Buku

Aku membenci buku.

Aku membenci buku karena aku dulu menyukainya.

Aku membenci buku karena dulu aku membaca tiap hari, tiap saat. Tiap kali aku mendapatkan kesempatan untuk membaca.

Aku membenci buku karena itulah bagaimana aku bertemu dengannya. Di perpustakaan, masing – masing membawa buku yang disukai dan kita saling pandang dan keajaiban itu terjadi–

Aku membenci buku karena aku berpikir seperti sebuah buku, dan momen ketika aku melihatnya itu telah tertanam di benakku sebagai keajaiban yang romantis dan sempurna yang selalu ada di sebuah buku–

Dan bahkan jika aku bertemu dengan orang lain, tidak akan ada yang bisa menyaingi pertemuan pertamaku dengannya. Aku benci hal itu.

Aku membenci bau buku. Karena bau buku adalah bau yang kuhirup ketika aku menarik napas setelah menciumnya, diam – diam di antara lemari – lemari buku di perpustakaan yang kosong. Hanya kita berdua dan tumpukan buku.

Aku membenci fakta bahwa aku mengatakan aku mencintainya saat itu.

Aku membenci buku ketika kita bertengkar karena satu adegan dari ‘The Great Gatsby’. Aku benci bahwa aku tidak ingat adegan mana sekarang.

Aku membenci buku ketika satu menghantam mukaku dan nyaris mematahkan kacamataku karena ia melemparnya ke arahku karena kita berpisah. Aku membenci buku itu karena aku berusaha menangkapnya ketika jatuh dan kertasnya robek–

dan aku tidak bisa melakukan satu hal benar untuk mengakhiri cerita kita.

 

Advertisements

3 thoughts on “Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s