Relationship Abuse

Noah menggebrak meja di antara dirinya dan Bella. Gadis berambut pendek itu meminum tehnya dengan tenang, tidak melompat sama sekali. Tidak puas dengan reaksi ini, Noah menyeret kedua tangannya ke samping meja, membuat kertas – kertas, buku, alat tulis dan entah apa lagi yang tadi ada di atasnya jatuh berhamburan ke lantai keramik. Membuat suara keras, tapi tetap tidak ada reaksi.

“Kau benar – benar bodoh, Bell.” desis Noah dengan tajam.

Bella menurunkan gelasnya, mengangkat mukanya. Mata kirinya berhiaskan lebam berwarna ungu yang membengkak. Terlihat menyakitkan. Bibirnya memiliki luka di ujung kanan dengan darah yang sudah mengering. “Bukan kali pertamamu memanggilku itu.” ujar Bella. Suaranya pelan tapi dingin.

“Dan tampaknya kamu belum cukup mendengarnya karena nyatanya kamu masih disini.” ujar Noah sambil memutar bola matanya. Tangannya terkepal. “Katakan sekali lagi apa yang kau katakan. Ini satu – satunya kesempatanmu untuk mengubah perkataanmu dan membuatku bahagia.”

“Kau mendengarku dengan jelas tadi.” Noah membantingkan kepalannya ke meja marmer putih lagi. “DAN AKU TIDAK MENYUKAINYA BELL, JADI SEBAIKNYA KAMU UBAH PERKATAANMU.” Bella menunduk, mengangkat gelasnya. Noah menggapai gelas itu dan membantingnya ke lantai. Gelas itu pecah ke seribu arah, Cuilannya mengenai kakinya. Terdengar suara pelan cairan yang merambat di lantai.

“Kamu membuat kekacauan lagi.” kata Bella, mengangkat mukanya untuk melihat Noah yang geram, otot – otot di lehernya menegang. Bella menelan ludah. Ia mengangkat satu tangan untuk menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya. Noah menyambar tangannya dengan kasar. Bella berusaha menariknya seketika tapi genggaman Noah terlalu kuat. Noah memutar lengan Bella, dan dengan tangan satunya ia menurunkan lengan panjang bajunya untuk menunjukkan deretan sayatan di bawah telapak Bella. Banyak. Berdarah. Dalam. Noah merasakan denyut nadi Bella, meningkat dengan tidak keruan.

“Kamu tahu apa, Bell?” ujar Noah menekankan tiap katanya. Berusaha keras untuk tidak teriak. Ia menunjuk ke sayatan – sayatan itu. “Ini? Ini salahmu. Semua omong kosong yang kamu lalui dan semua masalahmu yang menurutmu sangat berat itu semua gara – gara pilihanmu sendiri.”

Bella menarik kembali tangannya dengan keras. Noah melepasnya kali ini. Bella buru – buru menurunkan lengan bajunya, kembali menyembunyikan bekas sayatan itu. Gadis itu berdeham. Menarik napas panjang dengan gemetaran. Mengambil tasnya lalu berdiri. “Aku akan pulang sekarang.” Suaranya tidak terdengar stabil. Seakan – akan ia sedang kesulitan untuk menahan tangis. Lalu ia membalikkan badan dan berjalan ke arah pintu keluar apartemen Noah.

Noah merasakan amarahnya semakin menjadi – jadi. Ia tak mau Bella kabur dari apapun yang mereka lakukan ini. Ia belum menang. Ia tidak pernah menang dengan Bella. “KAMU TIDAK BISA KEKANAK – KANAKAN SEPERTI INI TERUS, BELL!” teriak Noah, menggebrak meja lagi. Bella memasang sepatunya, tidak menghiraukannya. Noah menghela napas dengan tidak percaya, tangannya memegang ujung meja dengan begitu keras, buku- buku jarinya memutih.

Akhirnya keluar kalimat yang dari tadi di benaknya tetapi ia telan terus. Kalimat yang tampaknya selalu keluar di akhir tiap episode dari amarahnya dengan Bella yang keras kepala. Ia mau meneriakkannya tetapi yang keluar hanyalah suara pelan dan pecah tengah jalan. Ia terdengar muda. Putus asa.

“Apa yang ada di dirinya yang tidak ada di aku?”

Di kalimat ini, Bella akan menoleh. Tatapannya sayu, tetapi ia tersenyum dengan pahit. “Aku mencintainya, Noah.” kata Bella, balasan yang sama tiap kalimat itu muncul. Tidak peduli seberapa parah luka yang ada di badannya ketika mereka bertemu, tidak peduli seberapa keras perlakuan brengsek itu kepada Bella, kata – kata itu tidak pernah berubah tiap Noah mengeluarkan kalimat itu. Tidak peduli seberapa baik Noah akan mengobati luka – lukanya, Bella akan kembali ke lelaki itu. Tidak peduli apakah Noah menasehatinya baik – baik ataupun memarahi kebodohannya, Bella akan tetap mencintai lelaki itu. Bukan Noah.

“Dan aku akan menikahinya bulan depan.” Bella mengakhiri.

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Relationship Abuse

  1. Moga – moga ya. Sayangnya banyak di kehidupan nyata yang mirip Bella karena meskipun sudah diperlakukan tidak benar tetap setia – setia aja 😛

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s