AYWMEN Bab 26 : Apa yang Ryker Mau

Tak lama kemudian, kita sudah naik taksi dan sampai di rumah sakit. Kita mencari kamarnya Ashley, lalu bertemu dengan Dad.“ Bagaimana Ashley?” tanya Mom langsung setelah mereka berpelukan. “Tidur beberapa jam yang lalu… tahukah kamu aku tidak hafal lagu twinkle twinkle little star?” tanya Dad mencoba menghibur Mom. Aku tertawa kecil agar ia tidak merasa jayus. “Sebentar lagi dokter Morray datang untuk mendiskusikan soal apa yang terjadi kemarin malam.”

“ Apakah aku harus ikut?” tanyaku, sedikit tidak sopan memang, tapi aku tahu alasan kenapa aku menanyakan itu. Dad mengangguk.

Kita kaget oleh pintu kamar yang terbuka, seorang dokter dengan kumis putih yang keren masuk. “ Dokter Morray..” kata Dad, sambil berdiri dan menyalaminya. Mom mengangguk pelan dan aku mencoba berdiri tegak. “Inikah kakaknya?” tanya dokter itu menunjuk ke aku. Hei jangan menunjuk.. itu tidak sopan! “ Ya.” “Hmmm… lahir di Cina juga?” tanya dokter itu sambil berdiri di depanku sambil melototiku dari ujung rambut hingga kaki. “Tidak, Ryker lahir di sini..” jawab Mom. “Oh, kalau begitu saya rasa ia seharusnya tidak apa – apa, udara di kota kecil ini memang kurang cocok untuk siapapun yang lahir di luar daerah..” Dokter Morray membetulkan jasnya, berdeham, lalu berkata lagi.

“ Seperti anjuran saya sebelumnya, Ashley sebaiknya pindah ke Negara yang 4 season. Udara di Negara seperti itu tampaknya lebih cocok dengannya.” “Apa yang akan terjadi kalau kita tidak pindah?” tanyaku. Aku bisa merasa mata Mom dan Dad menghunjamku tanpa ampun. Bahkan dokter Morray menatapku heran dan kaget. Aku merasa ingin menampar mukaku sendiri. Kakak macam apa yang tidak mengutamakan kesehatan adiknya? Aku telah bersalah untuk bahkan MEMIKIRKAN hal itu. Dokter Morray lalu berkata lagi, “ Yah, kondisi paling parah, Ashley akan terus – terusan sakit batuk- pilek dan asma yang kronis, atau lebih parah pneumonia. Alias radang paru – paru.”

Aku merasa lebih bodoh lagi telah bertanya. Kalau begini ceritanya Mom dan Dad pasti akan pindah. Aku merasa harapanku untuk tetap tinggal di sini semakin menipis. Dokter Morray menyatakan harus mengecek pasien lain lalu pergi keluar. Dad dan Mom sekarang sedang berdiskusi tentang kondisi Ashley dan apa yang harus dilakukan. Aku nyaris tidak bisa ataupun mau mendengar mereka. saat kata “Pindah” terdengar, aku tidak tahan lagi.

“ Aku cari minum. Ada yang mau?” tanyaku ke Mom dan Dad. Dad meminta cola. Mom menolak. Aku keluar dari situ. Terlalu terburu – buru. Aku berjalan cepat ke vending machine lantai 1. Lupakan yang ada di lantai 25 ini, aku perlu udara dan jalan – jalan. Aku bahkan melupakan lift. Turun dengan tangga. Tiap langkah yang aku layangkan tampaknya semakin berat. Saat di lantai 20 pikiranku mulai berjalan lagi.

Apa yang akan kamu lakukan sekarang, Ryker?

Aku tidak tahu. Aku tidak tahu! Aku memejamkan mataku dan berhenti, lalu aku berhenti dan bersandar di dinding lantai 18. Kamu akan pindah, tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Aku akan membohongi diriku kalau aku mengatakan itu tidak benar. Aku tidak ingin hal itu tapi itu akan terjadi. Seperti tidak ingin menghadapi final boss yang sudah di depan mata. Seperti tidak ingin menangis padahal air matamu itu sudah keluar. Aku membuka mataku lagi lalu berjalan lebih cepat ke lantai 1. Jangan lebay. Pasti ada sesuatu yang bisa dilakukan. Pindah lagi dengan Gran? Tidak mungkin, Gran sudah masuk ke panti jompo dan dia suka bisa gila – gilaan di sana. Pindah ke hotel atau kos? Tidak bisa. Mom dan Dad pasti tidak setuju. Kabur dari rumah? Bukan ide bagus, aku tidak bisa memasak apapun kecuali mie instan. Aku nyaris terpleset. Aku menyambar pegangan dengan hati yang mencelos dan menarik napas panjang dengan buru – buru. Saat menengadah aku melihat aku di lantai berapa.. lantai 13. Aku lalu menatap lama dan panjang ke arah angka itu. Angka yang katanya sial. Tak pernah kupercayai. Tidak ada yang sial kecuali kamu mau memercayainya. Terus kenapa kok aku merasa sial sekali sekarang? Fakta bahwa aku setidaknya punya alasan untuk merasa sial mulai mengacaukan otakku. Pasti. Tapi tiba – tiba aku menemukan diriku meninju dinding itu. BRAK! Sakit. Tapi tidak sebanding dengan apa yang sedang kurasakan.

“ Shitalan.” Umpatku pelan.

 ***

                   Dad dan aku pulang ke rumah, Mom memutuskan untuk tetap di rumah sakit menemani Ashley. Ashley sendiri besok akan pulang. Saat Dad menyetir mobil rental milik kita ke arah pulang, tidak ada yang bersuara. Lagu Leaving on a jet plane berputar di radio. Apakah dunia ini begitu SENANG aku akan pindah? Setelah setengah dari perjalanan yang terasa panjang itu habis, aku mendengar Dad berdeham. Aku menoleh ke arahnya. “Kita rencananya pindah hari minggu ini.” Minggu? Sekarang hari Kamis. Tidak sampai seminggu.. tidak, tidak sampai 5 hari, dan aku akan pindah? “Secepat itu? Tidakkah harus urus rumah, mobil, asuransi, lurah, apapun?” tanyaku heran. “Kota ini terlalu kecil. Aku tadi sudah menelpon ketua RT dan proses pindah – pindah juga hampir selesai. Yang perlu kita lakukan cuma packing dan hari Sabtu tandatangan  di balai kota. Lalu kita akan pindah ke Jepang.” Jepang. Sejauh itu.

“ Oh.” “ Kamu OK? Dari tadi kamu tampak… terpukul. Tidak biasanya kamu seperti itu waktu pindah rumah.” “Dad.. aku cuma… maksudku…” aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. “Aku cuma kaget karena ini terlalu.. mendadak. Aku baru tahu Ashley sakit pagi ini. Dan sekarang kita sudah pasti pindah, tidak sampai seminggu lagi. Tidakkah ini terlalu cepat? Apakah Ashley bahkan tahu soal ini?” “Adikmu akan tahu dan tidak akan melakukan apa – apa. Ini untuk kesehatannya, dan aku serius soal itu. Jika udara di sini tidak cocok, kita pindah.” “Bahkan meskipun kalian janji tidak akan pindah lagi?” tanyaku.

“ Itu berbeda Ryker. Situasi berubah.”
“ Tapi Dad… tidakkah—“
“ Tidak ada tapi.” Kata Dad tegas. Aku terdiam. Dad tampak tegang juga. Lalu ia mulai menjelaskan panjang lebar.
“ Dengar, aku sama sekali tidak berencana untuk pindah, OK? Tapi jika ada sesuatu yang terjadi pada Ashley, ibumu, atau dirimu, aku tidak ingin kalian sakit atau tersiksa. Kamu mau adikmu sakit – sakitan, Ryker Freddickson?” tanyanya.

Aku menggeleng. “Bagus, aku juga. Dan ibumu juga. Jadi kita akan pindah.” Ujar Dad. Aku diam lagi. Setelah beberapa belokan dan putaran, Dad berkata lagi. “Kamu tahu… untuk pindahan kali ini, kamu boleh meminta sesuatu. Kamu mau apa?” Klasik. Setiap kali pindahan Mom dan Dad pasti mengatakan aku dan Ashley boleh meminta sesuatu. Terserah apapun. Tidak ada syarat. “Tidak tahu.” jawabku singkat. “Yah pikirkanlah, nak. Kamu tidak akan disini lama.” Kata Dad sambil memarkir di depan rumah kita. Sepanjang malam itu, aku berpikir mau meminta apa. Aku tidak tahu harus meminta apa. Tidak seperti hari – hari pindah lainnya, aku tidak ingin games. Juga tidak ingin barang elektronik. Saat kita makan malam, aku masih memikirkannya. Dad malah sibuk mulai ber-packing.

“ Hei Ryker.” “Hmm?” aku menoleh dari piring yang lagi aku cuci ke Dad. Ia mendorong sebuah kardus ke arahku. “ Packing baju dan barang – barang di kamarmu.” Aku meletakkan piring itu ke pengering lalu mengambil kardus itu.
“ Haruskah sekarang?” “Tidak ada waktu lagi.” Aku naik ke lantai 2.

Saat masuk ke kamar, aku menyadari tempat tidurku masih berantakkan karena tadi nggak aku rapikan. Aku menelan ludah, tadi pagi aku berpikir untuk bermalas – malasan sebelum kelas 8 mulai. Sekarang aku tahu kelas 8 tidak akan aku mulai di sini. Ironis, aku justru ingin kelas 8 cepat – cepat mulai saja daripada harus pindah. Aku mengeluarkan semua bajuku dengan asal – asalan, saat tanganku tanpa sengaja mengambil jaket hitamku.

‘Kamu dingin?’ ‘ ru-ru-rupanya…’ ‘ tapi tadi kamu nggak apa – apa!’ ‘ itu kan beda kasusnya!’ 

Aku memejamkan mataku lalu melempar jaket itu balik ke lemari. Aku tidak bisa tidur di pesawat tanpa jaket itu. Lalu aku beranjak ke lemari memoriku. Aku memandangi satu per satu lagi. Lalu aku menyadari sesuatu yang aneh. Barang – barangnya telah bertambah drastis. Sebuah foto grup 3 biologi saat Pilly menetas, alamat web yang Nerd Club bikin, sebuah bunga mawar yang sudah layu, stik – stik es krim yang aku makan saat jalan – jalan sama Nerd Club, kertas dengan tanggal dan jam janjian date-ku sama Alice(penuh dengan tanda seru dan tulisan : JANGAN LUPA!), foto yang membuat aku mengingat masa laluku dengan Alice, pita putih yang aku sama Alice pakai buat ngerjain Hugo sama Daisy, kopi dari foto waktu Nerd Club dijebak di lab fisika ( muka kita menjijikkan), kunci lokerku, dan masih banyak lagi.

Seketika itu juga, aku tahu apa yang aku mau.

Aku tidak ingin game, tidak ingin laptop, tidak ingin mesin game, atau apapun yang aku ceritakan ke Alice waktu di tahun baru itu. Yang aku inginkan hanyalah teman. Teman – temanku. Di kota ini. Kota kecil dengan signal HP rendah yang bikin BT, dengan sepeda rental dan pizzanya yang hambar, dengan sekolah sedikit dan penduduk yang lebih sedikit lagi, dengan pantainya yang super duper dekat ini. Aku mencintainya.  Itu yang aku inginkan : aku mau kita tidak pindah.

Tapi itu tidak mungkin. Aku melupakan packing dan menjatuhkan diri ke tempat tidur. Aku meninju bantalku, setidaknya aku punya rencana untuk bagaimana ngomong ke Nerd Club.

 ***

Esok harinya kita semua menjemput Ashley untuk pulang. Aku sudah meminta Nerd Club untuk bertemu nanti siang di rumahnya Aaron, karena mereka pasti akan mengerti kalau aku pindah bila semua itu diadakan di rumahku. Saat aku melihat Ashley bisa jalan sendiri dan bahkan bertingkah menyebalkan, aku berharap ia melakukan itu terus agar Mom dan Dad pikir ia sehat. Tapi tampaknya mereka malah lebih fokus untuk pindah rumah lusa. LUSA! Aku harus segera menyelamatkan diriku.. sepanjang perjalanan pulang, tidak ada yang bersuara. Bahkan Ashley pun diam. Setelah kita semua sampai di rumah aku baru berani mengutarakan hasil pikiranku.

“ Dad!” aku memanggilnya. “ Yeah?” tanya Dad kaget, ia sedang mau masuk toilet tadinya. “Ak-aku tahu apa yang aku inginkan.” “Apa?” tanya Dad sambil menutup pintu toilet. “Jangan pindah hari minggu.”

“ Apa?”
“ Jangan pindah hari Minggu. Pindahlah hari lain, lebih lama. Seminggu lebih lama. Kamis depan.”
“ Ryker! Kupikir kita sudah selesai soal wajib pindah, dan…”
“ Tapi itu yang kumau, Dad. Katamu aku boleh meminta apapun.”
“ Tidakkah kamu ingin games.. atau apa…”
“ Tidak, serius, aku ingin kita pindah minggu depan, atau setidaknya 3 hari lebih lama.”
“ Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Mom muncul tiba – tiba.
“ Ryker tidak ingin pindah.” Kata Dad sambil bersandar ke pintu toilet dan mengerutkan keningnya, tangannya ia lipat seperti biasa kalau ia sedang bingung.
“ Oh, itu jauh lebih bagus kalau bisa dilakukan.” Kataku membenarkan Dad.
“ Ryker… kita harus pindah.” Kata Mom sambil berkacak pinggang, matanya kelihatan capek, tapi suaranya tetap jernih.
“ Mom, aku tahu. Jadi itulah mengapa aku mencoba meminta sesuatu yang masih bisa dilakukan. Tidakkah kita bisa mengundur jadwal kita pergi 3 hari lebih lama?”
“ Apakah kamu sakit Ryker? Kita harus keluar dari sini secepatnya. Ashley akan sa-“
“ Tapi itu Ashley dan dia bahkan belum tahu kita akan pindah. Kalau dia tahu lusa kita akan pindah, entah siapa jadi korban.” Protesku.
“ Ryker, kita…”
“ Cuma 3 hari lebih lama. Please?”
“ Ryker, tidak itu tidak. No is a no.”
“ Apakah ini cuma karena Ashley sakit atau hal yang lain?” tanyaku curiga.
“ Apa maksudmu?” tanya Dad heran.
“ Mom dan Dad ingin pindah lagi? Itukah kenapa?”
“ Ryker! Tentu saja tidak, ki—“
“ Terus kenapa kok kita tidak bisa mengundur hanya untuk 3 hari?!” desakku putus asa.

Mom dan Dad saling memandang dengan binggung. Aku melirik jam tanganku. Jam 1 siang. Aku menghela napas panjang. “ Sudahlah, aku pergi sebentar.” Lalu aku keluar dari rumah dan berjalan cepat dengan kesal.

Ya ampun, aku cuma ingin sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s