Partner pt.1

DEVIN

Aku melompat kaget ketika mendengar kata itu padahal itu namaku dan aku sendiri yang mengucapkannya. Lebih tepatnya aku kaget ketika membaca letak namaku di daftar partner tugas Inggris yang aku sendiri tidak tahu disuruh apa. Hal ini karena namaku itu terletak di sebelah nama seorang cewek yang suatu hari tiba – tiba mulai menghindari aku seakan – akan aku terkena cacar air permanen : Adeline.

Prata di sebelahku menepuk pundakku dengan girang, “Asek, coy! Kamu nggak usah kerja!” Aku menoleh kepadanya muram. Adeline memang pintar Inggris, tapi modelan anak seperti Prata yang tipikal cowok normal yang tidak peka kemungkinan besar sama sekali tidak sadar bahwa Adeline membenciku dengan sepenuh hatinya. Sedihnya aku juga seorang cowok normal : aku sama sekali buta dengan alasan kenapa ia membenciku.

Kita dulu lumayan dekat.

Aku tidak akan menceritakan detailnya karena sejujurnya jika aku memikirkannya aku agak sakit hati. Kita tidak hanya dekat. Dia salah satu teman terbaikku dulu. Lebih dekat daripada Prata, dan Prata adalah salah satu temanku yang rela dipanggil ala roti India padahal nama aslinya Pratama.

Tapi demi kelangsungan cerita ini– dan demi nilai inggris— dan untuk menuntaskan kenapa Adeline tiba – tiba membenciku, aku akan mencoba meringkas apa yang terjadi.

Dia temanku sejak SD. Tipe yang kenal karena mama kita saling kenal dan karena kita 1 antar jemput dulu. Dia sering ke rumahku main. Aku sering ke rumahnya main. Tentu saja ketika kita kelas 3 mulai ada yang mengejek kita saling suka tapi keesokan harinya ejekan itu berhenti. Aku cukup yakin itu karena Adeline dari dulu seorang cewek yang tidak peduli dengan aturan main. Dia tidak suka denganmu, dia akan menghajarmu.

Percepat beberapa tahun, kita masih dekat ketika SMP dan pindah di 1 SMP yang sama juga. Dia menceritakan kepadaku tentang semua artis korea favoritnya dan cerita dramanya yang rasanya muluk itu – itu aja. Sementara aku akan menceritakan kepadanya tentang lelucon terbaru dari internet atau tentang kejadian bodoh ketika latihan futsal bersama teman – temanku. Kita menceritakan apapun ke satu sama lain. Mulai dari hal konyol seperti cara menyetrika celana dalam hingga sesuatu sebesar jurusan kuliah dan kondisi keluarga yang memburuk atau semacamnya.

Kita masuk di 1 SMA yang sama tetapi berbeda kelas di kelas X. Kita masih bercerita tentang apapun ke satu dengan yang lain, aku bahkan menceritakan tentang Vivien, cewek sekelas denganku yang kusuka, kepadanya dan aku tidak pernah cerita tentang Vivien ke siapapun. Lalu sekitar 3 bulan kemudian, tanpa angin tanpa hujan ia tidak menjawab telponku, ia tidak membalas line dan sms dan chat apapun dariku, ia tidak mau menoleh kepadaku di sekolah, ia bahkan tidak pernah menyapa sejak kita sekelas lagi di kelas XII.

Sudah 2 tahun dan aku berpikir aku sudah tidak memerlukannya lagi. Aku terhenyak sedikit menyadari hal itu. Sudah 2 tahun, dan aku masih tidak tahu mengapa.

Advertisements

One thought on “Partner pt.1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s