Partner pt.5

Prata mengajakku jalan untuk membeli kado buat adik perempuannya waktu hari Minggu. “Menurutmu dia bakal suka yang pink atau yang ungu?” tanya Prata sambil mengangkat dua tas ransel ke arahku. Aku mengangkat bahu, “Kukira dia suka warna hijau?”
“Itu bulan lalu. Sekarang dia suka warna – warna gini.”
” Whoa.”
” Persetan, kubeli yang ungu saja dan beli kotak pensil pink supaya dia dapat dua – dua.” Ujar Prata sambil berjalan ke kasir. Baru satu langkah tiba – tiba ia menjatuhkan tas itu dan mencengkram lenganku dengan kekuatan abnormal.

” Bro,” ujarnya di balik kertakan gigi.
“Kenapa?” tanyaku agak panik.
” Perutku berontak.” Tangannya tiba – tiba keringat dingin dan aku melihat lengannya tiba – tiba merinding.
” Maksudmu..”
” Aku perlu toilet. SEKARANG.” Cengkramannya mengeras. Aku panik, kali ini karena aku tahu bahwa ia hanya butuh hitungan detik untuk melakukan bisnisnya jika sudah seperti ini. “Pergi sana!” ujarku mendorongnya buru – buru. Ia berlari ke toilet terdekat.

Aku mengangkat tasnya dan berjalan ke arah kasir. Ketika sampai di sana aku membeku. Vivien ada di depanku, dan ia memandang langsung ke arahku. Alam bawah sadarku memaksaku bernapas dan mengatakan halo.

” Hei Vien.” ujarku dengan suara tercekat.
” Hei Vin.” katanya.

Aku tersenyum. Aku selalu suka bagaimana panggilan kita menghasilkan nama yang sama. Senyumanku menguap pelan – pelan.
“Bagaimana kabarmu?” tanyaku, memasukkan tanganku ke dalam saku celanaku.
” Ya begitulah, tak terlalu banyak yang berubah.” ia tersenyum balik. Astaga, ia cantik.
Kamu masih sibuk dengan les musikmu?”
” Tidak. Aku berhenti sejak Juni lalu.”
” Oh?” mataku melebar, ” Tapi kukira kau mau mengambil jurusan musik..?”
” Yeah, well, kurasa aku bertambah dewasa dan menyadari kita tidak bisa memiliki segalanya dalam hidup.”

Kita tidak bisa memiliki segalanya dalam hidup, Vin. Itu kode.
Tapi ia berbicara denganku!!
Persetan dengan optimismemu itu. Kalian cuma kebetulan bertemu lalu basa – basi.
Tapi mungkin..
Tidak.
Tapi..

Kamu masih bakal mengambil jurusan bisnis?”
“Yep.”
” Di univ–”
“Yang sama? Yep.”
“Kau selalu orang yang tahu jelas apa yang harus kau lakukan.” Senyum Vivien. Aku tertawa, ” Itu cuma cara lain untuk berkata aku sudah terlalu nyaman ikut dengan arus kerumunan.”
“Mungkin. Tapi mungkin dari sekian banyak kerumunan itu kamu yang paling aneh karena benar – benar ingin memepelajari bisnis sejak awal.”
“Yeah, tapi kadang benar – benar ingin tidak cukup, kan?” ITU KODE VIEN. ITU KODE!

Vivien mengangguk dan tersenyum. “Aku harus pergi,” katanya. Itu yang kau katakan waktu itu juga.  “Sure. Bye Vien.” senyumku, tapi aku merasa seperti diriku setahun yang lalu.

“Aku menyukaimu.” 

Dan ia terlihat tidak nyaman, menoleh ke arah lain, menolak pandanganku. Tiap detik dari dirinya tidak memandangku adalah tirai yang menutup. Pertunjukan telah berakhir. Bungkuklah dan pergi. Kau hanyalah aktor lain untuk membuatnya bahagia sesaat.

“Oh Vin.” 

Dan ia tidak perlu menjelaskannya. Tapi aku membeku di tempat sementara ia akhirnya memandangku dan ia bahkan tidak tersenyum ketika berkata ‘Maafkan aku.’ Dan aku sudah memaafkannya jauh sebelum ia bahkan mengatakannya– mengutuk kebodohanku untuk bahkan berpikir bahwa ia akan mau denganku. Hatiku mencelos ke dasar sol sepatuku. Aku tak bisa membayangkan bagaimana nanti caraku menaikkannya. 

“Aku menyukai kita hanya sebagai teman.” 

Aku menemukan diriku tersenyum dan berkata, ” Yeah, sure.” 
” Maafkan aku–“
” Tidak apa – apa. Sungguh.”
” Jadi–“
” Anggap saja ini tak pernah terjadi.”
” Benarkah?”
” Yeah.”
” Well.. okay. Aku harus pergi sekarang, ya?”
” Okay. Hati – hati, Vien.”
” Bye Devin.”

Ia mengakhirinya dengan nama lengkapku. Aku mengakhirinya dengan namanya terjebak di benakku, tidak pernah sepenuhnya bisa cukup hilang agar tenggorakanku bisa tidak tercekat dan sol sepatuku kembali longgar seperti dulu.

Vivien benar.

Kadang benar – benar mengingini sesuatu tidaklah cukup jika yang diingini tidak tertarik denganmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: