Partner pt.3

“Sumpah aku nggak paham tugas inggris itu gimana cara kerjanya.” Ujar Prata dengan mulut penuh nasi soto dan krupuk. Di sebelahnya Ferdy mengangguk – angguk seakan – akan ia psikolog terkenal yang sedang berkonsultasi dengan pasien favoritnya.

Masalahnya jika Ferdy dan Prata berada di rumah sakit jiwa, mereka berdua akan dikategorikan sebagai pasien.

Aku mengunyah dalam diam sambil mendengarkan cerita Prata mengenai bagaimana Sophie, partnernya, malah sibuk HP-an selama 2 jam dan dia nggak ngerti sekarang harus mengerjakan apa. Tengah jalan ceritanya melenceng ke DOTA lalu mereka asik membicarakan strategi kita untuk nanti malam. Di tengah pemikiran strategi B, aku mendongak dan melihat Vivien berjalan di belakang Prata.

Degup jantungku mengalami fluktuatif irasional dan aku menendang kakiku sendiri. Tendanganku meleset dan aku malah menendang tulang kering Prata yang lalu melolong kesakitan sebelum menendangku balik. “Vin! Apaan sih?!” Seru Prata sambil menaikkan kakinya ke kursi dan menggosok – gosoknya.

Ferdy menoleh ke belakang Prata tetapi Vivien sudah pergi sehingga ia tidak bisa memastikan dugaannya.

Vivien dan aku memiliki sejarah.

Atau setidaknya aku harap punya. Kadang aku merasa mungkin aku hanyalah cowok lain di matanya, bukan siapa-siapa yang spesial. Tapi kadang aku akan ingat bagaimana dia memandangiku dulu atau caranya membalas chatku lalu aku bertanya apakah dia bakal begitu ke semua cowok.

Aku menyukainya sejak kelas X, ketika ia di kelas sebelahku. Aku bahkan mencoba ikut OSIS demi kenalan dengannya. Kita sekelas di kelas XI, aku melakukan PDKT. Cerita asmara SMA pada umumnya terjadi– selfie berdua, aku menemani dia sampai gerbang tiap kali pulang, kita chat sampai subuh, aku ngajak dia ngedate berdua, kita nonton film – film nggak jelas, aku membelikannya kado ulang tahun sendiri– macam begitulah.

Lalu aku menembaknya.

Kalian tahu sendiri lah kira – kira bagaimana hasilnya. Aku berdiri dari meja itu, tidak ingin mengambil resiko melihat Vivien lagi. “Aku perlu kembali ke kelas, guys.”  Aku meninggalkan mereka dan ketika naik di tangga berpapasan dengan Adeline yang sendirian.Ia berhenti sebentar seakan – akan kaget aku ada di depannya.

Lalu ia lanjut berjalan turun. Aku memanggilnya, “Hei Line.”Ia berhenti, punggungnya menghadapku. “Kau mau kerja kelompok kapan – kapan?” Pelan – pelan, ia menoleh kepadaku, mukanya datar tapi ia mengangguk. “Okay.” Aku menelan ludah dan dengan nekat bertanya, ” Rumahku atau rumahmu?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s