Lokasi pt.1 : Bioskop

Stephen menggenggam sapunya dan menghembuskan napas pelan dari mulutnya.

Dari sudut matanya ia bisa melihat cewek yang duduk di kursi C23, kepalanya masih tertunduk dan kedua tangannya menutupi mukanya. Jika itu tidak cukup untuk membuatnya menyangka cewek itu menangis, setidaknya isakan yang luar biasa keras yang diselingi dengan dengusan yang terdengar beringus cukup untuk membuatnya yakin. Cewek ini tidak menangis, ia patah hati.

Stephen berusaha tidak menghiraukan cewek itu. Pekerjaannya hanyalah untuk membersihkan seisi bioskop setelah film selesai. Semua lorong harus disapu, kotak popcorn dan gelas – gelas minuman harus dibersihkan dari kursi – kursi. Ia bersyukur sejauh ini tidak ada tumpahan minuman. Stephen mendengus pelan sambil mengangkat satu kotak popcorn yang jatuh. Ini bahkan bukan pekerjaanku.  Teman baiknya, Justin, kerja paruh waktu di bioskop ini untuk mengisi liburan. Kemarin Justin diajak clubbing oleh teman – temannya yang lain dan, yah intinya Stephen satu – satunya teman Justin yang anti-sosial sehingga tidak mabuk keesokan paginya untuk dimintai tolong melakukan pekerjaan Justin ‘untuk sehari saja, sumpah!’

Justin berjanji akan membalasnya dengan ‘sesuatu yang sangat spesial, kamu bakal menyesal tidak melakukan pekerjaan seringan membersihkan beberapa ruang bioskop beberapa kali.’ Tetapi mengetahui ini Justin, Stephen yakin ini hanyalah ilusi lain untuk mengenalkannya dengan cewek tak jelas lain.

Stephen ingin menolak, tetapi ia sedang bosan dan ia berharap siapa tahu bioskopnya masih membuka lowongan untuk sisa dari musim panas. Tetapi si manager mengusirnya begitu mendengar ‘sebentar lagi akan kuliah’. Jadi Stephen terjebak membersihkan beberapa ruang bioskop seharian tanpa upah. Ini ruangan terakhirnya, untungnya. Atau mungkin ia tidak beruntung– mengingat si cewek itu masih belum beranjak dari kursinya.

Ketika ia selesai membersihkan bagian lorong D, ia melompati lorong C dan lanjut dengan lorong B dan A. Ketika lorong B dan A selesai, ia membersihkan lorong C tetapi bagian kiri dan kanan cewek itu. Dan setelah itu semua selesai, ia terpaksa harus mengusir cewek itu.

Ia menarik napas panjang, melepas topi staff bioskop, merapikan rambutnya, memakainya  lagi lalu menggeret sapunya dan berjalan ke cewek itu.

Ia berhenti di sebelah cewek itu, “Permi–” lalu cewek itu mengangkat satu jari, menyuruhnya berhenti berbicara. Cewek itu menarik napas panjang dengan gemetaran, merogoh – rogoh tasnya, mengambil tisu, lalu membuang ingus. Stephen mengernyitkan mukanya sedikit, lalu menyodorkan plastik hitam yang ia gunakan untuk membuang sampah daritadi. Cewek itu melemparnya masuk ke plastik itu dan menghela napas panjang, lalu mengangkat mukanya dan memandang ke Stephen.

Mukanya terlihat menyedihkan.

Matanya berair dan bengkak, hidungnya merah. Rambutnya terlihat berantakan. Stephen menelan ludah, menyadari bahkan baju cewek itu tampak sedikit kacau. Ia memakai syal ungu tua dan t-shirt putih dengan rok dan sepatu olah raga berwarna biru neon yang terang. Di atas roknya ada pop corn yang berserakan.

Stephen bertanya – tanya apakah ini jenis baju yang cewek – cewek seumurannya sedang gandrungi. Setiap mode selalu berganti begitu cepat, ia tidak mencari tahu lagi sekarang.

Cewek itu menghela napas panjang dan berkata, “Sori, aku mengganggumu ya?”

Stephen menoleh ke arah lain, menyadari ia dari tadi memandangi cewek itu. “Tida– well iya.” Ujar Stephen. Ia mengernyitkan dahinya, “Eh, aku tidak bermaksud kasar tapi filmnya sudah berakhir dan sebentar lagi akan ada penonton – penonton lain dan-”

“Pacarku selingkuh.” ujar cewek itu tiba – tiba.

“Apa?” tanya Stephen, lebih ke arah kaget kalimatnya dipotong daripada tertarik dengan kata – kata si cewek.

“Pacarku. Ia bilang hari ini ia lagi banyak kerjaan jadi kita tidak jalan – jalan. Tapi aku bosan di rumah, maksudku, ini liburan terlama yang pernah kurasakan! Jadi aku memutuskan nonton film sendirian tanpa memberitahu pacarku karena ia selalu marah jika aku berkata aku nonton film tanpanya, dasar bajingan. Tapi waktu film sudah mulai, dia masuk dengan cewek lain dan duduk di depanku. DI DEPANKU! Bisakah kamu percaya itu?”

“Eh..”

“Lalu aku chat dia, bertanya dia dimana. Nggak dibales, DIREAD AJA NGGAK! Lalu aku telpon tapi gak diangkat tahu gak! Direject terang – terangan di depan selingkuhannya! Aku baru saja mau menepuk pundaknya lalu– lalu gak tahu lah, nampar atau hajar atau apapun lah. Tapi sebelum aku sempat lakukan,” Cewek itu, yang tadi sempat berapi – api cerita, sekarang kembali redup dan lemas. “Ia menciumnya.”

Stephen menghembuskan napas dan menaikkan alisnya. “Wow. Itu parah.”

Cewek itu menghapus air matanya, “Aku tahu, kan? Aku tidak mau pacaran dengan dia lagi, maksudku, siapa yang mau lagi? Tapi lumayan sakit hati aja. Kukira ia peduli denganku.”Cewek itu menghela napas panjang, lalu mengangkat kepalanya, “Apakah itu masuk akal?”

Stephen bersandar ke kursi – kursi di belakangnya. “Yeah, tentu saja. Jika itu aku mungkin aku bakal mulai menangis seketika dan tidak berhenti sampai 3 hari setelahnya.”

Cewek itu tertawa gugup menyadari nada Stephen yang agak menyindir, “Sori tentang membuatmu terpaksa menungguiku.”

Stephen mengangkat bahu, “Ini akhir dari shiftku. Well shift temanku, tapi itu tidak penting. Tapi tetap saja.” Ia menyodorkan kantong plastik hitam ke cewek itu yang telah mengumpulkan semua pop corn yang berserakan di roknya. “Jika kau mau meratapi nasibmu lagi, kusarankan diluar. Mungkin di toko es krim atau semacamnya?”

“Saran yang bagus. Agak percuma tapi jika tidak ada yang mendengarkanku berbicara tentang pacarku. Haruskah aku panggil dia mantanku? Aku belum putus dengannya tapi aku tidak mau memanggilnya pacarku lagi.”

Jam Stephen berbunyi. Shift Justin telah habis. Ia seharusnya sudah di luar bioskop daritadi.”Kalau begitu aku akan mendengarkanmu. Tapi tidak disini.” Stephen menarik sapunya dan mengulurkan satu tangan ke arah cewek itu. Cewek itu tersenyum canggung dan mengulurkan tangannya–“Aku meminta tas plastiknya, sori.” “Oh.”Cewek itu menyerahkan tas plastik di sebelahnya dan mereka keluar dari bioskop itu.

“Kamu serius akan mendengarkanku?”
“Eh..”
“Ayolah, kau pendengar terbaik yang pernah kutemui!”
“Um.. aku tidak yakin itu ide–”
“Namaku Hannah, omong – omong. Bagaimana denganmu?”
Helaan napas panjang. “Stephen. Dan aku harus mengembalikan seragam dan alat – alat temanku dulu sebelum apapun denganmu, Hannah.”
“Tidak apa – apa. Sekarang giliranku menungguimu!”

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Si Baka Punya Cerita

Temukan Info Baka di Sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: