BTS! : Tahap 1

Hai hai!

Jadi memang agak lama setelah aku mengpost cerpen terpanjangku di sini– Tahap I— tapi tiap kali aku membacanya aku merasa hint – hintnya terlalu subtle sampai – sampai rasanya nggak ada yang mengerti cerita itu selain aku.

Intinya, aku merasa perlu menjelaskan cerita itu.

Anyway, kita bisa memulai dengan fakta bahwa aku sebenarnya memiliki ide ini secara spontan. Aku menginginkannya sebagai film sebenarnya, ketimbang sebagai cerita karena rasanya lebih efektif jika dilihat secara visual. Kalau dalam bentuk cerita, rasanya tidak akan dapat feel yang kuinginkan kecuali panjang. Sayangnya, aku tidak bisa menemukan jalan ceritanya jika dibuat novel jadi ia terpaksa menjadi cerpen. Cerpen yang aneh karena kurang mendetail tapi terlalu detail pada saat yang bersamaan.

Lanjut!

Tahap I adalah cerita mengenai moving on. Hint pertama adalah dari judulnya. Meskipun namanya Tahap I, tidak ada referensi mengenai lokasi apapun yang berhubungan dengan tahap I. (Perlu dicatat kalau disini aku menulis tahap i dengan i kapital (I) supaya bisa mirip dengan 1, Kenapa? Supaya keren)

Tahap 1 yang kumaksud adalah tahap pertama dari Kubler Ross Model ini adalah 5 tahap yang dirasakan orang ketika akan meninggal atau menghadapi kematian. Tahap pertama? Denial. Semuanya kau tolak. Fakta bahwa orang itu mati kau tolak mentah – mentah. Dan di kasus Will yang ditinggal oleh pacarnya yang ia sangat sayangi, ia menciptakan sebuah ilusi di benaknya sendiri bahwa Elisabeth masih hidup.

*Elisabeth adalah nama pertama dari penemu Kubler Ross model. Ini juga hint tapi aku tidak menyalahkan kalian jika kalian tidak menyadarinya. Lagian namanya terdengar feminim seperti tipe cewek yang kuinginkan sebagai karakter pacarnya Will*

Ceritanya dimulai dengan Will yang mendengar Elisabeth menangis– dilanjutkan dengan ‘Sebenarnya ini bukan pertama kali aku mendengarnya, sudah beberapa kali sejak aku sebenarnya ingin menghentikan tangisannya.’ Ini adalah hint bahwa Will tahu Elisabeth mengalami depresi, dan kemungkinan besar masih merasa bersalah karena tidak cukup membantu Elisabeth dengan masalah itu.

Jadi hal pertama yang ia lakukan adalah menciptakan ilusi bahwa ia berhasil membantu Elisabeth. Bahwa ia bisa memeluk Elisabeth dan segala masalah Elisabeth telah hilang. HP yang dipegang Elisabeth adalah ide lama yang aku punya bahwa ketika kamu kehilangan seseorang, kau hanya bisa melihat kembali memori yang kau miliki. Dan di era modern ini, kebanyakkan memori itu tersimpan di HP. Mungkin Will sendiri sering melakukannya ketika ia belum menciptakan ilusi ini. Hanya duduk di tempat tidurnya, memandangi nomor telpon atau foto atau chat lamanya dengan Elisabeth.

Adegan – adegan berikutnya seperti menunggui Elisabeth di kampus adalah ilusi bahwa segalanya berjalan seperti normal. Ini adalah sesuatu yang Will lakukan sebelum Elisabeth meninggal. Tapi tentu saja, pasti ada sebagian dari diri Will yang tahu bahwa itu semua ilusi– dan itulah ketika Elisabeth menghilang. Kekacauan ini merusak ilusi sementara Will, tapi ini tidak cukup untuk membuatnya sadar. Jika apapun, ini adalah momen ketika Ricky justru muncul.

Kita akan membahas Ricky nanti, sementara ini kita fokus pada Elisabeth yang hilang lalu ditemukan lagi! Dimana? Di tempat pertama mereka bertemu. Kamu mungkin berpikir ‘Kenapa Elisabeth bahkan perlu kesana?’ Dan itu benar kalau tempat itu tidak memiliki arti signifikan bagi Elisabeth. Tapi bagi Will? Itu adalah tempat ketika semuanya masih indah dan ia bahagia.

Jadi sekarang kita akan melompat ke bagian dimana Elisabeth hilang *lagi* dan dimana ia muncul? Yap! Tempat ia melompat! Lihat bagaimana ia menghilang ke tempat pertama mereka bertemu lalu kemudian ke tempat dimana mereka berpisah selamanya? Will–mungkin terdorong dengan rasa bersalahnya karena tidak bisa mencegah pacarnya untuk melompat bunuh diri, kemudian membuat ilusi bahwa kejadian itu terulang lagi dan ia bisa mengejar Elisabeth.

Atau mungkin ia sudah terlalu jauh di rasa bersalahnya hingga ia merasa perlu melompat juga.

Lalu BAM! Ricky muncul dan menyelamatkannya. Dan BAM! Ia mengingatkan Will bahwa Elisabeth sudah meninggal.

Setelah Will pulih dan terlepas dari ilusinya, ia kemudian menyadari anehnya kehadiran Ricky.

Ricky orang terakhir yang keluar dari kelas 105, tidak ada orang yang pernah terlihat berbicara atau dengan Ricky. Dan ia bisa muncul secepat itu waktu Will dalam bahaya. Bagaimana Ricky bahkan bisa tahu Will akan ada di jembatan itu?

Dan di situlah Will akhirnya sadar bahwa Ricky juga bagian dari ilusinya.

Bagaimana rasanya tidak bisa mempercayai matamu sendiri, Will?

Sebenarnya aku ingin menulis tipe cerita seperti ini sebagai novel. Rasanya plot itu– tidak bisa membedakan realitas dan mana yang tidak, sulit untuk mempercayai matamu dan pikiranmu sendiri– bisa sangat didalami.

Jadi anggap saja Tahap I sebagai latihan pertamaku dalam mencapai ide itu.

Peace out!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: