Masalah Terakhir

Aku melempar telponku ke ujung ruangan satunya sebelum menarik bantal dan menjerit ke dalamnya.

Dasar lelaki brengsek! Semua lelaki sama semua! Apa maksudnya aku kekanak-kanakan?! Apa maksudnya aku kurang sabar?!

Aku mengumpat – umpat dalam hati untuk waktu yang sangat lama. Ketika aku mengangkat mukaku dari bantal itu, mukaku sudah basah dengan air mata dan merah dengan amarah yang masih belum reda.

Di satu sisi, ada sebagian dari diriku yang tahu bahwa bertengkar dalam sebuah hubungan itu normal. SANGAT normal bahkan. Beberapa ahli bahkan mengatakanya sebagai sehat.

Tapi di sisi lain? Diriku tidak bisa terima dengan apa yang ia katakan dan hanya dalam hitungan detik semua yang kurasakan padanya hilang. Yang ada hanyalah adrenalin tinggi untuk menang. Dan bagaimana caranya? Dengan menyakitinya. Dengan mengutarakan semua kesalahan dan kelemahannya.

Bagiku, bertengkar merupakan hal yang paling sadis. Ia dapat mengubah orang tersabar yang kau kenal menjadi seorang psikopat berlidah setajam pisau dengan jalan berpikir menjatuhkan. Aku bersumpah kita semua mengeluarkan potensi ahli debat kita ketika bertengkar.

Umumnya itulah yang terjadi. Satu berteriak tentang kesalahan yang lain dibalas oleh satunya.. begitu terus hingga seseorang akhirnya mengalah. Jika tidak? Yah hubungan mereka berakhir,  bukan?

Seorang ibu dan anak tidak lagi berbicara.
Teman tidak lagi menyapa.
Pasangan tidak lagi mengenali yang lain…

Jadi jujur saja, ia membuatku lebih jengkel lagi. Karena meskipun aku tahu ia semarah diriku, ia tak pernah balas menyerangku. Dan itu menjengkelkan karena DIALAH yang memulai pertengkaran ini, lalu ia tak mau menjelaskan apa yang ia inginkan dariku.

Telponku berdering lagi.

Setelah 20 menit dari diriku meratap, ia menelponku lagi.

Aku ragu -ragu untuk mengangkatnya. Pada dering terakhir, aku mengangkatnya.

“NGAPAIN TELPON LAGI?!”
“….”
“KALAU UDAH TELPON NGOMONG DONG!”
“….”
“Astaga, siapa yang kekanak -kanakan sekarang,ha? Kamu mau apa sih?”
“….”

Ia diam begitu selama bermenit – menit. Aku mencoba menunggunya sampai akhirnya ia mau berbicara, tapi aku tidak sabar. “AYO! BICARALAH PADAKU!”
Ia membalas dengan sebuah dengus kecil.

Aku sudah menangis daritadi,tetapi baru menyadari bahwa mungkin aku bukan satu – satunya.
“Apakah kamu menangis?” Tanyaku, lebih pelan. Ia tidak menjawab lagi. Hanya dengusan kecil lagi.
“…. sorry.” Ujarnya pelan.
“Menurutmu sori dapat memperbaiki semua ini?! Kamu–” telponnya terputus tiba -tiba.

Aku memandangi layarku dengan tidak percaya dan sekali lagi menarik bantal untuk menjerit ke dalamnya.

Tak lama kemudian, telponku berdering lagi. Aku mengangkatnya tetapi belum sempat aku membalasnya, sebuah suara yang tak kukenali berkata  “Halo?”
Aku mengerjap kaget.

“Halo..?” Jawabku ragu – ragu
” Selamat malam, saya dari tim paramedis, apakah saya boleh tahu ini siapa?” Suaranya dan tata bicaranya sangat formal.
“Paramedis? Apa yang terjadi?”
“Apakah Anda kenal dengan pemilik HP ini?”
“Ia pacarku, kenapa?”
“Saya sedih untuk memberitahukan bahwa pacar Anda baru saja mengalami kecelakaan.. ia ditabrak dan–”
Aku memotongnya seketika “Tunggu dulu! Itu tidak mungkin, ia baru saja menelponku, aku baru saja berbicara dengannya.”
“Dan kapankah ini?”
“5.. 4 menit yang lalu!! Pukul 21-an? Apakah ini hanya lelucon?”
“Saya bisa mengonfirmasi kalau ini bukanlah lelucon.. kami baru saja menemukan telpon ini di area TKP, tetapi korban telah diangkut ambulans 10 menit yang lalu..”

Aku merasa sekujur badanku mati rasa.

“Itu tidak mungkin.” Ujarku.

Keesokan paginya, aku diberitahu ia meninggal pukul 21.01 di ambulans. Telponnya di tempat ia ditabrak, tidak ada telpon yang tertuju ke diriku di telponnya. Tetapi ada di telponku.
Sebuah telpon masuk
Pukul 21.02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s