Miskomunikasi

“Aku rasa kamu tidak mengerti.”

Erin menghela napas panjang.

“Apa?”

“Aku rasa kamu tidak mengerti tentang apa yang sedang terjadi di antara kita,” ujar Vivien. Erin diam saja. “Begini, aku tahu kamu sudah menyukai Wilson dari.. well, selamanya. Dan aku rasa kamu juga tahu sejak beberapa bulan yang lalu bahwa aku juga menyukai Wilson. Terutama setelah aku dan dia ditugaskan bersama.”

“Mmm.” Erin bergumam.

“Jadi aku bisa mengerti bahwa kamu jadi tidak menyukaiku sekarang karena kita menyukai orang yang sama– dan juga karena aku sahabat baikmu jadi kamu merasa terkhianati. Sangat bisa dimengerti.”

“Mm.” Erin bergumam tak jelas lagi. Ia mulai memikirkan cara untuk bisa keluar dari percakapan ini. Apakah pura – pura pingsan ide yang baik? Hrm. Tak juga.Erin memutuskan menyeruput air dari botol minumnya agar tidak kelihatan terlalu kaku.

“Tapi aku rasa kamu tidak mengerti betapa aku sebenarnya lebih menyukai Wilson daripadamu.”

Di kalimat itu Erin nyaris tersedak meminum airnya. Ia tidak suka mengumpat tapi kali itu pikirannya langsung menjerit

THIS BITCH!

“Begini, aku rasa kamu mengalami semacam penyakit mental yang biasa dialami cewek – cewek pada umumnya : Menyukai seseorang lalu diam saja berharap orang yang mereka suka akan tahu dan tiba – tiba menyatakan cinta kepada mereka. Kehidupan tidak berjalan seperti itu, sayang! Kamu harus membuat suatu gerakan atau ia tidak akan pernah menyadari kehadiranmu. Kamu tahu ketika aku tanya Wilson apakah ia mengenalmu ia cuma berkata ‘lumayan’? Bagaimana kamu berharap kamu bisa mendapatkannya?”

Erin menutup botol minumnya.

” Begini, intinya aku lebih memiliki kesempatan untuk mendapat Wilson karena aku lebih dekat dengannya. Aku tahu apa merk sabun yang ia pakai, tahu hari apa ia potong kuku tiap 2 minggu sekali, tahu bahwa ia tidak bisa main ping pong. Dan aku tahu dia lebih suka aku daripadamu. Aku tahu ini terdengar menyebalkan dan mungkin kamu sakit hati.. tapi itulah kenyataan, Erin. Kuharap kamu bisa menerima hubunganku dengannya.”

“Lho, memangnya kalian sudah pacaran?” tanya Erin.

“Belum. Tapi kuyakin sebentar lagi ia akan menembakku.”

“Mmm.” balas Erin lagi.

“Ok, aku hanya ingin mengatakan hal ini kepadamu. Senang berbicara denganmu!” Lalu dengan satu sentakan hebat dan kibasan rambut lebat, Vivien membalikkan badan dan keluar dari ruangan itu. Erin menghela napas panjang. Ia mengambil botol minumnya dan tasnya sebelum keluar dari ruangan itu juga, dimana Wilson sedang bersembunyi menunggunya di balik tembok.

“Well?” tanya Wilson.

“Ermm, kurasa tidak kawan.” ujar Erin.

“Aw man. Kenapa kali ini?”

“Well, ia sedikit menjengkelkan dan kasar.. analisisnya agak kacau karena ia menganggap aku menyukaimu.”

“Jijik.”

“Aku tahu, kan? Nyaris muntah ketika mendengarnya berkata itu.. Anyway, ia sedikit obsesif padamu juga.”

“Yeah? Kukira cuma perasaanku saja.”

“Ia tahu hari apa kamu gunting kuku tiap 2 minggu sekali dan merk sabunmu, bro.”

“Astaga,”

“Kusarankan jangan jika kamu tidak mau berhadapan dengan cewek agak psycho sepertinya. Meski harus kuakui, ia memang menyukaimu.”

“Meh.. apa gunanya ia menyukaiku jika ia tidak suka kamu?”

“Well, ia mau pacaran denganmu bukan denganku, dude.”

“Iya sih. Tapi aku tidak mau pacaran dengan cewek yang tidak bisa berteman dengan best friendku juga.”

Erin nyengir. Wilson nyengir balik, “Jadi apa kabar pacarmu?” tanya Wilson. “Meh.. dia masih belajar buat ujian. Jurusannya jauh lebih rumit daripada jurusan kita…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s