Partner pt.2

45 menit sudah berlalu sejak pengumuman pasangan untuk tugas Inggris diumumkan dan selama ini aku duduk termenung di kursiku. Di sebelahku Adeline duduk sambil menulis.

Aku membawa binder dan buku inggrisku ke bangkunya ketika mengetahui kita berpartner. Dia tidak menengadah ketika aku berkata ‘Hei’. Tidak menoleh ketika aku duduk di sebelahnya. Tidak berbicara ketika aku bertanya tentang apa yang seharusnya kita buat untuk projeknya.

Sudah lama sejak aku duduk sedekat ini dengannya. Aku tidak menyadari betapa banyak yang telah berubah darinya. Ia masih Adeline, tentu saja. Adeline dengan rambut sebahu dan poni depan yang sama. Adeline dengan berbagai gelang yang ia sering deskripsikan sebagai ‘boho’ atau ‘tribal’ atau apapun lah itu di tangannya yang sama. Adeline dengan kebiasaan buruknya untuk menggigit bibir bawahnya ketika ia kesal karena terlalu diperhati– oh shit.

Aku menaikkan pandanganku dari bibirnya ke matanya yang sekarang menghunjamku dengan tanpa ampun. Fuck. Ia marah denganku.

*butuh 2 tahun tidak ada kabar dari seorang gadis untuk membuatmu menyadari hal ini*
*kerja bagus*
*pantas saja kamu nggak bisa dapat pacar*

“Kamu bakalan bantu nggak sih?!” tanyanya ketus.

Aku mengerjap. “Um..” balasku seperti orang yang baru saja belajar berbicara. Sementara otakku berusaha mencari respons yang tepat, lidahku hanya mengulang lagi “Uh..”

Adeline menunduk ke kertas yang dari tadi ia corat – coret. “Tugas kita membuat sebuah makalah mengenai sesuatu dalam bahasa inggris. Ini bukan tugas gampang tahu, dibuat penilaian akhir lagi.”

“Okay.” Balasku, asal berbicara supaya tidak terdengar diam terus.

“Aku tadi sempat pikir bikin makalah tentang karya hidup shakespeare karena Mr.Henry rasanya suka banget jadi plus poin lah tapi aku bingung pilih cerita yang mana jadi aku pikir mungkin sebaiknya ganti ke sesuatu yang lebih sederhana saja.”

“Okay.”

“Jadi aku pikir mungkin membuat analisa lagu – lagu pop bahasa inggris dari tahun 1990 sampai tahun ini mungkin akan menarik untuk dibuat, DAN itu juga termasuk pelajaran yang Mr. Henry sering bicarakan sejak Modul 8 semester lalu.”

“Okay.”

Adeline diam. Butuh beberapa waktu untuk menyadari ia sebenarnya menungguku berbicara.

“Oh, um. Yeah, kurasa shakespeare terlalu berat. Analisa lagu lebih mudah dilakukan dan lebih menarik.” Ia menoleh dari kertasnya kepadaku. Aku menelan ludah dan menggaruk daguku yang gatal. “Eh.. jadi kurasa sekarang kita cari lagu pop bahasa inggris?” Adeline diam saja, ia memandangiku dengan tatapan mata yang dingin dan agak sinis. Aku merasa semakin gugup karena aku tidak tahu apa yang ia pikirkan sekarang.

Di satu titik aku merasa cara pandangnya sedikit berubah dan aku bisa merasa gejala – gejalanya yang akan marathon cerita panjang lebar. Aku menelan ludah dan mulai mengantisipasi entah apa yang akan ia katakan–

Tetapi detik dia membuka mulutnya, bel istirahat berbunyi. Raut mukanya langsung berubah menjadi dingin lagi dan ia membanting bukuya tutup, berdiri dan meninggalkanku di situ tanpa mengatakan apa – apa.

Partner pt.3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: