Chat

Hari minggu yang dingin adalah hari dimana Charles mendapatkan chat tak terduga dari seorang teman orang Amerika yang ia kenal saat ia pergi study tour ke sana. Max. Entah bagaimana Max menemukan facebooknya dan telah meninggalkan pesan semacam ‘hei ini Max. Kamu sempat ke sekolahku untuk beberapa minggu dan kita berteman waktu itu, apa kabar?’. Charles meregangkan jari jemarinya lalu mengetik sebuah chat balasan.

“Oh hey! Yeah I remember you, what’s up? How are you doing?” 

Mengira si Max tidak akan langsung membalas, Charles hendak log out tetapi sebelum ia sempat, chatnya sudah terbalas : I’m doing good! So aren’t you supposed to be in college by now? Are you studying in America? Or did you go to UK?

Charles menaikkan satu alis lalu ingat bahwa ketika ia pergi ikut study tour ia sangat antusias untuk sekolah di luar negeri. Ia menceritakan itu ke semua orang. Meringis mengingat hal itu, ia membalas, “Yeah I’m in college. Sorry to disappoint you but it’s in Indonesia haha.”

Whoa, I thought you wanted to study overseas? What happened?

I guess life..? Haha. It’s okay though, I feel like I wouldn’t be as happy as I am if I studied overseas.”

Itu bohong. Charles masih sering membayangkan hidup sendiri di luar negeri. Pengalaman – pengalaman tak terbayangkan untuk tersesat di suatu tempat dan kesusahan untuk menanyakan sesuatu. Lalu kembali pulang dan menyadari semua orang memandanginya dengan beda– sesuatu yang ia ingin sejak dulu dan ia masih inginkan. Tapi ia tak akan pernah bisa pergi ke luar negeri untuk belajar. Tidak setelah apa yang terjadi.

So, how’s everyone who went to the study tour? Did anybody went overseas? I just happened to find your name but I couldn’t find anyone else, haha.

Charles menghembuskan napas, “Yeah, do you remember Dea? She went to Japan. And Eric went to America, I think Seattle?”

How about Jess? Charles membeku. Matanya membaca kalimat berikutnya dari Max. You guys were really close back then, haha.

Yeah we were. Sorry but I don’t really know what happened to her.”

Wait what? Why? Did something happen between you two?

Yeah we broke up.”

Terdengar sederhana jika ia mengatakannya seperti itu.

Oh geez, what happened?

Apa yang terjadi? Charles juga tidak tahu. Rasanya 1 menit sebelumnya mereka baik – baik saja lalu detik berikutnya mereka muli bertengkar. Dan itu tidak berhenti hingga berbulan – bulan.. dan akhirnya ia tidak kuat dan ia menyerah. Ia menyerah dan ia pergi. Ia tidak tahu mana yang lebih parah untuk dirasakan : rasa lega untuk lepas dari seseorang yang seharusnya kamu cintai– atau patah hati karenanya.

We just drifted away. Kinda hard to explain. Complicated, I guess.” 

Oh. You don’t keep in touch with her?

Nope.” Charles menggigit bibir bawahnya, lalu menambahkan, “I guess sometimes I kinda wished I did but maybe it’s better off this way.”

Why’s that?

Because she deserves to be happy and we weren’t going in that direction with our relationship.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s