Pertunjukan

“Kenapa kamu tidak pernah menyayangiku?” Protesnya.

“Aku selalu menyayangimu.” desahku, frustasi.

Tapi ia tidak mendengarkanku.

Ia pergi meninggalkanku setelah itu. Tak peduli berapa keras aku berusaha mengontaknya. Telpon di pagi hari. Sebuah pesan di malam. Tidak pernah ada angkatan dan sapaan. Ia tidak pernah menjawab lagi.

Aku sendirian tiap malam, memandangi langit – langit kamarku. Kesusahan untuk tidur tanpa ucapan malam darinya. Tanpa merasakan getar HP-ku dengan sebuah kalimat penuh kasih yang muncul di layarnya. Di malam – malam ini, aku menghitung ulang berapa hari yang telah lewat sejak ia pergi. 3 bulan, 21 hari. Aku tidak tidur nyenyak selama 3 bulan dan 21 hari.

Selama jangka waktu itu aku berusaha mencarinya. Atau setidaknya merasakan dirinya lagi.

Aku membaca ulang semua kecupannya di malam hari.

Aku memainkan ulang suaranya hingga dinding kamarku bosan.

Aku menonton semua film kesukaannya, berusaha mendengar tawanya ketika adegan terlucu sukannya muncul. Atau melihat sekilas dari bagaimana lesung pipitnya akan keluar dan tangannya langsung mengatup mulutnya. Berusaha mencegah suara keluar,padahal suara tawanya adalah salah satu hal terindah yang pernah kudengar. Berusaha. Tak pernah berhasil. Hanya kesunyian yang sama. Semakin hari semakin keras. Semakin hari semakin menghantuiku.

Aku masih menarik 2 gelas ketika menyeduh teh.

Masih kaku ketika mengembalikan salah 1 kembali ke lacinya.

Aku masih menahan pintu untuk membiarkan seseorang lewat duluan sebelum aku.

Masih menoleh ke sekitar ketika sadar tidak ada siapa – siapa denganku.

Aku masih mendengar namaku dipanggil.

Masih berhenti mengerjakan apa yang sedang kukerjakan seketika untuk mencari tahu kenapa.

Masih butuh waktu cukup lama untuk sadar aku biasanya hanya mengimajinasikannya. Atau aku salah dengar.

3 bulan dan 21 hari sejak ia pergi, dan aku akhirnya melihatnya lagi hari ini. Dengan orang lain. Tawa yang sama. Gandengan yang sama. Terlihat bahagia dengan cara yang jauh berbeda. Ia tak melihatku.

Aku pulang hari itu dan untuk pertama kalinya sadar bahwa hubungan kita berakhir. Kurasa selama ini aku pikir tidak karena ia tidak pernah memberi penjelasan mengapa ia pergi.

Atau apakah itu penjelasannya? Apakah pertanyaan yang selalu ia lontarkan itu alasannya? Aku mulai berpikir apakah aku yang kurang menjelaskan jawabanku. Apa yang sesungguhnya kumaksud.

Mengapa kau tak pernah menyayangiku? 

Aku selalu menyayangimu. 

“Aku hanya tak pandai menunjukkannya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s