Lokasi pt.3 : Party

Lusa, pagi hari, Stephen mendapatkan sms singkat itu dari nomor yang ia beri nama ‘Hannah’.

Misi selesai! Thx utk saran n supportmu wkwk xD

Stephen tidak ingin membalas sms itu. Jika ia tidak membalasnya, semua kebodohan yang ia lalui dengan Hannah bisa selesai begitu saja.

Tetapi setengah jam kemudian, ia membuka lock screen hp-nya dan membuka sms itu lagi. Lalu ia mengetik.

Y. Kamu gpp?

Stephen mengernyitkan dahinya. Lalu ia mendelete kalimat setelahnya dan hanya mengirim ‘Y.‘ Ia tidak memiliki hubungan apa – apa dengan Hannah. Toh cewek itu cuma bersikeras ingin memberi tahu jika ia sudah putus. Ia tidak perlu Stephen lagi. Mencoba menanyainya adalah tindakan bodoh. Lagipula cewek dari belahan dunia mana yang bakal langsung baik – baik saja setelah putus?

Hp-nya berbunyi lagi, tapi kali ini sebuah chat dari Justin.

Yo dude!
si Dylan ngadain party di rumahnya. Ngajak beberapa kenalannya dari sekolah lain juga.
Sama – sama barusan lulus sma’

3 menit tidak ada chat lagi. Stephen membalas,
Terus?

YA DATENGO BEGO
KAMU SERIUS MAU MATI JOMBLO YA?
Sapa tau jodohmu ada disana ihiy ihiy~~~’

Stephen memutar bola matanya. Di ujung satunya, Justin tetap mengirim chat.

Partynya jam 7 malem.
Dateng nek kamu cowok tulen.’

Apa hubungannya cowok tulen sama party’

SEMUANYA.’

Stephen tidak membalas dan meng-lock hp-nya. Ia tidak suka datang ke pesta hanya untuk mabuk – mabukan seperti teman- temannya. Tapi ia tak punya kerjaan dan ia tahu jika ia tidak datang Justin akan meledeknya terus. Jadi lebih baik datang sebentar dan pulang hanya demi sopan santun dan rekreasi sesaat.

Malam itu Stephen datang ke rumah Dylan yang tampaknya akan meledak saking banyaknya jumlah orang yang datang. Justin salah tentang mengundang ‘beberapa anak yang sudah lulus SMA’. Karena yang datang adalah kumpulan dari siswa – siswa SMA senior, siswa yang barusan lulus dan bahkan beberapa junior dari berbagai universitas. Stephen menemukan Justin yang sudah setengah mabuk. Ia belum sempat mengatakan halo ketika Justin menyodorkan segelas entah apa kepadanya.

Stephen menengaknya habis sebelum berkata, “Kamu harus segera berhenti minum. Justin.”

Justin tertawa keras – keras, “Di mimpimu, kawan!” Lalu Justin merangkulnya dan menyeretnya  ke dapur dimana Dylan sedang menuang vodka ke gelas – gelas plastik. “Heiiii, beri kita 2 dari itu, Dylan!” ujar Justin, suaranya agak tidak jelas dan ia cegukan sesudahnya.
“Kurasa Justin sudah mabuk.” ujar Dylan, nyengir. Tapi ia tetap menyodorkan 2 gelas vodka.
“Seberapa banyak yang sudah ia minum, memangnya? Dan apakah kamu gila? Jangan beri dia 2 gelas lagi.” Stephen berkata sambil menarik gelas – gelas itu dari tangan Dylan sebelum sampai ke Justin. “Heii!” protes Justin marah.
“Cukup banyak hingga ia lupa perkalian dasar. Hei Justin! Berapa 2 kali 2?”
“7 bego!”
“Sebaiknya habiskan gelas vodka itu sebelum ia merebutnya dan lupa siapa namanya.” Stephen meminum segelas dari vodka itu, meremas gelasnya dan membuangnya ke satu sisi. Ia mengerjap dan memandang ke gelas berikutnya di tangannya lagi. Ia menghembuskan napas panjang dan hendak menengaknya ketika segerombolan cewek masuk dan berseru, “Dylan, vodka tolong!” Dylan berbalik dan mengisi beberapa gelas lagi.

Tetapi Stephen memandang ke salah satu cewek di dapur itu dan ia bertanya – tanya apakah toleransinya pada alkohol telah menipis drastis. Karena ia pasti mabuk hingga melihat Hannah di depannya.

“Stephen?!!”

Double mabuk hingga mendengar Hannah. Ia meletakkan vodka itu kembali di sebelah gelas – gelas lainnya. “Whoa, Stephen mengenal cewek?!” seru Justin keras lalu tertawa. “Tuh kan! Aku berkata kamu akan bertemu jodohmu di pesta ini!” Justin memukul pundak Stephen, tetapi ia meleset dan nyaris jatuh. Stephen menangkapnya dan menariknya berdiri lagi. Gerakan itu tampaknya membuat Justin mual karena berikutnya ia memuntahkan isi perutnya ke pundak Stephen.

Cewek – cewek itu menjerit dan keluar dari dapur itu. “Urgh. Justin? Serius? Lagi?” gumam Stephen. “Oh hebat, beberapa muntahannya jatuh ke kabinet dapur ibuku. SEMUANYA TIDAK ADA YANG MASUK KE DAPUR LAGI!” teriak Dylan. Ia menoleh ke Stephen yang masih setengah mengangkat Justin. “Kamu bisa pinjam bajuku di kamarku jika kamu mau. Lantai 2.” “Thanks bro.” “Sekarang keluar dari dapurku.” “Okay.” Stephen membopong Justin yang setengah sadar keluar dari dapur, menaiki lantai 2. Beberapa orang menertawakan Justin sementara beberapa langsung menyingkir jijik.

Stephen sampai di lantai 2 dengan susah payah, menyeret Justin yang besarnya kurang lebih sama dengannya tidak mudah. Ia masuk ke kamar Dylan yang berantakkan. Membuang Justin ke lantai–membuat temannya itu mengerang sedikit– dan membuka lemari baju Dylan yang lebih berantakkan lagi. Lalu ia menarik lepas bajunya– bersamaan dengan pintunya terbuka. Stephen menoleh kaget dan mengumpat keras, “FUCK!” hanya untuk menyadari Hannah yang membuka pintunya.

“Oh SHIT, sori.” seru Hannah dan seketika menutup pintunya lagi. Stephen memandangi pintu yang tertutup itu dengan heran. Tidak yakin apa yang ia lihat itu benar. “Apakah kamu sudah selesai?” tanya Hannah. Ok. Ia tidak mabuk. Hannah benar – benar ada di pesta ini juga.

“Belum. Beri aku semenit.” seru Stephen, menarik asal sebuah baju dari lemari Dylan. Ia memakai kemeja hitam itu buru – buru dan mengangkat bajunya yang ia jatuhkan tadi. “Aku sudah selesai sekarang.” Hannah pelan – pelan membuka pintu itu kali ini. “Sori, aku melihatmu ke sini tadi dan– yeah.” Hannah tertawa gugup, “Wow. Aku tak mengira akan bertemu denganmu lagi.”

“Aku bisa mengatakan hal yang sama ke kamu.” ujar Stephen.
“Ada apa dengan temanmu?” tanya Hannah, mengedikkan kepalanya ke Justin.
“Biasa. Mabuk. Ia tidur sekarang. Kurasa. Beri aku semenit lagi, aku perlu mengangkatnya ke kasur. Dan mencuci muntahannya di bajuku.” ujar Stephen sambil mulai menarik Justin yang malah mengorok.
“Jadi.. kamu kenal baik dengan Dylan, huh?” tanya Hannah.
“Semacam,” Stephen menaikkan Justin ke kasur Dylan dan meninggalkannya disana, “Ia sekelas denganku di SMA dulu.”
“Er.. seberapa dulu ini?”
“3 bulan lalu.”Balas Stephen sambil masuk ke kamar mandi di kamar Dylan dan mulai mencuci bajunya dengan air.
“Oh. Baru lulus. Jadi kita seangkatan.”
“Kenapa kamu terdengar kaget. Apakah aku terlihat tua?”
“Haha, tidak. Hanya kukira kamu sudah bekerja di bioskop itu saja.”
“Itu pekerjaan si bodoh yang lagi pingsan di kasur itu. Aku menggantikannya untuk hari itu saja.Dan itu bukan pekerjaan benerannya dia. Hanya paruh waktu sementara.”

Hannah memiringkan kepalanya. Stephen menoleh kepadanya. “Apa?” tanyanya.

“Aku agak heran saja. Kamu lebih cerewet dari yang aku ingat waktu di mall.”

Stephen merasakan telinganya memerah. Ia tidak sadar ia langsung mengatakan apapun yang ia pikirkan. Pasti efek vodka itu tadi. Ia harus segera memutar situasi ini, “Agak cepat untuk berpesta mengingat kamu baru putus tadi pagi.” ujarnya. Hannah mengangkat bahu, “Tadi malam sebenarnya. Teman cewekku, Sheryll, berkata ini bakal menghiburku, dan jujur saja mungkin mereka benar. Aku tidak tahu bagaimana ia bahkan bisa kenal dengan si Dylan, tapi.”

“Huh. Okay.” Stephen mematikan keran air dan memeras bajunya. Lalu ia menghadap ke Hannah. “Jika kamu mau bersenang – senang, kamu sebaiknya keluar dari kamar ini.” ujar Stephen. “Hal yang sama berlaku padamu, Stephen.” Stephen mendengus, lalu memandang ke Hannah lagi. Ia memakai baju yang lebih teratur kali ini. Semacam rok merah yang luar biasa pendek dengan t-shirt band bewarna hitam. Matanya masih terlihat agak bengkak, tapi ia terlihat, Stephen menyadari, agak cantik.

“Kenapa kamu memandangiku seperti itu?” tanya Hannah. “Kenapa kamu tidak menoleh?” balas Stephen. Hannah menoleh seketika, menyelipkan rambutnya ke belakang lehernya dan berkata, “Well– aku hanya ke sini untuk berkata terima kasih karena saranmu kapan hari. Itu saja.”
“Okay.”
“Okay.” Hannah mulai beranjak pergi, ia membuka pintu dan tiba – tiba..
“Kamu tidak apa – apa?” tanya Stephen.
“Sori, apa?” tanya Hannah, sudah setengah keluar dari kamar Dylan.
“Kamu. Tidak apa – apa?”

Hannah mengerjap,”Well bagaimana jika kamu keluar dan melihat sendiri.”

3 gelas alkohol berikutnya dengan teman- temannya. 1 dengan Hannah yang menyeretnya untuk menari. Cekikikan dari Hannah ketika ia sempat lari sebentar dengan para teman – temannya meninggalkannya sendirian sementara. Beberapa selfie bodoh dengan seisi tamu undangan Dylan. Dan 1 momen dimana mereka bertukar ID untuk bisa menerima foto selfie itu.

Keesokan harinya, ketika Stephen bangun dan merasa pusing dan ingatannya agak samar – samar, ia mengecek HPnya untuk menemukan 2 chat dari Hannah.

Yep. Aku gpp.’

Chat berikutnya adalah sebuah foto yang dikirim. Selfie mereka berdua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s