Partner pt.6

Aku tidak mengerti bagaiman aku bisa menemukan diriku di bioskop DAN duduk persis sebelahnya Adeline.

Mungkin para dewa sedang mengatur agar kita kembali berteman– atau memang cuma kebetulan ketika Prata keluar dari toilet setelah perutnya kosong dan bertemu dengan Adeline dan Michelle dari kelas kita yang juga jalan – jalan. Kita bergabung menjadi satu kelompok dan Prata seperti biasa selalu mengajak nonton bioskop dan disinilah aku sekarang berada.

Aku menyeruput soda dari gelas bioskopku ketika filmnya mulai. Hanya 1,5 jam duduk di sebelah cewek yang tidak sampai seminggu lalu mengusirku dari rumahnya. Ayolah, aku bisa melewati ini.

Film yang dipilih Prata seharusnya horror. Tetapi aku sudah kebal menonton begitu banyak jump scare dan muka menakutkan dari game sehingga sepanjang film aku hanya merasa agak bosan. Harus kuakui setidaknya jalan ceritanya lebih masuk akal dari kebanyakan film horror. Aku menyeruput sodaku lagi ketika si tokoh utama berkata kepada audiens isi kepalanya.

Aku sudah mengecek semuanya. Aku sudah mengecek semuanya. 

Kamera berganti ke rekaman dirinya mengecek keamanan rumahnya.

Pintu sudah dikunci. Jendela sudah ditutup. Aku sudah mematikan kompor. Semua kamar telah kucek. TIdak ada siapa – siapa. Lemari telah kubongkar. Tidak ada apa – apa . 

Aku aman.
Aku aman. 
Aku aman.

Musiknya semakin cepat, aku merasakan degup jantungku mempercepat dengan sendirinya meskipun aku tahu bahwa klimaksnya akan muncul sebentar lagi.

Mata tokoh utama itu tiba – tiba membuka dengan panik. Aku lupa mengecek bawah tempat tidurku. Kamera dengan cepat berganti dari tempatnya berbaring di atas tempat tidur ke bawahnya dimana–

Aku tidak melihat karena Adeline melompat berdiri dan setengah berlari melewatiku ke pintu keluar bioskop. “Adeline!” seruku spontan. Dan aku berdiri mengejarnya.

Aku keluar dari bisokop dan mengerjap beberapa kali karena perbedaan cahaya yang cukup drastis. Adeline memunggungiku, menghadap ke arah tembok dengan poster film yang telah lewat berbulan – bulan yang lalu. Kedua tangannya memeluk dirinya sendiri. Aku mendekatinya, pundaknya agak bergetar dan mukanya pucat.

Aku menelan ludah. Bodoh. Adeline benci hantu dan horror. Aku mengutuk diriku sendiri, kenapa aku tidak memikirkannya ketika Prata memilih film itu? Karena Adeline bukan siapa – siapamu. Karena Adeline bisa mengurus dirinya sendiri. Aku mengenyahkan pikiran itu, yang penting sekarang adalah Adeline bukan status tak jelasku.

Aku memegang pundaknya dan menggiringnya ke salah satu kursi panjang di area depan penjual pop corn. Lalu aku mendudukannya, melepas jaketku dan memberikannya kepadanya. “Tunggu sebentar,” ujarku sambil buru – buru ke stand penjual minuman. Aku kembali dan menyodorkannya coklat panas. Ia meminumnya pelan – pelan sementara aku duduk di sebelahnya. Memerhatikan bagaimana mukanya kembali memiliki warna. Memerhatikan pundak kecilnya tidak menggigil lagi.

Kamu tidak apa – apa?  pikirku. Tapi lidahku tak bisa mengatakannya. Jadi aku hanya diam saja.

Dan kita duduk.
Dan kita diam.
Selama bermenit – menit.
Selama yang ia perlukan.
Selama itulah aku akan menunggu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s