Lokasi pt.2 : Cafe

Stephen berharap Hannah tidak menungguinya di luar bioskop seperti yang ia janjikan. Dia bahkan sengaja pelan – pelan melepas seragamnya Justin dan melipatnya, membukanya lagi, melipatnya, mengulanginya 3x hingga benar – benar rapi lalu memasukkannya sebelum keluar.

Dan Hannah ada di luar.

Stephen menghembuskan napas pelan – pelan dari mulutnya dan berjalan ke arah kenalan barunya ini. “Hei Stephen.”ujar Hannah. “Hei.”
“Kau masih mau mendengarkanku?”

Tidak juga, tetapi karena kamu sudah menungguiku sekian lama dengan harapan aku mau mendengarkanmu aku akan menjawab iya.  

“Yeah, yeah.” ujar Stephen malas. “Toko es krim?”
“Aku memikirkan cafe di lantai ground saja.” ujar Hannah, dan mereka berjalan ke cafe itu, detik mereka mulai berjalan, Hannah mulai mengoceh lagi.

“Bagaimana menurutmu aku harus putus dengannya? Aku ingin menamparnya tapi rasanya itu karena aku terlalu banyak nonton sinetron. Tapi menelponnya dan minta putus rasanya kurang memuaskan. Aku baru sadar aku seharusnya foto dia tadi dengan selingkuhannya supaya bisa kukirim ke chat.”

Mereka sampai di depan cafe itu, memilih kursi di dekat jendela yang jauh dari pintu masuk. Matahari terbenam membuat seisi cafe itu berwarna oranye.

“Tapi aku nggak foto, kau sudah selesai pesan?”
“Yeah. Kamu?”
“Yeah, permisi!” Hannah memanggil seorang pelayan dan mereka memesan. Milkshake vanilla untuk Hannah dan kopi hitam untuk Stephen.

“Sampai mana aku tadi?” tanya Hannah setelah pelayan itu pergi.
“Foto.” ujar Stephen bersandar ke kursinya dengan bosan.
“Oh! Ya, terus aku berpikir apa aku ke rumahnya. Tapi aku nggak mungkin putus dengan dia jika di rumahnya ada keluarganya, kan? Jadi kemungkinan kedua mengajaknya ke rumahku tapi aku takut mungkin papaku akan menggoroknya sebelum aku. Jadi.. kencan lagi? Tapi aku nggak mau kencan la–”

Hannah terpotong ketika seorang pelayan datang dengan pesanan mereka. Hannah terdiam sambil menyeruput milkshakenya hingga 1/4 habis. Stephen menduga ia pasti haus setelah menangis begitu lama tadi di bioskop. Hannah berhenti meminum dan memandang ke luar jendela dimana matahari sekarang tinggal sebersit dan langit tidak silau lagi, hanya biru dengan tumpahan oranye di beberapa bagian.

Mereka diam. Stephen meminum seteguk kopinya lalu meletakkannya kembali.

“Kau tidak apa – apa?”tanya Stephen. Helaan napas dari Hannah.

“Nggak tahu. Aku hanya merasa aneh saja. Kita pacaran sekitar 1 tahun. Dalam 1 tahun itu dia sudah kencan denganku entah berapa kali dan aku selalu excited kalau pergi sama dia. Kukira dia juga bahagia – bahagia saja. Aku tidak pernah menyangka ia bakal selingkuh. Atau tidak suka dengan hubungan kita.”

Hannah menunduk dan memainkan sedotannya. “Kita tidak pernah ciuman. Itu yang aku paling kaget sih. Waktu dia mencium selingkuhannya. Jangan – jangan aku yang selingkuhannya dan cewek itu yang pacar aslinya. Mungkin ia sudah pacaran dengan cewek itu 3 tahun atau apa gitu ya?”

Stephen tidak menjawab, Hannah mendongak memandangnya seakan – akan mengharapkan suatu respons. Stephen meminum kopinya supaya bisa menunda menjawab. ” Ia bajingan.”

Hannah mendengus, “Yeah kau benar tentang itu. Jika ia sudah tidak menyukaiku setidaknya putusin dari awal saja. Apa gunanya coba selingkuh.”

“Mungkin ia sudah nyaman denganmu.”

“Terus ia dengan cewek itu apa? Ia pasti lebih nyaman dengan cewek itu, kan? Tidak kawan, aku ban serepnya. Dan aku tidak mau dijadikan ban serep.” Hannah menengak habis milkshakenya.

Stephen menyeruput kopinya pelan – pelan. Mereka diam lagi, memerhatikan bagaimana semburat oranye yang tadi masih tersisa menghilang sepenuhnya dari langit menjadi malam yang menyelimut. Stephen melirik ke Hannah. Ke t-shirt putih dan syal ungunya, ke mukanya yang terlihat murung. Hannah menoleh ke Stephen yang tidak mengalihkan pandangannya. Baru setelah beberapa saat ia menunduk dan mengubah posisi cangkirnya.

“Kurasa tidak penting cara memutuskannya asal kamu bisa menunjukkan kepadanya dan ke dirimu sendiri kamu bisa bahagia tanpanya setelah putus.” ujar Stephen, ia mengangkat kopinya, menghabiskannya dan meletakkannya kembali ke piring kecilnya.

“Menurutmu aku bisa melakukannya?” tanya Hannah. Stephen tertawa sedikit sebelum bisa menahannya. Hannah menaikkan alisnya dan memandang Stephen kaget. “Sori, tapi jujur saja, aku kira kamu tipe cewek yang bakal bisa melakukan apapun jadi kurasa lucu kalau kau tidak bisa memutuskan cowok yang kamu sendiri panggil bajingan.”

Hannah tertawa kecil, “Haha, yeah itu benar.” Hening sesaat, “Menurutmu aku tipe cewek yang bisa melakukan apapun?” tanya Hannah.

Stephen mengangkat bahu.

Hening lagi.

“Itu hal terbaik yang seorang cowok pernah katakan tentangku.” kata Hannah.

Stephen mengangkat mukanya untuk memandang ke Hannah yang memandanginya balik.

“Well kurasa kamu belum bertemu dengan cowok – cowok yang jujur saja selama ini.”

“Atau aku belum bertemu dengan cowok sepertimu.”

“Atau itu.”

Hannah tersenyum, dan untuk sesaat Stephen merasa heran kenapa mantannya mau selingkuh dengan cewek sejujur dan lucu Hannah. Stephen menunduk lalu mengecek jamnya. Hannah mengeluarkan HP dari tasnya dan mengumpat halus, “Sial aku harus pergi.” Hannah berdiri dan Stephen juga. Mereka membayar minuman mereka masing – masing, meski Hannah sempat memaksa karena ‘aku yang menyeretmu ke sini’ dan Stephen berkata ‘itu benar tapi aku kasihan dengan seseorang yang barusan diputus.’ Hannah pura – pura cemberut tapi Stephen menangkapnya tersenyum kecil setelah itu.

“Aku akan memutuskannya secepatnya.” ujar Hannah sambil berjalan keluar mall.
“Kau pulang naik apa?” Stephen mengganti topik tiba – tiba.
“Aku membawa mobil.”
“Oh, baguslah. Kau bisa menyetir dengan mata bengkak itu?”
“Mataku tidak bengkak,” protes Hannah, tetapi ia memegang bagian bawah matanya yang memang lebih besar dari seharusnya. “Aku bisa menjaga diriku sendiri.” gumam Hannah.
“Aku yakin itu.”
“Aku akan memutuskannya secepatnya.” ulang Hannah.
“Okay.”
“Dan aku merasa kau berhak tahu jika aku sudah putus dengannya.”
“Aku tidak perlu kau beritahu, aku yakin kamu bisa.”
“Tapi aku ingin. Kamu punya socmed apa?”

Stephen menghela napas panjang dan membuka hpnya. Mereka bertukar ID lalu berpisah.

“Tunggu kabar bahagianya!” seru Hannah sebelum menghilang.
Stephen hanya melambaikan tangannya dan diam.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Si Baka Punya Cerita

Temukan Info Baka di Sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: