Lokasi pt.5 : Museum

Di antara lukisan – lukisan kuno dan pahatan marmer, di antara lantai granit dan dinding dingin, Hannah bermain dengan HP-nya.

Stephen memandanginya dari kejauhan, menyadari dari semua keindahan abstrak di antaranya, Hannah yang paling tidak ia mengerti. Ia berjalan mendekati Hannah. “Jika aku tahu kamu bakal sebosan ini aku bakal ngajak kamu ke bioskop saja.” ujarnya pelan, meletakkan dagunya di pundak Hannah. Hannah menggeliat lepas, “Aku tidak bosan.” protesnya.

Stephen memandanginya tanpa emosi. Hannah memasukkan HP-nya ke dalam tasnya dan berkata, “Cuma bales chat aja kok.” “Aku nggak nuduh kamu mainan HP kok.” Hannah mendengus. “Jika kamu memang nggak mau di sini ya keluar aja nggak apa – apa.” ujar Stephen.

“Aku nggak apa – apa kok di sini.” tegas Hannah ketus. Stephen mengangkat bahu, mereka berjalan ke bagian lain museum dengan pelan. Jika ini seperti awal hubungan pacaran mereka, Stephen akan merasakan tangannya digandeng oleh Hannah dan ia akan menggandengnya balik. Tetapi rupanya Hannah merasa hal itu hanya seru untuk dilakukan dalam 2 bulan pertama saja. Sekarang setiap kali Stephen mencoba menggandengnya, tak lama kemudian ia akan menggeliat lepas.

Menggeliat. Seperti tidak ingin Stephen berada di dekatnya.

Stephen bertanya – tanya apakah itu karena ia tidak mengenal Hannah dengan cukup baik ketika ia menembaknya. Karena cewek yang sekarang di sebelahnya ini tidak ada miripnya sama sekali dengan cewek yang ia ingat dulu. Yang tidak keberatan menangis sendirian di bioskop. Yang berani untuk melakukan apapun dan selalu mengeyel untuk mendapatkan keinginannya. Yang rajin mencari topik pembicaraan di antara mereka dan memberikannya kejutan – kejutan baru.

Sekarang Hannah menjauhinya. Menutup diri. Menjadi marah jika Stephen berusaha mencari tahu. Sampai sekarang Stephen tidak tahu apa yang terjadi. Mungkin ia ada masalah di kuliahnya? Mereka berdua jurusan ekonomi tetapi di universitas yang berbeda. Stephen mengira ia bakal mendengar rengekan dari Hannah yang berisi tentang ‘Kenapa kita tidak bertemu waktu SMA lalu pacaran dari dulu supaya bisa 1 universitas saja.’ Tapi rengekan itu sudah berhenti dan tampaknya sekarang malah menjadi alasan lain bagi Hannah untuk tidak bertemu dengannya.

“Kamu nggak laper?” tanya Stephen.
“Nggak. Kamu?”
“Nggak juga.”
“Terus ngapain tanya?”
“Ya kan aku mengecek, siapa tahu kamu laper dan mau makan.” ujar Stephen, lelah dengan fakta sekarang Hannah suka menuduh dan marah. Dari dulu Hannah selalu seperti itu sih, tapi dulu kesannya cuma bercanda.
“Aku nggak laper.” tegas Hannah lagi. Lalu diam.

“Tapi kamu bosan.” Stephen menyimpulkan. Hannah membuka mulutnya untuk membantah tetapi Stephen sudah menghela napas panjang dan mengatakan kalimat berikutnya, “Ayo pulang.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

The Hunchback of Jinjang Selatan

Nothing but nunsense mostly

%d bloggers like this: