Tersembunyi

Patricia mencomot burger milik Rodrick tanpa bertanya, Rodrick mengeluarkan suara tak jelas seperti protes akan kelakuan pasangannya.

“Apakah kamu masih lapar?” tanya Rodrick kesal. Patricia nyengir besar, “Tidak juga.” “Jika kamu masih lapar kamu tinggal beli burgermu sendiri, jangan merebut punyaku lagi.”
“Aku tak mungkin bisa menghabiskan satu burger sendirian,”
Rodrick memutar bola matanya, mengetahui dengan jelas Patricia bisa saja jika ia mau. Ia hanya malas berjalan ke counter dan memesan lagi. Dengan tenang Rodrick mendorong kentang terakhirnya ke Patricia yang menghabiskannya dengan lahap.

Mereka naik di mobil butut Rodrick sesudah selesai makan. Butuh beberapa kali hingga mesinnya berjalan, dan ketika berhasil suaranya menutupi suara radio yang sudah maksimum. Jika sudah menyetir jarak jauh seperti ke luar kota, barulah mesin itu memelan dan Rodrick bisa mendengar lagu – lagu yang dimasukkan ke dalam CD oleh Patricia untuknya. Ia tak pernah mengeluarkan CD itu dari CD player radionya.

“Pakai sabuk pengamanmu.” ujar Rodrick.
“Ngapain pake sabuk pengaman kalau kamu yang nyetir. Sama – sama bakal nabrak, toh kamu tidak pernah tidur cukup.”
Rodrick menaikkan alisnya ke arah Patricia yang memasang sabuknya sambil mengomel lagi, “Kau selalu berkata ‘1 projek lagi!’ tapi lalu tetap bangun selama 4 jam kemudian.”
“Well, setidaknya aku mendapatkan extra dengan 1 projek itu, kan?” balas Rodrick, mulai menyetir.
“Psh, apa gunanya dapat extra jika kamu bakal jatuh lalu mati suatu hari di pinggir jalan secara tiba – tiba? Itulah yang bakal terjadi jika kamu terus – terusan seperti ini.”
“Kamu terlalu imajinatif.”
Percakapan itu berhenti di situ.

Mereka masuk ke rumah dan menurunkan barang – barang belanjaan mereka sebelum pergi makan malam. “Apakah kamu membeli sabun lavender ini?”
“Yep.”
“Buat apa?”
“Aku melihatnya dan ingat kamu.”
Patricia memutar bola matanya, “Kau seharusnya beli yang biasa saja, toh kamu benci lavender dan tidak bakal mau mandi jika kamar mandinya bau sabun ini.”
“Tenang, aku beli yang lemon jadi aku bisa pakai itu untuk menutupi bau lavendernya.”
Mereka membereskan semua barang belanjaan mereka lalu Patricia bertanya,”Kamu mau teh?”
“Boleh.” balas Rodrick.

Mereka minum teh di beranda belakang rumah mereka, menikmati dinginnya udara malam.

Sudah 10 tahun mereka bersama.

Sudah 6 tahun sejak mereka tidak mengatakan ‘I love you’.

Tapi tiap hari, di tiap kalimat mereka, di tiap tindakan mereka, selalu ada sejenis dari kata – kata itu.

Inspired by this post in pinterest

986da3d4e4b2abbe002e47fbbc7b5b9d

and this post from Wong Fu Productions

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: