pakai basic sword. RASAKAN!” tapi aku membatalkan niat itu mengingat bahwa Alice ada di sebelahku, dan aku masih lapar. “Apa? Kamu tahu game ini?” tanya Alice sambil mencoba membuatku lebih tenang. Aku tidak bisa menjawab, lidahku kram. Aku mengangguk keras – keras. Tahu game ini? Aku cinta game ini! batinku. “Game favoritmu itu?” aku mengangguk lebih keras lagi, sambil tersenyum lebar ke arahnya. Dia terdiam sambil mencoba ikut mendengar lirik gak jelas lagu itu. Aku sempat melihat Aaron dan Ethan, berdua di sana, Aaron menenteng ikan emas super duper kecil yang rupanya berhasil ia tangkap. Mereka melambai kayak orang gila ke arahku lalu melihatku dengan Alice. Ethan mengangguk – angguk sambil tersenyum menyebalkan dan Aaron membuat tanda love dengan tangannya sambil berkata, “IHIIIY!” aku mengepalkan tinju ke arah mereka tapi sambil nyengir. Kita menonton band itu hingga penampilan band itu habis. Dan ada band lain yang muncul. “Aku mau minta tanda tangannya cewek yang tadi itu…” kataku ke Alice. Alice menatapku jijik, “ Cuma gara – gara dia jadi cosplayer dari game favoritmu dan nyanyi lagunya kamu jadi nge-fans sama dia? Edan semua cowok jaman sekarang!” aku yakin itu maksud tatapannya. Tapi ia mengangguk dan kita mulai beranjak pergi. Saat itulah aku melihat Hugo.

Awalnya aku kira aku mimpi dan mencoba mengingatkan diriku sendiri, Hugo sedang berduaan dengan Daisy dan diikat mati dengan pita putih tanda cinta. Iihiiiiiy.. anyway.. Tidak mungkin dia ke sini, apalagi sendirian. Masalahnya, Hugo memang sendirian, dan parahnya lagi, tidak ada pita putih di pergelangan tangannya. Ia menatap ke arahku dengan tatapan mata super lega tapi ada kilatan khawatir di baliknya. “ Ryker…” “Enyah kau, cowok mabuk cinta! Di mana cinta sejatimu, Daisy?!” kataku sambil mengusirnya dengan kasar. Alice menahan tawa dengan susah payah. “Hilang.” “Hilang?” tanya Alice heran. “ Dia tidak mungkin hilang, mana pitamu?” tanyaku, mencoba menguak informasi. “ Er… well… kita kehilangan jejaknya kalian awalnya. Lalu kita berjalan berdua hingga Daisy menemukan gunting dan memotong pita kita. Lalu.. well… er…” ia tampak ragu – ragu untuk menjelaskan, aku mengerjap. Alice menunggu. Hugo menggaruk kepalanya. “Terus??” tanyaku. “ Dia mau cari kalian berdua dan memotong usus kalian dan mengubur kalian di tanah selama 5 menit,” jawab Hugo. Aku mengangguk, tidak terdengar se-mengerikan ancaman Alice kapan hari, “ Terus?” “Um… dia lari, dan aku mengejarnya, tapi lama – lama aku kehilangan dia dan tersesat dan malah ketemu kamu.” “The End? Jadi sekarang Daisy hilang?” tanya Alice. “ Yup.” Kata Hugo. Dan aku bisa melihat dia sedikit terpukul soal itu. Bayangkan kehilangan cewek yang kamu suka, sedikit menyedihkan. Cowok seharusnya tidak kehilangan seseorang sepenting itu. Itu mirip seperti memakan sereal dan susu tanpa mangkok, atau mandi dengan air mendidih. Kasihan Hugo. Aku menepuk – nepuk pundaknya lalu berkata ke Alice, “ Kita harus bantu dia cari Daisy.” “Dan dibunuh secara sadis?!” tanya Alice syok. “ Daisy mungkin juga bingung karena sendirian dan kehilangan Hugo, Lis. Lagipula, itu cuma gertakan sambel terasi…” kataku sambil mengibas – ngibaskan tanganku yang satunya sambil tetap menepuk – nepuk pundah Hugo dengan lebih keras, ia mulai meringis. “Jangan pernah meremehkan Daisy, Ryke! Serius! Dia nyaris mematahkan leher Heather waktu ada insiden cokiber dulu!” aku menatapnya heran.

Cokiber? Choco Bar? Chocolate Bar? Cewek bisa saling membunuh hanya untuk batangan coklat? What the…?? ( note dari penulis : sori kalau Ryker jayus dan nggak ngerti bahasa gaul. Cokiber atau cokibar, adalah singkatan dari Cowok Kita Bersama, intinya dulu ada kejadian Heather dan Daisy suka orang yang sama. Parahnya, Ryker tidak ngerti dan menganggap cokiber adalah coklat batangan.) aku menggeleng – gelengkan kepalaku. “ Ya sudah, tinggalah di sini, aku cari sama Hugo.” “Oh, jadi aku ditinggal sendiri sekarang?” tanya Alice, terdengar tersinggung berat. “Katanya nggak mau bantu nyari? Mau aku paksa ikut?” Hugo tampak sungkan denganku dan Alice, “Aku cari sendiri saja..” katanya pelan. “ Ikutan.” Kataku cepat sambil jalan selangkah. Alice menarik kerah bajuku dan menarikku kembali. “ Terus kenapa tadi kok aku disuruh di sini sendirian? Tahukah itu tidak sopan untuk menyuruh cewek sendirian?” tanyanya, masih belum puas. “Yah aku tidak ingin kamu hilang seperti Daisy juga! Jadi jangan ke mana – mana, biar aku tahu harus menemukanmu dimana.” “ Huh!” dengusnya kesal. “Kamu ini mau apa sih? Ikut nyari nggak?” tanyaku mulai capek. Alice terdiam sebentar.

“ OK, ayo, tapi katanya mau minta tanda tangan?” aku mengerling ke cewek band itu yang lagi di back stage. “Hmmm.. setelah kupikir – pikir… cosplaynya dia ngawur. Seharusnya pita kecil di bajunya warna hitam, bukan pink,” Alice memutar bola matanya. “ Gamer Addict.” Gumamnya kesal.

***

Awalnya aku, Hugo dan Alice memutuskan untuk berpencar ke 3 arah yang berbeda. Kita memutuskan untuk bertemu lagi di depan stand yang jual kalung nama setelah 30 menit mencari. Setengah jam kemudian, kita kembali dan tidak ada satupun dari kita yang menemukan Daisy. Hugo tampak khawatir banget.

“ Dia mungkin jalan – jalan terus, jadi kita tidak menemukannya,” usul Alice. jadi kita berpencar lagi, kali ini sejam baru kita kembali bertemu. Aku dan Alice sudah mulai capek mencari sekarang. Tapi Hugo masih kelihatan penuh determinasi. “Biasanya kalau kayak gini dia akan ke mana?” tanyaku ke Alice. “ Hmm… dia suka musik…” “Mungkin dia di panggung band?” usulku. “ Tidak… yang main lagi lagu emo. Dengar lagu itu? Dia benci barang – barang seperti itu.”

“ Kalau gitu dia mungkin menjauh hingga tidak bisa mendengar lagu band yang lagi main.”
“ Tidak mungkin juga, dia ingin balas dendam ke kita, kan? Masa dia pikir kita di luar area festival?”
“ Mungkin saja, kita lari untuk mengindari dia, dia pikir kita akan lari ke luar festival kan?”
“ Dia tidak se-bodoh itu untuk pikir aku, salah satu dari panitia festival ini, akan keluar dari area festival tahu.”
“ Oh ya sih…”
“ Hmmmmm….” Kita berdua bergumam sambil berpikir.Lalu kita berdua saling pandang dan menemukan sesuatu. “ AH!!!” teriak kita bersamaan.

“ Stand makanan! STAND MAKANAN!” teriak Alice
“ Dia panitia juga kan? Panitia untuk stand makanan? Dia pasti lihat – lihat stand sambil nyari – nyari kita atau Hugo!”
“ Jadi…”
“ Stand makanan vegetarian?” usulku agak ragu – ragu.

Hugo menahan napas, “ Ada stand itu?” tanyanya syok.

“ Yeah! Daisy yang maksa, katanya ‘ vegetarian itu juga ada di sekolah ini! biarin stand itu sepi pengunjung, tapi kita juga harus saling peduli!’” kata Alice. Hugo kelihatan sangat senang dan sangat terharu pada saat yang bersamaan. Vegetarian sialan, ada cewek yang selalu ingat dia. Kita menemukan stand vegetarian itu. Dan seperti sudah diatur sedemikian rupa, Daisy ada di situ. “ AH! Di situ kalian bera—“ tapi kata- katanya dipotong oleh Hugo. “ Kamu dari tadi dimana?!” suaranya cemas campur lega tapi masih panik,

“ Tahukah kamu aku mencari kayak orang gila keliling festival sebesar ini?! Ryker dan Alice sampai ikut – ikutan bantu mencarimu!” Daisy tampak kaget. Ia menatap ke arah aku dan Alice yang lagi berdiri salah tingkah di belakang mereka berdua. Aneh melihat cewek dan cowok lain yang bertengkar. Setahuku kitalah yang selalu bertengkar. Kapanpun, dimanapun. “ Sori..” kata Daisy pelan, agak ragu – ragu. Hugo menghela napas panjang, “Jangan lakukan itu lagi, geez! Kamu bisa bikin aku sakit jantung..” Daisy menatapnya heran. “ Sakit jantung bisa dihindari dengan makanan sehat tahu?” “ Heh… kamu serius membicarakan…” “ Yeah! Nih, kamu pasti laper keliling kayak gitu. Lagian makan sayur waktu malam itu bagus buat pencernaan, dan…” mereka berdua berceloteh panjang lebar. Aku dan Alice saling memandang. Lalu kita pelan – pelan mundur, saat aku menoleh ke belakang, Hugo menatap ke arahku sekilas dan membisikkan ‘ thanks’ tanpa suara. Aku mengangkat kedua jempolku. Lalu aku dan Alice, cuma berdua, pergi ke jantung festival lagi.

“ Aku pingin itu… dari tadi, sejak awal melihatnya.” Kata Alice pelan sambil menunjuk ke gelang – gelang dengan manik – manik berhiaskan huruf yang diatur agar membuat suatu nama. Kau bisa meng-order spesial, selesai 5 menit. Itu stand dimana tadi kita berkumpul setelah mencari selama beberapa menit. “ Mau gelang?” tanyaku dengan nada seperti cowok – cowok di anime yang menawarkan gelang ke pacarnya dengan romantis. “Bukan gelang, bodoh. Itu, sebelahnya.” Aku mengalihkan perhatianku. Ia menginginkan ‘cotton candy’. “ Tuh pemanisnya satu botol, lho.” Kataku memeringati. “ Tapi aku pingiiin…” “ Ya, ya… ayo..” ujarku sambil menghela napas panjang. Perasaan, nggak ada cerita romantis yang menyatakan si cewek gila makan… Kita mendatangi stand itu. “ 2.” Kataku. “ Oh, tidak bisa.” “ Kenapa?” tanyaku heran. “Sisa satu saja.” “ Ya sudah 1.” Kita menarik cotton candy itu lalu aku memberinya ke Alice. “ Yeeeey…” kata Alice. “Memangnya kamu nggak mau main atau apa? Di sini banyak game, lho..” tanyaku. “ Aku nggak bakat kayak gituan. Susah! Padahal hadiahnya lucu – lucu sih.. nih, mau?” ujarnya sambil melepas cotton candy dan menawarkannya ke aku. Aku memakannya sambil melihat – lihat stand yang ada. “Hei, tuh ada satu game yang lumayan.” Celetukku. Ia menoleh ke arah game yang aku maksud. Game itu cukup simpel. Yang harus kau lakukan cuma menembakkan pistol air ke sasaran. Semakin dekat atau pas di sasaran, semakin banyak poin yang kau dapat. “ Serius? Nyaris semua game disini ‘kelihatan’ gampang. Mereka ada trik – triknya. Pistol air itu ada udaranya jadi air yang keluar nggak mungkin pas kena sasaran. Bayangkan kalau semua game itu gampang, bakal rugi.”

“Hmmm…benar juga sih… hei! Bagaimana dengan itu?”
“ Apa? Mana? Hei, kau sedang menunjuk apa sih?”
“ Itu lho…”
“ APA?!”
“ Game yang pakai piñata segala..”
“ Itu untuk anak umur 3 tahun.”
“ Heh?! Ya sudah.. itu?”
“ Apa? Yang mana?” akhirnya kita menemukan game yang setidaknya paling gampang menurut kita.
“ Tuh, game.” Alice menoleh ke arah yang aku tunjuk untuk ke-100 kalinya.
“ Basket?” Kita cuma perlu masukkin bola basket ke ring dan kita dapat poin.
“Yeah..”
“Kamu ekskur basket, kan?”
“ Yeah.” “ Jadi posisi apa?”
“ Er… cadangan.”
“ Oh.”
“ Hei, jangan beri aku tatapan itu…”
“ Masuk tim basket inti?”
“ Nggak dipilih, kalau pun dipilih cuma jadi cadangannya cadangan.” Jawabku. Dia terbahak, “ Lalu kamu tetap ingin main ini?”

“ Hei! Ini juga game, aku seorang gamer sejati…” kataku berusaha kelihatan keren dan gagah. Ia menatapku seperti aku ini seekor monyet yang lagi mencuri pisang dan sandal jepit. “ Sudahlah, coba aja dulu.” Kataku sambil memasukkan coin untuk main game itu.“ OK, tapi aku nggak bisa basket, terakhir ulangan cuma dapat 8.” Kata Alice sambil mengambil 1 bola. Aku menelan ludah tapi tetap mengambil bola lain. Aku cuma dapat 6.

5 menit kemudian…

Kita cuma dapat 4 poin.” Alice mengumumkan. Aku mencengkram pegangan besi game itu sambil terengah – engah, “ Oh—ya??” “ Ekskur basket kok belum apa – apa sudah capek?” “ Su—dah—laaaaah….” Kataku sambil mengibas – ngibaskan tanganku. “ Hmmm… aku masukkin berapa bola ya tadi..” gumam Alice sambil mengingat – ingat. Tapi ia tidak ingat, ia terlalu cepat untuk ingat. Akulah yang ingat. Tiap kali aku melempar bola ke ring akan terpental ke arah mukaku atau kepalaku, atau ke arah lain. Dan hasil yang Alice masukkan? 4. Untuk 4 poin. “ Kita cuma dapat gantungan kunci.” Kata Alice menunjukkan hadiahnya. “ Heeeeh??” tanyaku syok. Aku berharap setidaknya dapat boneka. “ Katanya kamu si master gamer?” tanyanya mengejek. Aku berdiri tegak dan mengangkat pundakku. “ Hei, artinya aku cuma perlu mengganti namaku. Master VIDEO gamer.” Alice menggeleng – gelengkan kepalanya sambil bergumam ‘ gila’,

Aku melihat jam tanganku. Jam 11. “ Hei, mau jalan – jalan?” “ Jalan – jalan? Kamu tahu aku tidak boleh keluar dari area festival.” “ Ini nggak jauh.. yah jauh sih, tapi sebentar aja. Lagian Heather, Cynthia dan Daisy juga disini kan? Yaaaa, boleh ya?” Alice menatapku curiga. “ Kamu merahasiakan sesuatu…”

Ooooh…. Dia sedang membaca pikiranku lagi… aku cuma tersenyum dan menunggu ia menjawab pertanyaanku. “ Apakah aku akan suka rahasia itu?” “Mencintainya,” koreksiku. “ Hrm… ok, jangan terlalu lama tapi!” aku mengajaknya ke tempat yang aku cari – cari dari bulan November. Tempat yang jelas, ada tempat duduknya, dengan angin sepoi – sepoi kalau malam.

“ URGH! Dan kukira kamu mau ajak aku ke suatu tempat yang lebih bagus daripada di sini, DI SINI!” “ Memangnya kenapa?” “ SEBELAHNYA TOILET UMUM YANG SUDAH RUSAK DAN BERHANTU?!” “ What? Toilet ini nggak ada hantunya… dan nggak rusak, kemarin Aaron melakukan bisnisnya di sini,” “ Kamu terlalu jujur… reputasinya Aaron sudah hancur di mata pembaca sekarang…” aku menghiraukan bagian pembaca itu. Alice terlalu aneh. Kita duduk di bangku yang ada. Lalu diam. Sekitar 7 menit diam tak ada suara, aku bersuara, “ Kamu tahu setelah kupikir – pikir… waktu game 5 pertanyaan itu kamu masih punya 2 pertanyaan yang belum kau pakai lho.”

“ Oh?”
“ Mau diulang dari awal? Aku dapat 5 pertanyaan dan kamu dapat 7 untuk aku?”
“ Hmmm… tidak, aku pakai langsung saja. 2 pertanyaan, ya? Hmmm…” ia mulai berpikir keras,
“ Aku mau kamu jawab jujur.” Akhirnya ia berkata. Aku menatapnya kaget. “ OK…?” kataku ragu – ragu.
“ Waktu TK dulu, kamu ingat nggak waktu kamu berkata… nggak jadi dah.”
“ Hei! Jangan bikin aku penasaran.. ngomong apa?”
“ Nggak jadi..”
“ Ayolah, aku kan dulu sering ngomong sama kamu.”
“ Yeah.. tapi.. umm..” dia tiba – tiba tersipu malu. Aku mencoba  ingat – ingat apa yang membuatnya bisa seperti itu… oh, mungkin..

“ Maksudmu waktu aku dulu ngomong aku akan melamar kamu?”
“ RYKER!!” teriaknya tiba – tiba, mukanya memerah semua, tapi sorot matanya menunjukkan aku menebak dengan benar. “ Hei, aku masih umur 4 tahu.” Kataku defensif, “ Dan! Itu ide nenekku.” Tambahku. Gran menantangku untuk melamar Alice, dan ia akan membacakan buku favoritku sebelum tidur. Hei, itu buku favoritku, FAVORITKU, man, FAVORIT. Aku akan melakukan apa saja untuk buku itu. “ Tetap saja! Kamu menyatakan itu di depan papaku, PAPAKU. Dan sekarang kamu heran kenapa kamu dibenci..” oh. Itukah alasannya? Papanya sama sensitifnya dengan Alice..Aku mengangkat bahu. Ayolah, aku masih umur 4, siapa yang serius memikirkan janji seorang anak umur 4? Alice, tentunya. Lalu aku nyengir,

“ Apa? Kamu mau aku benar – benar melakukannya?” tanyaku. Dia memukul lenganku, “ Ow..”
“ Jangan bicara aneh – aneh! Pertanyaan berikutnya, ummm… apa yang kamu inginkan untuk tahun baru?” “ Er… games… joystick baru…kalau boleh sih pingin laptop… games… ummm… ga—“

“ Apakah yang ada di otakmu itu games aja?!”
“ Itu yang aku pingin, OK?!”
“ Tidakkah kamu ingin punya teman lebih banyak atau kayak… umm, kekuatan super atau apa?!”
“ Kekuatan super? Apakah kamu sudah gila? Kita ini manusia, tahu…”
“ OK, bagaimana dengan teman, kalau gitu?”
“ Well… aku tidak akan menolak kalau ada orang yang mau temenan dengan aku sih.. tapi kalau aku harus cari sendiri…”
“ Apa susahnya sih, cari teman? Kamu cuma harus cari orang yang menurutmu baik, bilang halo, kenalan nama, lalu jadi orang ramah.”
“ Itu gampang untukmu…”
“ Memangnya kehidupan sosialmu separah apa sebelum kamu bertemu dengan Clubmu itu?”
“ Cuma beberapa kenalan di game online. Dan kenalan kalau kerja kelompok di sekolah – sekolah. Tidak permanen, sih.”
“ Menyedihkan sekali hidupmu,” katanya, setengah mengejek. Aku mengangkat bahu,
“ Aku tahu aku bukan tipe orang yang ramah.”
“ Serius, cobalah bersosialisasi, aku tidak akan menjadi ketua pimpinan sekolah kelas 7 kalau bukan karena anjuran sekelas waktu kelas 6.” Ia tersenyum, seakan – akan ingat masa – masa itu.
“ Hmm.” Kataku dengan cuek. Aku melirik jam lagi. lalu sedikit syok. 3 menit lagi tahun baru.
“ Ryke boleh satu pertanyaan lagi?” tanya Alice.
“ Hah? Oh… hei, itu tidak adil…”
“ Pliiis?”
“ Huh. OK, tapi ini cuma gara – gara bentar lagi tahun baru.”
“ OK, OK. Jangan kuatir.” Ia berdiri sekarang, membuat signal dengan tangannya supaya aku berdiri juga. Aku menurut. Ia berjalan memutar setelah agak lama, baru ia menemukan pertanyaan. 2 menit lagi…. ia menatap lurus ke arahku, “ Janji jawab jujur?” “ Memangnya kamu mau tanya apa?” tanyaku balik. “ Sudahlah janjilah dulu!”

“ Ok, fine, aku janji.”
“ Yakin?”
“ Ya.”
“ Ini akan terdengar konyol banget,”
“ Hidup itu konyol, tanya saja.”
“ OK…” ia menarik napas dalam, “ Kamu suka aku?”

Aku sedikit terpengarah dengan pertanyaan itu. “ Ya ampun, kamu menyia – nyiakan waktu untuk menanyakan itu!” kataku syok. Aku menggelengkan kepala, jantungku berdetak terlalu cepat, tapi aku mencuekinya. Aku mendekat ke Alice, “ Kamu tahu jawabannya, Lis. Tahu dari awal.” “ Kalau aku tahu aku tidak akan tanya, idiot.” Setengah menit lagi…

“ Ya, aku memang suka kamu.”
“ Lebih dari teman?”
“ Lebih. Bahkan… kurasa lebih dari kata ‘suka’. ”
Ia tersenyum meskipun kelihatan jelas ia malu, “ Mau dengar rahasia?” tanyanya,

10..9..

“ Apa?”

8..7..

Ia mendekat ke telingaku, agak menjijit. Rambutnya yang terurai mengenai T-shirtku.

6..4.. eits, maksudku 5.. sori, aku tegang.

Dia mencari keseimbangan dengan memegang tanganku,

3 detik…lalu tiba – tiba keluarlah kata – kata itu.

“ Aku juga.”

DOR! Aku nyengir ke arahnya. Ia tidak menyadarinya karena agak kaget dengan suara itu. DOR, DOR!! Di langit di atas kita terlihat api warna – warni yang meledak – ledak gila. “ Apakah itu…?” tanyanya, matanya melebar. Aku tersenyum sambil menaruh kedua tanganku ke belakang kepalaku.

“ Kembang api? Yah… aku dengar kamu tidak bisa memasangnya. Jadi Ethan dan Aaron menelpon beberapa perusahaann kembang api, Hugo dan aku mencari di mana – mana, lalu kita mencoba menyalakannya sendiri. Boom, ternyata bisa.”

“ Ap.. tunggu, jadi…”
“ Hei, Nerd Club tidak suka menang seri di perang ini. Ngaku kalah, nggak?” tanyaku, senang AKHIRNYA bisa mengejek.

Alice menggelengkan kepala sambil ngomel –ngomel ‘ bahaya nyawa, sembarangan, kalau salah bisa hancur…’ Tapi lalu ia tersenyum.

“ Kalah telak.” Jawabnya, aku nyengir. Lalu kita mendongak, memandangi langit yang dihiasi kembang api, dan bergandengan tangan.|

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s