AYWMEN : Epilog

9 tahun kemudian.

Dengan susah payah, aku mengangkat koperku dan menarik hand carry-ku sambil tetap menjawab pertanyaan bossku. “ Iya, iya.. iya. Iya Boss… iya… YA AMPUN, IYA!” aku menghela napas panjang, dasar… apakah aku harus selalu ngomong dengan Jepang agar ia mengerti? Dan dia selalu mengomel tentang harus memakai bahasa dari tempat kelahiranmu tiap kali aku di sana.. “ AKAN KUSELESAIKAN DESIGN KARAKTERNYA SAAT SELESAI LIBURAN! CUMA 3 BULAN, OK?” lalu dengan kesal, aku menutup HPku. Dengan susah payah lagi, aku menarik koper – koperku.
“ Hei!” sapa orang di belakangku. Karena kaget dan refleks, aku menarik tangannya yang ada di pundakku dan membantingnya ke depan. BRUAAK!

“ Ow… aku tidak tahu kamu beneran ahli karate..” ujar pria yang aku banting itu. Aku mengerjap dan memandanginya dengan lebih seksama.“ Hugo?” tanyaku ragu – ragu.

“ Yeah Ryke.. ini aku.. dengan tulang patah.” “Oh.. sori dude.” Aku membantunya berdiri, lalu kita saling memandang. Akhirnya Hugo berkata, “ Dude! Rambutmu tambah jeprak!” aku memukulnya dengan ringan. “ Heh, dan kamu, DOKTER Hugo, tambah kurus.” “ Hei, aku AHLI GIZI, bukan dokter..” “ Tapi kamu juga punya gelar dokter kan?” “ Well.. iya sih.. tapi hei, itu bukan profesiku.” Katanya sambil tersenyum lebar. Untuk sesaat, aku masih bisa melihat wajah cowok 12 tahun yang ceria dan setengah gila itu di wajahnya sekarang. “ Mana Ethan dan Aaron?” “ Tuh, di belakangmu.” “Hei Ryke!” “ Hei, tetap jeprak ya?” “Sialan kalian..” kita tertawa bersama – sama. “Sini kubawa kopermu..”
“ Ah! Jangan!! Di dalamnya ada file – file penting untuk karakter design yang baru…”
“ Katamu kamu liburan? Kok masih kerja?” “ Yeah, kamu tahu sendiri. Perusahaan game tidak akan memberiku liburan bahkan bila aku memohon. Jadi aku mengatakan aku minta liburan tapi tetap mengerjakan ide untuk design karakter yang baru..”
“ Tak pernah kusangka kamu akan jadi programmer game. Seharusnya aku bisa menebak… kamu spesialisnya, sih.” Kata Aaron. Ia memakai kacamata sekarang, dan kawat giginya sudah dilepas. Aku tersenyum.

9 tahun sudah lewat dari terakhir kali aku terbang ke Jepang dari kota ini. Kenapa aku tidak datang lebih awal? Itu simple. Pertama : liburan sekolah, tidak ada yang mengantar, bahkan meskipun aku sudah dewasa, aku tidak diperbolehkan. Liburan kuliah? Tidak pernah ada yang cukup panjang. Pada akhirnya aku magang dan begitu lulus langsung diterima kerja. Dan setelah kerja kayak budak, boss-ku menyetujui untuk memberi liburan. Aku langsung beli tiket dan terbang ke sini. Mom dan Dad akhirnya memberi persetujuan untukku pergi karena aku sudah dewasa. 21 tahun bukan usia muda lagi, kawan! Awalnya aku takut ada yang berubah dengan Nerd Club. Itu sebenarnya bodoh, tentu saja banyak hal berubah. Hugo jadi seorang ahli gizi sekarang, dan ia sudah bisa bebas dari kehidupan vegetariannya, meskipun jika ia makan daging terlalu banyak ia akan tetap muntah. Aaron membuka toko buku. Dan stok kamusnya selalu penuh. TERLALU penuh. Ia juga kerja sampingan jadi translator untuk menerjemahkan buku dari luar negeri. Ethan, anak kaya yang over protective itu sudah hilang. Ia diusir dan, yah, sebenarnya mau mengusir dirinya sendiri dari rumah super besarnya itu karena ia bersikeras tidak mau ambil alih pekerjaan ayahnya. Tanpa harapan dan tidak ada uang, ia memutuskan untuk jadi programmer komputer. Hacking sudah membuat dia bisa menciptakan anti virus DAN anti hacker yang nyaris sempurna. Dan aku? Aku jadi programmer. PROGRAMMER GAME, lebih tepatnya. Mendesign karakter game, membuatnya, dll. Plus, aku juga menghemat biaya perusahaan, mereka tak perlu susah – susah cari gamer untuk testing, mereka pakai aku!

“ Hei, ayo kita ke cafe atau bar atau apa. Mengejar 9 tahun yang sudah lewat. Gimana?” tanya Ethan sambil merangkul pundakku. “Mau sih mau, cuma.. hari ini aku sudah ada rencana.” Kataku kepadanya. “Oh? Apa?” tanya Ethan. Aku tersenyum. Mereka bertiga tampaknya menyadarinya. “ Oh… aku mengerti..” kata Hugo menggoda, ia menyikut lenganku. “Yah, kalau gitu kita tunggu besok malam. Kapan kamu kembali ke Jepang?”
“Bulan depan. Sayang tidak bisa lebih lama.”
“Wow, sebulan. Andai aku dapat cuti selama itu.” Kata Aaron sambil mendesah dramatis.
“Yah, sudahlah. Ketemu besok, yeah?”
“Yep. Sampai ketemu.” Aku melambaikan tangan dan menarik koperku lagi. Setelah melempar koper itu sembarangan di hotel, aku memutuskan untuk jalan – jalan. Udara kota ini yang hangat itu tetap saja sama. Aku bahkan tidak perlu jaket. Aku niatnya ke alamat yang diberikan Daisy saat chat di FB, tapi aku masih super duper lapar, jadi aku ke café terdekat yang ada.

Aku tersenyum sendiri saat berjalan ke café itu. Mendadak, ingatanku kembali ke dirinya. Dia. Siapa itu dia? Ia adalah cewek gila dan waras pada saat yang bersamaan. Dia juga pintar tapi konyol. Lucu tapi serius. Penuh rahasia, dan gampang dibaca. Awalnya kita masih chat di facebook, telpon tiap minggu sekali. Lalu kita mulai telpon hanya sekali sebulan. Lalu 3 kali tiap tahun : ulang tahunku, ulang tahunnya, dan natal. Terus dari telpon, kita mundur cuma text di Facebook. Lama – lama, kita menyapa pun tidak kalau di Facebook. Telpon pun tidak pernah. Tapi dia tetap satu –satunya cewek yang ada di hidupku… selain Mom ,Gran, dan Ashley tentunya. Seperti yang kujanjikan padanya, aku tidak lupa. Oh, dan dia adalah mantan tetanggaku, dan mantan pacarku.

Aku nyaris melewatkan café itu. Saat membuka pintunya, aku menatap ke sekeliling café itu. Semua orang memandangiku kaget karena jarang ada orang baru di kota ini. Dari sekian banyak orang yang memandangiku itu, aku hanya menatap balik ke satu daerah. Mulutku ternganga, dan jantungku terasa mau copot.

Ya ampun, takdir itu menyebalkan dan menyenangkan.

Disitu, YA , disitu, ada sesuatu. Suatu kata. Kata – kata yang INDAAAAH BANGET…

GULA GRATIS!

Aku ingin jatuh dan menyembah pemilik café yang baik hati itu. Aku nyaris melompat- terbang ke arah meja gula itu. Sesaat aku ragu – ragu. Apakah aku langsung mengambil saja? Atau diam – diam? Ngambil seberapa? Satu kantong? Shitalan, kenapa aku tidak bawa kantong plastik? Sudahlah! Ambil aja satu! Aku langsung mengambil satu bungkus.

“ Ah..” omel seseorang karena aku dan dia memegang bungkus gula itu bersamaan. rupanya aku sibuk perang batin hingga nggak sadar ada wanita yang mau ngambil gula. Aku buru – buru melepas peganganku ke gula itu dan berkata, “ Gomenasa—ah! Maksudku maaf..” “ Er, tidak apa – apa! Salahku kok…”

Aku tertawa kecil, ia juga tertawa penuh sungkan.

Mendadak kita diam. Aku membeku. “EH?!” kita saling memandang sambil berseru kaget. Ia memandang mataku, aku melotot ke arah matanya. Saat mata hijau tua itu bersinar dan melebar saat memandang ke arah mata abu – abuku, aku merasa hatiku melonjak ke tenggorokanku. Aku telah menemukannya lagi. “He-hei.” Sapaku dengan bodoh. “Hai…” sapanya balik dengan canggung. Kita diam sebentar. Ia merapikan rambut coklatnya dan aku menggaruk leher belakangku. Rambutnya tambah panjang, aku sadari, dan gaya berpakaiannya berbeda total. Aku buru – buru memandang ke arah lain saat  ia memergokiku lagi memerhatikannya.

Canggung banget…

Akhirnya, kita berdua tidak tahan lagi. Untuk pertama kali setelah 9 tahun tidak bertemu, hanya untuk memastikan suatu hal, aku dan Alice menghadap satu sama lain untuk mengatakan hal yang sama pada saat yang bersamaan, seperti sudah direncana. Seperti sepasang soul mate.

“ Masih ingat sama aku?”

  The End

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

The Hunchback of Jinjang Selatan

Nothing but nunsense mostly

%d bloggers like this: