Lokasi pt.4 : Danau

Stephen berjongkok dan menghembuskan nafas dengan pelan. “Kenapa?” tanya Hannah. Stephen mengangkat kepalanya sedikit dan memandang ke Hannah.

“Nggak apa -apa.” ujar Stephen.

Setelah party di rumah Dylan, mereka menjadi dekat. Chat – chat basa – basi singkat yang pertama muncul selama sebulan berubah menjadi panjang dan bertele – tele. Tanpa Stephen sadari, sekarang ia bangun dan  langsung mengecek hp-nya untuk sebuah ‘Pagii! : D‘ dari Hannah. Dan ia akan tersenyum kecil dan mengetik ‘Pagi.‘ balik. Minggu lalu ia mengetahui bahwa Hannah tak pernah pergi memancing dari salah satu chat mereka.

Minggu ini ia menjemput Hannah dan mengajaknya pergi dengan mobilnya ke salah satu danau di luar kota.

Setelah menyetir beberapa jam, kakinya sekarang agak sakit dan ia sedang meregangkannya dengan jongkok. Tapi Hannah mulai menarik – narik lengan bajunya dan merengek meminta agar mereka segera menyewa perahu dan alat memancing. Stephen menghela napas panjang lagi dan ketika Hannah dengan semangat memilihi pancing warna – warni, ia tersenyum kecil lagi.

“Kenapa kamu memilih perahu yang harus dikayuh manual?” tanya Stephen sambil masuk ke dalam perahu.
“Karena lebih seru yang dikayuh manual!” ujar Hannah yakin. Cewek itu menarik kayuh dan mulai mengayuh. Baru beberapa dayung, ia berhenti, kelelahan.
“Seru, ya?” tanya Stephen ke Hannah yang kehabisan napas. Hannah cemberut dan Stephen berhenti mengayuh untuk menekan pipi Hannah yang menggelembung. Hannah langsung mengeluarkan suara memrotes dan menunduk malu. Stephen kembali mengayuh. Ia berhenti tengah jalan dan berkata, “Seharusnya ini cukup dalam.”

“Tapi kita belum di tengah – tengah danaunya!” seru Hannah.
“Apa?”
“Kita harus sampai di tengah.”
“Memangnya kenapa? Di sini sudah cukup.”
“Kalau di tengah danau katanya ikannya paling banyak. Lagian katanya kalau kamu berhasil dapat ikan di tengah danau kamu bakal dapat jodoh!”
“Dan siapa yang berkata ini?” tanya Stephen skeptis.
“Si penjaga toko tadi.”
“Ya iyalah dia pasti bilang begitu. Kalau perahunya nggak sampai di tokonya dalam 1 jam kan kita ditagih lebih. Kalau sampai di tengah danau kan lebih lama jadi kemungkinan kita ditagih lebih lebih besar.”

Hannah cemberut lagi. Stephen menghela napas panjang, “Jika kamu mau mencoba mengayuh ke tengah danau silahkan.” ujarnya sambil menarik pancingnya dan mulai mengaturnya. “Iya, iya jangan marah dong.” ujar Hannah buru – buru sambil cepat – cepat menarik pancingnya. “Aku nggak marah,” balas Stephen, “Dan caramu mengkaitnya salah. Seperti ini,” Stephen menunjukkan pancingnya.

Mereka berada di danau itu selama 45 menit, lalu jam Stephen berbunyi dan ia mengangkat pancingnya. “Kita harus kembali.”
“Tapi kita belum dapat ikan!” protes Hannah.
“Ya begitulah memancing, Hannah. Mungkin ikannya lagi tidur.”
“Ini siang!”
“Tidur kan bisa tidur siang.”

Hannah menggerutu dan menaikkan pancingnya. Ia melipat lengannya dan cemberut sepanjang perjalanan balik ke toko tempat mereka menyewa perahunya. Stephen meregangkan lengannya dan memandangi Hannah yang bersikeras membeli oleh – oleh dari toko di sekitar danau itu. Stephen membiarkannya pergi karena ia tidak tertarik dengan hal begituan. Hannah keluar membawa satu kantong plastik hitam. Di tangannya terdapat gelang kain yang dikepang. “Lucu ya?” tanya Hannah, memamerkan gelang itu.

“Biasa aja.” ujar Stephen.

Hannah mengeluarkan gelang yang persis sama dari kantong plastiknya, “Yah, padahal aku sudah beliin kamu.”
“Ngapain beliin buat aku.”
“Ya aku pingin. Buat thank you sudah ngajak aku hari ini.”
“Aku kira kamu ngambek sama aku gara – gara nggak dapet ikan.”
“Iya ngambek. Makanya kamu harus pakai gelang ini, kalau nggak aku nggak mau baikan.”

Stephen menaikkan alisnya dan menggelengkan kepalanya heran. Tapi ia mengulurkan tangan kanannya dan tidak berkata apa – apa ketika Hannah mengikat gelang itu di tangannya. Mereka lalu berjalan ke parkiran, dimana mobil Stephen terparkir.

“Hannah.” panggil Stephen ketika cewek itu sudah agak jauh di depannya. “Hm?”
“Kamu tahu yang katanya danau itu bakal beri jodoh kalau kamu berhasil tangkap ikan di tengah – tengah danaunya?”
“Mm-hmm. Kenapa?”
“Kamu percaya itu?”
“Ya kan lucu aja kalau beneran–”
“Hm. Ya kan kamu tadi nggak bisa nangkep ikan.Tapi kalau kamu mau pulang bawa pacar aku nggak keberatan.”

Hening sebentar.

“Itu nembak?”
“Iya bego.”
“Pacar kok dibego-begoin.”
“Itu nerima?”
“Iya bego.”
“Pacar kok dibego-begoin.”

Advertisements

One thought on “Lokasi pt.4 : Danau

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

The Hunchback of Jinjang Selatan

Nothing but nunsense mostly

%d bloggers like this: