Partner pt.7

Malam itu aku memandangi langit – langit kamarku dan bertanya – tanya jika apa yang kulakukan untuk Adeline benar atau tidak.

Prata dan Michelle menyusul kita setelah film horror itu bubar. Tapi pada saat itu si Adeline sudah baik – baik saja dan ia beralasan bahwa ia tadi kebelet pipis sehingga lari segitu kencangnya keluar bioskop. Prata menaikkan alisnya ke arahku dan aku mengangkat bahu dan beralasan aku terlalu bosan di dalam jadi ketika Adeline keluar aku ikut – ikutan.

Entah karena ia tidak peduli atau memang ia sebodoh itu, Prata tertawa dan percaya saja.

Tapi lalu aku dan Adeline berpisah dengan teman masing – masing dan pulang sendiri – sendiri. Jadi kita sama sekali tidak berbicara tentang apapun yang terjadi tadi. Aku menghela napas panjang dan memejamkan mataku.

Bodoh. Memangnya kamu berharap apa?

Hpku mengeluarkan notifikasi chat.

Aku menyambarnya dan membukanya. ‘Kamu masih bangun?’ tanya Adeline.

‘Y’ tulisku sebelum mendeletenya dan mengganti dengan, ‘Iya. Knp?’

‘Bisa telpon?’ tanyanya.

Aku membalas dengan menelponnya.

“Hei.” ujar Adeline. “Hei.” balasku.

“Eh. Thanks. Buat yang tadi.” katanya.
” Oh. Yeah nggak apa – apa. Aku tahu kamu benci horror.”

Adeline diam. “Line?” panggilku setelah beberapa saat, mengira koneksinya terputus.

“Kenapa kamu melakukan itu?” balasnya.
” Apa?”tanyaku heran.
“Kenapa kamu melakukan itu tadi?”
Aku mengernyitkan dahiku dan mengubah posisi hp-ku. ” Entahlah, Line. Aku hanya merasa itu yang harus aku lakukan.”
” Jadi kamu melakukannya karena apa? Kasihan padaku atau semacamnya?”
” Iy-tida– apa sih maksudmu?”
” Apa yang terjadi dengan Vivien?”
” Kenapa kamu begitu penasaran tentang itu?” balasku agak kasar. Buat apa ia mengungkit – ngungkit Viven lagi? Aku sudah setengah mati berusaha melupakannya sejak tidak sengaja bertemunya tadi di mall dan sekarang–

” Apa? Memangnya kenapa aku tidak boleh tahu?”
” Karena–” Aku menarik napas panjang dan mengeluarkannya frustasi, “Dengar, kamu mau tahu apa yang terjadi? Kamu bisa saja tahu, DETIK itu selesai terjadi jika kamu tidak menjauhiku dulu waktu kelas 10. Sekarang giliranmu menjelaskan apa yang terjadi waktu kelas 10.”

“Kamu tahu jelas apa yang terjadi waktu kelas 10.”
“Jika aku tahu aku tidak akan menanyakannya kepadamu.”
” Aku tahu Vivien putus denganmu.”
” APA SIH MASALAHMU?!” Bentakku, tidak bisa mengendalikan diriku lagi.

“BODOH! MASALAHKU ADALAH KAMU MENINGGALKANKU UNTUK CEWEK YANG HANYA MEMAINKANMU SAJA! SEMUA ORANG BISA MELIHAT VIVIEN ITU BUKAN CEWEK BAIK – BAIK TAPI KAMU TETAP HARUS MENGEJARNYA DAN KAMU CERITA KEPADAKU SEGALANYA TENTANG DIA YANG BEGITU SEMPURNA PADAHAL DI BELAKANGMU IA BAHKAN PDKT DENGAN 4 COWOK LAIN, TAHU GAK?!” Ia membanting telponnya tutup dan aku memanggilnya dengan percuma.

Aku bangkit berdiri dan menarik t-shirtku dari lantai dan memakainya buru – buru, memasukkan hpku ke dalam kantong celana jeansku, berjalan keluar kamar– merebut sepatuku dan memakainya sambil melompat – lompat turun tangga. Lalu aku mengambil sepedaku dan mengayuh secepat mungkin ke rumah Adeline.

Persetan dengan tata krama– aku perlu penjelasannya dan aku akan mendapatkannya malam ini.

Advertisements

2 thoughts on “Partner pt.7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s