Partner Pt. 4

Adeline membukakan pintu rumahnya untukku pada hari Minggu siang itu.

Entah bagaimana caraku berhasil membujuknya bahwa ‘bekerja di sekolah tidak mungkin cukup untuk projek sebesar ini’ dan ‘mengumpulkan lebih cepat bakal mendapat nilai lebih baik’ dan ‘lagian tema kita juga perlu internet kuat dan internet sekolah super bobrok’. Yang penting dia telah membiarkanku datang ke rumahnya lagi, dan ini langkah signifikan untuk memperbaiki apapun yang terjadi di antara kita dan mengetahui kenapa ia tiba – tiba membenciku.

Plus, kerjaan inggrisku juga bakal selesai, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui!

“Masuklah,” kata Adeline. Rambutnya ia ikat jadi satu, ia memakai celana pendek yang gombor dan baju agak kumal. Tidak jauh beda dengan yang dulu ia pakai waktu aku rajin ke rumahnya. “Jadi aku sudah mencari beberapa lagu yang menurutku cukup terkenal pada tahun – tahun tertentu seperti Don’t Speak, Killing Me Softly, Say My Name–”

“Um. Aku lebih memikirkan lagu – lagu seperti ‘Rolling in the Deep’-nya Adele atau ‘Counting Stars’-nya One Republic..” kataku, cepat – cepat memotong agar ia tidak terlalu ngelantur dengan lagu – lagu super kuno-nya.

“Oh.” ia terdengar kecewa, “Well, itu juga bisa,”

“Well kita bisa pakai beberapa lagu terkenal dari 1990-an juga kayak.. eh.. ‘Smells Like Teen Spirit’?” Tanyaku berusaha membuatnya senang lagi. Aku tahu Adeline lebih suka lagu – lagu anti-mainstream. “Maksudku, lagunya itu membuat band Nirvana jadi super terkenal hingga mereka sendiri kewalahan. Dan Kurt Cobain, penyanyi utamanya, merasa tidak senang dengan dirinya yang jadi terkenal dan bagaimana media menampilkan dirinya hingga ia depresi berat dan bunuh diri.”

“Aku tidak tahu ceritanya seperti itu.” ujar Adeline. Aku mengangkat bahu, “Aku juga nggak sampai minggu lalu ketika ada ulangan geo.”
“Ulangan geo?”
“Um. Iya, Ceritanya panjang.”
“Kita punya banyak waktu kok.” Adeline nyengir, membuatku sadar ia masih siap meledekku kapan pun. Aku menarik napas panjang,

“Aku buka wikipedia buat cari peta Indonesia lalu ada link buat ngeliat daftar nama pembuat peta lalu salah satu namanya mirip sama nama aktor yang aku kenal jadi aku google lalu aku nonton trailer film terbarunya terus filmnya kelihatannya bagus jadi aku download terus aku nonton sampai habis. Terus lagunya ‘Smells Like Teen Spirit’ dipakai jadi salah satu background music adegan actionnya jadi aku penasaran lalu aku buka di youtube terus aku penasaran sama ceritanya jadi aku buka wikipedia lagi terus baca biografi lengkap Kurt Cobain… di wikipedia.”

Adeline tertawa tertahan,”Bego,” gumamnya. “Hei!” seruku merasa sedikit tersinggung, tapi lalu aku tertawa juga. Kita mengartikan beberapa lagu dan mengecek google tiap 3 kalimat sekali.. “Menurutmu ‘Counting Stars’ ini tentang cewek?” tanya Adeline tiba – tiba ketika kita sedang diam mencari arti dari lagu masing – masing.” Tidak, menurutku tentang penggunaan narkoba.” kataku, mengulang apa yang kubaca di 3 website ketika ulangan mat sebulan lalu. ” Oh.” ujar Adeline.

Ini kali ketiga ia menanyakan apakah menurutku suatu lagu ada hubungannya dengan cewek. Kenapa ia terus menanyakannya? Atau jangan – jangan karena ia sedang penasaran apa yang kupikirkan tentang– tidak mungkin.. Adeline tidak mungkin ingin tahu apakah aku memiliki perasaan untuk–

” Kau perlu lagu ballad? Atau sesuatu yang ada cinta – cintaannya?” tanyaku bersemangat. Adeline memandangiku dengan tatapan datar. “Yeah, kenapa tidak.” ujarnya dengan nada bosan. ” Menurutku ‘Hotline Bling’-nya Drake, meskipun baru dan terdengar monoton, sebenarnya lumayan menarik.”

“Karena?”
“Ia memberikan banyak hal kepada cewek itu, mereka sudah dalam hubungan yang cukup lama. Lalu tiba – tiba ia harus pergi menjauh karena suatu dan lain hal– dan awalnya cewek itu tetap mengontaknya seakan – akan cewek itu sangat membutuhkannya– lalu ternyata setelah beberapa saat, cewek itu beradaptasi dengan kehidupan barunya dan kita menyadari bahwa ternyata selama ini cowoknya yang lebih takut kehilangan daripada si cewek.” Adeline terdiam, memandangiku dengan tatapan mata kaget dan sedikit berair. Aku mengangkat bahu, mengangkat HP-ku, “Itu yang dikatakan di sini, tapi kurasa itu benar juga sih. Masalah waktu dan komunikasi sulit lalu hubungan jadi renggang.” Tatapan matanya yang tadi agak sedih berubah dingin.

“Mungkin karena si cowok tidak sadar apa yang sebenarnya ia miliki, makanya si cewek meninggalkannya.”katanya dengan nada ketus.”Mungkin juga.” kataku datar, melanjutkan scroll di hpku.Ia diam sebentar lalu tiba – tiba,

“Apa yang terjadi dengan Vivien?”

Aku membeku. Ini pertama kali ada seseorang yang bertanya mengenai hal itu kepadaku. Aku tidak pernah menceritakan tentang Vivien ke siapapun selain Adeline. Tidak ada yang tahu aku pernah menembaknya juga.

“Tidak banyak.” Kataku, tidak berani menoleh ke Adeline.

” Kau bohong.” Sial, ia masih bisa membacaku tanpa melihat mataku.

“Tidak penting,” desakku. Tapi suaraku agak tercekat dan aku benar – benar tak ingin membicarakannya hingga kurasa terlihat cukup jelas di mukaku.

Detik berikutnya Adeline cemberut tanpa alasan dan ia menyuruhku pulang karena sebentar lagi ia akan pergi dengan keluarganya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s