Lokasi pt.6 : Mobil

Hannah tampak sedikit gugup dan terlalu panik ketika Stephen serius menariknya ke lapangan parkir. “Aku tidak bosan disana, aku bersumpah, astaga Stephen– apakah kamu marah? Kenapa kamu begitu sensitif sih sekarang? Apa yang kulakukan memangnya?”

Stephen menekan kunci mobilnya dan membuka pintu penumpang agar Hannah bisa masuk. Hannah terdiam, memandanginya dengan muka tidak percaya, “Apakah aku tidak boleh mengatakan apapun sebelum kamu memaksaku pulang?” tanya Hannah. Stephen tersenyum sedih,”Tidak. Kamu tidak perlu mengatakannya untuk membuatku mengerti.” Hannah tersentak sedikit, menundukkan kepala, lalu masuk. Stephen menutup pintu dan masuk di kursi pengendara. Lalu ia menyetir.

Perjalanan mereka sepi. Hannah tidak suka lagu – lagu dari radio jadi Stephen mematikannya sejak mereka pacaran. Biasanya Hannah akan menyetel musik dari HP-nya, tetapi belakangan ia tidak melakukannya dan mereka akan dirundung kesunyian yang mencekam sepanjang perjalanan. Stephen menghembuskan napas panjang dan memejamkan matanya ketika mereka berada di lampu merah.

“Apakah kamu marah denganku?” tanya Hannah, suaranya agak khawatir.  Stephen membuka sebelah matanya dan menoleh sedikit ke Hannah.
“Tidak. Apakah kamu marah denganku?” tanyanya balik. Hannah tidak menjawab pertanyaan itu. Lampunya berubah hijau dan Stephen mengganti gigi dan memandang ke depan, genggamannya ke setir mengeras hingga buku – buku jarinya memutih.

“Kamu..” Stephen memulai, masih memandang ke jalanan. “Kamu tidak menyukaiku lagi, ya?” Hannah tidak menjawab. Stephen tidak tahu bagaimana reaksinya karena ia sedang fokus ke jalanan. “Apa yang kamu katakan?” tanya Hannah, suaranya agak gemetar.
“Kamu tidak suka berada dekatku. Itu maksudku.”
“Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?”
“Aku nggak bodoh, tahu.”
“Siapa yang mengataimu bodoh?”
“Kamu menghindari topik pembicaraan lagi.” Stephen mengerling ke spion. “Kamu lebih ingin sendirian daripada denganku, itu sudah jelas. Jika aku ajak ngedate, kamu selalu mencoba mencari alasan untuk tidak pergi. Aku mencoba menelpon beberapa kali, tapi belakangan kamu mereject mereka.”
“Signalku jelek di rumah.”
“Hmm. Jadi waktu dulu awal – awal pacaran bagus?”
Hannah tidak menjawab lagi.

Terdapat lampu merah dan Stephen menarik hand-rem. Lalu ia menoleh ke Hannah yang lalu menoleh kepadanya juga, matanya terlihat khawatir, tetapi ia tidak menyangkal apapun yang Stephen katakan. “Kamu nggak suka aku lagi. Tapi kamu kasihan kalau mau putus denganku. Benar, kan?”
“Steph..”
“Masuk akal kok. Kita bisa pacaran padahal pertemuan kita cuma gara – gara aku menemanimu setelah kamu putus. Lalu kebetulan ketemu lagi, gitu aja kan hubungan kita. Ngomong sedikit lalu kita merasa cocok lalu aku ajak pacaran. Yah aku kira kamu sudah bisa pacaran serius. Tapi ternyata aku salah.” Stephen menurunkan hand rem dan mulai meng-gas lagi.
“Aku pacaran serius kok sama kamu,” protes Hannah.
“Tapi aku cuma hiburanmu setelah kamu putus. Kamu sakit hati mantanmu selingkuh dan bisa langsung dapat cewek lain. Jadi kamu langsung menggaetku supaya bisa membuktikan kalau kamu juga bisa langsung menggantikan pacarmu, gitu kan?” Tanya Stephen, masih tidak meninggikan suaranya. Ia terdengar monoton seperti biasa.

“Tapi kamu nggak beneran suka sama aku. Aku cuma pengganti sementara aja.”Stephen mengerling ke Hannah yang terlihat terpukul. “Aku nggak marah, kok. Kelihatan aja apa yang terjadi di antara kita setelah beberapa saat. Aku cuma belum sempat bicara seperti ini aja.” ujar Stephen lagi. Ia menghembuskan napas panjang dan menghentikan mobilnya di perempatan dengan lampu merah terakhir sebelum mereka sampai ke rumah Hannah.

Stephen menoleh sepenuhnya ke Hannah yang memandanginya dengan takut. “Aku senang kita sempat pacaran. Dan aku serius tentang aku suka kamu. Tapi kalau begini aku nggak mau hubungan kita lanjut.” Kata Stephen dengan datar. Hannah menelan ludah, “Kamu.. kamu yakin?” Stephen menghadap depan dan menurunkan hand remnya. “Sori jika aku salah kata atau pernah berbuat salah kepadamu.” Stephen mengakhiri. Hannah tetap diam saja. Sisa perjalanan mereka hening lagi hingga mereka sampai di depan rumah Hannah dimana Stephen tidak turun dan membukakan pintu buat Hannah seperti biasa. Kali ini ia hanya membuka kunci mobilnya dan menoleh ke Hannah, menunggunya keluar.

Baru setelah ia menoleh itulah ia menyadari bahwa Hannah telah menangis, meski tanpa suara. Wajah menangisnya membawa ingatan Stephen kembali ke hari pertama di bioskop itu. “Aku– aku tidak berniat agar kita berakhir seperti ini.” ujar Hannah, mengisak sedikit. Stephen mengangguk dan menghadap ke depan, “Aku juga tidak.” Hannah keluar dari mobilnya, dan Stephen mulai menyetir lagi.

Ketika ia berada di belokan pertama, ia menghembuskan napas panjang dengan pelan – pelan.

Di belokan kedua ia menekan radionya menyala, suara musik pop mengisi seluruh mobilnya.

Di belokan ketiga, ia menyadari bahwa ia menghabiskan saat – saat pertamanya dengan Hannah berusaha membuatnya berhenti menangis. Dan ia mengakhiri hubungannya dengan cewek itu sambil merusak semua usaha itu. Stephen memarkir di pinggir jalan, menyandarkan kepalanya ke kursi dan memejamkan matanya sebentar. Lalu ia tertawa kecil. “Ah, sial.” umpatnya. Stephen mengambil HP-nya dan mendelete ID Hannah. Ia memasukkan kembali HP itu ke sakunya, menghembuskan napas panjang dan tertawa sedih lagi.

Kemudian ia menyetir lagi.

Advertisements

2 thoughts on “Lokasi pt.6 : Mobil

Add yours

    1. memang dia masih ada sayangnya sih sama Hannah tapi dia nggak bakalan mau lanjutin hubungannya karena tahu Hannah nggak suka dia balik. Jadiiii, ya begitu.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Si Baka Punya Cerita

Temukan Info Baka di Sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: