Tahap I

Aku berada di ruang tamu ketika mendengarnya.

Sesengukan kecil dari ruang sebelah. Sebenarnya ini bukan pertama kali aku mendengarnya, sudah beberapa kali sejak aku sebenarnya ingin menghentikan tangisannya. Kurasa aku ingin memberikannya lebih banyak waktu untuk bersedih sendiri, atau mungkin aku yang tidak berani. Entahlah. Tapi kali ini, aku berdiri dan pelan – pelan membuka pintu ke kamarku.

Pintunya berderik pelan, lampunya tidak menyala. Aku melihatnya meringkuk di atas bed. Wajahnya terkena sinar dari HP.

Aku perlahan – lahan masuk. “Hei.” Ujarku pelan. Ia menoleh, mata sembap dan hidungnya merah. ” Kau tidak apa – apa?”

Ia menghapus bekas air matanya dan mendengus sedikit, “Ya.” Bohongnya. Aku tersenyum sedih, duduk di ujung bed. Ia merangkak dari tempatnya tadi meringkuk, kepadaku, masuk ke dalam pelukanku. Jari jemarinya yang kecil mengaitkan diri mereka di balik punggungku. Ia menarik napas dengan sedikit gemetaran, masih menangis sedikit. ” I love you, Will.” katanya pelan, membenamkan wajahnya ke t-shirtku.

Aku mengecup rambutnya lalu meletakkan daguku ke atas kepalanya. ” I love you too.” Ia memelukku lebih erat. “Elisabeth.” bisikku, memeluknya balik.

Sudah seminggu sejak kejadian di kamarku. Kurasa Elisabeth sekarang sudah lebih, well, tidak sedih. Aku masih menunggunya keluar dari kelasnya. Mengantarnya pulang setiap hari. Aku mulai berpikir untuk mengajaknya ke bioskop hari ini. Toh ini akhir pekan– seharusnya ia tidak akan sibuk. Kita bisa menonton salah satu film romantis tak jelas dengan kritik – kritik standar. Mungkin bisa berhenti untuk makan sesuatu setelahnya.

Pintu kelasnya terbuka, dan beberapa anak mulai keluar. Beberapa mulai mengumpat ketika sadar hujan telah turun. Aku mengenggam payungku lebih erat, bersyukur telah membaca perkiraan cuaca kemarin di koran. Aku menoleh ke arah kelasnya lagi. Jumlah siswa yang keluar mulai menyedikit. Aku menggaruk leher belakangku. Suara hujan menderas dari jendela di sebelahku. Guru kelas itu keluar. Seorang anak laki – laki dengan rambut berantakan dan hoodie biru menyusul dari belakangnya, menutup pintu kelas itu. Aku mengerutkan keningku.

Anak itu berjalan menjauh, bersiul – siul. Aku mengejarnya, ” Erm, permisi–” Ia menoleh, kaget. ” Ya?”

“Eh, kau habis dari kelas 105, kan?” tanyaku. Apakah aku menunggu di kelas yang salah?
“Mm-hmm. Kenapa?” tanyanya, menaikkan alisnya.
” Er, ya– aku cuma mau bertanya, apakah kau melihat Elisabeth tadi?”

Ia memandangku dengan heran. ” Maaf, siapa?”

” Elisabeth. Eh, rambut panjang? Memakai cardigan hitam? Kelas terakhirnya kelas 105 tiap hari Jumat–”
” Well, aku tahu dia siapa, cuma– er..” Ia tampak bingung menjelaskan apa yang sedang ia pikirkan. Aku berpikir mungkin ia tak mau bercerita karena tidak tahu aku siapa. ” Aku pacarnya,” jelasku.

” Oh, well, erm–” aku mulai tidak sabar, ” Er, tidak. aku tidak melihatnya hari ini.” Hatiku mencelos. Oh tidak. 

Aku berlari seketika. “HEI!” seru anak berhoodie biru itu. Aku tidak menghiraukannya. Aku berlari keluar kampus. Mencarinya di kafe favoritnya. Ke pojok tempat ia biasa menunggu bis. Meneriakkan namanya di seluruh bagian kota yang telah kulewati. Aku baru saja mau mencoba ke rumahku– ketika melihatnya di ujung trotoar. ” ELISABETH!” seruku. Aku berlari menyebrang jalan. Sebuah mobil mengerem seketika, nyaris menabrakku. Suara klakson mengudara, aku tidak menghiraukannya dan berlari kepadanya. “Elisabeth, apa yang kau lakukan?!” seruku. Pelan-pelan ia mendongak kepadaku. Sekujur badannya basah kuyup. Sudah berapa lama ia disini? Aku buru – buru membuka payungku dan memayunginya, lupa kalau aku dari tadi membawa payung itu kemana – mana sambil berlari di tengah hujan.

“Kenapa kau kesini? Apakah kau tidak apa – apa?” Ia mengangguk dengan gemetaran. Aku menghela napas panjang. “Tolong, tolong, TOLONG, jangan melakukan hal itu lagi, okay?” Ia mengangguk. ” Sori..” Aku menariknya ke pelukanku. Kita berdua kedinginan diterpa hujan. “Kau mau pulang sekarang?” tanyaku. Ia diam saja. Aku menggandeng tangannya. “Ayolah, kita bisa minum teh dan menonton film atau sesuatu.”

Baru setelah aku di kamar mandi sore itu–ketika dirinya menghangatkan diri dengan sweaterku dan teh hangat di ruang keluarga– aku sadar dimana dia telah menghilang. Dia pergi ke jalan tempat kita pertama bertemu.

Segalanya lebih baik setelah itu.

Seminggu setelahnya ia mulai tersenyum. Aku mengajaknya menonton salah satu film romantis membosankan itu Rabu lalu, dan sepanjang film kita berpegangan tangan dan berbagi soda limun dingin yang kurang manis. Aku berjalan dengannya pulang setelahnya dan ketika aku meminta maaf karena malam yang tidak sebaik yang kuharapkan ia mengenggam tanganku lebih erat dan mencium pipiku.

Aku melihatnya di lorong tadi, ia berbicara dengan teman – teman perempuan dari kelasnya yang tidak kukenal. Sebagian dari diriku masih khawatir akan dirinya. Tapi aku tidak ingin terlalu ikut campur dengan kehidupan pribadinya. Ia juga butuh privasi. Jadi aku melewati lorong lain dan nyaris bertabrakan dengan seseorang. “Sori,” gumamku seketika. ” Tidak apa-a–” ia berhenti tengah jalan dan aku mengenalinya.

” Hei,” kata orang itu, si hoodie biru dari kapan hari.
” Oh, hei.” balasku.
” Kau tak apa – apa waktu itu? Kau, eh, tiba – tiba kabur ke jalan waktu hujan deras.”
” Oh, Yeah, tak masalah. Aku, urm, terburu-buru waktu itu.” kataku. Sulit menjelaskan situasi kepada orang yang bahkan tak kau kenal.

“Aku Ricky, omong – omong.” ujarnya, menjulurkan tangannya. Aku menyalaminya, ” Will.”

” Eh, dengar, Will– mengenai pacarmu..” ketika itu bel berbunyi dan aku menggunakannya sebagai alasan yang bagus untuk lepas dari pembicaraan dengannya. ” Sori, kelasku di lantai 3, aku tak mau telat.” ujarku. Ricky, mengangkat 1 tangan dan tersenyum, ” Yeah, sure. Tak masalah.” Aku memandang ke arahnya sekali lagi dan melihat sekilas kekhawatiran. Lalu aku membalikkan badan dan berjalan ke kelasku.

Sejak itu tampaknya Ricky selalu berusaha mencariku. Aku melihatnya di perpustakaan, atau di ujung kantin. Kadang ketika ia keluar dari salah satu kelas di lorong. Ia selalu tersenyum sopan, lalu segera datang untuk memulai percakapan kecil. Entah bagaimana aku selalu berhasil menghindar. Atau setidaknya berhasil lepas sebelum ia mendesakku tentang Elisabeth. Aku tak tahu kenapa ia nyaris selalu ingin bertanya. Aku ingin memberi peringatan kepada Elisabeth mengenai Ricky tapi aku tak ingin ia khawatir akan sesuatu yang tidak perlu…

Di sisi lain, Elisabeth sungguh bahagia. Aku tidak ingat kapan terakhir kali ia sebahagia ini. Kita pergi ke kebun binatang kapan hari dan mengambil segumpal foto dengan kamera polaroid miliknya yang kubelikan untuknya waktu ulang tahunnya tahun lalu. Kadang di malam hari ia akan membacakan salah satu puisi dari buku kelas sastranya yang ia sukai. Menanyakan pendapatku akan beberapa kalimat tertentu. Tertawa tiap kali aku berusaha menjelaskan apa yang kupikirkan dengan payah.

Segalanya tampak normal.

Hingga suatu hari aku bangun. Dan ia tidak ada dimana – mana. Dan ia tak bisa kutelpon– semuanya masuk ke kotak suaranya. Dan rumahnya kugedor – gedor dan tidak ada yang membukanya. Dan aku mencarinya ke seluruh sekolah, dan masuk ke kelasnya, membuat seisi ruangan kaget dan seorang guru berteriak padaku. Tapi ia tidak ada dimana – mana.

“Dimana dia?” tanyaku.

“Apa maksudmu?! Apa yang kau lakukan di sini?! Tak tahukah kau, kau sedang mengganggu proses belajar mengajar–”

“DIMANA DIA?!” seruku, tiap detik semakin panik. ” DIMANA ELISABETH?!”

Guru itu terdiam. Aku menoleh, menghadapi deretan siswa yang terdiam dan ternganga. Mataku mencarinya tapi ia tidak ada.

Oh tidak, tidak lagi. Tidak lagi. Elisa– tolong– kau sudah berjanji.

Aku berlari keluar kelas itu, tidak menghiraukan teriakan guru dari dalam kelas yang semakin mengeras, meminta penjelasan akan sikapku. Persetan dengan sikapku. Aku mencoba ke tempat pertama kita bertemu. Ke bioskop. Ke bangku favoritnya di taman.

Aku berlari hingga seluruh badanku sakit dan aku kesesakan untuk napas–tapi aku masih berlari.

Aku berlari mengejarnya. Ke tempat terakhir yang bisa kupikirkan. Ke jembatan tempat ia terakhir– ke tempat ia terakhir apa?

Dan ia disana. Begitu aku bisa melihatnya, cardigan hitamnya di atas rok abu – abu. Rambut panjangnya menutupi mukanya tapi aku tahu ia menangis. Dan–“Oh tidak, Elisabeth..” aku berusaha berteriak tapi yang keluar hanya gumaman–

Dan ia melompat ke danau di bawahnya.

Dan aku berlari lebih cepat lagi dan melompat mengejarnya.

Airnya sedingin es. Aku tak bisa melihatnya. Aku menggapai apapun, menendang dan mencoba meraih apapun darinya. Tangannya yang kecil dan lembut. Ujung roknya. Kakinya yang pendek. Rambut panjangnya yang lembut. Apapun, apapun..

Tapi yang terjadi? Akulah yang ditarik. Aku menendang dan memberontak tetapi ia menarikku ke atas, Aku menarik napas dalam dan tersedak, menelan air danau yang dingin dan pahit. ” ELISABETH!” jeritku. Tangan itu menarikku lebih keras. Aku memberontak lagi, “LEPASKAN AKU!” teriakku, menoleh ke arah orang yang menarikku yang ternyata adalah Ricky. “LEPASKAN AKU!” teriakku lagi, memberontak lebih keras, ia menahanku ke tanah. ” HEI, HEI TENANGLAH!”

” ELISABETH!” teriakku lagi.

“ELISABETH SUDAH MATI!” teriaknya kepadaku. Aku terhenyak akan apa yang ia katakan. Untuk beberapa saat segalanya diam dan aku tak bisa berpikir apa – apa. ” Kau salah, ia masih di sana, dan kau tidak membantuku menyelamatkan–”

” Will, Elisabeth sudah mati. Ia melompat 3 bulan lalu. Ingat?” Aku semakin tidak bisa berpikir. Apa yang ia katakan?
” Kau salah,” kataku, tapi aku terdengar lebih tidak yakin dari yang kuinginkan.
Ricky menghela napas. ” Tidak, Will. Aku minta maaf, tapi aku tidak salah. Kau mengimajinasikannya selama ini. Semuanya hanya permainan otakmu akan dirimu sendiri” Dari kejauhan aku mendengar suara sirine berbunyi. ” Ambulans akan segera datang, kau akan baik – baik saja.”

” Jika ia meninggal,” kataku, masih tidak percaya akannya. ” Bagaimana dengan teman – temannya? Mereka masih berbicara dengannya. Tanyakan pada mereka.”
” Seisi kampus tahu ia meninggal, Will. Teman – temannya hadir di pemakamannya. Tidakkah kau ingat bagian itu juga?” tanya Ricky, menghela napas panjang. Ia memandangiku dengan pandangan kasihan. ” Jangan kuatir, aku yakin akan ada terapis yang bisa membetulkan cara pandangmu itu.”

” Kau salah.” kataku. Tapi aku terdengar kosong. Kenapa aku tidak bisa ingat apa yang terjadi belakangan ini? Aku berusaha mengingat foto – foto yang kita ambil bersama dan film – film yang kita tonton, tapi semuanya menyatu menjadi gumpalan yang tak jelas di benakku. ” Kau akan baik – baik saja, Will.” ujar Ricky.

“Kau salah.” kataku lagi untuk terakhir kalinya. Suaraku pecah tengah jalan dan aku terdengar lemah. Tapi setidaknya aku tahu aku benar.

Mereka mengeluarkanku dari rumah sakit 2 minggu kemudian.

Ricky berada di depan rumah sakit ketika aku keluar dari pintunya. Ia tersenyum ketika melihatku dan aku tersenyum lemah balik.

” Hei. Bagaimana kabarmu?” tanyanya ketika aku berada di sebelahnya.
” Well, lebih baik dari ketika kau menyeretku keluar dari danau itu.” Ujarku. Ia tertawa.
” Aku masih tidak percaya aku bisa membuat realitaku sendiri dimana ia masih ada.” kataku, menghela napas panjang. “Salah satu terapis dari rumah sakit itu mengatakan hal itu bisa terjadi pada orang – orang yang, yah. Kau tahu.” Ricky menepuk pundakku dengan pelan, ” Hei, jangan khawatir akan hal itu. Yang penting kau sekarang sudah kembali ke jalan yang benar.”

Aku tersenyum kecil ke arahnya, ” Yeah. Kurasa kau benar.”

Kita berjalan ke stasiun bis terdekat. Tiap langkah yang kuambil terasa lebih ringan dari sebelumnya. Aku masih sedih, tentu saja. Tapi setidaknya aku sekarang tidak dikekang dengan sesuatu yang tidak nyata.

Stasiun bis itu sudah bisa terlihat ketika aku baru menyadari sesuatu.

” Hei, Rick.”
” Hm?”
” Ketika di jembatan itu…” aku mengerutkan keningku, ” Bagaimana kau tahu aku ke sana? Kau seharusnya masih di kelas waktu itu karena masih jam kampus, kan?”

Ricky tidak menjawab.

” Rick?” tanyaku, menoleh ke belakang. Tapi ia tidak ada di belakangku. Aku mencarinya ke sekelilingku tapi ia tidak ada dimana – mana. Aku mendengar degup jantungku mempercepat. Oh tidak.

Tidak lagi..

Baca Behind the Scenes dari Tahap I di : BTS! : Tahap 1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s