Teman Baik

Teman baikku seseorang yang biasanya tidak memperhatikan pelajaran.

Tapi dia suka mengatakan opininya keras – keras ketika pelajaran, karena dia bisa.

Teman baikku tidak suka berkelahi.

Tetapi ia menonjok muka seorang anak senior ketika anak itu membullyku. 3 detensi bersamanya berikutnya dan ia tetap nyengir kepadaku tanpa menunjukkan tanda penyesalan.

Teman baikku berkata ia seorang yang sangat jantan.

Tetapi tangisannya deras ketika kita menonton film drama dimana si protagonis meninggal.

Teman baikku biasanya pemberani.

Tetapi ia tidak berani mengajak satu pun cewek untuk sebuah kencan. Setidaknya itulah yang kita gunakan sebagai bahan untuk mengejeknya. Dia hanya tertawa tetapi tidak membantah.

Teman baikku meminum 3 gelas vodka setelah kita lulus sekolah. Kita semua bercanda kita memotong sehari dari kehidupan kita dengan meminum sebanyak yang kita minum hari itu.

Dan di kondisinya seperti itu, ia hanya bergumam pelan. Saking pelannya aku yang di sebelahnya satu – satunya yang bisa mendengar.

Memotong sehari dari hidupku tidak terlalu buruk jika mengingat aku mati sedikit tiap hari. 

Aku hendak menanyakannya tentang itu tetapi kupikir mungkin ia sudah mabuk waktu mengatakan itu. Jadi aku tidak pernah menanyakannya.

Teman baikku kutanya mengenai kuliahnya di luar negeri.

Dia berkata semuanya tidak apa – apa dan dengan semangat malah menanyakan tentang diriku.

Teman baikku kembali 3 tahun kemudian, lebih tinggi dari yang kuingat tetapi dengan muka ceria yang sama. Kita makan malam bersama dan sebelum pulang aku menanyakan apakah dia mau menjadi best man di pernikahanku.

Ia ternganga sesaat, “KAMU BAKAL NIKAH?!” lalu setelah ia berteriak selamat – selamat bahagianya untukku, ia berkata tentu saja.

Teman baikku ada di sampingku di depan altar. Ia tersenyum juga ketika melihat pengantinku masuk.

Tapi ketika acara selesai dan aku sedang menari dengan istriku– aku melihatnya di antara kerumunan.

Menengak segelas wine.

Matanya menerawang jauh.

Mukanya sama ketika ia mengatakan kalimat itu di hari kita lulus SMA.

Aku menyadari apa arti dari kalimat itu bersamaan dengan aku ingat bahwa aku mulai berteman dengannya karena ia dekat dengan seorang cewek yang juga kusuka.

Aku merebut cinta pertamanya.

 

Advertisements

2 thoughts on “Teman Baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s