Sebulan

Sebulan lalu aku tak akan mengira rasa sakitnya akan separah ini.

Sebulan lalu kukira aku hanya ingin keluar dari hubungan yang seperti racun itu– kabur dari semua kebohongan dari wanita itu. Kabur dari rumah sempit yang ia panggil rumahnya itu. Rumah yang hanya setahun sebelumnya kita beli dengan bahagia dan semangat– yakin bahwa apa yang kita miliki adalah cinta yang asli.

Tapi aku salah. Hidup tidak pernah seindah bayanganmu. Bayanganku bahwa ia akan menungguiku pulang tiap hari dengan makan malam yang hangat dan tangan terbuka lebar musnah selamanya. Ia lebih suka pergi berjalan – jalan sendiri, persetan dengan memberiku makan, aku beruntung jika ia bahkan mengatakan ‘selamat datang kembali’ ketika aku pulang. Aku kembali dari seharian kerja keras dan ia hanya memarahiku karena keuangan bulan ini, bulan lalu, bulan berikutnya.. selalu kurang di matanya. Aku tak paham bagaimana dulu ia berkata ia hanya membutuhkanku.

Mungkin ia hanya membutuhkan pekerjaanku. Statusnya.

Aku tahu seharusnya aku membicarakan masalah ini baik – baik dengannya. Lagipula, aku mungkin salah. Mungkin ia tak hanya menghamburkan hasil pekerjaanku untuk kehidupan sosialitanya. Untuk sesama teman – teman yang hobi berbelanjanya. Untuk makan malam di restoran mewah berikutnya meski tagihan air belum terbayar–

Aku tak tahu.

Aku tidak mau bertengkar jadi aku diam saja, menahan semuanya dalam hatiku sementara cinta di antara kita semakin memudar. Sebulan lalu aku mendapat ide brilian itu. Dan untuk hari berikutnya aku merasa bebas. Lepas dari semua tanggung jawabku. Aku datang ke kantor perusahaanku dengan senyuman lebar untuk pertama kali dari berbulan – bulan.

Tapi lalu perasaan baru itu muncul. Kekosongan sementara aku terlentang di atas tempat tidur. Jika sebelumnya aku membenci suaranya yang bising di telpon, berceloteh terus dengan sahabat – sahabatnya, membuat tagihan telpon semakin meninggi.. Sekarang kesunyiannya memekakan telinga. Jika dulu aku membenci fakta ia tak pernah memberiku makan, sekarang aku membenci fakta ia bahkan tak ada di rumah saat aku makan.

Kehilangan dirinya tetap menyakitkan. Bodoh.  Bodoh.

Kehidupan tak pernah sehindah bayanganmu.

Aku tertawa sedih. Telepon berdering– mencarinya. Koran hari ini melaporkan kehilangannya. Sirine polisi terdengar di kejauhan.

Aku tersenyum sedih, memandangi kakinya yang bisa terlihat dari bawah tempat tidur kita. Mulai dikerokoti oleh belatung dan cacing, dihinggapi oleh lalat. Bau busuknya menyeruak.

“Kehidupan tidak pernah seindah bayanganmu, sayang.” bisikku kepadanya, menarik pelatuknya bersamaan dengan pintuku didobrak oleh seorang polisi.

Advertisements

2 thoughts on “Sebulan

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: