AYWMEN Bab 25 : Bangun Pagi Suatu Hari Tapi Kamu Ingin Lari

5 Hari sudah lewat sejak Festival dan aku senang sekali bisa bangun siang dan tidur malam. Main game lagi seperti hari – hari lama, tapi diselingi dengan telpon dan kunjungan ke rumah salah satu anggota Nerd Club. Rasanya buku – buku di tas merah sekolahku itu memang ditakdirkan untuk dilupakan hingga sehari sebelum kelas 8. AH! Kelas 8! Dunia misterius! Tak ingin terburu – buru masuk ke dunia itu, aku menghabiskan waktu pagi ini dengan bangun dan tetap di tempat tidur sambil berpikir lama dan panjang tentang game yang kemarin aku selesaikan. Akhirnya aku mulai lapar dan beranjak ke lantai 1.

Aku akan berbohong kalau mengatakan bahwa aku tidak kaget waktu melihat Mom sedang terisak – isak dengan baju tidurnya dan mata sembap sedang duduk di kursi meja makan. Belum lagi di depannya ada telpon rumah. “ Mom? Ada apa?” tanyaku.

“ Oh Ryker…” katanya sambil berdiri dan langsung menyerangku dengan pelukan yang nyaris membuatku mati tercekik. Apaan? “ Mo-Mom??” tanyaku mulai takut.

“ Ashley masuk rumah sakit..” WHAT?! Aku bisa merasakan bulu kudukku berdiri.
“ Apa? Kapan? Kenapa?” tanyaku langsung.
“ Kemarin tengah malam… tiba – tiba ia sesak napas, ayahmu sedang menunggu hasil pemeriksaan dokter sekarang…”
“ Oh.” Kataku.
“ I can’t believe I’m that stupid to leave her alone…” kata Mom, mulai pakai bahasa inggris, ciri khas-nya kalau kecewa berat.

“ Hei… Hei Mom, itu bukan…” tapi kata – kataku terpotong saat Mom mulai menangis – nangis lagi. Agak tersinggung karena kalimatku terpotong dan kasihan melihat adegan itu, aku menepuk – nepuk pundaknya sambil mengatakan kalimat – kalimat menghibur yang bisa kuingat dari sumber manga tak dikenal.

Apa yang bisa kukatakan? Ashley sakit, dan mungkin itu parah. Bila itu parah, apa yang akan kita lakukan? Bagaimana kalau itu parah banget sampai dia tidak bisa pulang dari rumah sakit? BAGAIMANA KALAU IA SEKARAT?! Aku menggelengkan kepalaku dan mencoba berhenti memikirkan yang terburuk. “ Aku bukan ibu yang baik..” kata Mom sambil terisak – isak lagi. “ Itu tidak benar, Mom sudah melakukan apa yang bisa semua ibu lakukan. Mengkhawatirkan anak, dan..” “ Oh Ryker! DIAMLAH!” aku terdiam.

“ Menurutku kau seorang Mom yang baik,” kataku pelan sambil merangkul pundaknya. Kita diam selama ber-menit – menit.Tiba – tiba telpon rumah berbunyi. Mom menyambarnya. “Halo? Jon? Ini aku.. ya Ryker sudah bangun…” kata Mom, mulai berdiri menjauhi meja makan. Aku menunggu dengan tegang. Apa yang sedang Dad katakan. “ Apa? Dia tidak apa – apa? Oh itu bagus…” kata Mom. Aku menghembuskan napas lega. Ashley tidak apa – apa! Dia tidak sekarat!! Yeeey!! “Apa?” tiba – tiba raut muka Mom menegang lagi. “ Benarkah? Itu anjuran dokter? Tapi… oh, Jon… kau yakin? Baiklah… apa? Ryker?” Hah? Kenapa kok namaku juga masuk? “ OK… akan kukatakan itu kepadanya… yah… I love you too..” Mom menutup telpon sambil menarik napas dalam. Ia menaruh telpon ke tempatnya lalu menarik napas dalam lagi. Aku mulai tidak sabar. “ Mom?” “ Ryker.” Kata Mom, suaranya masih bergetar tapi sudah jauh lebih tenang. “ Ayahmu sudah tanya ke dokter tentang apa yang harus dilakukan untuk mencegah penyakit Ashley untuk jadi lebih parah.” “ Oh? Apa?” jadi sekamar denganku? Mematahkan semua disc gameku? Ashley harus berhenti makan makanan tertentu? Apa? Jangan membunuhku dengan ketegangan ini, Mom. Dan ia langsung mengatakannya.

“ Keputusan terbaik yang dianjurkan dokter… dan yang menurut ayahmu sudah saatnya kita lakukan. Kita akan pindah rumah lagi.”

Aku merasakan darahku membeku tiba – tiba. Tidak. Kata – kata Mom benar – benar langsung, to the point, tajam, seakan – akan aku ditusuk dari belakang dengan sabit raksasa milik Grim the Reaper itu. Aku sampai mundur selangkah saking tidak percayanya. Tidak, jangan itu… Aku mulai lupa cara bernapas. Rasanya jantungku juga berhenti berdetak.Stop, Kenapa harus itu?! 

Suara di kepalaku itu jadi keras sekarang. Menyuruhku lari. Lari sejauh mungkin dari sini. Tapi aku tidak bisa bergerak. Aku mulai panik.  Lalu aku mendengar sebuah suara, serak, putus asa, menanyakan kejelasan dari kalimat Mom yang sebenarnya sudah jelas sekali. Suaraku.

“Apa?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: